EPS 17 KESALAHAN FATAL
Betapa marahnya Subrata. Terlihat dari wajahnya yang begitu gusar. Bagaimana tidak, Megapolitan adalah megaproyek yang di rancang dengan keamanan yang sangat ketat. Dia bahkan menyewa beberapa kelompok tentara professional untuk menjamin megaproyeknya berjalan lancer tanpa ada gangguan sedikitpun. Namun, Pramono yang selama ini dia percaya sebagai bos Megapolitan malah bertindak ceroboh.
Bagaimana mungkin agen-agen SIS (Secret Inteligent Service) atau Dinas rahasia Inggris yang dikenal M16 bisa menyusup masuk ke wilayah-wilayah terlarang hingga mengetahui keberadaan pohon keramat itu. Padahal dia sudah membayar tentara-tentara bayaran terbaik di dunia. Termasuk pentolan SAS (Pasukan Elit Inggris) Blade Muller juga ada disana dan sempat melihat Lucra Venzi.
“Dasar bodoh!” umpat Subrata kepada Pramono yang masih berbicara lewat layar ponselnya.
“Tapi, katanya dia datang karena rekomendasi dari bapak,” ujar Pramono.
Mendengar kata-kata Pramono wajah Subrata pun semakin marah.
“Aku memang merekomendasikan Laura Crown kepadamu, tapi bukan itu orangnya!”
“Apa!”
Pramono terkesiap kaget. Wajahnya juga terlihat tegang, Perasaan marah, malu dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. Dia tahu Subrata adalah orang yang tidak pernah bertoleransi dengan kesalahan. Dia sangat teliti dan disiplin dalam setiap pekerjaannya. Apalagi masalah sumber daya manusia yang bekerja dengannya, dia selalu menuntut kinerja yang terbaik, karena mereka telah dibayat mahal.
“Kalau kau menerapkan prosedur yang ketat setiap pegawai baru yang datang kau tidak akan kecolongan. Periksa CVnya, cek DNA nya, pastikan semua identitas yang dimilikinya adalah asli bukan palsu. Dan kau lalai melakukan semuanya karena tergoda perempuan itu kan? Dasar laki-laki gatel!”
FLASHBACK ON..
Pagi yang menyenangkan. Matahari bersinar cerah, secerah hati Pramono yang sedang duduk di singgasananya di kantor Presiden Direktur Megapolitan City. Di hadapannya duduk seorang wanita bule berambut blonde yang baru datang dari Amerika. Wanita itu akan menjadi konsultan desainer interior untuk setiap gedung super mewah di Megapolitan. Bigbosnya sendiri yang mengirim perempuan cantik itu dari Amerika.
‘Hm, selera bos Subrata betul-betul out of my expectation. Diluar bayanganku,’ batinnya. ‘Wanita ini benar-benar membuat hatiku terpesona.’
Ditatapnya tubuh perempuan blonde itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Benar-benar keindahan yang sempurna. Bibirnya ranum menggemaskan, dengan warna alami buah strawberry matang yang dibelah dua. Pinggulnya adalah guitar Fender Stratocaster Gold Leaf yang biasa dibelai dewa gitar dunia sekelas Eric Clapton, melekuk sempurna. Dan dua buah gundukan kembar yang sedikit menonjol dari balik belahan dadanya yang terbuka, seranum mangga taiyo no tamago, yang menyembuhkan rasa dahaga hanya dengan mencium aromanya.
“Jadi Mister Pramono mendapatkan rekomendasi dari Mister Subrata untuk mewawancaraiku?” tanya Lucra sedikit genit.
Pramono yang sedang terbang ke langit menjadi tergagap mendengar pertanyaan Lucra.
“Eh, oh, ups! Ma..maaf nona. Bisa kau ulangi pertanyaanmu?”
Lucra Venzi tersenyum malu-malu melihat wajah Pramono yang memerah. Terlihat cuping hidung laki-laki itu kembang kempis pertanda libidonya sedang bergerak naik.
“Jadi anda yang akan mewawancaraiku?” Lucra mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
“Kau benar. Akulah yang berhak menentukan siapapun yang bekerja disini, kecuali pegawai yang mendapat rekomedasi pak Subrata, aku tidak bisa menolaknya. Apalagi bila orangnya secantik anda,” rayu Pramono yang mulai tidak tahan lagi.
Lucra tersenyum. Dengan gerakan cepat dia meraih dasi yang yang dipakai Pramono, lalu menariknya dengan tangan kiri. Mendekatkan wajah laki-laki bangkotan itu dengan buah dadanya yang ranum menpesona.
