DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 06 PERUBAHAN PRANAJA


__ADS_3

EPS 06 PERUBAHAN PRANAJA


Pagi baru saja menjelang. Matahari belum juga menampakkan sinarnya, walapun langit sudah semerah saga. Panembahan Mbah Iro masih diam menunggu di tepi sendang Edi Peni. Matanya tertutup rapat sedang mulutnya tidak pernah berhenti mengucapkan puja puji dan doa kepada Sang Hyang Widhi.


“Marakesh Atulla Hyang Ning Jagad Karahunan Paring Kang Sakrakat Saleh Purna.”


Pada hari yang ketujuh sejak mengawali pertapaannya, tubuh Pranaja terbaring dengan tenang di dalam telaga. Panembahan memeriksanya setiap saat. Selama itu pula, ketua Trah Somawangi itu tidak pernah beranjak pergi dari tempat. Kadang ada orang-orang kepercayaannya, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto yang menggantikannya sebentar, saat dia sedang ada keperluan.


“Ini hari terakhir Pranaja di rendam di dalam sendang kakang Panembahan?”


Panembahan Mbah Iro menganggukkan kepalanya.


“Kita tunggu nanti saat matahari tergelincir, masuk Sandyakala, yaitu pergantian waktu antara siang dan malam. Di titik puncak pergantian siang dan malam itulah puncak kekuatan sendang Edi Peni akan terjadi.”


Mereka semua jadi penasaran dan tidak sabar melihat akhir pertapaan calon penerus kepemimpinan Trah Somawangi itu.


“Mas Parto?” bisik Eyang Penatus


“Hmh…” desis Raden Mas Parto tanpa menoleh


“Kau tidak ingin direndam dalam situ?” ujar Eyang Penatus sambil menujuk dalam Sendang.


“Untuk apa?.”


“Khasiat air Sendang Edi Peni bisa merubah fisik seseorang kembali menjadi muda.”


“Hmm, iya aku tahu. Memangnya kamu kepengin muda kembali?”


“Kepengin lah. Tapi apa ada syaratnya?”


“Ada.”


“Apa?”


“Kau harus menunggu sampai tahun kembar berikutnya.”

__ADS_1


Eyang Penatus mengernyitkan keningnya? Tahun kembar berikutnya? Ini tahun 2020, tahun kembar berikutnya 2121. Wah lama banget.


“Berarti harus menunggu seratus tahun dong?”


Raden Mas Parto mengangguk. Eyang Penatus menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gak mau ah, kelamaan,” gumamnya sambil ngeloyor pergi.


Raden Mas Parto tersenyum geli sendiri.


Sementara Panembahan Mbah Iro menangkap sesuatu yang ganjil. Mendadak sudut matanya melihat cahaya aneh dari dalam sendang. Cahaya itu berasal dari benda kecil yang dipakai di leher Pranaja. Saat masuk ke dalam air, Panembahan tak begitu memperhatikan karena sekujur tubuh Pranaja tertutup tanah liat putih.


Cahaya itu begitu terang, hingga setiap sudut di dalam sendang yang tidak begitu besar itu kelihatan.


“Hm, itu pasti batu mustika,” pikirnya. Cahayanya berbeda dengan batu meteor ataupn pantulan batu mulia lainnya. “Batu jenis apa kok bisa seterang itu di dalam air?”


Panembahan semakin penasaran ingin meraih batu mustika itu, saat tiba-tiba sesuatu melesat dari dalam tas ransel Pranaja yang selalu dibawanya kemana-mana. Benda itu mengeluarkan sinar berwarna merah darah. Begitu terang melengkapi cahaya putih biru yang terpancar dari dasar sendang. Benda berwarna merah itu melesat dari dalam tas dan kemudian meluncur cepat masuk ke dalam sendang dimana tubuh Pranaja bersemayam.


Byur!


“Benda apa itu?” tanya Eyang Penatus. “Seperti sebuah pedang keramat.”


“Kau benar Penatus. Itu memang sebuah pedang,” sahut Panembahan.


Panembahan berusaha bersikap tidak gegabah. Dia belum mengenali pedang pusaka apa yang masuk ke dalam sendang. Untung matahari sudah mulai tergelincir. Sebentar lagi waktu Sandhyakala akan tiba. Artinya pertapaan Pranaja telah selesai. Tinggal melihat hasil perubahannya, atau wujud barunya.


