DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 68 REGENERASI SEL


__ADS_3

EPS 68 REGENERASI SEL


Para pembohong akan dipenjara oleh kebohongannya sendiri, sedangkan orang jujur akan merasakan kemerdekaan berpikir dan berperilaku. Para pembohong terus memproduksi kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama.Sementara orang jujur akan mendapatkan banyak kemudahan dan keberkahan dalam hidupnya.


“Dia menganggap kami pembohong?” ujar Raden Mas Parto. “Apa alasannya?”


“Mohon maaf sekali lagi aku harus mengatakan ini. Menurut Miryam Panembahan Somawangi bukanlah lelaki sejati. Kekuatan Tirtanala membuat organ kelelakiannya tidak berfungsi sebagaiman mestinya.”


“Apa!?”


Lagi-lagi semua orang tersentak kaget. Setelah itu hampir bersamaan mereka menoleh ke arah Pranaja. Bahkan Andika memandangnya dengan wajah memelas. Ya, satu-satunya orang di ruang itu yang memiliki kekuatan Tirtanala hanyalah Pranaja.


“Eh, kenapa kalian memandangku begitu rupa?”


Pranaja jadi salah tingkah. Tapi orang-orang malah menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajah mereka penuh rasa simpati kepadanya. Pemuda berbadan kekar tapi imut itu jadi kesal.


“Woi! Aku ini laki-laki normal woi!”


Tapi tidak ada yang menanggapi kekesalan Pranaja. Mereka kembali memusatkan perhatiannya kepada Kyai Badrussalam yang masih tersenyum melihat rasa kesal yang terlukis di garis wajah Pranaja.


“Tentu saja Pranaja berbeda dengan Panembahan Somawangi. Pranaja tidak hanya menguasai kekuatan Tirtanala yang bertumpu pada kekuatan inti air, tetapi juga menguasai kekuatan inti api melalui ajian Geni Sawiji. Kekuatan panas dan dingin yang seimbang bahkan membuat raganya memiliki kekuatan yang sempurna. Apalagi ditambah dengan Anugerah Mata Dewa dan kekuatan yang berasal dari energi matahari. Pukulan Badai Kosmik.”


Pranaja bernafas lega. Hampir saja dia dipermalukan gara-gara kisah tentang leluhurnya Panembahan Somawangi. Untung kakek Badrussalam menyelamatkanku, batinku.


“Eh, tapi kalau eyang Panembahan Somawangi impoten, lalu kita-kita ini keturunan siapa?” ucapnya sambil memandang kakek-kakeknya dari Trah Somawangi.


Mereka balas menatap Pranaja.


“Apa maksud impoten itu Pranaja?” tanya Eyang Penatus tak mengerti.

__ADS_1


“Ups! Impoten? I..itu istilah dari Dewa Indra untuk orang yang anu…anunya terganggu kakek.”


Andika tersenyum lebar. Dia tahu Pranaja berlindung dibalik nama Dewa Indra hanya untuk mengindari kemarahan para kakeknya. Padahal impoten adalah istilah kesehatan untuk disfungsi seksual. Dan ternyata manjur, Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatapnya dengan bangga


.


“Semua itu ada petunjuknya dalam kitab Irodarsulasikin cucuku. Pasti kau belum membacanya kan? Padahal kau sudah mengalaminya,” kata Panembahan Mbah Iro.


“Petunjuk apa kakek?” sahut Pranaja sambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Dalam Kitab Irodarsulasikin bab 28 dikisahkan tentang Sendang Edi Peni. Tentang tubuh Eyang Panembahan Somawangi yang direndam selama tujuh hari dan tujuh malam di dasar sendang Edi Peni. Tubuh Panembahan Somawangi mengalami regenerasi sel sehingga tampil muda kembali. Usianya yang sudah lebih dari delapan puluh tahun kembali muda menjadi seperti saat dia berusia duapuluh lima tahun ”


Semua orang terlihat takjub mendengar cerita itu. Menjadi muda lagi? Bahkan kembali seperti Panembahan Somawangi saat berusia duapuluh lima tahun? Wow! aku juga mauuuu


“Setelah itu adiknya, eyang Karangkobar, menyalurkan kekuatan Geni Sawiji ke dalam tubuhnya. Hawa panas yang mengalir, menghangatkan aliran darah ke seluruh jaringan dan urat syarafnya. Membuat simpul-simpul syaraf yang membeku, terbuka kembali. Membuat organ-organ tubuhnya kembali berfungsi, dan menjadi lelaki sejati.”


