DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 79 SERANGAN FAJAR


__ADS_3

EPS 79 SERANGAN FAJAR


Seperti seekor kura-kura yang mengalahkan kelinci dalam lomba lari karena kesombongannya sehingga dia lalai. Dengan lompatannya yang cepat, kelinci mampu meninggalkan kura-kura dibelakangnya. Melihat jarak yang begitu jauh dan langkah kura-kura yang begitu lambat, kelinci merasa sudah pasti dia akan menang. Tapi dia mempunyai rencana lain. Menjelang garis finis si Kelinci berhenti.


“Aku akan memberi kesempatan kura-kura untuk mendahuluiku. Biarkan dia merasakan kemenangan yang hampir didapatkannya sebelum aku merebut impiannya,’ katanya dalam hati.


Maka duduklah dia di bawah sebuah pohon yang rindang sambil menunggu kura-kura mendahuluinya. Tapi rupanya butuh waktu yang lama bagi kura-kura untuk sampai di tempat itu. Sambil menunggu lawannya , si Kelinci menyenderkan kepalanya sambil menimati hembusan angin yang sepoi-sepoi. Tak terasa kantukpun datang dan dia pun tertidur lelap. Ketika bangun dia mendapati sang kura-kura sudah sampai di garis finish.


“Itulah gambaran orang yang sombong sehingga menyia-nyiakan peluang yang sudah ada di dalam genggamannya,” kata Subrata kepa Susan.


Susan tersenyum.


“Kau pendongeng yang baik Subrata. Seharusnya Andika senang mempunyai ayah sepertimu.”


“Kau salah Susan. Justru akulah yang sangat bahagia mempunyai anak seperti dia,” sahut Subrata.



Pandangannya menerawang jauh menatap dinding kaca yang ada di depannya.


“Puteraku memiliki sisi segala kebaikan dunia. Dia adalah contoh dari apa yang disebut sebagai kebaikan sejati. Bahkan kau bisa menguliti dosa-dosamu satu persatu begitu bertemu dengannya.”


Susan mendengarkan dengan takjub.


“Benarkah puteramu tidak memiliki sisi buruk Subrata? Atau kau hanya sedang menyanjungnya?”



“Benar Susan. Karena sisi buruknya ada pada diriku.”


Susan mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Lalu apa masalahnya? Hidupmu sudah begitu sempurna, memiliki isteri yang setia dan putera yang begitu baik. Kenapa kau masih membutuhkan Marcon dalam hidupmu?”


Subrata menghela nafas panjang.


“Itulah sisi kekuranganku Susan,”



“Apa maksudmu?”


“Aku gagal mendidik puteraku menjadi seperti diriku. Andika sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis. Dia lebih suka mengabdikan hidupnya di pesantren dengan membuat klinik kecil disana.”


“Wow! Puteramu seorang dokter?”


Subrata menganggukkan kepala.


“Dan dia sama sekali tak tertarik dengan kerajaan bisnismu?”

__ADS_1


Subrata menggelengkan kepalanya.


“Andika pasti seorang alien, Subrata.”


Subrata tersenyum.


“Mungkin.”



Susan mengernyitkan keningnya. Gadis itu berusaha menautkan potongan-potongan cerita Subrata. Lalu matanya membulat sempurna.


“Jadi maksudmu, Marcon…? “ suara Susan terhenti di tengah jalan, rupanya dia takut salah tebak.


Subrata menganggukkan kepalanya.


“Benar. Aku memang ingin menjadikan Marcon sebagai penerusku di Subrata’s Holding Company. Dia akan aku jadikan dia sebagai putera mahkota di kerajaan Subrata. Menjaga keberlangsungan kerajaan ini agar tetap hidup, dan menyerahkannya kepada anak keturunanku nanti. Aku yakin diantara mereka pasti ada yang berbakat seperti kakeknya.”



Susan diam membeku mendengar kata-kata Subrata. Seandainya saat ini ada petir yang menggelegar pun, tidak akan mengagetkannya melebihi apa yang baru saja dia dengar dari bibir pemilik kerajaan bisnis Subrata’s Holding Company. Ratusan anak perusahaannya tersebar di berbagai negara dan terus bergerak agresif merebut pangsa pasar perdagangan internasional. Mereka menguasai pasar tambang, properti, senjata, dan telekomunikasi.



Aset perusahaan-perusahaan milik Subrata itu menurut majalah Forbes bernilai sekitar 450 milyar dolar, sehingga menjadikan Subrata sebagai orang paling kaya nomer 4 di dunia. Dan Marcon Allpanigard akan menjadi CEO atau pengelola utama kerajaan bisnis milik Subrata? Wow, pasti akan menjadi kolaborasi yang sangat hebat.



