EPS 53 BAYI KUAT
Pagi itu berjalan tidak seperti biasanya. Hawa dingin yang membekukan serasa meuusuk kulit. Jutaan tetes embun berkumpul dalam satuan-satuan butiran salju seputih kapas. Menyapa lembut wajah-wajah trah Somawangi yang hendak pergi ke ladang seperti biasanya. Belum pernah merasakan suasana pagi yang begitu dingin seperti ini. Sebagian penduduk yang masih enggan bangun, menarik selimutnya kembali mencari kehangatan di dalamnya.
Pranaja dan Panembahan Mbah Iro berdiri termangu di ruang emperan bagunan pendopo Rumah Joglo. Mereka menatap butiran-butiran salju yang turun menutupi lanskap Padukuhan Somawangi. Entah darimana datangnya butiran salju ini, mereka belum bisa tahu secara pasti. Tetapi pikiran mereka mempunyai tebakan yang sama, hujan salju yang terjadi pagi ini adalah perbuatan orang yang memiliki kekuatan Tirtanala selain Pranaja dan Miryam.
“Rasanya kita perlu secepatnya menemui eyang Miryam, kakek,” ujar Pranaja.
“Kau benar Pranaja. Aku sangat setuju. Tapi bukankah Kyai Badrussalam belum berkenan menerima kedatangan kita karena eyang Miryam sedang menunggu kelahiran puteranya yang kedua?” sahut Panembahan Mbah Iro.
“Ada baiknya kakang Panembahan menghubungi Kyai Bardrussalam sekarang, karena ini situasinya sangat genting,” sahut Eyang Penatus yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
“Lagipula kita butuh kepastian segera untuk mengenal siapa itu Eyang Miryam dan memastikan hubungannya dengan para leluhur Trah Somawangi,” sambung Raden Mas Parto.
Panembahan Mbah Iro membalikkan tubuhnya. Menatap kedua saudara sepupunya itu, sambil berpikir beberapa saat.
“Aku rasa apa yang kalian sampaikan semuanya beralasan. Aku akan menoba menghubungi Kyai Badrussalam, untuk memohon izin bertemu.”
Panembahan Mbah Iro berjalan menuju sanggar pamujan. Dengan kekuatan batinnya dia akan mencoba menghubungi kyai Badrussalam.
“Eh, kenapa kakek malah pergi?” tanya Pranaja heran.
“Kakekmu akan menemui kyai Badrussalam dalam bentuk sukma,” ujar eyang Penatus.
“Kakang Kawah Adi Ari-Ari. Panembahan Mbah Iro akan Raga Sukma, tubuh wadagnya tetap ada disini, tetapi sukmanya akan pergi ke Pesantren Ksatriyan Santri,” sambung Mas Parto.
Pranaja tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak perlu eyang. Biar aku saja yang menghubungi Andika dan Abah Kyai Badrussalam.”
Panembahan Mbah Iro menghentikan langkahnya. Ketiga kakek itu memandang wajah Pranaja dengan heran. Tetapi mereka tahu, Pranaja memiliki banyak kemampuan supranatural yang tidak mereka ketahui semua.
“Baiklah. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Mbah Iro.
Pranaja mengeluarkan telepon genggam canggih miliknya dari dalam kotak kayu. Setelah menekan tombol on, benda pipih itu langsung bergetar dan mengeluarkan cahaya biru. Ketiga kakeknya yang terkejut langsung mundur dan bersikap waspada. Hm, benda pusaka apalagi yang dimiliki pemimpin de facto Trah Somawangi itu?
__ADS_1
“Pusaka apalagi yang kau punya Pranaja? Aku bahkan baru pernah melihatnya,” ujar Eyang Penatus.
“Ini namanya pusaka jaman modern, telepon seluler istilahnya. Kakek, jangan banyak bertanya dulu, nanti aku jelaskan. Sekarang yang penting, kakek Panembahan membuka sedikit selubung gaib yang menutupi bumi Padukuhan Somawangi.”
“Untuk apa Pranaja?”
“Biar sinyal bisa masuk.”
“Sinyal? Makhluk apa itu?”
“Kau mau memasukkan makhluk asing ke Tanah Perdikan Somawangi?” kali ini Raden Mas Parto yang bicara sambil melotot.
Hadewh, Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
“Sinyal itu sumber kekuatan pusaka ini kakek. Itu bukan makhluk tapi kekuatan para dewa yang dikirim dari langit.”
Wow, ketiga kakeknya saling berpandangan sambil melongo. Panembahan Mbah Iro segera membuka sedikit selubung gaib yang menutupi dukuh Somawangi dari pandangan orang luar. Bahkan terlindung dari citra satelit, hingga padukuhan ini tidak bisa ditemukan di google map. Begitu selubung dibuka sedikit, sinyal seluler langsung masuk dan menyambungkan ponsel Pranaja dengan dunia luar.
