DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 142 SENJATA-SENJATA PEMBUNUH


__ADS_3

EPS 142 SENJATA SENJATA PEMBUNUH


Pertempuran terus berkecamuk di dalam pikiranku. Diantara malaikat dan iblis yang terus memberitakan keuntungan dan kerugian, hadiah syurga dan rayuan gombal, keberanian untuk melangkah dan keraguan. Maka lihatlah ke dalam dirimu, maka kau akan menjadi kuat dalam bertahan, terus melangkah maju pantang mundur. Karena musuh sebenarnya adalah mengalahkan dirimu sendiri. Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas!



Iring-iringan kendaraan pasukan anti teror itu melaju cepat menembus dinginnya malam. Satu peleton pasukan Brimob, satu peleton pasukan Densus anti Teror, beberapa agen Dinas Rahasia Inggris, M16 dan beberapa pasukan Interpol ikut dalam konvoi itu. Mereka bergerak menuju padang Kurusetra dimana tengah terjadi ketegangan antar pasukan pengawal Megapolitan dan pasukan milik Ron Muller.



Kurang dari delapan, akhirnya konvoi kendaraan itu sudah sampai di wilayah perbukitan Kethileng. Mereka berhenti di sebuah tanah kosong diantara dua perbukitan, sehingga cukup terlindungi. Dandung, Zein dan Lucra segera mempersapkan pasukannya masing-masing. Dandung yang sudah hapal dengan perbukitan itu akan memimpin pasukan pionir memasuki kawasan Megapolitan, disusul pasukan pimpinan AKP Zein Rumiwa.



“Begitu keadaan aman, Lucra beserta agen M16 lainnya boleh masuk untuk meringkus Ron Muller,” ujar Dandung.


“Kenapa kita tidak masuk bersama?” tanya Lucra.


Dandung menggeleng cepat.


“Tidak! Aku tidak mau ada urusan diplomatik yang berkepanjangan kalau ada diantara kalian yang tewas.”


Wajah Lucra langsung menunjukkan rasa tidak sukanya.


“Kau pikir semudah itu membunuh anak buahku? Mereka adalah agen-agen terbaik yang sangat terlatih dan melalui seleksi yang sangat ketat.”



Melihat wajah Lucra yang cemberut itu, Dandung menjadi gemas, Ingin rasanya dia menggigit hidup lancip yang seperti sudut bintang itu. Untung ada Zein. Perwira muda seangkatannya itu seperti curiga kalau antara dia dan Lucra ada ‘sesuatu.’


“Maaf. agen 004! Itu adalah perintah dari mabes Polri dan bosmu sendiri M16!” ujarnya tegas.



Lucra hanya terdiam mendengar kata-kata Dandung. Walaupun tidak suka, tapi dia tetap menghormati keputusan Dandung. Ini adalah tugas dan konsekwensi pekerjaan. Jadi harus professional. Lagi pula dia juga membenarkan kata-kata polisi paling tampan se-Indonesia raya itu. Mereka adalah tamu yang tidak boleh bertindak semaunya di wilayah hukum Indonesia. Akhirnya dia membiarkan pasukan Dandung berangkat terlebih dahulu.

__ADS_1


***


Ron Muller dan anak buahnya terus menjadi bulan-bulanan dari pasukan Megapolitan. Beberapa pasukan pengawalnya seperti kewalahan menghadapi serangan bom-bom pintar milik Pramono dan pasukannya. Bom-bom itu seperti memiliki mata yang terisi untuk mendeteksi kemanapun musuhnya bergerak. Ron segera membagi pasukannya menjadi tiga bagian.



“Fritz! Kau masuk lewat kaki perbukitan Kethileng bagian selatan. Koln masuk lewat jalur sungai Tambra. Susuri sungai itu, karena ujungnya masuk wilayah Megapolitan yang cukup dalam,” perintahnya.



“Oke!”


Fritz dan Koln menganggukkan kepalanya bersamaan, Lalu mereka pergi membawa dua pertiga pasukan untuk menyebar dan memecah konsentrasi lawan, Sedang Ron bergerak dari tengah, memimpin pasukan utama dan pasukan cadangan di belakangnya.



Drrt! Drrt!



“Ya Frits. Ada apa?”


“Ada pergerakan dari pasukan tak dikenal di bawah bukit bos\>”


“Oke kamu tunggu kedatangan mereka.”


“Siap brother.”


***


Dandung terus merangsek maju mendaki perbukitan. Jalur yang pernah dia lakukan bersama dengan Kend Darsih. Karena itulah semangatnya terlihat sambil mengingat kembali kenagan-kenangannya bersama artis cantik itu. Menggendong tubuh indah Ken Darsih melawati pepohonan besar dan rerumputan tinggi.