***


Akhirnya waktu yang ditunggupun tiba. Titik pergeseran antara siang dan malam yang menggenapkan rentang waktu pertapaan Pranaja selama tujuh hari tujuh malam. Proses penyempurnaan kekuatan fisik dan jiwa Pranaja menuju kebijakan seorang pemimpin.


Pada puncak Sandyakala itu, sendang Edi Peni semakin terang. Bias cahayanya bahkan ikut keluar menerangi lingkungan sekitar. Menembus rapatnya pohon-pohon besar dan kerimbunan dedaunan. Bahkan kalau dilihat dari kejauhan, puncak gunung mati seperti memancarkan cahaya bulan. putih kebiruan. Indah sekali.


“Wow! Cahaya apa ini Kakang Panembahan? Kok terang sekali,” ujar Mas Parto.


“Cahaya ini berasal dari puncak kekuatan air sendang, tapi yang membuat cahayanya menembus kemana-mana adalah benda kecil yang dipakai Pranaja,” sahut Panembahan.

__ADS_1


“Benda kecil?” tanya Mas Parto penuh rasa takjub.


Pandangannya beralih ke benda kecil bersinar terang di leher Pranaja. Juga pedang pusaka yang terselubung warna merah darah.


“Itu batu mustika kakang Panembahan?” sambung Eyang Penatus.


“Kita belum tahu pasti. Aku akan mengangkat tubuh anak itu ke permukaan dulu. Pertapaannya sudah selesai.”


Panembahan Mbah Iro duduk bersila, kedua telapak tangannya ditangkupkan didepan dadanya. Lalu bibirnya bergerak-gerak membaca doa. Perlahan kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri. Lalu diangkat ke udara.


Perlahan tubuh Pranaja yang berada di dasar sendang ikut terangkat naik ke permukaan. Melewati lapisan pelagiknya, lalu melayang di udara. Dari pingggir sendang, Raden Mas Parto menghentakkan tubuhnya, melesat ke arah tubuh Pranaja yang tengah melayang di udara. Ditangkapnya tubuh itu lalu dibawa ke hadapan Panembahan Mbah Iro.


Sang Panembahan memandang tubuh Pranaja yang terbujur kaku itu. Sebelum dimasukkan ke dalam air, Pranaja memang telah membekukan dirinya. Komposisi oksigen di dalam butiran darahnya tetap terjaga, sehingga dia bisa bertahan di dalam air begitu lama tanpa bernapas.


“Alirkan kekuatan hawa murni kita bersama-sama, untuk membangunkan tubuhnya,” ujarnya.


Raden Mas Parto menyentuh kedua telapak kaki Pranaja, Eyang Penatus menyentuh ujung kepalanya, sedangkan Panembahan Mbah Iro menyentuh dadanya yang sedingin es dengan kedua telapak tangannya. Mereka bersama menyalurkan hawa murni yang hangat untuk membuyarkan kekuatan Tirtanala yang membekukan aliran darah dan urat syaraf Pranaja. Perlahan tubuh Pranaja mulai bergerak dari ujung kaki sampai ujung rambut.


“Bangunlah cucuku,” ujar Panembahan sambil menggoyangkan tubuh Pranaja.


“Huk! Huk!”


Terdengar suara batuk. Lalu tubuh yang sudah dihangatkan itu bangkit dari tidurnya.


“Bawa Pranaja ke bawah pancuran air hangat di sebelah sana, Mas Parto.”


Raden Mas Parto dengan telaten menuntun tubuh Pranaja ke pancuran Banyu Anget, air terjun panas yang terletak di bawah pohon beringin. Pranaja berdiri dibawah pancuran sambil membersihkan tanah liat putih yang membungkus tubuhnya. Malam semakin gelap sehingga Mas Parto menyalakan obor yang dibawanya dari rumah. Seketika suasana sekitar pancuran jadi terang benderang.


Dan pandangan Mas Parto mendadak terkesima. Matanya melotot dan mulutnya terbuka. Nampak sosok pemuda gagah yang dikenalnya bertubuh cungkring kini telah berubah.


“K..Kau Pranaja?” ucapnya gagap.


Tubuhnya tegap berisi, tinggi menjulang, berkulit putih bersih, dengan mata kecil dan hidung seperti sudut bintang, Urat-urat lengan Pranaja terlihat lebih besar, otot-otot perutnya pun terlihat sixpack. Pranaja betul-betul berubah. Wajah imutnya terlihat dewasa, dengan rahang yang terlihat keras namun dengan tatapan mata yang lembut, Setiap gadis yang melihatnya dipastikan langsung jatuh cinta.


Fall in love in the first sight!

__ADS_1


__ADS_2