Drrrt..Drrrt…Drrrt..!
Tutut…Tutut..Tutut...!
“Assalaamu’alaikum! Pranaja!”
“Wa’alaikumsalam! Andika!”
“Kebetulan kau menghubungiku. Dari tadi aku mencoba menghubungimu tapi sinyalnya susah sekali,” kata Andika.
Pranaja mengangkat kedua alis matanya. Firasatnya Andika pasti akan membicarakan masalah yang sama yang terjadi di padukuhan Somawangi.
“Apa ada hal yang penting, Andika?”
“Abah Kyai Badrussalam memintamu untuk datang ke Pesantren, bersama Kakek Panembahan Mbah Iro.”
“Hm, apa hujan salju pagi ini juga terjadi Pesantren?”
Bukannya menjawab pertanyaan Pranaja, Andika malah mematikan ponselnya.
“Sudah, pokoknya kamu datang kesini. Nanti semua dijelaskan sama Abah.”
__ADS_1
Klik!
Pranaja sedikit kesal, tapi dia mencoba memahami keadaan Andika. Mungkin ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di pesantrean, sehingga dia tidak bisa bicara lama-lama. Makanya Kyai Badrussalam meminta dirinya dan kakek Panembahan untuk datang ke sana. Lalu dia menoleh ke arah ketiga kakeknya yang berdiri mematung dibelakangnya. Rupanya mereka masih takjub dengan pusaka ponsel milik Pranaja yang bisa mengundang orang untuk berbicara.
“Itu Kaca Benggala, Pranaja?” tanya mereka berbarengan.
Pranaja hanya tersenyum. Dia juga bingung mau berbicara apa. Lalu tanpa menjawab pertanyaan mereka, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam kotak kayu. Kemudian mengajak ketiga kakeknya untuk berkemas karena diundang kyai Badrussalam untuk datang ke Pesantren Ksatriyan Santri.
***
Bayi merah itu tertidur tenang dalam pelukan ibunya. Bibir mungilnya tak henti menyedot air susu dari \*\*\*\*\* Miryam. Matanya terkatup rapat, dan nafasny mengalun begitu tenang. Terlihat tali pusarnya masih utuh, terkulai di antara kedua kakinya. Rupanya belum ada alat yang mampu memotong tali pusarnya. Karena itulah Kyai Badrussalam perlu berbicara dengan Panembahan Mbah Iro untuk mencari cara yang tepat untuk memotong tali pusarnya.
Wajah Miryam begitu sumringah. Bibirnya tak henti tersenyum. Rasa sakit akibat melahirkan sudah tidak dirasakannya lagi. Apalagi kekuatan Tirtanala dalam tubuhnya membuat semua luka yang diakibatkan saat proses melahirkan sembuh dengan sendirinya. Luka robek dan jaringan darah yang rusak pun kembali utuh seperti semula.
“Assalamu’alaikum!”
“Waalaikumsalam!”
Seorang santriwati dan seorang dukun bayi masuk ke kamar Miryam untuk membereskan semua kain dan sprei yang kotor akibat proses persalinan. Sang dukun meletakkan beberapa botol minuman jamu untuk memperkuat tubuh seorang ibu setelah melahirkan. Setelah itu dia menghampiri tubuh Miryam dan memandang si jabang bayi dengan pandangan takjub. Baru lahir tadi pagi, tapi kok tubuhnya sudah bertambah panjang.
“Wadduh, anak ganteng lagi bobo ya?” kata mbah dukun.
Miryam tersenyum.
“Bagaimana mbok?” tanya Miryam.
“Aku akan memandikan puteramu dan memijat beberapa bagian tubuhmu, biar kembali seperti semula,” sahut mbah Dukun.
Miryam menganggukkan kepalanya. Dia bangkit dari tidurnya dan pindah ke dipan kecil di sudut ruangan untuk di pijat. Lalu mbah dukun mendekati si jabang bayi. Bermaksud untuk memijatnya. Namun baru saja dia memegang kakinya, mendadak bayi merah itu membuka matanya, lalu menendang bahu mbah dukun.
Bug!
Tubuh renta itu terhuyung ke belakang hampir menumbuk tiang besar di tengah kamar. Untunglah Miryam dengan sigap menangkapnya lalu membaringkannya di atas dipan kecil itu. Terlihat mbah dukun sudah pingsan karena bahu kanannya remuk. Miryam segera meletakkan tangan kanannya di ujung kepala perempuan tua itu, menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan.
“Kekuatan Tirtanala!”
__ADS_1