EPS 120 WHAT IN THE WORLD!
Dan waktu pun berkelebat cepat, menggerogoti usia malam. Meniup Sang Dhyakala menuju fajar. Mengantar hati dari gelap menuju jalan yang penuh cahaya. Membuka tabir yang penuh misteri menjadi kenyataan. Bahwa hidup tak cukup hanya menjadi pecundang, karena cinta membutuhkan pemenang.
Mata indah bola ping pong itu mengerjap, menyiratkan keterkejutan. Lalu bola hitamnya membulat sempurna, menatap wajah Dandung dengan gemas. Selalu saja lelaki tampan itu bisa menebak isi hatinya. Tapi, darimana perwira muda itu mendapatkan informasi tentang Ron Muller, buruan internasional yang sedang diincarnya?
Dandung tersenyum melihat wajah yang sedang kesal itu.
“Hai. kau pikir dunia itu luas? Hingga hanya kau saja yang mengetahui informasi adik Blade Muller itu? Hehehe…”
Lucra yang sudah berdiri itu kembali ke ranjang, lalu membaringkan tubuhnya di atas tubuh Dandung yang masih setengah telanjang.
“Oke. Sekarang katakan padaku apa saja yang kau tahu tentang Ron Muller?”
Dandung menggeliat sambil menguap, lalu meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya.
“Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang aku mau tidur dulu. Kau lupa kalau kau telah mengurangi jatah istirahatku malam ini?”
Lalu kedua mata pejantan tangguh itu tertutup rapat. Melanjutkan tidur setelah sempat terjeda. Melabuhkan hati pada mimpi yang jadi tertunda. Tak lama terdengar suara dengkuran halus dari bibir yang tersenyum penuh kemenangan itu. Dan Lucra hanya melihat semuanya dengan gemas dan sedikit kesal. Dasar Dandung…batinnya.
Beberapa saat kemudian Aston Martin merah hati itu sudah meluncur meninggalkan apartemen Dandung. Menembus jalanan ibukota yang masih terlihat lengang. Pagi yang begitu dingin di bulan Desember membuat warga Jakarta enggan keluar rumah dan memilih berdamai dengan peraduannya.
__ADS_1
Lucra terus memperhatikan titik-titik merah menyala yang terus bergerak di layar monitornya. Sinyal merah itu menunjukkan ke arah mana mobil yang telah dipasangi alat penyadap itu pergi. Ron dan anak buahnya pasti belum menyadari kalau mobilnya telah disadap. Lucra bisa mengamati pergerakan mereka dengan leluasa. Agen 004 M16 itu segera menghubungi bosnya di markas Dinas Rahasia Inggris.
“Halo M. Kirimi aku gambar citra satelit pergerakan Ron Muller,” ujarnya.
M yang sedang serius menatap layar monitor besar di ruang kerjanya langsung mengirimkan gambar-gambar citra satelit yang diinginkan Lucra. Nampak deretan mobil Volvo hitam membentuk konvoi menuju luar kota. Mereka datang dari berbagai tempat dan bertemu di satu titik. Begitu keluar dari jalan tol, mereka bergerak bersama melewati jalur sepi menuju luar kota.
“Kemana mereka pergi?” tanya Lucra.
“Kemungkinan besar ke arah Megapolitan,” sahut M.
“Alasannya?”
“Kau lupa kalau Blade Muller terbunuh di sana?”
“Aku tidak akan pernah melupakannya. Tapi siapa yang dia target di Megapolitan? Bukankah perusahaan itu sudah diambil alih Marcon Allpanigard?”
M menganggukkan kepalanya.
“Kau benar Lucra. Pemilik Megapolitan sekarang telah berganti, tapi pemimpin di sana masih sama.”
“Siapa?”
“Mister Pramono, Presiden Direktur Megapolitan Intercorp yang baru saja diangkat kembali oleh Marcon menduduki jabatan yang sama, setelah sempat dipecat oleh pemilik yang lama, mister Subrata.”
M memberikan informasi yang mendetail. Dan Lucra hanya tediam tak habis pikir. Pramono kembali ke Megapolitan? Itu artinya dia akan terlibat pertempuran dengan orang-orang yang sama? Hm, benar kata Dandung, dunia tidak lebih luas dari daun kelor. Lalu apa yang terjadi di dalamnya? Segala sesuatunya selalu memberikannya sebuah kejutan.
