DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 100 PUNCAK KENIKMATAN.


__ADS_3

EPS 100 PUNCAK KENIKMATAN


Jangan kau adu pikiranmu dengan perasaanmu. Itu tidak akan pernah membuatmu bahagia. Karena hati dan otak adalah penjaga keseimbangan jiwa dan raga. Jadi selalu berpikir jernih dan selalu mengikuti kata hati, adalah jaminan untuk kita meraih hidup yang bahagia.


Suara tertawa kedua Ren and Song terdengar kemana-mana. Min Ho yang masih berjalan di tengah lorong rumah sakit mempercepat langkahnya. Sepertinya dia mengenali suara Ren yang sedang tertawa bersama sahabatnya. Rupanya Ren sudah siuman. Hati Min Ho menjadi lega mendengar suara tawa gadis itu. Suaranya begitu renyah, pertanda hatinya sedang bahagia. Apa Ren sudah tahu berita yang ku bawa?


Zrrgh..!


Min Ho menggeser pintu ruang perawatan. Song dan Ren langsung menghentikan tawanya. Menoleh ke arah pintu dan tersenyum lagi begitu melihat wajah tampan itu muncul dari balik pintu. Song segera bangkit dan menghampiri Min Ho.


“Hai. Min Ho! Kau sudah kembali?” tanya Song.


Tapi pemuda itu seperti tak melihatnya. Dia malah berjalan menghampiri Ren, lalu memberikan sekuntum mawar merah untuknya. Ren jadi tak enak hati. Walaupun Song tetap tersenyum, tapi Ren jelas melihat rasa kecewa di wajah sahabatnya itu.


“Berikan mawar itu pada Song, biar dimasukkan ke dalam vas,” kata Ren.


Min Ho terdiam, tampak ragu.


“Min Ho, kau tahu kan aku belum boleh banyak bergerak?”


Min Ho tersenyum. Lalu mengangkat kedua bahunya.


“Baiklah. Biar aku yang akan menatanya sendiri,” ujarnya.


Lalu pemuda tampan itu mengambil vas bunga di atas meja. Terlihat sekuntum mawar kuning yang sudah layu. Min Ho membuang mawar kemarin itu ke tempat sampah, Lalu dia mengelap dan membersihkan vas bunga itu. Setelah bersih dan mengkilap, dimasukkannya batang mawar merah itu ke dalamnya. Lalu diisi air secukupnya. Ketika hendak menaruh kembali vas bunga itu di atas bunga, Song kembali menghampirinya.


“Biar aku bersihkan dulu mejanya Min Ho,” kata Song.


Dia mengambil kain penutup meja itu, lalu dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam boks cucian. Setelah itu mengambil taplak meja baru dan di gelar diatas meja.


“Sekarang kau bisa meletakkan vas bunga itu di atasnya Min Ho.”


Tapi Min Ho sudah duduk di depan Ren. Vas bunga yang tadi dia pegang ditaruhnya diatas almari kabinet yang ada di sudut ruangan. Dan Song sekali lagi hanya bisa menahan perasaannya. Dia tahu dia tidak memiliki hak menyalahkan Min Ho atau marah kepada pemuda itu yang tak menganggapnya sama sekali. Ingat Song, cinta itu anugerah, jadi nikmatilah. Cinta tidak datang tiap hari, jadi buat hidupmu selalu happy.


“Kau sudah sadar Ren? Apa yang kau rasakan?” tanya Min Ho.


Ren melirik Song sekilas. Terlihat sahabatnya duduk di kursi sudut di samping almari kabinet. Ada kesedihan di matatnya, walaupun Song berusaha selalu terlihat bahagia.


“Ren? Kau mendengarkan aku kan?” tanya Min Ho. “Kenapa kau malah terdiam?”

__ADS_1


Ren terkesiap. Kedua matanya kenbali menatap Min Ho.


“A..Aku? Aku baik-baik saja Min Ho,” ucapnya. “Asam lambungku sudah normal kembali. Hanya hatiku yang sedikit sakit.”


“Baguslah,” kata Min Ho tersenyum lega. “ Itu artinya kau sudah siap.”


Ren mengernyitkan keningnya.


“Siap? Untuk apa?”


Min Ho malah tersenyum penuh msteri.


“Ada apa Min Ho? Apa yang dikatakan sutradara dan produser kepadamu?”


