DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 127 JUMPA FANS


__ADS_3

EPS 127 JUMPA FANS


Berjalan di ujung waktu. kala rindu semakin membuncah. Merasakan detik-detik yang merambat pelan, Ketika hati semakin kehilangan harapan. Sementara wajahmu terus membayangiku. Selalu hadir dalam tidurku yang gelisah. Membuatku menari dalam gerak tak beraturan. Menjamah tubuhmu di pelukan, saat kau tak ada di sisiku.



Acara jumpa fans Lee Min Ho dengan para penggemarnya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Panitia beralasan pesawat jet mereka mengalami sedikit kerusakan mesin sehingga harus mendarat darurat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hampir dua jam mereka harus menunggu kedatangan bintang pujaannya. Tapi yang diharapkan malah tidak kunjung terlihat batang hidungnya.



“Harap sabar dan tenang, karena bintang pujaan kita masih berada dalam perjalanan,” ujar host acara tersebut.



Lagu-lagu K-POP yang sudah tidak asing dibawakan beberapa artis terkenal tanah air. Seperti lagu On the Ground yang dibawakan dengan apik oleh penyanyi senior Rosa, juga lagu Butter yang dibawakan oleh group yang pernah beken Cowboy Junior. Tapi tetap saja kehadiran mereka tak dapat meredam kegelisahan para penggemar Lee Min Ho. Suara-suara teriakan memanggil namanya mulai terdengar di sana-sini.



“Auuh… Aku ngantuk Andini, oahmm,” kata Ryong yang duduk di samping kekasihnya.



Andini menoleh sebentar sambil tersenyum. Mungkin dia tak mendengar kata-kata Ryong, karena suaranya tenggelam oleh musik yang hingar bingar. Bahkan gadis itu tak menyadari kalau pemuda itu malah tertidur pulas saat orang yang di tunggu datang. Lee Min Ho naik ke atas panggung, menyanyikan lagu milik Cho Seungyoun, Feel Like. Dia sedikit merubah irama dan tempo lagunya yang rancak menjadi sedikit balads.


I feel like you (you, ooh, ooh)


Feel like, feel like


I bet my life on you (huh, huh, huh)


Feel like, feel like


Eyes on the ball, eyes on the ball


Keep your emotions


I just, I just walk around your wall, can I come in?


Eyes on the ball, eyes on the ball


Keep your emotions


I just, I just walk around your wall


I feel like you (you, ooh, ooh)


Feel like, feel like


I bet my life on you (huh, huh, huh)

__ADS_1


Feel like, feel like


Suara Min Ho mengalun lembut mengisi ruang-ruang rindu di hati para penggemarnya. Terdengar ada kesedihan di dalamnya. Dan ratusan ribu penggemar yang menyaksikan langsung penampilannya malam itu, larut dalam kesedihan. Apalagi saat lampu stadion dipadamkan. Dan secara serentak mereka menyalakan layar ponselnya. Suasana kesedihan itu terasa begitu memagut jiwa, membuat banjir air mata tanpa terasa.



Hanya Ryong yang tertidur pulas, bahkan sampai acara selesai. Lee Min Ho hanya tampil sebentar, tapi itu sudah cukup menjadi pengobat rindu. Dengan wajah yang begitu sedih pemuda Korea paling tampan itu meminta maaf dan memohon doa kesembuhan untuk sahabatnya yang sedang menderita kangker tumor hati. Setelah itu dia turun dari panggung dan tidak muncul lagi.



Hrr.. hrrr..



Acara sudah selesai lima menit yang lalu. Satu per satu para penonton meninggalkan stadion dengan kesedihan. Suasana mejadi sepi, hanya suara dengkur Ryong yang masih mengalun indah di telinga Andini. Ditatapnya wajah tampan yang tertidur lelap itu. Meskipun orang Korea, tapi Ryong sama sekali tidak tertarik dengan dunia K-POP maupun Drakornya. Dia lebih suka berbicara tentang tanaman padi yang mulai menguning di ladangnya.



“Ryong bangun, acara sudah selesai,” bisik Andini.


Diusapnya ajah kekasihnya itu dengan lembut. Ryong langsung terbangun. Dilihatnya wajah Andini yang tampak mendung penuh kesedihan.


