EPS 126 PERCAYA TIDAK PERCAYA
Apa yang harus aku lakukan? Bila rindu datang pada saat yang tidak tepat. Sedangkan kau sudah lama menghilang tanpa jejak. Hanya meninggalkan sisa kenangan di sudut hati Yang kadang datang membayangi setiap langkahku. Menyadarkan aku bahwa cintamu tak pernah padam di dalam diriku.
Hari yang ditunggu pun datang. Min Ho dan segenap bintang Black Mask harus memulai perjalanan ke beberapa negara di Asia Tenggara. Mereka diwajibkan melakukan promosi film dan jumpa fans dengan para penggemarnya di Vietnam, Thailand, Singapura dan Indonesia. Mereka semua sudah siap berangkat. Hanya satu bintang yang tidak tampak hadir diantara mereka. Dia adalah Ryung Nae, alias Ren.
“Bagaimana hasil pencarianmu Josh?” tanya Min Ho.
Joshepine Conan menggelengkan kepalanya. Baru sekali ini dalam hidupnya, dia menangani sebuah kasus yang sangat sulit, bahkan tidak masuk akal.
“Maaf bos, jejak pencariannya begitu acak. Ada indikasi Ren berjalan ke arah utara, tapi petunjuk lain menunjukkan kalau dia berjalan ke arah selatan. Ditemukan bukti kalau dia pernah ke arah barat, tapi beberapa saksi melihat dia berjalan ke arah timur.”
“Apa!” sahut Min Ho sedikit keras.
Wajahnya terpukau dan keningnya berkerut. Bagaimana mungkin bisa terjadi begitu? batinnya. Namun dia tidak kaget, mengingat kemampuan bela diri gadis itu yang tidak kalah dengan para pendekar jaman dulu. Wow! Ren memang gadis yang luar biasa. Bahkan detektif nomer satu di Korea pun, terlihat bingung di buatnya. Petunjuknya ada dimana-mana, bukti juga ada dimana-mana. tapi tidak ada satupun dari mereka yang sesuai.
“Tidak ada satupun yang singkron mengarah ke suatu tempat dimana Ren berada,” ujar Joshepine.
Min Ho tertunduk \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* rambut kepalanya. Apa yang harus dilakukanya untuk menemukan Ren. Dia adalah penyusup dari Korea Utara, tidak punya kerabat maupun sahabat yang bisa dilacak keberadaannya. Satu-satunya saudara laki-lakinya terindikasi ada di Indonesia. Sementara laki-laki yang dianggap sebagai kekasihnya juga menghilang dengan misterius. Satu-satunya sahabatnya adalah Song, yang masih duduk menangis di depannya.
‘Pasti ada clue yang dapat dijadikan petunjuk untuk memecahkan misteri dimana Ren berada,’ batin Min Ho,’ Tapi apa?’
Tiba-tiba Seong Jun dan Jason Kim masuk ke dalam ruangan.
“Kita akan berangkat nanti pukul delapan malam. Pesawat jet khusus akan mengantar kita ke Bangkok, Thailand, negara pertama yang akan kita kunjungi,” kata Seong Jun.
Min Ho menengadahkan wajahnya menatap produser dan pemilik manajemen artis dimana Ren bernaung, NJ Entertainment.
“Tapi kita belum menemukan Ren!” sahut Min Ho bernada protes.
Seong Jun menggelengkan kepalanya.
“Dengan atau tanpa Ryung Nae!” tegasnya.
“Aku tidak akan pergi meninggalkan Ren,” sahut Min Ho.
Semua orang langsung terhenyak mendengar kata-kata pemuda itu. Suasana menjadi hening dan sedikit tegang. Seong Jun menatap wajah Min Ho. Ada getar-getar emosi yang mulai merambat di setiap pembuluh darahnya sampai ke otaknya.Tapi dia masih bisa mengendalikannya.
__ADS_1
“Tidak Min Ho. Kita harus sampai di Bangkok tepat waktu besok pagi,” kata Seong Jun dengan nada penuh tekanan. “Dan kita tidak bisa mempermainkan waktu orang sesuka hati kita.”
Min Ho menoleh, membalas tatapan Seong Jun.
“Aku tidak perduli Jun. Kalau Ren tidak bermasalah walau tidak datang, berarti aku juga sama dong.”
