EPS 22 PEMIMPIN BESAR
Sudah dua hari Kyai Badrussalam dan Andika tinggal di Dukuh Somawangi. Selama itu pula Andika banyak belajar tentang filosofi dan cara orag Somawangi memandang hidup. Menciptakan keselarasan dan harmoni antara semua elemen alam, baik elemen yang hidup maupun elemen yang mati. Dan semua itu bersumber pada kitab Irodarsulasikin yang ditulis oleh Endang Darsulasikin, puteri satu-satunya Panembahan Somawangi dengan isterinya Riyani. Dibawah bimbingan Roro Lawe sang Dewi Pengetahuan.
Raden Mas Parto mengajak Andika dan Pranaja berbaur dengan kehidupan warga Dukuh Somawangi. Mempelajari cara bersosialisasi dan interaksi antar warga, serta cara hidup mereka. Bagaimana mengolah tanah agar siap menjadi lahan yang subur. Menangkap ikan hanya di perbolehkan setiap hari Ahad, dan dilakukan bersama, sehingga tidak merusak ekosistem sungai. Menebang pohon juga di tentukan hari tertentu dan disesuaikan dengan kebutuhannya.
“Kenapa rumah di sini tidak memiliki pintu belakang ?” tanya Andika.
Rumah di dukuh Somawangi bentuknya sama, tersusun panjang berbentuk huruf L. Dibangun hanya dengan menggunakan kayu dan bambu, serta beratap ijuk dan sabut kelapa. Setiap rumah memiliki dua pintu, pintu depan khusus untuk masuk dan pintu samping khusus untuk keluar. Kedua pintu dibuat berdampingan tapi tidak sejajar, pintu keluar terletak di belakang.
“Tidak boleh ada dua pintu yang arahnya berlawanan, misalkan pintu depan langsung mengarah ke pintu belakang, karena itu akan menghambat datangnya keberuntungan,” sahut Mas Parto.
Andika menganggukkan kepalanya. Menarik juga untuk bahan studi antropologi, batinnya. Tidak ada listrik dan gas. Sumber kehidupan mereka bergantung pada alam sekitar padi, palawija, ikan dan barang perkakas dari bahan bambu, kayu dan rotan.
Penduduknya juga sangat ramah. Setiap kali mereka berkunjung, warga akan menyambutnya dengan penuh hormat dan rasa gembira. Mereka selalu di jamu dengan makanan dan minuman terbaik. Nasi liwet, ikan bakar dan kluban, rebusan sayur yang diurap dengan parutan kelapa. Serta minuman alam terbaik, air kelapa kopyor yang manis, gurih dan segar.
Kedatangan dua pemuda tampan yang masuk ke rumah-rumah penduduk langsung menarik perhatian gadis-gadis muda. Mereka selalu berbisik-bisik mengagumi dua wajah yang imut dan murah senyum itu. Biasanya, begitu Pranaja dan Andika berlalu, mereka akan langsung berkumpul dan membicarakan dua pemuda itu.
“Mas Pranaja imut banget, Mas Andika sangat lembut.,” kata Nastiti
“Iya. Baru pernah lihat pemuda setampan mereka. Udah tinggi, kulitnya putih, pintar ramah dan suka melucu. Apalagi mas Pranaja, kadang tingkahnya konyol juga” sahut Mulat.
“Rasanya pengin cubit pipi mereka. Hm, aku langsung jatuh hati sama mereka.”
“Eh, kamu kan sudah punya kang Slamet, calon suami kamu. Mau diapain dia?”
“Kalau mas Pranaja atau mas Andika mau sama aku, Slamet aku buang ke laut aja.”
Kekekekek…mereka tertawa tertahan.
__ADS_1
***
Pagi itu semua orang berkumpul di dalam ruang sanggar pamujan. Dari balik tembok berlapis batu marmer dimana lukisan cahaya yang menggambarkan Begawan Wanayasa tergantung, Panembahan Mbah Iro dan Pranaja muncul. Ada yang aneh dengan Pranaja, dia memakai jubah berwarna merah terdapat gambar lingkaran biru di balut sulaman benang emas mengelilinginya. Seolah simbol air yang berada dalam balutan sinar matahari.
Eyang Penatus dan Raden Mas Parto langsung duduk bersimpuh, sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah mereka. Wajah Pranaja jadi terheran-heran.
“Kenapa kalian bersikap aneh begitu kakek?”
“Baju yang kau pakai adalah pakaian kebesaran pemimpin besar Trah Somawangi,”sahut Panembahan Mbah Iro.
Pranaja mengernyitkan keningnya. Diamatinya jubah pemberian Panembahan Mbah Iro yang dipakainya.
