EPS 129 DUNIA BERPUTAR
Dalam dunia yang berputar, diriku sendiri, larut dalam sepi. Terlelap dalam mimpi, yang tak pernah kulepaskan. Geliat tubuhmu semaikan rindu. Ingin ke memelukmu, memberi hangat sekejap dalam dingin yang menyergap. Memanjakanmu dengan belai lembutku. Merasakanmu dalam desah nafas yang mengalun perlahan. Menikmati cinta.
“Klotak…! Klotak…! Klotak…!
Pranaja terbangun dari tidurnya. Terdengar suara berisik kantung kain yang selalu dibawanya kemana-mana. Di dalamnya berisi beberapa benda pusaka yang didapatnya dari beberapa tokoh pendekar dunia saat dia berpetualang dulu. Ada batu mulia berbentuk sisik naga ternuat dari permata biru pemberian Shamtex yang agung dan pedang Yeonghon Ui Sijag, titipan kakek Kim untuk kekasihnya Ryung Nae. Pedang pusaka Korea itu terlihat menyala.
Yeonghon Ui Sijag sendiri adalah sebilah pedang pusaka yang sangat keramat. Sarungnya berwarna biru metalik, dengan ukiran emas bermotif naga yang melingkar di sarung pedang. Saat kakek mencabut pedangnya, terlihat sinar yang sangat menyilaukan terpancar dari pedang itu. Menimbulkan rasa bergidik siapapun yang melihatnya. Masih terngiang jelas pesan kakek Kim Mon Soo saat memberikan pedang ini kepadanya.
“Ini adalah YEONGHON-UI SIJAG atau Pedang Perasuk Sukma. Siapapun yang memegang pedang ini tanpa dilandasi tenaga dalam yang cukup, jiwanya akan dirasuki oleh isi pedang ini. Dia akan menjelma menjadi pendekar pedang nomer satu, tak terkalahkan. Namun sejatinya pedang inilah yang menguasai jiwannya. Dan ini sangat berbahaya.”
“Kalau begitu untuk apa kau mengeluarkan pedang itu kek?”
“Berpuluh tahun aku mencari orang yang kuanggap mampu menguasai pedang ini Pranaja. Tadinya aku berharap Ryong dapat melakukannya. Struktur tulangnya sangat sempurna untuk kebentuk menjadi seorang pendekar. Tapi dia terlalu berambisi menjadi tentara dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar pedang.”
Pranaja melirik Ren, kakek Lim tersenyum.
“Aku memang telah melatih dasar-dasar ilmu pedang kepadanya. Dan dia dapat meguasainya dengan baik. Tapi sayang, perkembangan jiwanya masih sangat labil.”
Wow…Pranaja dan Ryong menatap Ren, mereka tak percaya gadis pendiam dan lembut itu menguasai dasar ilmu pedang. Kakek Kim tersenyum kepada Ren.
“Tunjukkan kepada mereka Ren.”
Ren terlihat gelisah dan ragu. Tapi tatapan mata kakek seperti memaksanya untuk berdiri dan menunjukkan kemampuannya kepada mereka. Akhirnya dia berdiri sambil mengambil pedang miliknya sendiri.
“Berdirilah dengan tenang Ren,” kata Kakek. “Pusatkan pikiranmu.”
Ren berdiri tegak di tengah ruangan itu. Matanya di pejamkan, dan bibir indahnya terkatup rapat. Rupanya dia sedang memusatkan pikirannya, sesuai perintah kakek. Pranaja dan Ryong terdiam membeku, wajah mereka masih menyiratkan rasa tak percaya. Mereka memandang Ren dengan mata tak berkedip.
Lalu dalam sekejap, tubuhnya di selubungi larikan sinar pedangnya yang menyilaukan. Tiba-tiba kakek Kim melemparkan tongkat kayu yang ada di sampingnya. Begitu mendekati tubuh Ren, kilatan pedang itu langsung menyelubungi tongkat itu. Lalu Ren menarik dan mengangkat pedangnya ke udara. Tongkat itu sepertinya masih utuh saat di udara, tapi begitu jatuh ke tanah langsung terpotong menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
Prak! Prol!
Beberapa saat suasana menjadi hening. Pranaja dan Ryong menatap Ren dengan mata melotot. Gadis itu menurunkan pedangnya. Kulit wajahnya yang bening tampak memerah karena malu. Lalu dia berlari dan duduk di belakang tubuh kakek.
Plok! Plok! Plok!
Beberapa saat kemudian Pranaja dan Ryong seperti tersadar, lalu bertepuk tangan.
