DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 44 MENUNGGUMU


__ADS_3

EPS 44 MENUNGGUMU


Dan selalu saja, apa yang menjadi kegelisahan Dandung terhubung secara kuat dengan Panglima Perang Kerajaan Laut Kidul yang baru, Senapati Ing Bawono Nyai Ken Darsih. Sebenarnya hubungan antara Dandung dan Ken Darsih masih menggantung, karena belum terucap kata cinta diantara mereka. Tapi ikatan batin itu terasa begitu kuat. Perlakuan Dandung terhadap Ken Darsih telah menanamkan rasa memiliki di dalam hati gadis itu.



Dandung adalah satu-satunya pemuda yang paling dekat dengan dirinya. Laki-laki yang pertama melihat bentuk tubuhnya secara utuh dan mencium keningnya. Laki-laki muda satu-satunya yang memberinya perhatian lebih dalam hidupnya. Laki-laki yang dengan segenap jiwanya mengantarkan tubuh Ken Darsih yang terluka parah naik ke puncak bukit Kethileng dan menenggelamkannya di sendang Kumitir.



Ken Darsih adalah manusia setengah siluman yang ganas dan kejam. Dia sama sekali tidak mengenal rasa kasih terhadap anak manusia. Membunuh manusia yang dibencinya baginya adalah sebuah kesenangan. Namun cinta hanya mengenal hati. Perhatian Dandung yang tulus telah membuka sisi kemanusiaannya. Ada satu ruang di sudut hatinya yang menangkap isyarat itu dan tanpa bisa di tolak, telah tersimpan jauh didalamnya. Apakah itu benih-benih cinta? Ken Darsih pun tidak tahu.



“Ajari aku sholat. Free!”



Kata-kata indah itu menggema di udara, tertangkap angin senja dan menyimpannya dalam butir-butir embun yang jatuh ke bumi. Meresap di dalam tanah, menyatu dengan mata air suci, kemudian mengalir menuju lautan lepas. Seperti gelombang elektromagnetik yang bergerak terus silih berganti, kata-kata itu terus terdorong debur ombak, melayang-melayang di kedalaman laut, merasuk ke indera pendengaran sang Senpati Ing Bawono Keraton Kidul.



“Aargh!”



Kata-kata itu terngiang dalam, lalu merasuk dan membakar kerinduannya. Mendadak hatinya terasa begitu sakit dan pedih. Seperti kau merasa diberi harapan, dan saat kau hendak merayakannya, tiba-tiba dia menghilang. Dan Ken Darsih tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hatinya. Pengalaman hidupnya tentang dunia cinta sangatlah terbatas, hampir tidak ada. Dia hanya mengenal cinta ibu dan kakeknya, Eyang Senthir.



“Dandung!!!”



Tanpa sadar dia berteriak sepenuh jiwa. Menggetarkan keangkuhan dinding istana kerajaan Laut Selatan. Gunung gugur, bumi terbelah! Menimbulkan gejolak di dalam permukaan bawah laut, lalu muncul dan mendorong gelombang Tsunami setinggi bukit Kethileng. Mengakibatkan banjir bandang yang menyapu desa-desa di pinggir pantai. Bahkan mengagetkan Kanjeg Ratu Selatan sendiri yang sedang bersemayam di balairung istana.



“Kaca Benggala tunjukkan padaku siapa yang sedang gundah gulana?” tanya Kanjeng Ratu.


__ADS_1


Kaca Benggala adalah sebuah cermin besar pengetahuan yang dapat menelusuri segala fenomena alam yang terjadi di jagat raya ini. Melalui Kaca Benggala Kanjeng Ratu Pantai Selatan dapat mengetahui asal-usul, motif, tujuan, dan siapa orang-orang yang terlibat dalam setiap peristiwa di dunia. Dan Kanjeng Ratu hanya tersenyum saat mengetahui siapa dalang dibalik huru hara yang barusan terjadi.



“Hm, Ken Darsih! Selesaikan urusanmu sebelum kau mengemban tugas yang lebih berat,” gumamnya.



Seperti perintah yang hanya bisa di dengar lewat bahasa hati, Ken Darsih mengangguk sendiri. Kemudian tubuhnya melesat, menembus dinding istana. Masuk ke lorong gelap yang panjang. Portal gaib yang menghubungkan istana Laut Kidul untuk kembali ke Sendang Kumitir. Sambil berjalan menuju tempat pertapaannya, tangan kanannya memegangi uluhatinya yang terasa pedih.



“Apa yang terjadi dengan hatiku? Mengapa begitu terasa sakit? “ batinnya, sambil duduk bersila di atas batu lempeng di dasar sendang. “Dan mengapa aku mendadak ingat Dandung? Apa yang terjadi dengan dirinya?”



Beribu pertanyaan hadir dalam benaknya. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menemui pemuda itu, tapi lalu diurungkannya.