__ADS_1
Wow! What in the world!
***
Tiba-tiba gerimis turun, sesuatu yang sudah lama tak terjadi di tengah kemarau yang begitu panjang. Ron Muller terus berjalan diikuti para pengawal dan puluhan tentara bayran anak didik kakaknya Blade Muller. Mereka bergabung dengan Ron untuk membalas dendam kematian guru mereka terhadap Pramono.m presiden direktur Mgapolitan Intercorp.
Memasuki bukit Kethileng yang menjadi ujung hulu sungai Tambra mereka menyebar masuk ke dalam hutan. Menyelinap di antara pepohonan besar, tanah yang basah dan kabut yang menutupi pandangan ditambah medan yang cenderung menanjak, mereka terus bergerak. Hutan yang menjadi pintu masuk menuju perbukitan yang mengular sepanjang sisi selatan yang dulunya pernah menjadi daerah kekuasaan kadipaten Wirasaba.
Malam semakin gelap, hutan pun semakin sunyi. Semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, perjalanan pun semakin sulit. Langkah mereka menerabas pepohonan kecil, semak-semak dan tumbuhan berduri. Banyak dari mereka yang kaki-kakinya terluka dan berdarah. Seolah tak merasakannya, mereka terus berjalan menyusuri tanah perbukitan yang mulai berubah menjadi lumpur.
Gerakan-gerakan mereka yang nyaris tanpa suara, membangunkan penghuni hutan yang mereka lewati.
“Apakah ini yang disebut bukit Kethileng Fritz?” tanya Ron.
Fritz mengangguk membenarkan.
“Rasanya aku mengenal daerah ini,” batin Ron Muller lagi.
Diamatinya pepohonan hutan yang mengepung mereka. Dan Ron terkesiap untuk yang ke sekian kalinya. Ini adalah daerah hutan angker seperti yang ada di video miik kakaknya. Blade.
“Sinting! Ini kan jalan perbukitan menuju ke arah hutan Kecipir?”
Tiba-tiba terdengar teriakan suara burung hantu memecah keheningan hutan, dari jauh sayup-sayup terdengar suara music traditional. Suara gong, kendang, disusul suara kenong dan kompyang menyatu membentuk suara gamelan. Semakin lama suara itu semakin keras dan begitu dekat. Ron dan anak buahnya sampai harus menengok kesana kemari mencari sumber suara.
Seingatnya tidak ada seoramgpun yang ditemuinya di hutan ini, lalu siapa yang sedang menabuh alat musik Jawa ini? Ron menggelengkan kealanya. Pikirannya terlalu naïf untuk mempercayai hal-hal ghaib semacam itu. Tanpa mempedulikan alunan gamelan itu, mereka terus bergerak menuju puncak bukit. Mereka ingin menilai keadaan di Megapolitan dari puncak Kethileng, sebelum melakukan serangan.
Menjelang pagi, sampailah mereka semua di puncak bukit. Di puncak bukit Kethileng inilah terletak hamparan hijau hutan Kecipir. Hutan yang begitu dikeramatkan oleh warga desa Jalatunda. Sehingga disebut juga hutan larangan. Ron meminta mereka tetap menyembunyikan dirinya sampai ada perintah selanjutnya.
Dinaungi pepohonan yang tinggi dan rapat membuat hutan ini terasa gelap di siang hari sekalipun, apalagi di malam hari. Dan diantara pepohonan tinggi itu tumbuhlah tanaman kecipir yang tumbuh merambat diantara dahan-dahan pohon kayu keras dan besar. Membuat hutan ini semakin aneh, karena tidak ada tanaman semak lainnya yang mampu tumbuh selain pohon kecipir. Makanya dinamakan hutan Kecipir.
Dan didalam hutan ini ada sebuah sendang yang jarang di datangi manusia. Sendang ini disebut sendang Kumitir. Tanpa Ron sadari kehadiran mereka telah terdeteksi oleh si ‘empunya’ hutan Kecipir, Ken Darsih. Bersama siluman Nagaraja, dia sedang menunggu kedatangan Jin Banaspati yang baru saja dihajar oleh Miryam.
“Nagaraja, kita kedatangan rombongan manusia asing yang bertamu tanpa izinku.”
__ADS_1