EPS 106 KEBAKARAN
Malam itu langit diatas gunung Santren dimana Pesantren Ksatrian Santri berada sangat gelap. Awan hitam menutupi sebagian besar bentang alamnya yang begitu kelam, membuat suasana begitu mistis dan mencekam. Tidak ada suara manusia atau desah napas yang terdengar. Semua sudah terlelap di alam mimpinya masing-masing.
Namun mendadak langit menjadi terang benderang. Gulungan api sebesar gubuk di sawah melesat membelah kegelapan langit diatas bukit besar itu. Bola api turun dengan cepat, menabrak gerbang masuk sebuah desa hingga habis terbakar. Terus menggulung, meninggalkan jejak kebakaran hebat di setiap benda yang di lewatinya. Sesaat kemudian gulungan api itu berhenti di depan bangunan besar, Pondok Pesantren Ksatrian Santri.
Kobaran api yang membakar gerbang desa sekitar pondok itu semakin membesar. Di dorong angin musim kemarau yang kering, kobaran api merambat kemana-mana. Pepohonan, tanaman bunga, tanaman ladang, dan perumahan penduduk. Banyak penduduk kampung yang tak sempat menyelamatkan diri karena telalu lelap dengan tidurnya. Sebagian hutan jati yang mengelilingi pondok pun ikut terbakar.
‘Aakh!’
“Panas! Tolong kebakaran!”
Terdengar teriakan minta tolong dan kegaduhan dimana-mana. Sebagian besar mereka panik dan kaget begitu melihat rumahnya tahu-tahu diselubung api. Ada juga yang tak menyadari datangnya kobaran hebat itu, Lalu mendadak dia merasa panas, sakit dan susah bernafas karena rumahnya sudah dikepung api. Ada juga yang tak sempat minta tolong saat sedang enak tidur, lalu kejatuhan atapnya yang terbakar memanggang tubuhnya hidup-hidup.
Sementara itu gulungan api itu semakin lama semakin mengecil dan berganti dengan sosok tubuh manusia yang berdiri tegak memandang bangunan kosong itu. Walaupun apinya sudah padam, tapi sekujur tubuh Siluman Baaapati. tetap mengeluarkan cahaya merah membara. Jangankan manusia, iblis yang tercipta dari api pun mungkin bergidik melihat sosoknya.
Pondok Pesantren Ksatrian Santri terletak di tengah lembah sebuah bukit besar dengan ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Orang-orang menyebut bukit itu dengan nama Gunung Santren. Gunung Santren merupakan gunung mati yang berada ditengah, dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede.
Di puncak gunung Santren terdapat makam-makam para penyebar Islam di daerah itu. Sebagian besar dari mereka adalah kerabat dan leluhur Kyai Badrussalam. Gunung Santren berwujud bukit yang eksotis dengan keindahan alamnya yang luar biasa, Jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncaknya sekitar limaratus meter dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Ada jalan berundak yang jumlahnya sekitar sembilan puluh sembilan anak tangga.
Kampung-kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejawar, Lumajang, Ciregol, Beji, Gunung Santren dan Pancoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Raya lama yaitu Masjid Darussalam yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya itu.
Banyak masyarakat yang meluangkan waktunya untuk berziarah ke tempat itu.
Kebakaran hebat dan suara gaduh itu membangunkan penghuni Pesantren. Mereka melihat langit di sebelah timur yang terlihat terang benderang berwarna merah menyala. Seketika suasana menjadi ramai. Beberapa santri dan ustadz-ustadaz muda berlari kencang menuju tempat itu, bermaksud ingin memberikan pertolongan.
“Tolong! Ah Panaaas!”
__ADS_1
Sementara di dalam pesantren juga terjadi kehebohan. Mereka dilanda rasa bingung karena dua tokoh pimpinan yaitu Kyai Badrussalam dan Panembahan Mbah Iro sedang pergi keluar mencari keberadaan Rich Pranaja.
“Mas Andika bagaimana ini? Lihatlah hutan disekeliling pesantren telah terbakar,” seru Alimin dengan tergopoh-gopoh.
