EPS 98 REN SAKIT
Rindu mengalir seperti air yang mengisi setiap ruang hati. Berhenti pada batas dinding semu yang tak bisa kau lihat. Saat tanganmu ingin menggapai, ternyata bintang itu lebih jauh dari daya pandangmu. Karena itu berhentilah pada rasa, agar tak terlalu sakit saat kau terbentur dengan fakta. Berharaplah yang terbaik, karena kekasih sejati itu, jauh di mata tapi dekat di doa.
Ren duduk terpekur di depan altar pemujaan sebuah kuil batu yang sudah lama ditinggalkan manusia. Mengalunkan senandung suci untuk Seongju, Dewa tertinggi, yang dia yakini telah memberikan banyak kenikmatan, Juga karena hidup membutuhkan arah yang jelas, sehingga kita tetap berada di jalan cahaya. Di ruang sunyi dia melafadzkan doa, menyerahkan sepenuh hatinya dalam pertapaan segala jiwa.
Setelah itu dia berdiri. Hidungnya menghirup bau asap dupa yang mengepul tipis. Lalu tubuhnya meliuk diiringi gerakan tangan yang lemah gemulai. Dari sela bibirnya terus mengalun lagu-lagu suci untuk Seong Ju sang Dewa tertinggi. Inilah ritual orang Korea saat mereka sedang mengucapan rasa syukur dan menyampaikan harapannya kepada para dewa.
Rakyat Korea dikenal pandai menyanyi dan menari sejak zaman kuno. Setelah musim tanam selesai pada bulan kelima, mereka selalu melakukan ritual menyembah dewa-dewa dengan membentuk kelompok, menari dan minum sampai malam tanpa istirahat. Alat musik yang mereka gunakan adalah lonceng yang dipukul seperti yang digunakan di Cina untuk menari.
Pada bulan Oktober, setelah selesai panen, mereka akan mengulangi ritual yang sama. Setiap desa memberikan persembahan kepada dewa-dewa dengan petunjuk seorang pemimpin yang dinamakan cheonggun, yang dipilih oleh warga desa sendiri. Diiringi suara kecapi petik yang dinamakan Geumungo.
“Dangsin-ui nun-e aleumdaun misoleulbosibsio. geugeos-eun naleul malmun-i maghigo gijeolhage mandeul-eossseubnida. naega dangsin-ui mom-eul kkog kkyeoan-eul ttae gajang aleumdaun salang-ui jonjaeui uimileul ihaehasibsio. neoege pyohyeonhal su eobsneun mal-i neomu manh-a. naneump hangsang dangsin-eul wonhaeyo, nae modeun sigan-e seonmul”
Ren mengungkapkan kerinduannya pada orang-orang yang disayanginya, dan berharap yang terbaik bagi mereka semua. Suaranya begitu lembut dan menyayat hati. Di wajahnya terbayang kakek Kim, Ryong Bae dan kekasihnya Rich Pranaja. Hanya tiga orang laki-laki inilah yang telah mengisi bagian-bagian dari ruang hatinya. Tak ada yang lainnya. Selesai bersenandung, tubuhnya mengelosoh jatuh di atas lantai kuil tua itu.
“Ren!” teriak Min Ho yang diam-diam mengikutinya dari jauh.
Dia segera berlari menghampiri tubuh gadis itu. Kedua matanya terpejam dan wajahnya terlihat pucat. Dia pasti kehabisan tenaga. Min Ho tahu sejak semalam perut Ren belum terisi makanan sedikit pun. Padahal dia sudah membawakan macam-macam makanan dan minuman yang biasanya disukai gadis itu, tapi sampai pagi tadi makanan dan minuman itu masih utuh.
Dengan kedua tangannya, Min Ho merengkuh tubuh Rend an diangkatnya perlahan. Kemudian dia berlari menuju tanah yang agak lapang. Lalu dia menelpon asistennya dan memberitahu keberadaannya.
“Cepat kirim bamtuan ke sini!” perintahnya.
“Siap bos! Secepatnya!” balas para pengawalnya.
