DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 76 AKUISISI


__ADS_3

EPS 76 AKUISISI


Hari yang menyenangkan. Matahari bersinar cerah, menerangi kota Cape Coral yang indah. Kota kecil di negara bagian Florida, Amerika itu begitu damai. Kota yang dikelilingi banyak kanal itu merupakan tempat yang cocok untuk melepas penat di tengah kesibukan yang begitu padat. Hanya ada sedikit kendaraan yang melintas di jalanan. Penduduknya lebih suka berjalan kaki atau naik sepeda kemana-mana.


Di sepanjang kanal-kanal itu, banyak sekali perahu layar yang berlabuh dengan rapi. Hampir seluruh penduduk memiliki perahu layar. Tempat mereka menghabiskan sebagian besar waktunya. Pohon kelapa yang tumbuh di tepi kanal menjadi tambatan perahu-perahu itu, sekaligus juga menjadi tempat berteduh yang menyejukkan. Keindahan alamnya menimbulkan kesan eksotis yang membuat perasaan menjadi nyaman dan menyenangkan.


Di sebuah kapal pesiar yang paling besar dan super mewah, Subrata mengendalikan bisnisnya yang tersebar di seluruh dunia. Dilengkapi dengan perangkat digital yang super canggih yang membantunya mengetahui keadaan pasar dengan cepat. Dengan kecanggihan tekhnologi itulah dia dapat hadir di manapun secara virtual.


Tapi suasana di pagi itu lain dari biasanya. Hari ini dia kedatangan tamu yang sangat penting. CEO Mexican Viscom Media, sekaligus pemilik saham 49 persen Megapolitan Intercorp, Marcon Allpanigard. Dia datang bersama lawyernya yang cantik, Susan Ferguson dari Firma Hukum Susan See dan mantan orang kepercayaannya Pramono. Kepada ketiga orang tamunya, Subrata bercerita tentang keserakahan manusia.


“Apa maksudmu menceriterakan semua ini Mister Subrata?” tanya Marcon dengan nada tinggi.


“Maksudku? Apa kau belum bisa menangkap inti kisah tadi?” Subrata balik bertanya.


Marcon hampir saja berbicara lagi, tapi Susan menggamit punggungnya agar dia tidak terbawa emosi. Hanya Pramono yang duduk diam sambil memperhatikan. Dia sudah hafal benar karakter Subrata yang begitu percaya diri, tenang menghadapi berbagai situasi, dan siap memukul balik untuk memuat musuh frustasi.


“Terimakasih telah menceritakan kisahmu, sungguh inspiratif. Kita kembali ke inti persoalan Mister Subrata, tidak perlu berbelit.”


Subrata menghela nafas. Tapi wajahnya begitu datar, hampir tanpa ekspresi. Kemudian dia berdiri, berjalan mondar-mandir seperti berpikir. Membuat para tamunya diam menunggu dalam gelisah. Yang paling kesal tentu saja Marcon Allpanigard. Perilaku Subrata benar-benar mengaduk-aduk perasaannya.


“Inti persoalan? Baiklah. Sekarang katakan apa maksud kalian datang kemari,” ujar Subrata akhirnya.


“Kami ingin mengakuisisi seluruh kepemilikan saham Megapolitan,” sahut Susan hati-hati.


Subrata menatap wajah Susan See dalam-dalam. Lawyer kelas atas di negeri paman Sam itu jadi salah tingkah. Tatapan Subrata seperti menguliti tubuhnya luar dalam. Hal yang membuat Marcon semakin sebal.


“Katakan Susan,” kata Subrata. “Apakah kau mencintainya?”


“Apa?”


“Apa kau mencintai Marcon Allpanigard?”tanya Subrata tanpa basa-basi.


Susan terkesiap kaget. Pertanyaan itu betul-betul di luar perkiraannya. Bahkan Marcon langsung berdiri dari tempat duduknya, saking kagetnya. Kenapa Subrata menanyakan sesuatu yang sama sekali di luar pembicaraan bisnis? Apa maksudnya? Berbagai pertanyaan timbul di hati keduanya. Hal yang membuat Susan kesulitan menjawabnya.


“Tak perlu kau jawab Susan,” kata Subrata sambil tersenyum sinis. “Mungkin pemuda ini memang tidak layak kau cintai. Karena kau lebih membutuhkan laki-laki yang matang dalam berpikir, meskipun usianya tak muda lagi.”


“Apa kau sedang merayunya Subrata?” teriak Marcon.