Andika yang baru bangun tidur dan sedang asyik membaca serat Kalimasada terkesiap kaget. Memandang wajah Alimin seperti tak percaya.
“Kebakaran?”
Alimin mengangguk cepat.
“Iya, mas! Api semakin mendekati bangunan pesantren kita. Apa kau tidak merasakan panasnya?”
Andika bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu. Dari depan pintu itu dia melihat kobaran api yang menggunung membakar hutan jati di luar pesantren. Hah? Andika seperti tercenung, benar ada kebakaran. Memang aneh, kenapa dia tidak merasakan hawa panas? Malah merasakan hawa sejuk menyelimuti dirinya? Batinnya.
“Mas Andika! Kok malah melamun?”
“Miryam? Aku harus menyelamatkannya,” ucapnya tiba-tiba.
Alimin jadi kesal, lalu menepuk bahu Andika.
“Keadaan Miryam baik-baik saja, selama pesantren kita tidak terbakar,” katanya mengingatkan Andika. “Saat ini yang perlu dilakukan bagaimana menyelamatkan pesantren.”
Tanpa menjawab kata-kata Alimin, tubuh Andika melesat terbang keluar ruangan kliniknya. Dilihatnya para santri yang terlihat panik, berdiri di depan ruangannya masing-masing. Terlihat Mukhsin Bae sedang mengatur agar mereka tidak panik dan tetap tenang. Mereka terlihat patuh dengan santri paling senior di pesantren ini.
“Tenang! Jangan ada yang pergi sebelum ada perintah! Kalau terpaksa kita harus meninggalkan pesantren ini, ikuti jalur evakuasi yang sudah pernah kalian praktekkan dulu. Ingat?” tanya Mukhsin Bae.
“Ingat!” jawab para santri itu serempak.
__ADS_1
Andika menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat kalau Abah kyai Badrussalam sedang tidak ada di pesantren. Dia pergi bersama Panembahan Mbah Iro untuk mencari Pranaja. Biasanya kalau Abah sedang bepergian, urusan pesantren dia yang mengambil alih sesuai amanat sang Kyai. Lalu dia menengok Alimin yang berdiri dibelakangnya.
“Eh, Alimin, kumpulkan semua santri senior dan para ustadz. Minta mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi kebakaran. Cari ember atau wadah apapun yang bisa digunakan, lalu isilah dengan air sampai penuh.,” katanya.
“Bagaimana dengan para santri mas?”
“Lihat situasi nanti. Sementara ini, biarkan mereka tetap siaga di depan kamarnya masing-masing. Minta para ustadzah untuk mendampingi mereka, biar tetap tenang. Bacalah dzikir dan doa penolak bala bersama-sama dengan suara yang keras.”
Alimin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Lalu segera bergerak meninggalkan Andika yang masih terpaku melihat nyala api. Masih saja dia merasa heran, kenapa panas api itu tidak berpengaruh pada dirinya?
Jleg! Jleg!
Terdengar suara kaki menapak tepat di belakangnya. Andika menoleh, ternyata Raden Mas Parto dan Eyang Penatus. Memakai jubah kebesarannya masing-masing, mereka terlihat sudah siap tempur menghadapi bahaya yang sudah di depan mata.
“Eh, kakek! Maafkan aku telah melupakan kalian. Tak seharusnya aku melalaikan para tamu yang datang ke pesantren ini,” kata Andika tak enak hati.
“Tidak usah sungkan Andika. Ini masalah kita bersama, tidak mungkin kami berpangku tangan saja,” kata Raden Mas Parto.
“Jangan lagi memandang kami sebagai orang lain Andika. Kita adalah keluarga,” sambung Eyang Penatus.
Andika tersenyum lebar.
“Terimakasih kakek. Kita hanya perlu mempersiapkan diri sebelum api itu merembet ke pesantren,” katanya.
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan Andika,”
Satu suara mengagetkan mereka.
__ADS_1
“Miryam?”