“Ah, sebentar lagi aku akan menyempurnakan proses penyembuhan lukaku. Dia sudah berjanji akan menjemputku setelah lima purnama,” batinnya lagi.


Tujuh hari lagi purnama akan bersinar. Dan ini adalah purnama terakhir bagi Ken Darsih untuk bangun dari pertapaannya yang panjang. Setelah direndam dalam air mustika Sendang Kumitir, proses pemulihan tenaga Ken Darsih akan selesai. Walaupun dia merasa luka-lukanya telah sembuh dan tubuhnya semakin kuat berkat berbagai kekuatan yang diberikan Kanjang Ratu Kidul, tapi dia tetap bertekad menyelesaikan pertapaannya. Dan menunggu janji pemuda yang akan menjemputnya.


Tak terasa kehamilan Miryam sudah berusia sembilan bulan. Dia tinggal menunggu hari-hari kelahiran buah cintanya dengan Santika ke dunia. Hari-harinya di penuhi dengan senyum kebahagiaan. Tidak henti-hentinya dia bersenandung, menggambarkan kebahagiaan hatinya. Setelah bertahun-tahun menjalani takdir cinta yang begitu menyakitkan, dia merasa inilah saatnya untuk merasakan kebahagiaan.



“Lihatlah anakmu kakang, dia terus menendang-nendang perutku. Pasti dia sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu kakang,” katanya kepada jasad Santika yang bersemayam di dalam kotak kaca.



“Aku akan menjaganya kakang. Tak akan ada waktu sedetikpun dari hidupnya lepas dari pengawasanku. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Meninggalkanmu sendirian dan menemukan tubuhmu sudah tidak bernyawa lagi,” katanya penuh sesal dan dendam. “Aku berjanji kakang.”



Perlahan dia bangkit dari duduknya. Lalu berjalan sedikit terhuyung, karena gerakan si jabang bayi di dalam perutnya. Sambil mengelus-elus perutnya, dia menundukkan kepalanya diatas tubuh Santika. Diciumnya kening suaminya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Perempuan secantik bidadari yang hanya memiliki satu cinta di dalam hidupnya. Lalu telinganya yang tajam mendengarkan gerakan halus di belakangnya. Dan dia mengenalnya.



“Assalamu’alaikum!”

__ADS_1


“Wa’alaikum salam!” jawabnya tanpa melihat siapa yang datang. “Masuklah Andika.”



Setelah menata kembali rambut Santika yang sedikit berantakan, barulah dia menemui Andika. Wajah cantiknya terlihat semakin sumringah. Di hampirinya tubuh pemuda tampan yang kulitnya seputih susu itu lalu dipeluknya. Begitu erat dan hangat, sambil merebahkan kepalanya di dada Andika. Merasakan getar-getar cinta yang mengaliri pembuluh darah dan urat nadinya. Mendengarkan detak jantung Santika di dalam tubuh Andika.



“Dugdug! Dugdug! Dugdug!”



Detak jantung itu terdengar semakin keras. Seperti ikut merasakan kehadiran perempuan yang dicintainya. Andika membiarkan Miryam menikmati cintanya, Dia sama sekali tidak membalas pelukan perempuan bidadari itu. Karena dia tahu, Miryam hanya mencintai jantung yang berada di dalam tubuhnya.



“Terlalu lama kau pergi kakang. Kemana saja?” tanya Miryam kemudian.



Andika diam saja karena tahu Miryam sedang bermonolog. Berbicara dengan hatinya sendiri. Paling lama dua minggu sekali, Andika memang datang menemui Miryam. Makanya dia hafal dengan perilaku perempuan itu. Seringkali hatinya merasa iba melihat penderitaan Miryam. Tetapi dia juga mengagumi kekuatan cintanya, yang tetap menjaga mimpinya, bahwa dia dan suaminya akan mendapatkan kebahagiaan suatu saat nanti.


“Terimakasih Andika, sudah datang menemuiku,” katanya beberapa saat kemudian.



Andika hanya tersenyum sambil menahan rasa haru di dalam hatinya.



“Aku datang bukan hanya membawa kakang Santikamu Miryam. Tapi aku juga akan memeriksa buah cinta kalian,” ucapnya. “Pasti kau tak sabar menunggu kehadirannya, kan?”



Miryam membalas senyuman Andika. Lalu dia merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Dengan lembut Andika menempelkan ujung stetoskopnya ke beberapa bagian perut perempuan itu. Merasakan gerakan-gerakan nakal si jabang bayi di dalam rahim ibunya.



“Bayimu sangat sehat Miryam. Bahkan terlalu sehat,” ucapnya.


Bibir indah itu tersenyum merekah. Dan jantung di dalam tubuh Andika berdegup semakin kencang.

__ADS_1


“Dugdug! Dugdug! Dugdug!”


__ADS_2