DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 40 BELUM MENJADI CINTA


__ADS_3

EPS 40 BELUM MENJADI CINTA


Ryong Bae, mantan perwira militer Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan, baru saja selesai menjalani proses asimilasi hampir selama dua tahun. Berbeda dengan adiknya Ryung Nae yang hanya menjalani proses penyesuaian selama lima bulan, karena gadis itu hanyalah warga sipil biasa.



Di Korea Selatan, setiap warga yang membelot dari Korea Utara, mendapat banyak keistimewaan. Setelah menjalani proses asimilasi, mereka akan mendapatkan kartu idetitas baru dan diakui sebagai warga negara Korea Selatan. Mereka juga mendapatkan tunjangan dan banyak tawaran perkerjaan. Tapi Ryong menampiknya, dia masih ingin menikmati kebebasannya dengan berkeliling mencari informasi tentang adiknya Ren dan sahabatnya Rich Pranaja.



Dan, seperti sebuah kebetulan, dia bertemu dengan Andini, gadis Indonesia yang sedang bekerja di Korea.



“Boleh berkenalan? Namaku Ryong Bae.”


Perempuan itu menyambut tangan Ryong.


“Aku Andini dari Indonesia.”


Ryong nampak terkekejut. Mendadak dia teringat Pranaja.


“Indonesia? Apa kau mengenal Rich Pranaja?”



Andini terlihat bingung, mencerna pertanyaan Ryong.


“Rich Pranaja? Siapa dia? Nama yang aneh,” ucapnya sambil tertawa.



Ryong menepuk jidatnya. Pertanyaan bodoh, batinnya. Memang siapa itu Rich Pranaja? Artis bukan, politisi bukan, sultan juga bukan, siapa yang akan mengenalnya? Apalagi dia seorang agen rahasia yang tentu saja harus merahasiakan identitasnya agar tidak diketahui publik.



“Owh, bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang teman yang lama tidak berjumpa. Kebetulan dia orang Indonesia juga,” katanya.



Andini mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil mengingat-ingat sesuatu.


“Beberapa kali aku mengikuti pertemuan orang-orang Indonesia di Korea, tapi tidak pernah bertemu dengan orang yang namanya Rich Pranaja.”


“Iya. Aku lupa kalau dia sudah pulang lama ke Indonesia. Lupakan saja Andini,” ujar Ryong sambil nyengir kuda.


“Oke!” gumam Andiri.



Lalu angin bertiup semilir menerbangkan anak-anak rambut Andini ke udara. Bahkan topi bercaping lebar yang dikenakannya pun ikut terjatuh di kaki Ryong. Secara reflek, Ryong langsung menundung. Berbarengan dengan Andini yang juga membungkukkan tubuhnya untuk mengambil topi itu. Bagaikan cerita dalam film-film roman picisan, tangan mereka bersentuhan lalu mereka saling beradu pandang. Beberapa saat mereka terdiam sambil menatap dan berpegangan tangan.


Dan sentuhan itu mengandung daya listrik 5000 megawatt, yang langsung menghangatkan hati Ryong dan Andini.


“Ups!” desis Andini begitu sadar dengan apa yang barusan terjadi.


“Eh, oh eh! Maaf Andini. Aku tidak sengaja,” ucap Ryong.


Andini menganggukkan kepalanya. Wajahnya langsung memerah karena malu.


“Iya. Tidak apa-apa. Tapi tolong lepaskan tanganku.”



Ryong terkesiap kaget, Baru sadar kalau tangannya masih memegang tangan Andini yang lembut. Seketika itu juga dia melepaskan tangan gadis itu. Wajah Ryong langsung berubah warna mirip pelangi di langit yang biru. Sementara Andini menundukkan kepalanya menahan rasa.

__ADS_1


‘Hm, bilangnya tidak sengaja, tapi kok megangnya lama?’ batinnya. “Dasar modus.’


“Sekali lagi, maaf Andini,” kata Ryong.


:”Iya. Tidak apa-apa Ryong. Tidak sengaja kan?” sahut Andini seperti menyindir.



Ryong tersenyum malu. Lalu mereka sama-sama terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Selama hidupnya, baru pertama kali Ryong menyentuh tangan perempuan. Ada sensasi berbeda yang belum pernah dirasakan Ryong. Dia tidak tahu apa, yang jelas bibirnya jadi ingin selalu tersenyum. Andini juga merasakan hal yang sama. Apakah ini yang namanya cinta pada pertemuan yang pertama? Ah, tapi rasanya terlalu cepat. Merekapun menggelengkan kepala secara bersamaan.