Kali ini Marcon betul-betul tidak bisa menahan kemarahannya. Kata-kata Subrata jelas-jelas menyindir dirinya. Bukan saja meremehkan, tapi juga menghina harga dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di daratan Amerika. Dan lebih parahnya, hinaan itu diucapkan kepada Susan See, perempuan yang sangat dicintainya.Subrata tertawa lebar.


“Kenapa? Kau tersinggung? Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada Susan, apakah kata-kataku benar atau salah. Bukan begitu Susan?”

__ADS_1


Susan hanya terdiam. Marcon memandang gadis itu dengan wajah tegang. Dan tawa Subrata semakin menggema. Begitu ringan dan renyah. Seperti anak kecil menemukan mainan yang sudah lama diinginkannya.


“Diam berarti Susan membenarkan kata-kataku. Hahaha…”


“Memang apa kehebatanmu Subrata?”


Subrata menggelengkan kepalanya.


“Tidak perlu orang hebat kalau hanya untuk berhadapan denganmu. Kau datang ke hadapanku untuk mengambil alih Megapolitan. Memang apa yang kau punya?”


Hati Marcon semakin mendidih.


“Sebutkan saja berapa harga yang harus aku keluarkan untuk menendangmu keluar dari Megapolitan, Subrata!”


“Aku tidak tertarik dengan uangmu.”


Deg! Persis dugaan Pramono, Subrata betul betul tidak tertarik dengan uangnya.


“Aku akan memberikan kepemilikan Mexican Viscom Media kepadamu.”


Subrata tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Nilainya tidak sepadan. Megapolitan City adalah kawasan hunian elit para pemimpin dunia”


“Sepuluh milyar dolar? Hm, itu lima menit yang lalu. Sekarang tidak lagi.”


Apa? Semua tamu Subrata terkesiap kaget.


Drrt!...Drrt!...


Telepon genggam milik Marcon bergetar, Dia langsung mengangkatnya.


“Halo! Marcon’s speaking!”


“Maaf tuan, dua satelit terbesar milik kita, tiba-tiba hancur di tabrak gugusan asteroid,” kata seseorang dengan nada cemas dari ujung telepon. “Kita tidak bisa menyiarkan apapun selama satu minggu.”


Marcon menepuk jidatnya.


Drrt!...Drrt!...


Ponsel Marcon berbunyi kembali. Kali ini dari ruangan produksi.

__ADS_1


“Maaf pak, delapan perusahaan besar telah mencabut iklannya dari kita. Alasannya karena kita tidak bisa menayangkannya,” sahut kepala produksi.


“What!”


Marcon terlihat marah dan mulai frustasi.


Drrt!..Drrt!...


Lagi-lagi nak buahnya menelpon. Kali ini dari pak Haelly, direktur umum yang pekerjaannya melaporkan situasi dari Bursa Saham.


“Maaf pak, nilai saham kita hancur berantakan karena ledakan yang menghancurkan satelit kita.”


Prak!


Marcon langsung membanting ponselnya. Untung posel mahal, jadi tidak hancur berantakan. Hanya mental saja ke sana kemari.


“Subrataa…!” teriaknya dengan suara keras.


Taipan yang kekayannya menempati posisi empat dunia itu hanya tersenyum.


“Cepat katakan Subrata! Katakan saja apa yang kau mau!” sambung Marcon lagi.


“Aku menginginkan Allpanigard Castle sebagai tambahannya,” sahut Subrata dengan wajah dingin.


Tubuh Marcon bergetar hebat, Keringat dingin mengalir begitu deras dari wajah dan ujung rambutnya. Situasi kini berbalik. Marcon yang datang penuh kesombongan, kini di wajahnya terbayang kekalahan dan ketakutan. Subrata benar-benar telah menghimpitnya dengan dua pilihan yang sangat sulit.


“Tunggu!” mendadak Susan berteriak.


Dia berdiri di depan Marcon, seolah melindunginya dari tatapan Subrata yang mengintimidasi.


“Aku rasa kau terlalu berlebihan Subrata.”


“Apa maksudmu?”


“Mexican Viscom Media ditambah Allpanigard Castle nilainya jauh lebih tinggi dari Megapolitanmu, Subrata.”


Subrata mengangkat bahu dan kedua tanganku.


“Kalian sendiri yang datang untuk menawar Megapolitan, setelah aku sebutkan nilainya, kalian malah terkejut dan menuduh aku berlebihan. Sebenarnya kalian punya uang atau tidak?”


“Baik, aku akan membayarnya tapi dengan satu syarat. Aku bisa membelinya kembali suatu saat nanti,” ujar Marcon Allpanigard.

__ADS_1


Hehehe…


__ADS_2