Min Ho meletakkan Ren di tempat yang teduh dan kering. Lalu memetik beberapa dedaunan yang banyak tumbuh di sekitar itu. Daun-daun itu dia remas hingga keluar airnya. Kemudian tetesannya dia arahkan ke bibir Ren yang masih belum sadar. Perlahan air itu jatuh tepat diatas garis bibirnya, lalu merembes masuk ke dalam mulutnya. Namun Ren belum juga bereaksi.
__ADS_1
“Ren!” panggil Min Ho dengan suara lirih. “Bangunlah Ren!”
Lalu terdengar suara gemuruh diudara, diikuti angin yang mendadak menjadi sangat kencang. Min Ho menengok ke atas, melihat sebuah helikopter berwarna putih yang melayang ringan dan siap untuk mendarat. Di dindingnya ada gambar logo PMI, Red Cross, dan tulisan Emergency Ambulance.
Begitu sampai di darat, beberapa petugas medis turun dengan sigap sambil membawa tandu. Mereka lalu mengangkat tubuh Ren ke atas tandu. Memberinya selimut, sebelum diikat dengan sabuk yang ada disisi kanan dan kiri tandu. Kepalanya juga di beri sandaran empuk untuk menghindari cedera di kepala. Diikuti Min Ho, mereka membawa tandu itu kembali ke dalam Helikopter dan dibawa ke rumah sakit terbaik di sekitar Seoul.
***
Angin semilir menebar kesejukan. Song yang duduk di samping bed perawatan Ren terdiam membeku. Kedua matanya masih meneteskan air mata, walaupun tak sederas saat dia baru datang. Sudah lima jam dia disini, menunggu tanda-tanda sahabatnya itu untuk bangun dan segera sadar. Namun harapannya seperti sia-sia. Ren belum juga menggerakkan kedua bulu matanya yang lentik.
Song menatap wajah sahabatnya itu dalam-dalam. Ren adalah gadis yang sangat kuat. Artis film ber-genre action thriller yang sangat berbakat. Gadis itu bukan artis setingan. Dia benar-benar menguasai ilmu bela diri. Dia selalu percaya diri dan optimis dengan hidupnya. Tidak pernah mengeluh dan hatinya sangat baik. Dia selalu yakin dengan hidupnya.
“Lalu apa yang membuat Ren menjadi putus asa?” batin Song.
Zrrrd!
“Kau temannya Ren?” tanya Min Ho pada Song.
Gadis itu hanya tertunduk, tanpa berani memandang wajah artis pujaannya itu. Walaupun Min Ho juga tahu kalau Song adalah seorang sasaeng. Tapi dalam situasi seperti ini, terlihat Song bisa mengendalikan hatinya. Kesedihan akan nasib sahabat seperjuangannya itu membuatnya harus menepikan egonya. Dia tidak lagi histeris dan berusaha keras memeluknya dengan gila layaknya seorang sasaeng.
“Terimakasih,” bibirnya berucap lirih.
Min Ho mengernyitkan keningnya.
“Kenapa kau berterima kasih kepadaku?”
“Karena kau telah menyelamatkannya.”
__ADS_1
Min Ho menggelengkan kepalanya.
“Kau tak perlu berterimakasih. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk selalu menjaganya.”
Song melirik wajah Min Ho sekilas. Wajah tampan itu terlihat murung. Dan ada ketulusan yang tergambar dimatanya.
“Maaf. Ap..apa kau mencintai Ren?” suara Song sedikit terbata.
Song menganggukkan kepalanya. Tapi Song tak melihatnya, karena dia telah menundukkan kepalanya kembali. Kenapa dia terdiam? batinnya. Ah, mungkin dia menolong Ren karena terdorong rasa simpatinya saja. Song jadi sedikit lega.
“Sekali lagi maaf. Apa dokter sudah memberitahumu apa yang terjadi dengan Ren?” tanya Song sekali lagi.
“Ya. Dugaan sementara dia terkena asam lambung. Mungkin karena pola makannya yang tidak teratur beberapa hari ini.”
Song melirik wajah pemuda Korea paling tampan itu lagi dengan wajah penasaran. Tadi ditanya apakah dia mencintai Ren, diam saja. Tapi kenapa perhatianmu kepadanya begitu besar? Batinnya sedikit cemburu.
“Aku mencintainya dengan segenap jiwaku,” kata Min Ho seperti menjawab keraguan Song.
__ADS_1