DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 148 PENGORBANAN DANDUNG


__ADS_3

EPS 148 PENGORBANAN DANDUNG


Euforia kemenangan langsung merasuki perasaan Ron Muller dan anak buahnya. Meihat kekacauan yang terjadi di Megapolitan, mereka optimis bisa menyelesaikan pertempuran dengan mudah. Tanpa bersusah payah, tanpa pengorbanan yang berdarah-darah. Musuh sudah saling menghabisi kekuatannya sendiri Apalagi ketika mendengar berita tewasnya sang pentolan Megapolitan, Pramono.



“Horee!” teriakan mereka mengangkasa.



Ron memeluk Alexander Busco, otak dibalik serangan hipnotis melalui suara digital itu. Kini dia menjadi pahlawan baru. Namanya dielu-elukan oleh anak buah Ron Muller.



“Good Jab Alex! Congratulation!” ujar Ron sambil menepuk-nepuk bahunya.


Alex tersenyum lebar. Wajahnya terlihat sangat puas. Ini adalah pengalaman pertama dia melakukan brainstorming dalam sebuah pertempuran yang nyata, dan brhasil. Serangan hipnotiknya berhasil mengacaukan sistem koordinasi musuh, sehingga mereka merasa bingung dengan garis komando dan saling membunuh sendiri.


“Terimakasih bos,” ujarnya.


“Let’s make the game over,” ujar Ron. “Ayo kita selesaikan permainan ini.”



Ron segera memakai headsetnya kembali, diikuti seluruh anak buahnya. Mereka memang harus memakai penutup telinga agar tak mendengar suara Alex yang mengandung kekuatan hipnotis.



“Koln! Bagaimana dengan Fritz dan pasukan asing yang datang dari puncak bukit?” tanya Ron mengalihkan perhatiannya.


Koln hanya mengangkat bahunya. Wajahnya terlihat sedih dan ragu.


“Aku belum tahu pasti Ron. Dari tadi ponselnya tak bisa ku hubungi. Perasaanku mengatakan kalau dia sudah tewas.”


Mata Ron membulat sempurna. Wajahnya berubah tegang.


“Apa? Fritz tewas? Bagaimana kau berkesimpulan begitu?”


“Tidak ada tanda-tanda darinya. Tidak biasanya Fritz begitu. Dia selalu menghubungi kita setiap saat. Dan aku sempat mendengar teriakan terakhirnya tadi di ponselku.”



Wajah Ron langsung mengeras menahan marah. Tidak mungkin! batinnya. Fritz adalah sahabat terbaiknya selain Koln. Mereka bertiga melewati masa kecil bersama dan tumbuh dewasa bersama. Saling menjaga dan saling melengkapi. Walaupun sesungguhnya Fritz dan Koln lebih banyak berfungsi sebagai menjadi pengawal dan penasehat Ron dalam hal apapun selama ini.



“Keparat! Kurang ajar!” umpat Ron dengan tangan terkepal. “Ayo kita balas kematian Fritz.”


Koln menganggukkan kepalanya.


“Koordinasikan pasukan ke arah atas bukit. Suruh alex melaksanakan tugasnya kembali. Aku ingin Fritz juga merasakan kemenangan kita.”



Koln langsung melaksanakan perintah Ron. Seluruh pasukan segera berbalik, bergerak ke atas bukit. Melacak jejak pasukan asing yang tiba-tiba menghilang dari tangkapan layar monitor. Citra satelit menunjukkan keadaan puncak bukit Kethileng yang porak poranda dan banyak mayat berserakan di mana-mana dengan keadaan tubuh gosong.



“Tidak ada seorangpun yang terlihat hidup disana bos,” ujar sang operator.


__ADS_1


Ron hanya terdiam. keningnya langsung berkerut. Hm, ada sesuatu yang membuatnya haris waspada. Aneh, kemana pasukan itu menghilang? Apa ini ada hubungannya dengan keangkeran legenda hutan Kecipir? Tubuh-tubuh musuhnya ditelan bulat-bulat oleh para penghuni hutan yang melingkupi separuh perbukitan Kethileng?



“Hati-hati Koln. Perintahkan anak-anak untuk tetap dalam keadaan siaga satu.”


Semakin mendekati puncak bukit, keadaan semakin gelap. Bayang-bayang pepohonan besar dan semak belukar yang rimbun seperti mengepung mereka.


Tut…tut…tut..!


Terdengar alarm berbunyi. Wajah sang operator langsung memucat sambil melihat layar monitor laptopnya.


“Bos! Mereka muncul lagi!” teriaknya. “Dan mereka tidak jauh dari kita!”



“Apa?”


Ron terkesiap. Tapi belum sempat bibirnya memberikan perintah apapun, mendadak ada suara yang membentaknya. Terlihat AKP Dandung berdiri mengacungkan senjatanya.


