DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 125 TEMUKAN DIA UNTUKKU


__ADS_3

EPS 125 TEMUKAN DIA UNTUKKU


Hilangnya Ren dari rumah sakit tanpa diketahui membuat Min Ho begitu khawatir. Wajahnya ter;ihat gelisah dan marah-marah kepada siapapun yang tadi malam menjaga ruangannya. Namun Song berusaha meredamnya dengan mengatakan bahwa Ren bukanlah gadis biasa, karena dia memiliki kemampuan beladiri yang cukup tinggi. Bukan hal yang sulit bagi gadis itu untuk pergi tanpa seorangpun mengetahui.


“Lebih baik kau mencari tahu keberadaannya, daripada hanya marah-marah disini tak ada ujungnya,” ujar Song.


Min Ho terdiam sejenak sambil berpikir.


“Kalau begitu kita akan melacaknya,” ujar Min Ho tiba-tiba.


Song hanya terdiam tak mengerti. Min Ho menepukkan kedua tangannya. Lalu tanpa di aba-aba, beberapa orang berbadan tegap keluar dari berbagai sudut rumah sakit. Mereka adalah para pengawal dan detektif swasta yang bekerja untuk Min Ho. Dipimpin oleh seorang perempuan cantik, yang memakai pakaian hitam-hitam. Dia berdiri di samping pemuda tampan itu, lalu meminta anak buahnya untuk berdiri berjajar di hadapannya.


“Periksa seluruh CCTV rumah sakit ini. Lalu cari Ryung Nae di setiap sudut Korea,” ucapnya. “Laporkan kepadaku setiap waktu. Aku ingin kita menemukan Ren secepatnya.”


“Junbiga Doen!” ucap mereka serempak menyatakan kesiapannya.


Setelah itu mereka membubarkan diri. Josephine Conan, detektif kepercayaan Min Ho, memandang wajah tampan Min Ho dalam-dalam. Tapi pemuda itu malah terdiam. Tatapannya lurus ke depan, dan dahinya sedikit mengkerut. Mungkin ada sesuatu yang sedang dipikirkan bos nya. Lalu perempuan berbadan tegap itu pura-pura terbatuk untuk mengalihkan perhatian Min Ho.


“Uhuk!”


“Hem!


Dan upayanya berhasil. Min Ho langsung memandang wajah Josephine. Wajahnya ditekuk, dan dahinya berkerut, tanda bosnya itu sedang berpikir keras.


“Ada yang sedang kau pikirkan bos?” tanya Josephine.


Min Ho mengangguk tapi kemudian menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak tahu Josh, hanya saja aku merasa Ren menyembunyikan sesuatu dariku.”


“Apa maksudmu bos?”


“Sejak aku mengenalnya, dia tidak pernah bersikap aneh,” ujar Min Ho. “Orangnya ramah, senyumnya menawan dan lembut. Namun dibalik itu semua dia adalah perempuan yang sangat tangguh.”


Joshepine mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu kalau bosnya itu sedang dimabuk cinta.


“Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini dia lebih banyak diam,” sambung Min Ho.


Gadis itu hanya terdiam, tanpa tahu harus berbuat apa. Selama hidupnya dia belum pernah mengenal cinta. Tiba-tiba kedua tangan Min Ho memegang kedua bahunya, sambil menatap dirinya penuh harap. Joshepine bahkan bisa merasakan getaran yang bergemuruh di dalam hati Min Ho.


“Cari dia dengan segenap kemampuanmu Josh. Cari dia untukku,” uacpnya dengan bibir bergetar.


Gadis detektif itu menganggukkan kepalanya. Dia dapat merasakan kegelisahan yang sedang melanda hati Min Ho. Sudah hampir lima tahun dia bekerja untuk bosnya, jadi dia dia bisa membaca suasana hatinya. Dan selama itu pula kinerjanya tidak pernah mengecewakan. Lee Min Ho sangat mempercayainya lebih dari orang-orang kepercayaanya yang lain.


“Ya. Tentu aku akan menemukannya. Kau jangan khawatir bos,” ucapnya.


“Berjanjilah kali ini kau tidak akan mengecewakanku. Temukan dia. Aku tidak ingin ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.”


***


Angin semilir bertiup menyapa dedaunan kering. Mengayun resah dan menari di ujung gelisah. Sebagiannya melayang kesana-kemari diantara ketidak pastian. Karena hidup hanya memberikan rasa dan pengalaman. Tanpa ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan banyak kebahagiaan setelah pengabdiannya sampai hari tua. Maka satukan hati dan tekad untuk memperjuangkan cinta yang pasti memberi bahagia.


Di kebun milik Abah, kedua sejoli Ryong dan Andini masih sibuk dengan makanannya. Mereka sangat bersemangat menikmati maanannya. Tidak ada yang bisa mengalahkan lezatnya makan bersama di tengah kebun. Ryong sudah nambah tiga kali. Andini jadi terlihat sibuk mengelap mulut Ryong yang belepotan. Ini makan apa doyan ya, batin Andini sambik tersenyum geli.

__ADS_1


“Ada apa kau mencariku Andini?”


“Aku ingin mengajakmu pergi ke Jakarta, minggu depan.”


“Oke. Aku siap mengantarmu kemanapun kau pergi.”


Andini tersenyum mendengar kata-kata Ryong yang sedikit gombal itu.


“Eh, ada apa kau ingin kesana? Bos menghubungimu? Akira kangen?” berondong Ryong.


Andini menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin ketemu Lee Min Ho.”


Hah?...


Ryong terperangah.


“Artis Korea itu? Bagaimana bisa…?”


Andini malah tertawa melihat wajah kekasihnya itu. Ryong benar-benar pemuda yang begitu polos dan rendah hati. Dia bahkan tidak memahami maksud kata-kata Andini.