“Pramono? Dia hanyalah pecundang yang menumpang hidup pada kayu yang tumbuh subur. Kemampuannya hanyalah mengambil keuntungan dari orang-orang yang sedang sakit, seperti Marcon. Tapi Pramono tidak pernah memiliki inisiatif, tidak mau mengambil resiko. Manusia semacam itu tidak akan pernah menjadi nomer satu.”



Susan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya lelaki separuh baya berwajah tampan itu. Wow! Wow! Dan selalu hanya ada kata Wow! Untuk Subrata. Rasa kagumnya tak terbendung lagi, hasratnya membumbung tinggi. Tanpa sadar pengacara papan atas di negeri paman Sam itu menaruh kepalanya di dada Subrata yang bidang.



“Subrata, aku ingin bercinta denganmu,” bisiknya. “Aku rela menyerahkan milikku yang paling berharga untukmu.”



Susan memeluk tubuh menjulang itu dengan erat. Subrata tersenyum. Dia membalas pelukan pengacara yang pernah menjadi fotomodel tercantik Amerika itu. Lalu mencium ujung kepalanya dengan lembut. Dibelai-belainya rambut Susan itu dengan penuh rasa sayang.


“Ini sudah menjelang pagi, Susan. Pengawalku akan mengantarmu pulang kembali ke rumahmu,” sahut Subrata.



Susan membenamkan wajahnya semakin dalam. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil mengusap air matanya dia menatap wajah Subrata.


“Iya. Aku mengerti Subrata, tidak ada perempuan yang kau inginkan lebih dari Vania. Dia isteri yang sangat beruntung memiliki laki-laki sepertimu.”

__ADS_1



Perlahan Susan melepaskan pelukannya dari tubuh lelaki yang penuh pesona itu. Ditatapnya wajah tampan itu sambil tersenyum malu. Ada semburat merah di wajahnya yang bening sempurna.


“Maafkan. Aku telah mempermalukan diriku sendiri,” ujarnya sedikit salah tingkah.


Subrata menganggukkan kepalanya.



“Tetaplah menjadi Susan See yang tetap menjaga cinta sejatinya. Persembahkan milikmu yang paling berharga itu hanya untuk lelaki yang kelak menjadi suamimu.”



Susan mengusap air matanya, lalu memeluk tubuh Subrata sekali lagi. Tapi kali ini penuh rasa hormat dan sayang.


“Terimakasih Subrata, malam ini kau telah memberikan banyak pelajaran kepadaku,” ujar Susan.



Tok! Tok! Tok!



Terdengar pintu di ketuk. Lalu pintu terbuka. Seorang pengawal masuk dan meminta Susan untuk mengikutinya.


“Pulanglah Susan. Terimakasih juga kau telah bersedia datang.”


Susan menganggukkan kepalanya. Memberikan senyuman terakhir, sebelum dia membalikkan tubuhnya dan berjalan mengikuti langkah kaki sang pengawal. Subrata memandangi kepergiannya sampai tubuh perempuan itu menghilang di balik pintu lift. Lalu dia berjalan kembali ke Balkon. Menikmati kembali pemandangan bintang dari lantai paling atas gedung Ritz Carlton Hotel setinggi 450 meter itu.



Jegjegjegjegjeg!



Mendadak terdengar suara helikopter memecah keheningan malam menjelang pagi itu, Subrata menajamkan penglihatannya. Sebuah helikopter tempur Apache tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang gedung-gedung pencakar langit. Setelah meliuk di udara dan membentuk setengah lingkaran, burung besi bermesin super canggih itu berhenti tepat di depan balkon dimana Subrata berdiri.



Subrata menengadahkan kedua tangannya di depan wajah. Sinar lampu sorot yang menyilaukan dari helikopter itu membuat matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Untuk sesaat dia dia tidak melihat apa-apa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu dia menatap ke depan kembali. Tepat saat itu sang pilot menekan tombol fire pada papan panel dihadapannya.



‘Wush!”



Sebuah rudal patriot yang sangat akurat dan berkekuatan tinggi meluncur dengan sangat cepat. Tepat mengarah ke balkon kamarnya. Mata Subrata langsung terbelalak. Dia hanya bisa melihat peluru kendali itu meluncur tepat ke arah tubuhnya. Dan …..

__ADS_1



BLAR!


__ADS_2