“Menyerahlah Ron! Atas nama hukum Indonesia aku memberi kesempatan kalian untuk meletakkan senjata dan menyerahkan diri dengan baik-baik!” teriak Dandung’


Ron tersentak. Dia langsung membalas perintah Dandung dengan tembakan senjata lasernya.


Slap!


Dandung melompat ke balik pohon. Sinar laser itu hanya mengenai sebuah batang pohon besar yang langsung bolong dalam keadaan gosong.


“Balas serangan!” teriak AKP Zein Rumiwa, komandan pasukan anti teror.


Tiba-tiba semak-semak belukar yang mengepung pasukan Ron Muller tersingkap. Zein dan anak buahnya munculdari bawah tanah dan langsung menembaki mereka dari jarak dekat. Anak buah Ron yang tidak memperkirakan serangan itu tidak sempat membalas serangan mereka. Zein tahu, pasukan musuh dilengkapi dengan senjata laser yang sangat berbahaya. Dia tidak mau memberi kesempatan musuhnya untuk menggunakannya.


Tubuh-tubuh anak buah Ron langsung jatuh bagaikan daun-daun kering yang berguguran tertiup angin musim kemarau. Mereka menjadi sasaran empuk anak buah Zein.



“Alex! Gunakan kemampuanmu!” teriak Ron dari balik sebuah batu besar.


Alexander Busco segera memasang peralatannya. Dia bermaksud menggunakan kekuatan digital hipnotiknya untuk kembali memenangkan pertempuran. Seorang penembak jitu yang ditudaskan Dandung untuk mengamati gerak-geriknya dari balik pohon langsung menembaknya. Sayang angin yang mendadak bertiup kencang membuat tembakannya meleset, Pelurunya hanya mengenai topi baja yang dipakai Alex.



Trang!



Suara benturan yang sangat keras di bagian telinganya itu membuat alat pendengarannya bergetar hebat dan berdarah. Untuk sesaat Alex kehilangan kesadarannya. Akibatnya dia tidak bisa mengeluarkan kemampuannya dan pengaruh hipnotisnya pun hilang.



Tratatatata!!



Dan pembantaian itu pun berakhir. Sebagian besar anak buah Ron tewas, sebagian lainnya menyerahkan diri. Hanya Koln dan Ron Muller yang tidak ditemukan.



“Amankan keadaan Zein! Aku akan mencari Ron,” ujarnya.


Zein menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku ikut!” tiba-tiba terdengar suara perempuan muncul.


“Lucra? Kau datang tepat waktu. Tolong kau bantu Zein mengurus buronanmu itu,” ujarnya sambil menunjuk anak buah Ron.


Lucra menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Aku akan membantumu mengejar Ron. Dia adalah target buruanku.”



Dandung tidak bisa menolak permintaan Lucra. Akhirnya Lucra dan dua orang agen M16 lainnya membantu melacak keberadaan Ron dan Koln. Mereka menggunakan peralatan sinar infra merah yang bisa melacak keberadaan seseorang melalui suhu tubuhnya. Rupanya Ron dan Koln berlari ke arah lembah menuju sungai Tambra.



“Keberadaan mereka tidak jauh dari sini,” ujar salah satu anak buah Lucra.


Mereka berjalan semakin berhati-hati. Memasuki deretan pohon-pohon Mahoni yang tumbuh subur di sepanjang sungai.



Aeekekek..kek..!



Terdengar suara seseorang yang seperti tercekik.



Slap!



Seberkas sinar berwarna ungu menerobos kerimbunan dedaunan dari atas dahan pohon Mahoni. Lucra yang berdiri paling dekat dengan pohon itu terkesiap kaget. Ketika dia menengok ke atas, dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Tubuh Koln yang bersembunyi di atas pohon, tampak dililit seekor ular besar, dari pinggang sampai ke lehernya. Mulut besar ular itu sudah menganga siap mencaplok tubuh Koln.



Plok!


“Aakh!” tanpa sadar Lucra berteriak.



Kesalahan fatal. Tiba-tiba tubuh Ron muncul dan langsung menembak Lucra. Dandung yang melihat pergerakan Ron langsung melompat dan mendorong tubuh perempuan seksi itu. Dan tembakan sinar laser itu mengenai tubuh Dandung tepat di dadanya.



Slap!


Aaragh! teriak Dandung.



“Dandung!” teriak Lucra.


Agen 004 itu langsung bangkit dan memburu tubuh Dandung. Sementara anak buah Lucra tak memberi kesempatan Ron untuk menggunakan senjata mautnya lagi. Mereka langsung menghadiahi tembakan mematikan tepat di kepala Ron Muller. Tubuh adik Blade Muller itu langsung tewas dengan kepala bersimbah darah.



“Dandung!” teriak Lucra lagi.


Tapi terlambat. Nyawa perwira polisi paling tampan se Indonesia itu langsung tewas dengan tubuh gosong dalam pelukan Lucra Venzi, agen 004 yang cantik jelita.

__ADS_1


__ADS_2