EPS 114 RENCANA SUBRATA
Pesawat jet pribadi yang dtumpangi Marcon Allpanigard dan Susan See mendarat mulus di Bandara Halim Perdanakusuma. Kedatangannya disambut oleh Pramono, Presiden Direktur Megapolitan Intercorp yang baru. Setelah beristirahat sejenak dengan beberapa pegawai setianya, mereka melakukan perjamuan makan siang di sebuah hotel mewah di Jakarta. Marcon dan Susan terlihat gembira bisa berkunjung ke Jakarta.
“Kantor kita cukup megah juga Pramono, aku bisa melihat setiap sudut Jakarta dari tempat ini,” kata Marcon dari lantai 220 Subrata’s Tower.
“Ini kantor kita sementara Marcon, sambil menunggu seluruh proses administrasi selesai, kita akan berpindah ke gedung yang lebih elegan,” sahut Pramono.
Marcon tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat puas dengan kinerja Pramono. Betul-betul orang yang berpengalaman dalam bisnis apapun, batinnya. Pramono memang bisa diandalkan. Paling tidak aku bisa mendulang dolar dari gunung emasku, sebelum kurebut kembali Mexican Viscom Media dari tangan bajingan licik macam Subrata.
Lalu mereka berkumpul dalam satu meja, tenggelam dalam perbincangan yang panjang. Ada rasa optimisme yang berlebihan, terdengar dari gelak tawa dan candaan dari perbincangan itu. Mungkin hanya Susan yang tidak bisa tertawa lebar, walaupun hatinya tidak mengkhawatirkan apapun. Dia yakin dengan Subrata, yang menjalankan rencananya untuk menaklukkan Marcon dengan caranya sendiri.
“Ayo minum Susan, kita rayakan malam ini dengan senyum bahagia,” kata Marcon sambil mengulurkan segelas scotch dingin kepada gadis itu.
Susan menerima gelas itu. Walaupun dia sedang enggan untuk minum, tapi gadis itu tidak ingin merusak suasana hati Marcon yang sedang bergembira. Diteguknya sedikit minuman ringan beralkohol itu. Rasa dingin terasa mengaliri tenggorokannya yang hangat.
“Toast!” teriak Marcon.
Semuanya ikut berteriak dan tertawa keras. Lalu mereka larut dalam pesta kecil yang memang dipersiapkan Pramono untuk menyambut big bosnya yang baru itu. Sekitar pukul tiga dini hari barulah Marcon dan Susan sampai di hotel tempat mereka menginap dengan menaiki helikopter yang menjemput mereka. Joni Kamandanu dan Fitri Ray dan beberapa staf Megapolitan, yang menunggu sejak sore, turut menyambut kedatangan bos besarnya.
“Welcome to Jakarta, Mr Marcon Allpanigard,” kata Joni mewakili semuanya.
“Thank you. It’s nice to meet you all ,” ujar Marcon dengan mata merah karena mengantuk dan setengah mabuk.
Lalu dipandanginya orang-orang yang berdiri berjajar itu satu persatu. Setibanya di depan Fitri Ray, Marcon menghentikan langkahnya. Dipandanginya gadis cantik berdarah Tionghoa dengan seksama. Pasti ini gadis yang sering diceriterakan Pramono kepadanya. Gadis yang, dengan ide-idenya, telah menyelamatkan Megapolitan dari bencana akibat banjir lumpur beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
“Are you Fitri Ray?” tanya Marcon.
Fitri Ray mengangguk cepat.
“Yes, I am.”
Marcon mengangguk-angukan kepalanya.
“Bagus,” pujinya singkat.
Setelah itu dia berjalan lagi. Dengan di dampingi seorang pelayan hotel, pemuda tampan itu melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat.
***
Angin senja bertiup sedikit hangat. Mengantarkan warna tembaga sang raja surya mewarnai dedaunan di sore itu. Selalu ada sisi romantisme dari senja, yang telah banyak memberikan inspirasi pada banyak hati untuk menciptakan puisi.
Sementara itu di kantor Subrata’s Holding Company, Desta sedang berbicara secara virtual dengan big bosnya, Subrata. Jarak yang begitu jauh membuat dia tidak bisa bertatap muka langsung. Desta ada di Jakarta, sedang big bosnya itu masih ada di San Frasisco, Amerika Serikat. Subrata sedang memperbincangkan rencananya kepada Desta setelah pemuda itu ditarik kembali ke kantor pusat.