“Apa maksudnya kakek. Kamu kan yang tadi menyuruhku memakai jubah ini?”
Panembahan Mbah Iro menganggukkan kepalanya.
Wajah Pranaja langsung terkesiap kaget.
“Aku? Eh, apa? Pemimpin Besar Trah Somawangi? Kakek sedang bercanda kan?”
Panembahan Mbah Iro hanya terdiam sambil tersenyum. Pranaja jadi celingukan. Pemuda itu menebarkan pandangannya melihat wajah kakek-kakeknya yang lain. Namun sikap Raden Mas Parto dan Eyang Penatus juga sama. Mereka masih menunjukkan sikat hormat kepadanya.
“Apa?..... Apa tidak terlalu cepat kakek. Usiaku bahkan belum genap dua puluh tahun,” sahut Pranaja. “Kau sendiri kan yang bilang, kalau aku akan diangkat menjadi pemimpin Trah Somawangi setelah usiaku genap dua puluh lima tahun.”
Panembahan Mbah Iro tersenyum.
“Sebenarnya usia bukan ukuran Pranaja. Tapi tingkat kematangan jiwa, kebijaksanaan, serta kemampuanmu melebihi tingkat kemampuan pemuda seusiamu. Pengalamanmu sudah terlalu banyak. Bahkan kau pernah menembus lorong waktu dan bertemu langsung dengan Shamtek Yang Agung. Kau juga menguasai kekuatan yang berasal dari elemen alam yang paling tinggi, yaitu kekuatan Matahari. Semua itu sudah cukup meyakinkan kami bahwa susah saatnya tongkat kepemimpinan Trah Somawangi aku serahkan kepadamu”
Pranaja memandang Kyai Badrussalam dan Andika yang duduk di luar ruang sanggar pamujan. Dia mengangkat kedua alis mata dan bahunya, mencoba membujuk sang kyai agar ikut berbicara. Tapi mereka berdua malah mengangguk-anggukkan kepalanya. Andika bahkan mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Huh! Bagaimana ini? Batinnya. Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasanya ini terlalu cepat. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan sebelum hatinya betul-betul terpanggil untuk menjadi pemimpin besar Trah Somawangi. Pemuda imut dan cerdas itu segera memutar otaknya.
“Apa hak yang aku miliki sebagai Pemimpin Besar Kakek?”
“Kau memiliki kekuasaan tertinggi dalam menentukan arah perjuangan kita, Pranaja.”
“Berati seluruh keturunan eyang Panembahan Somawangi wajib menuruti semua perintah dan keputusan-keputusanku?”
Panembahan Mbah Iro menganggukkan kepalanya.
“Kau benar cucuku. Seluruh keturunan Trah Somawangi tunduk dan taat kepada semua perintah dan keputusanmu. Sepanjang tidak bertentangan dengan isi kitab Irodarsulasikin”
“Termasuk Eyang Panembahan sendiri?”
Panembahan Mbah Iro tidak langsung menjawab pertanyaan Pranaja. Rasanya pertanyaan ini begitu aneh. Di tatapnya wajah Pranaja dalam-dalam. Dia tahu ini adalah pertanyaan yang bisa bermakna ganda. Beberapa saat kemudian baru dia menjawabnya.
“Tentu saja Pranaja. Aku adalah anggota keluarga besar Trah Somawangi, maka sudah kewajibanku untuk menjalankan semua perintah dan keputusan-keputusanmu.”
Pranaja tersenyum, wajahnya terlihat begitu senang. Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto saling memandang. Mereka tidak bisa mengerti mengapa bibir pemimpin baru mereka tersenyum begitu lebar.
“Kalau begitu aku perintahkan Mbah Iro, untuk sementara menjalankan tugas-tugasku sebagai Pemimpin Besar Trah Somawangi, untuk waktu yang tak terbatas. Maksudku, sampai aku membatalkannya. Gelar Panembahan juga tetap tersemat di depan namanya selama aku belum ingin memakainya.”
“Apa!” sahut ketiga kakeknya bersamaan.
“Ini keputusanku!” tegas Pranaja.
Pranaja berdiri gagah di depan altar sanggar pamujan. Wajahnya begitu tegas, matanya menatap jauh lurus ke depan. Seolah sedang menegaskan bahwa perintahnya harus dijalankan oleh siapapun yang menjadi anggota keluarga besar Trah Somawangi.
Di luar angin berkesiur lembut. Menyentuh wajah kyai Badrussalam dan Andika yang tersenyum mendengar perintah pertama sang pemimpin baru Trah Somawangi, Rich Pranaja.
__ADS_1