“Ren, kenapa kau tak pernah bercerita sama kakak?” tanya Ryong.
“Hebat Ren! Kau juga hebat kakek!” Pranaja memberikan pujiannya. “Kenapa tak kau coba memberikan pedang pusaka itu kepadanya Kek?”
Kakek Kim menggelengkan kepalanya. Dia meminta Ren untuk duduk kembali di hadapannya.
“Belum saatnya Pranaja. Aku paham kekuatan pedang itu, dan Ren belum siap menerimanya,” ujar kakek.
Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Lalu apa yang kakek inginkan?”
“Apa!?” tanya Pranaja dan Ryong berbarengan.
“Ya. Pedang ini akan aku titipkan kepadamu. Berikan kepada Ren saat waktunya tiba,” pesan kakek Kim.
Pranaja diam terpaku. Tatapannya sulit untuk diartikan. Tapi saat melihat wajah Ren, hatinya menjadi mantap. Dan tanpa ragu dia menganggukkan kepalanya.
“Baik kakek, aku akan melaksanakan semua pesan kakek,” gumamnya.
Kakek Kim memandang wajah Pranaja dalam-dalam. Dia yakin, dengan bimbingan Pranaja, Ren akan berkembang menjadi pendekar nomer satu di dunia. Pranaja mengerling sekilas gadis yang sekarang tertunduk malu di belakang kakeknya. Ah, Ren adalah mutiara terpendam yang menembunyikan kecantikannya di dalam lumpur tirani penguasa diktator macam Kil Jong Un.
Angin mendesah, menggoyangkan dedaunan dalam tarian yang tak beraturan. Seolah alam terlarut dalam suasana riang yang menyelimuti dinding hati.
***
“Ren? Kakek Kim?” batinnya. “Kenapa pedang ini menyala?”
Pranaja mendadak gelisah. Timbul rasa khawatir dalam dirinya mengenai keadaan Ren. Dulu M, bosnya di Dinas Rahasia Inggris, berjanji untuk mempertemukan dia dengan kekasihnya itu setelah dua tahun Ren selesai menjalani proses asimilasi. Dan hari ini genap dua tahun dia menahan hatinya untuk tidak menemui Ren. Membiarkan kekasih hatinya untuk mejalani prosedur hukum sesuai peraturan di Korea Selatan terhadap para pembelot Korea Utara.
“Hm, hari ini tepat dua tahun aku berpisah dengan Ren,” batinnya sambil memandang pedang pusaka yang masih menyala di tangannya. “Pedang ini seperti alarm yang mengingatkanku.”
__ADS_1
Tapi hari ini, M sama sekali tak menghubunginya. Apa dia lupa? Tidak mungkin, itu di luar kebiasaan M, yang selalu mengingat segala sesuatu bahkan yang paling detil sekalipun.
“Sebaiknya aku mencari tahu.”
Pranaja mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomer Lucra Venzi, agen 004.
“Haloo ganteng. Akhirnya kau kangen juga kepadaku. Hihihi…” terdengar desah merayu dari ujung ponselnya.
“Halo Lucra. Aku butuh bantuanmu,” ujarnya singkat.
Lucra terdiam. Suara Pranaja terdengar begitu serius.
“Ada apa sayang?”
“Bantu aku untuk masuk ke Korea.”
Lucra malah tertawa.
“Rupanya kau sudah membaca berita viral itu?”
Pranaja mengenyitkan keningnya.
“Berita apa?”
“Kau sedang dicari Lee Min Ho, artis Korea. Lihat link nya di kanal Youtube.”
“Hah? Untuk apa?”
“Kau diminta menyembuhkan penyakit yang diderita sahabat terbaiknya.”
Pranaja terdiam. Nampak wajahnya berpikir keras, seperti mengingat-ingat sesuatu. ‘Sahabatnya Lee Min Ho? Siapa?’ batinnya. Dia merasa tidak pernah bersentuhan dengan dunia K-POP maupun Drakor. Lagian, darimana aktor Korea itu mengenal namanya? Hanya ada sedikit orang yang tahu kemampuannya. Jangan-jangan…?
“Halo! Pranaja, kau masih disitu?” ujar Lucra.
“Lucra, apa kau tahu siapa sahabat Min Ho yang sakit itu?”
“Tentu saja tidak. Tanyakan saja di link nya.”
Pranaja menganggukkan kepalanya. Lalu dia membuka link kanal Lee Min Ho. Matanya terbelalak. Rupanya pengumuman itu telah menyedot perhatian para penggemarnya. Ada ribuan nama di kolom komentar dengan akun yang sama: RICH PRANAJA.
__ADS_1