“Hah? Apa? Sudah selesai?” tanya Ryong agak tergagap.



Andini mengangguk sambil mengusap air matanya yang masih menetes. Ryong terkejut melihatnya.


“Tidak. Aku hanya bersedih karena cerita tentang sahabat Lee Min Ho yang sedang sakit,” sahut Andini.



Ryong menganggukkan kepalanya. Lalu mengalihkan perhatiannya ke arah panggung yang sudah kosong. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang melaksanakan tugasnya. Dibelakang mereka tampak layar monitor yang masih menyala. Ada gambar scene film Black Mask yang dibintangi Lee Min Ho terpampang jelas, serta beberapa bintang lainnya. Dan tatapan matanya terpaku pada sosok gadis yang sedang dipeluk pemuda itu.



“Ren?” ucapnya seperti tak percaya.



Dia mengusap-usap matanya dengan kedua tangannya. Lalu menajamkan pandangannya, seolah sedang menegaskan bahwa gadis yang dia lihat di layar monitor raksasa itu memang Ren, adik yang sedang dicarinya selama ini. Dan itu memang Ren. Lalu dia membaca nama RYUNG NAE tertulis dengan huruf capital besar di layar itu.



“Ren!” teriaknya.


Andini tertegun. Dia ikut menatap wajah di layar monitor itu. Ren?


“Maksudmu gadis itu Ren, adikmu?”

__ADS_1



Ryong mengangguk cepat. Lalu dia berlari ke arah panggung, dan meloncat menaikinya. Beberapa petugas yang masih ada berusaha menghalanginya. Mereka memegang tubuh Ryong kuat-kuat. Tapi entah mendapat kekuatan dari mana, Ryong menghempaskan tubuh mereka ke lantai. Lalu dia berlari cepat ke belakang panggung. Salah satu petugas kebersihan yang ketakutan menunjukkan dimana Min Ho dan kru lainnya.



“Mereka sedang menuju ke tempat parkir untuk kembali ke hotel. Cepatlah!” ujarnya.



Ryong berlari cepat meninggalkan Andini. Gadis itu mencoba menjelaskan kepada petugas tadi kalau Ryong adalah kakak Ryung Nae. Walaupun sedikit tidak percaya, salah satu petugas kemudian menghubungi salah satu rekannya yang mengawal Min Ho di pelataran parkir.



"Apa, kakaknya nona Ryung Nae?” ujar Chen, pengawal pribadi Min Ho.


Min Ho yang selintas mendengar kata-kata pengawalnya langsung berhenti.


“Ada apa Chen?”


“Ada seseorang yang mengaku kakaknya Ryung Nae ingin menemui kita. Saat ini dia sedang menuju kemari.”



Min Ho mengernyitkan keningnya. Joshepine mengatakan kalau kakaknya Ren memang melarikan diri ke Indonesia.


“Biarkan dia datang. Jangan dihalangi!” tegasnya.



Mereka semua menghentikan langkahnya. Lalu berbalik ke belakang. Tampak seseorang berlari cepat menuju ke arah mereka. Suara teriakannya menggema di setiap sudut pelataran parkir yang terletak di ruang bawah tanah itu. Perlahan tubuhnya terlihat dari dalam kegelapan.



“Min Ho! Ren! Tunggu! Aku kakakmu Ryong!”



Suasana menjadi tegang. Beberapa pengawal Min Ho berdiri siaga di samping pemuda itu. Bagaimanapun mereka harus siap menghadapi situasi di luar kendali. Pengalaman mengajarkan banyak sasaeng atau fans ultra Lee Min Ho yang menggunakan segala cara untuk mendekati pujaan mereka.



“Ren! Ren! Dimana kamu?”



Pemuda bermata sipit, tubuhnya tegap menjulang, rahangnya begitu keras dengan kulitnya yang putih berdiri tegap. Nafasnya sedikit tersengal. Dia dihalangi dua orang pengawal yang bertubuh gempal juga. Bola matanya berputar menatap orang-orang yang ada di depannya. Kecuali Lee Min Ho, tidak ada satupun wajah yang dia kenal.


__ADS_1


“Ren? Dimana Ren? Maksudku Ryung Nae. Dia adikku…”


__ADS_2