***


Hari-hari terasa berkelebat begitu cepat. Hubungan Ryong dan Andini pun semakit dekat. Ryong yang memang belum punya pekerjaan, menyewa sebuat flat kecil yang murah. Setiap hari dia menyempatkan diri mampir ke pantai Eurwangni, untuk sekedar melepas penat setelah seharian lelah mencari Rend an Pranaja. Walau tidak setiap hari tapi Andini sering datang ke pantai itu bersama Akira, karena anak itu memang suka bermain di sana.



Rupanya Ryong juga penyuka anak-anak. Dia pintar mengambil hati Akira, sehingga anak itu selalu mengajaknya bermain bersama. Bermain bola, kuda-kudaan, berenang di pantai dan membuat istana pasir yang indah. Andini hanya mengamati mereka sambil tak hentinya tertawa. Sampai Akira bertemu dengan teman-temannya barulah Ryong bisa berbincang dengan Andini. Diatas sebuah bangku panjang mereka duduk berdua.



“Kau belum juga menemukan informasi tentang adik dan sahabatmu Ryong?” tanya Andini.


Ryong menggeleng perlahan, wajahnya berubah menjadi murung.



“Maafkan aku Ryong, tapi kamu harus sabar dan kuat,” ujar Andini.


“Iya Andini. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan adik perempuanku satu-satunya,” ujar Ryong.



Andini menatap wajah Ryong dari samping.


“Ren pasti gadis yang sangat cantik dan bahagia.”



“Bagaimana kau tahu?” tanya Ryong.


“Karena dia punya kakak yang sangat tampan dan sayang padanya,” gumam Andini hampir tak terdengar.



Ryong membuang pandangannya ke depan lagi. Takut ketahuan kalau wajahnya sedikit memerah karena barusan dipuji Andini.



“Kau benar Andini. Ren memang sangat cantik, itulah kenapa Pranaja jatuh cinta kepadanya.”



Andini juga membuang pandangannya ke depan. Sudah cantik, kakaknya baik dan memiliki kekasih yang mencintainya. Betapa beruntungnya hidup Ren. Rasanya itu sudah cukup bagi gadis sederhana seperti Andini.



“Hanya ada dua perempuan tercantik di dunia ini,” kata Ryong tiba-tiba.


Ujung mata Ryong mencuri pandang wajah Andini, tapi gadis itu tak bereaksi.


“Satu adalah Ren, dan yang kedua adalah…”



Kali ini Andini memandangnya, menunggu kata-katanya.

__ADS_1


“Siapa perempuan yang kedua Ryong?” tanya Andini penasaran.



Ryong membalikkan tubuhnya. Ditatapnya wajah Andini dalam-dalam.


“Kamu,” ucapnya dengan penuh keyakinan.



Andini langsung menundukkan kepalanya. Ada semburat merah yang menghiasi pipinya yang bening. Wajahnya nampak gugup.



“Apa..kau sedang merayuku, Ryong?” bisik Andini ragu.


Ryong menggelengkan kepalamya.


“Tidak Andini. Aku hanya berbicara kenyataan, mengatakan apa yang aku lihat.”



Wajah Andini semakin tertunduk.


“Apa kau tidak malu berteman denganku Ryong?”


“Kenapa?”


“Aku hanya gadis sederhana yang tidak punya kelebihan apapun.”


“Kata siapa kau tidak punya kelebihan?”



Andini terdiam kembali.


“Memang apa kelebihanku?”


“Kau mampu membuat hatiku berbunga-bunga, itulah kelebihanmu.”



Andini menarik nafas dalam-dalam.


“Hm, itu bukan kelebihan Ryong.”


“Tidak Andini. Itu adalah sesuatu yang istimewa. Spesial buatku. Tidak ada perempuan yang membuatku bisa sedekat ini. Membuatku merasa rindu untuk selalu datang ke tempat ini dan berharap bertemu denganmu.”



Lagi-lagi Andini menundukkan kepalanya sambil tersenyum malu.


“Ternyata kau pandai merayu Ryong.”



Lalu angin datang kembali. Menghembus lembut dua hati yang sedang gelisah. Terdiam disela waktu yang terus merambat. Merasakan getaran-getaran itu. Sampai matahari siang memisahkan mereka. Karena Akira sudah ingin pulang.



“Kaka ayo pulang. Aku lapar,” rengek anak berusia empat tahun itu.



Lalu Andini pergi begitu saja. Tanpa kata-kata, Hanya bola matanya menatap penuh makna, seolah memberi pesan pada Ryong, agar besok datang kembali ke tempat indah ini untuk sama-sama menumpahkan kerinduan.

__ADS_1


Walaupun belum menjadi cinta.


__ADS_2