“Hm, aku juga suka bekerja sama denganmu, mister Pra-mo-no,” ujar Lucra terbata.
Mata Pramono langsung terbelalak. Buah kembar itu begitu ranum memenuhi bola matanya. Apalagi jaraknya hanya lima sentimeter, lidah Pramono otomatis terjulur keluar.
“Hap!”
Tangan kanan Lucra langsung menangkup wajah Pramono sehingga tidak bisa lebih dekat lagi. Setelah itu dasinya dilepaskan. Lalu wajah Pramono di dorong kembali ke belakang.
“Bruk!”
Tubuh Pramono jatuh kembali ke tempat duduknya semula. Wajah Pramono langsung memerah karena konaknya terlanjur naik ke ubun-ubun. Nafasnya mendengus kasar. Tapi dia tidak berani lebih jauh, karena Lucra adalah pilihan bigbosnya Subrata sendiri.
“Mungkin kita akan mempunyai waktu banyak untuk bersenang-senang Mister P,” goda Lucra lagi.
Pramono langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya sambil memperbaiki kemeja dan dasinya yang berantakan.
“Namaku? Apakah itu penting bagimu? Kau tidak ingin memanggilku Beb atau Sayang?” goda Lucra lagi.
“Tentu saja sayang. Tapi tetap saja aku perlu tahu namamu.”
“Baiklah. Namaku Laura Crown. Apa bosmu belum memberitahumu?”
Pramono menggeleng-gelengkan kepalanya. Jackpot! Batinnya seperti habis dapat hadiah lotere.
“Tentu saja sudah,” katanya. “Hem! Sekarang katakan apa yang kau butuhkan, pasti akan aku sediakan, sayang.”
Lucra tersenyum jumawa. Seolah permainan sudah selesai dan dia adalah pemenangnya.
“Aku butuh supir pribadi,” kata Lucra. “Sekarang!”
__ADS_1
Pramono terkesiap.
“What! Sekarang?”
“Ya, Detik ini juga,” tegas Lucra. “Apa kau sanggup Mr. P?”
Jari telunjuk Lucra menempel di dahi Pramono , lalu turun menyusuri hidung, bibir dan dagunya. Napas Pramono terasa begitu sesak. Kedua matanya menjadi juling karena fokus pada jari Lucra yang lentik. Tanpa sadar dia meneguk air liurnya sendiri.
“Glek!”
Lalu kepalanya mengangguk-angguk.
“Tentu. Tentu saja aku sanggup. I..itu hal sepele bagiku.”
Lalu Pramono menelpon sekretarisnya.
“Des, suruh pak Darsono mencarikan aku supir pribadi. Sekarang, detik ini juga. Bawa kemari!” perintah Pramono.
“Baik Pak!”
Terdengar gagang telepon yang tidak diletakkan dengan benar, disusul suara langkah kaki yang berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Lima menit kemudian, Desi mengangkat telponnya kembali.
“Pak Darsono mohon ijin ketemu dengan bapak dengan seorang supir baru.”
“Ok. Siapa namanya?”
“Rich Pranaja. Dia supir pemasok bahan material untuk konstruksi bangunan di titik koordinat limapuluh. Perlu di wawancara pak?”
“Tidak! Cepat suruh mereka masuk!”
***
Siang itu begitu terik. Sinar matahari memancarkan sinarnya yang paling panas ke permukaan bumi. Tapi itu semua tak mampu mengalahkan rasa panas yang menyelimuti hati Pramono saat ini. Kemarahan dan rasa dendam langsung menyeruak terlihat dari wajahnya yang nampak kelam. Beberapa petugas sibuk mengemasi barang-barangnya. Di depannya, Darsono bersama satu peleton pasukan, dengan senjata terkokang siap menjaga segala kemungkinan. Hari itu juga Subrata memecat Pramono dan mengangkat Presiden Direktur Megapolitan yang baru.
“Silahkan pak Pramono! Anda bisa meninggalkan kantor ini sekarang juga,” tegas Darsono, kepala keamanan Megapolitan.
Tidak ada lagi rasa hormat yang ditunjukkan Darsono kepadanya.
“Huh!” dengus Pramono kasar.
Pramono tidak mempedulikan kata-kata Darsono. Lalu dia mengangkat ponselnya. Tangannya sibuk menatap layar pipih itu dengan wajah tegang. Namun beberapa saat kemudian, wajahnya terlihat gembira. Bibirnya bahkan tersenyum sangat lebar. Dia melihat nomor yang dia tuju sedang membalas panggilannya.
__ADS_1
“Hello. Marcon Allpanigard’s speaking!”