KROSAK!!


Tiba-tiba terdengar suara dedaunan yang disibak secara kasar. Dikuti teriakan seseorang dari balik kerimbunan.

__ADS_1



“Tembak!”


Beberapa orang berpakaian serba hitam muncul dari balik kerimbunan. Mereka langsung memberondongkan senjata M16 ke arah Dandung dan kawan-kawan dari segala penjuru. Dandung langsung melompat ke dalam semak belukar, Zein bersembunyi di balik meja besi. Hanya Harri, wakilnya, yang tidak bisa menyelamatkan dirinya.


Keasyikkan bermain gajet membuatnya sedikit kehilangan kewaspadaan. Dan itu cukup berakibat fatal. Beberapa butir peluru langsung menembus tubuhnya. Tanpa ampun, Harry langsung terlempar ke belakang dan jatuh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa.


Rombongan Dandung berjalan merangsek maju sambil terus memberondongkan senjatanya. Ratusan peluru menghujani tempat itu. Menembus peohonan tua dan membocorkan kondisi yang sesungguhnya.. Hampir lima menit Dandung dan pasukannya terkurung tanpa bergerak sedikitpun.


Sementara pasukan Ron masuk ke dalam lubang perlindungan buatan kakaknya sendiri. Sebagai ahli strategi tempur terbaik yang dimiliki pasukan khusus Inggris, dua sudah memperhitungan semuanya dengan cermat. Hal yang tidak pernah diperhitungkan musuh-musuhnya.


Rupanya lubang buatan itu merupakan lorong bawah tanah yang terhubung ke luar hutan. Blade, kakaknya, merancangnya untuk melarikan diri saat terkepung. Tubuhnya merangkak keluar dari tanpa diketahui musuh-musuhnya. Mereka berdiri membuat lingkaran besar mengepung pasukan Dandung. Meluluhlantakkan semuanya dengan semburan senjata canggih M16 buatan Amerika.


M16 (dikenali sebagai Senapan, kaliber 5,56 mm, M16) adalah sebutan militer Amerika Serikat untuk senapan AR-15 . Senapan M16 menembak menggunakan 5.56x45mm magazine dan dapat menghasilkan efek melukai besar ketika dampak peluru pada kecepatan tinggi yang berputar dalam jaringan menyebabkan fragmentasi dan cepat mentransfer energi membuat ledakan dahsyat.


Beberapa saat kemudian suara tembakan berhenti. Asap mengepul dari beberapa tempat yang terbakar. Para penyerang terdiam penuh kewaspadaan. Tidak ada tembakan balasan. Nampak tubuh Herry tergeletak berlumuran darah. Namun mereka tak melihat sosok pentolan pasukan itu, AKP Dandung Wicaksono.


Dandung dan pasukan penyerang memberi tanda untuk masuk ke dalam hutan yang dalam. Mereka sama sekali tidak curiga dengan keberadaan penyerang di tempat-tempat yang tersembunyi. Rupanya tempat itu penuh jebakan.Fritz memegang kotak kecil berisi tombol-tombol. Tombol berwarna merah itu terhubung dengan bom TNT high explosive atau berdaya ledak tinggi yang telah terpasang secara tersembnyi di dalam hutan. Saat tombol itu berbunyi klik, seketika itu juga bom itu meledak dengan dahsyat.


“BUMM!!”


Menghancurkan alas tua itu dan mengubur hidup-hidup para penyerangnya yang baru masuk ke dalamnya. Rombongan pasukan kedua, pimpinan Zein yang berada berada di dalam hutan pun ikut terpental. Dalam keadaan panik dan bingung, Fritzmemberondong tubuh mereka dari arah belakang.


Lalu Dandung melemparkan pisau belatinya ke arah Fritz, komandan pasukan penyerangnya, tepat di tengah kedua matanya saat dia menengok ke belakang.


‘CLAP!’


‘AAARGH!’


Fritz terjungkal dengan senjata laser di tangannya. Tanpa sadar tombol ‘fire’nya terpencet. Sebaran sinar seperti pita warna-warni menghiasi angkasa raya. Tidak ada yang menyangka, sinar-sinar indah itu mengandung maut yang bisa mebunuh dalam aktu sekejap.


“Slap! Slap! Slap!”


Pertempuran boleh melakukan apa saja meskipun ada hukum perang. Lomba persenjataan canggih dipertotonkan dunia, hanya untk membunuh manusia dan membunuh makhluk hidup ciptaan-Nya. Dan mereka, produsen senjata-senjata itu, dengan bangga terus memperkenalkan senjata-senjata pembunuh baru sambil memikirkan keuntungan besar. That’s it!

__ADS_1


__ADS_2