“Minggu depan ada promosi film terbaru yang dibintangi Lee Min Ho. Dia dan beberapa artis pendukung film itu akan datang ke Jakarta untuk jumpa fans. Aku ingin mengajakmu kesana.”


Ryong tersenyum. Dia sudah mengerti maksud Andini. Pemuda itu tahu Andini adalah penggemar film-filmnya Min Ho saat masih di Korea. Tentu saja dia akan berusaha untuk datang untuk bertemu bintang pujaannya. Walaupun bukan sasaeng, tapi Andini sangat mengagumi karakter Lee Min Ho yang bisa memainkan peran apapun dalam film-filmnya selama ini.


Gadis detektif itu menganggukkan kepalanya. Dia dapat merasakan kegelisahan yang sedang melanda hati Min Ho. Sudah hampir lima tahun dia bekerja untuk bosnya, jadi dia dia bisa membaca suasana hatinya. Dan selama itu pula kinerjanya tidak pernah mengecewakan. Lee Min Ho sangat mempercayainya lebih dari orang-orang kepercayaanya yang lain.


“Ya. Tentu aku akan menemukannya. Kau jangan khawatir bos,” ucapnya.


“Berjanjilah kali ini kau tidak akan mengecewakanku. Temukan dia. Aku tidak ingin ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya.”



***


Angin semilir bertiup menyapa dedaunan kering. Mengayun resah dan menari di ujung gelisah. Sebagiannya melayang kesana-kemari diantara ketidak pastian. Karena hidup hanya memberikan rasa dan pengalaman. Tanpa ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan banyak kebahagiaan setelah pengabdiannya sampai hari tua. Maka satukan hati dan tekad untuk memperjuangkan cinta yang pasti memberi bahagia.


Di kebun milik Abah, kedua sejoli Ryong dan Andini masih sibuk dengan makanannya. Mereka sangat bersemangat menikmati makanannya. Tidak ada yang bisa mengalahkan lezatnya makan bersama di tengah kebun. Ryong sudah nambah tiga kali. Andini jadi terlihat sibuk mengelap mulut Ryong yang belepotan. Ini makan apa doyan ya, batin Andini sambil tersenyum geli.


“Ada apa kau mencariku Andini?”


“Aku ingin mengajakmu pergi ke Jakarta, minggu depan.”


“Oke. Aku siap mengantarmu kemanapun kau pergi.”


Andini tersenyum mendengar kata-kata Ryong yang sedikit gombal itu.


“Eh, ada apa kau ingin kesana? Bos menghubungimu? Akira kangen?” berondong Ryong.


Andini menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin ketemu Lee Min Ho.”

__ADS_1


Hah?...


Ryong terperangah.


“Artis Korea itu? Bagaimana bisa…?”


Andini malah tertawa melihat wajah kekasihnya itu. Ryong benar-benar pemuda yang begitu polos dan rendah hati. Dia bahkan tidak memahami maksud kata-kata Andini.


“Minggu depan ada promosi film terbaru yang dibintangi Lee Min Ho. Dia dan beberapa artis pendukung film itu akan datang ke Jakarta untuk jumpa fans. Aku ingin mengajakmu kesana.”



Ryong tersenyum. Dia sudah mengerti maksud Andini. Pemuda itu tahu Andini adalah penggemar film-filmnya Min Ho saat masih di Korea. Tentu saja dia akan berusaha untuk datang untuk bertemu bintang pujaannya. Walaupun bukan sasaeng, tapi Andini sangat mengagumi karakter Lee Min Ho yang bisa memainkan peran apapun dalam film-filmnya selama ini.



“Oke, aku akan menemanimu,” ujar Ryong.


Rasa gembira langsung mengisi hati Andini. Mataya berbinar dan bibirnya tersenyum lebar. Diluar kesadarannya, tiba-tiba dia langsung memeluk tubuh Ryong.


“Terimakasih sayang, kau bersedia menemaniku,” sahut Andini hampir berteriak.



Ryong diam saja. Warna merah jambu langsung mengerayangi wajah tampannya yang putih. Ingin rasanya dia membalas pelukan Andini, tapi tangannya seperti terbelenggu. Sementara Andini semakin membenamkan wajahnya di dada pemuda itu. Akh, rasanya nyaman sekali. Rasanya ini pertama kalinya dia jatuh ke dalam pelukan pemuda Korea itu. Apa! Pertama kalinya? Tidak, tidak tidak!



“Ups!”



Andini menutup bibirnya. Dia baru sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Matanya seperti orang yang terperanjat, lalu melepaskan pelukannya.


“Ah, maaf Ryong, aku sampai lupa diri,” ujarnya tersipu malu.


Ryong hanya diam saja. Dia menatap wajah gadis yang dicintainya dalam-dalam. Lalu tanpa sadar kedua tangannya memegang kedua bahu Andini. Beberapa saat mereka diam membeku, larut dalam suasana cinta. Mata bertemu mata, hati bertaut dengan hati, cinta terbalas dengan cinta.



“Salanghae,” bibir tampan bergetar itu mengungkapkan cintanya.


“Nado salang haeyo,” sahut bibir ranum merah itu membalas cintanya.



Wajah mereka pun semakin mendekat. Perlahan Andini memejamkan matanya, dan bibirnya terbuka, berpasrah diri dan keindahan cinta yang memabukkan.


“Hem!”


Gerakan Ryong dan Andini langsung terhenti. Serempak mereka menoleh ke belakang. Dan wajah mereka langsung memucat.


“Abah…” desis sepasang sejoli itu bersamaan.

__ADS_1



Hadewh, ….. lagi-lagi Abah datang pada waktu yang (tidak) tepat.


__ADS_2