“Tugas apa yang harus aku lakukan pak?” tanya Desta.
“Kau akan aku persiapkan untuk menduduki jabatan penting di perusahaan baruku Desta,” ujar Subrata.
“Siap pak,” sahut Desta.
“Sementara kau tetap bekerja di kantor pusat membantu membenahi yang lainnya,” sambung Subrata lagi.
“Maaf pak, kalau boleh tahu, perusahaan tambang apa yang akan kita dirikan?” taya Desta penasaran.
Subrata terdiam sejenak.
“Kita akan menambang emas.”
“Emas?”
Subrata menganggukkan kepalanya. Mata Desta langsung membulat sempurna. Hampir sepuluh tahun dia mengabdikan keahliannya untuk bekerja di perusahaan milik Taipan terkaya nomer empat dunia itu. Tapi baru kali ini Subrata membicarakan rencananya mendirikan perusahaan untuk menambang emas.
“Emas?” tanya Desta lagi dengan wajah begitu takjub.
__ADS_1
Big bosnya itu selalu memberikan kejutan dengan rencana-rencana briliyannya. Pemuda itu yakin, apa yang dicapkan Subrata pasti sudah direncanakan dengan matang. Ibarat makanan, dia hanya mengelola atau menjualnya. Tapi masalah bahan dan racikan, big bosnya itu adalah juaranya. Tapi dimana ada tanah yang mengandung emas?
Subrata tampak tersenyum puas melihat wajah Desta yang sedang memandangnya takjub. Pemuda cerdas yang telah terbukti selalu berhasil menaikkan omzet perusahaan dimanapun dia ditempatkan, terlihat lucu saat dia bingung. Pasti ada banyak pertanyaan di dalam hatinya.
“Jangan bingung Desta. Semuanya sudah aku siapkan. Kau tinggal menjalankannya sesuai perintah-perintahku.”
Desta mengangguk cepat.
“Iya pak, saya siap menjalankan perintah dari bapak.”
Subrata menganggukkan kepalanya.
“Ya, aku percaya kepadamu. Kau pasti bisa,” kata Subrata sambil menutup ponselnya. “Kau berhati-hatilah. Akan ada banyak ancaman yang mengincarmu.”
Lalu layar virtual itu mati. Wajah Subrata hilang dari pandangan. Meninggalkan Desta yang masih berdiri, terpaku di ruang itu. Hatinya diliputi berbagai macam pertanyaan. Setelah kehilangan Megapolitan, apakah pak Subrata akan mengalihkan fokus bisnisnya dari property ke pertambangan? batinnya.
***
Terselubung kabut biasa, kita tampaknya berjalan dalam kejernihan diri, dan hanya melihat kabut yang menyelimuti orang lain.
Sebuah kapal pesiar mewah melaju tenang di tengah Samudera Indonesia. Suasana sepi menyelubungi hati para penumpangnya. Hampir seharian big bos Ron Muller tertidur. Setelah minum satu botol penuh Vodka, tubuh adik Blade Muller itu meringkuk di kamarnya yang mewah, tak bergerak sama sekali. Hanya suara desah nafasnya yang menandakan kalau tubuh itu masih bernyawa.
Angin laut di malam itu begitu sejuk dan menenangkan. Fritz dan Koln tak pernah melepaskan pandangannya, mereka terus mengawasi setiap gerakan pria yang sedang diliputi kemarahan dan api dendam itu. Mereka berdua adalah sahabat setia Ron, sekaligus pengawal hidupnya.
“Bagaimana keadaannya Koln?” tanya Andy, sang kapten kapal.
“Hm, laki-laki yang kuat. Setelah mengalamai tragedi karena berita kematian kakaknya, dia sangat marah dan frustasi. Tapi di baik-baik saja,” sahut Koln.
Tiba-tiba tubuh Ron menggeliat. Lalu matanya perlahan terbuka. Beberapa saat bola matanya berputar kesana kemari. Seperti orang kaget, dia langsung duduk. Rupanya kesadarannya mulai pulih. Dilihatnya kedua sahabatnya yang sedang berdiri menatapnya.
“Dimana kita?” ucapnya. “Sudah sampai ke Indonesia?”
__ADS_1