“Proses editing film kita sudah selesai. Dua bulan lagi film kita mulai tayang.”


Min Ho tersenyum lebar. Berharap itu adalah sebuah kejutan bagi Ren. Lalu gadis itu akan memeluknya sambil tertawa gembira. Tapi itu semua tidak terjadi. Wajah Ren terlihat basa-biasa saja. Min Ho jadi berhenti tersenyum sambil melihat gadis itu.


“Kau tidak bahagia Ren?”


“Hah? Tentu saja aku bahagia,” jawab Ren dengan wajah datar.


Kedua mata Ren langsung berbinat dan membulat sempurna. Min Ho masih menungggu gadis itu akan memeluknya. Tapi sekali lagi Ren berhasil membuatnya kecewa. Jangan memeluk, Ren bahkan bangkit dan hendak keluar dari ruangan rumah sakit tersebut, tapi Min Ho berhasil menahannya bersama Song.


***


Angin semilir bertiup menyapa dedaunan kering. Mengayun resah diantara ketidak pastian. Karena hidup hanya memberikan rasa dan pengalaman. Tanpa ada jaminan bahwa mereka akan mendapatkan banyak kebahagiaan setelah pengabdiannya sampai hari tua.


Di kebun milik Abah, kedua sejoli Ryong dan Andini masih sibuk dengan makanannya. Mereka sangat bersemangat menikmati maanannya. Tidak ada yang bisa mengalahkan lezatnya makan bersama di tengah kebun. Ryong sudah nambah tiga kali. Andini jadi terlihat sibuk mengelap mulut Ryong yang belepotan.


“Sabar Ryong. Tidak ada yang sedang mengejarmu,” tutur Andini dengan lembut.


“Makanan ini enak sekali, Ummh..nyam..nyam…”


Andini dan Abah nampak tersenyum.


“Sepertinya Ryong sangat menikmatinya,” kata Abah.


“Tidak ada yng bisa mengalahkan orang yang sedang lapar,” sahut Andini.

__ADS_1


Hehe..semua jadi tertawa. Hanya Ryong yang menjadi sedikit malu. Setelah menghabiskan makanannya lalu mereka meneruskan perbincangan. Rupanya Ryong masih takjub dengan aroma dan rasa masakan orang Indonesia. Walaupun banyak makanan Korea yang terkenal di dunia, tetapi sesungguhnya untuk soal rasa masih kalah dengan makanan Indonesia.


“Makanan Indonesia lebih banyak bumbu dan rempah-rempahnya. Coba kalau makanan tadi dikemas dengan rapi, lalu di pasarkan di level dunia, pasti akan lebih disukai orang,” ujar Ryong.


“Nah, itu mungkin peluang yang bisa kau tangkap untuk mengembangkan usaha, Ryong,” ujar Abah dengan semangat. “Dan mengangkat nama negeri kita di dunia.”



Rasa nasionalismenya langsung bangkit. Indonesia adalah negara yang sangat subur. Semua tanaman rempah dan bumbu ada di sini. Inilah tanah surge, dimana tongkat kayu yang dilemparkan ke tanah akan tumbuh tanaman. Bahkan diatas batu sekalipun, ada lumut yang menghijaukan dan memproduksi oksigen yang menyegarkan.



“Kalau kau mencintai Andini, kau pun harus mencintai negeri ini,” pesan Abah.


Ryong mengangguk mantap.


“Siap abah!”



Bebrapa saat kemudian. Abah berdiri dan meninggalkan sejoli yang sedang jatuh cinta itu. Ryong memandang kepergian dengan tatapan kagum. Calon mertuanya itu adalah laki-laki yang sangat gagah dan kuat, serta sangat bangga dengan tanah leluhurnya. Setelah Abah pergi, pandangannya beralih menatap gadis ayu yang duduk disebelahnya.



“Ada apa kau mencariku Andini?”


“Aku ingin mengajakmu pergi ke Jakarta, minggu depan.”


“Oke. Aku siap mengantarmu kemanapun kau pergi.”


Andini tersenyum mendengar kata-kata Ryong yang sedikit gombal itu.


“Eh, ada apa kau ingin kesana? Bos menghubungimu? Akira kangen?” berondong Ryong.



Andini menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin ketemu Lee Min Ho.”

__ADS_1


Hah?...


__ADS_2