“Masalahnya bukan Ren yang ditunggu penggemar film ini, tapi kau lah yang mereka tunggu, Min Ho! Penggemar-penggemarmu sudah susah payah datang dan membeli tiket hanya untuk bertemu denganmu. Dan mereka akan marah bila kau tidak hadir. Apa kau mengerti maksudku?” suara Seong Jun meninggi.
“Apa kau ingin mengatakan kalau Ren bukan bagian yang penting dalam film ini Jun?”
Seong Jun menggeleng cepat.
“Bukan itu, masalahnya Ren adalah debutan baru. Dia belum memiliki basis penggemar. Bahkan banyak orang yang tidak mengenalnya!”
Melihat ketegangan di antara keduanya, Jason Kim menengahinya.
“Dengarkan Min Ho. Kita sudah terikat kontrak, dan kita harus professional, tanggung jawab itu ada di atas segalanya,” kata Jason.
Joshepine juga turut menengahi.
“Berangkatlah bos. Aku berjanji akan terus mencari dan menemukan Ren.”
“Dan aku akan membujuknya untuk menyusul kalian ke Bangkok,” sambung Song yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
“Aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu Min Ho,” sambung Song lagi. “Tapi ingatlah, Ren adalah gadis yang kuat. Yakinlah semua baik-baik saja.”
Kata-kata Song mulai menyentuh hati Min Ho.
“Kau tahu apa hal yang paling penting dalam hidup Ren saat ini?”
Perlahan Min Ho menatap wajah Song.
“Film ini,” sahut Song menjawab pertanyaannya sendiri.
“Apa maksudmu?” tanya Min Ho.
Song berjalan dan duduk di samping Min Ho. Matanya terlihat berkaca-kaca.
“Ren sangat berharap film pertamanya sukses di pasaran. Dengan begitu namanya akan terkenal, sehingga kakak dan kekasihnya yang hilang dapat melihat wajahnya dimana-mana. Dan mereka dengan mudah dapat menemukan dirinya.”
Min Ho menundukkan kepalanya kembali. Song benar. Ren juga pernah mengatakan kepadanya, kalau film ini adalah impiannya. Bukan karena dia akan menjadi bintang yang dipuja, tetapi dia akan mudah menemukan orang-orang yang dicintainya, yaitu kakaknya Ryong Nae dan pemuda yang dicintainya, Rich Pranaja.
__ADS_1
“Baiklah,” kata Min Ho.
Semua orang terdiam menunggu kata-katanya.
“Kita akan berangkat ke Bangkok nanti malam.”
Song langsung memeluk Min Ho. Sementara Seong Jun dan Jason Kim tersenyum lega. Hanya Joshepine yang tidak menunjukkan ekspresi apapun walaupun hatinya gembira.
***
Pesawat jet itu mengapung tenang di udara. Dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, menembus kegelapan langit malam menuju ke Bangkok, Thailand. Dengan eksterior dan interior yang sangat mewah, mereka merasa nyaman di dalamnya. Terlihat Song, Jason, Seong Jun tertidur dengan nyenyaknya. Hanya Min Ho yang masih duduk gelisah di atas peraduannya. Hati dan pikirannya masih belum tenang.
Drrrt!.. Drrt!.. Drrt!..
Terdengar ponselnya bergetar. Tapi pemuda itu tidak memedulikannya. Saat ini dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Dia hanya ingin sendiri untuk menenagkan diri.
Drrrt!.. Drrt!.. Drrt!..
Benda pipih berwarna putih itu kembali bergetar. Akhirnya Min Ho meraihnya.
“Joshepine?” batinnya.
“Halo Josh!”
“Selamat malam bos!”
“Ada informasi yang kau dapatkan tentang Ren?”
Joshepine menggelengkan kepalanya.
“Belum. Tapi ada surat hasil pemeriksaan medis atas nama Ryung Nae dan dokter rumah sakit dimana gadis itu di rawat.”
“Apa!” wajah Min Ho terlihat antusias. “Bacalah untukku Josh.”
Joshepine membaca dokumen tebal yang ada di depannya.
“Menurut hasil pemeriksaan, Ren terkena kangker hati, bos. Ada daging yang tumbuh dari dalam hatinya dan menonjol ke arah jantung. Dan harus di operasi minggu depan.”
Tangan Min Ho langsung bergetar hebat. Wajahnya terlihat kosong. Bahkan dia tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Antara percaya dan tidak percaya.
__ADS_1