Manusia yang (tak sempurna) 🤩


FLASHBACK ON…


Perubahan adalah cara pandang kita terhadap sesuatu yang berbeda dari awal sesuatu hingga akhir. Perubahan adalah proses yang harus di pelajari, bukan hasil akhir yang terkadang dirasa menipu harapan, hingga sering disesali.


Akhirnya waktu yang ditunggupun tiba. Titik pergeseran antara siang dan malam yang menggenapkan rentang waktu pertapaan Panembahan Somawangi selama tujuh hari tujuh malam. Proses regenerasi yang mengembalikan raga Panembahan dari keadaan sekarang kembali ke masa mudanya dahulu.


Pada puncak Sandyakala itu, sendang Edi Peni semakin terang. Bias cahayanya bahkan ikut keluar menerangi lingkungan sekitar. Menembus rapatnya pohon-pohon besar dan kerimbunan dedaunan. Bahkan kalau dilihat dari kejauhan, puncak gunung mati seperti memancarkan cahaya bulan. putih kebiruan. Indah sekali.


“Wow! Cahaya apa ini kak Lawe? Kok terang sekali,”ujar Karangkobar.


“Cahaya ini berasal dari puncak kekuatan air sendang, tapi yang membuat cahayanya menembus kemana-mana adalah benda kecil yang dipakai kakakmu,” sahut Roro Lawe.

__ADS_1


“Benda kecil?” tanya Karangkobar penuh rasa takjub.


Pandangannya beralih ke benda kecil bersinar terang di leher kakaknya.


“Itu batu mustika kak Lawe?


“Kita belum tahu pasti. Aku akan mengangkat tubuh kakakmu ke permukaan dulu. Pertapaannya sudah selesai.”


Roro Lawe duduk bersila, kedua telapak tangannya ditangkupkan didepan dadanya. Lalu bibirnya bergerak-gerak membaca doa. Perlahan kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri. Lalu diangkat ke udara.


Perlahan tubuh Panembahan yang berada di dasar sendang ikut terangkat naik ke permukaan. Melewati lapisan pelagiknya, lalu melayang di udara. Dari pingggir sendang, Karangkobar menghentakkan tubuhnya, melesat kea rah tubuh Panembahan. Diatangkapnya tubuh itu lalu dibawa ke hadapan Roro Lawe.


Roro Lawe mmemandang tubuh adiknya yang terbujur kaku itu. Sebelum dimasukkan ke dalam air, Panembahan memang telah membekukan dirinya. Komposisi oksigen di dalam butiran darahnya tetap terjaga, sehingga di bisa bertahan di dalam air begitu lama tanpa bernapas.


“Alirkan kekuatan panasmu Karangkobar, untuk membangunkan kakakmu,” ujarnya.


Karangkobar menyentuh kedua telapak kaki Panembahan yang sedingin es dengan kedua telapak tangannya. Menyalutkan kekutan Geni Sawiji yang panas untuk membuyarkan kekuatan Tirtanala yang membekukan aliran darah dan urat syaraf kakaknya. Perlahan tubuh Panembahan mulai bergerak dari ujung kaki sampai ujung rambut.


“Bangunlah adikku,” ujar Lawe sambil menggoyangkan tubuh Panembahan.


“Huk! Huk! Huk”


Terdengar suara batuk. Lalu tubuh yang sudah dihangatkan itu bangkit dari tidurnya.


“Bawa kakakmu ke bawah pancuran air hangat di sebelah sana , Karangkobar.”


Karangkobar dengan telaten menuntun tubuh Panembahan ke pancuran Banyu Anget, air terjun panas yang terletak di bawah pohon beringin. Panembahan berdiri dibawah pancuran sambil membersihkan tanah liat putih yang membungkus tubuhnya. Malam semakin gelap sehingga Karangkobar mengeluarkan api dari tangannya. Seketika suasana sekitar pancuran jadi terang benderang. Segala sesuatu yang gelap menjadi terlihat.


Dan pandangan Karangkobar mendadak terkesima. Matanya melotot dan mulutnya terbuka. Nampak sosok pemuda gagah yang dikenalnya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sosok kakaknya sendiri, Panembahan Somawangi dengan wujudnya saat berusia duapuluh lima tahun!

__ADS_1


Tubuhnya tegap berisi, tinggi menjulang, berkulit putih bersih, dengan mata kecil dan hidung seperti sudut bintang, jambang bagai hamparan rumput hitam, dan jenggot mungil yang menggantung meliuk seperti body gadis belasan tahun yang padat mempesona.


Somawangi siap membuat hati setiap gadis jatuh cinta begitu melihatnya. Fall in love in the first sight!


__ADS_2