EPS 137 PADANG KURUSETRA
Bagai logika yang berbenturan, antara apa yang kau pikirkan berbeda dengan apa yang kau alami. Otak jungkir balik mencoba menerima hal yang absurd sebagai sesuatu yang nyata. Melihat itu sebagai sebuah anomali, hal langka di luar kebiasaan. Seperti matahari yang terlihat di hari, atau butiran salju yang turun di musim panas? Maka kembalikan itu kepada keyakinanmu, bahwa sesuatu yang tidak mungkin terjadi, bisa saja terjadi.
Mendadak angin membeku, makhluk-makhluk terpaku, menggigil dalam diam. Dedaunan yang terselubung rasa dingin, tak bergerak dibawah sinar senja. Permukaan alas Kecipir di puncak bukit Kethileng tertutup salju. Hamparan warna putih menjadi pemandangan aneh yang mungkin baru terjadi sekali ini. Keajaiban apa yang sedang menyelimuti bumi Kethileng?
“Heyaa!”
Tubuh Ken Darsih melesat tinggi, lalu mendarat di pucuk pohon Sonokeling yang cukup tinggi. Tubuhnya tegak sempurna, walau telapak kakinya hanya menyentung ujung daunnya. Tatapannya tajam menyambut tamu yang datang menyambanginya. Tamu tak diundang yang memang sudah ditunggu kedatangannya. Tamu yang telah menyulut api dendam di dalam hatinya selama beberapa tahun ini.
“Hahaha! Akhirnya kau datang Miryam!” teriaknya membelah angkasa.
Di depannya, pada jarak satu kilometer, Miryam juga berdiri tegak di atas pucuk pohon Damar. Pakaiannya yang berwarna putih-putih nampak menyatu dengan hamparan salju di bawahnya. Wajahnya tertunduk, menghilang dibalik capingnya. Dia tak membalas tatapan Ken Darsih. Tapi puteranya, Arya Janu, menatap Ken Darsih dengan mata kecilnya yang bersinar merah terang. Tatapannya begitu galak, dan penuh amarah.
“Kenapa kau selalu mencari gara-gara denganku Ken Darsih? Apakah kau pernah bertemu denganku di masa lalu?” jawab Miryam dengan suara yag dingin.
“Jangan berpura-pura bodoh Miryam. Hari ini akan kita tentukan, siapa yang lebih baik diantara kita. Aku atau kau yang akan mati duluan,” ujar Ken Darsih lagi.
Miryam masih menahan diri. Bibir ranumnya hanya tersenyum datar.
“Aku tidak pernah takut mati. Tapi sebelum kematian menjemputku, bolehkah aku menayakan satu hal kepadamu?”
“Hahaha…utarakan saja Miryam, supaya arwahmu tidak mati penasaran.”
“Apakah benar kau membenciku?”
Ken Darsih mengangguk cepat.
“Ya. Kau adalah perempuan yang paling aku benci selama hidupku.”
“Kalau kau benar membenciku, kenapa wajahmu dimirip-miripkan dengan aku?”
__ADS_1
“Apa?!”
Ken Darsih tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia merasa Miryam sedang melecehkannya dengan pertanyaan itu. Gadis itu tidak pernah berpikir kalau Miryam betul-betul tidak tahu kalau dirinya adalah anak kandungnya. Tangannya di ayunkan ke depan, Sebongkah nyala api berwarna abu-abu kehitaman yang penuh racun melesat ke arah Miryam. Kemudian tubuhnya melesat di belakangnya.
“Slap!”
Gumpalan api itu melesat dengan sangat cepat memburu tubuh Miryam. Perempuan jadul tapi mempesona tetap tenang berdiri di tempatnya. Tapi begitu gumpalan api itu semakin mendekatinya, perempuan itu melepas capingnya, lalu di lemparkan ke arah gumpalan api. Lalu tubuhnya melesat cepat di belakang caping itu, siap menyambut serangan Ken Darsih.
“Slap!”
“Blar!”
Ledakan besar terjadi saat caping milik Miryam menghantam gumpalan api yang sedang mengancam dirinya. Gumpalan api itu seketika musnah, tapi caping milik Miryam juga terpental jauh dengan kondisi yang rusak parah. Sebagian caping itu terlihat hitam terbakar, dan sebagian kecilnya masih menyala berwarna merah.
“Heya!"
Ken Darsih menerjang dengan cakar terayun ke arah leher Miryam. Kembang Jalatunda itu menyambut serangan itu dengan tangannya. Gerakan kedua perempuan diatas bukit Kethileng itu sangat cepat. Hanya orang-orang berilmu tinggi yang mampu melihatnya.
‘TRANG!!’
Cakar baja yang penuh racun mematikan milik Ken Darsih berbenturan dengan tangan lembut Miryam. Terlihat percikan api menyambar kesana kemari. Kulit Miryam yang lembut sama sekali tak terluka. Tubuh Miryam pernah mendapatkan anugerah Mata Dewa dari Eyang Karangkobar, sehingga tubuhnya kebal dari segala senjata dan anti racun juga.
Sesaat kemudian keduanya terlibat pertempuran hebat. Kedua tubuh perempuan bidadari itu sudah tak terlihat, terselubung oleh asap hitam penuh racun yang keluar dari tubuh Ken Darsih. Dibalas dengan kekuatan Geni Sawiji berupa kilatan api yang sangat panas yang merontokkan kekuatan racun itu. Dan Miryam masih belum menyadari siapa sesungguhnya musuh yang sedang di hadapinya itu.
Ken Darsih adalah manusia setengah siluman. Dia sebenarnya anak Miryam sendiri yang saat masih remaja di rudapaksa oleh siluman ular kyai Badranaya. Sebagai manusia setengah siluman, kekuatannya jauh lebih dahsyat dari siluman itu sendiri. Bahkan ayah kandungnya, kyai Badranaya, juga berhasil dibunuhnya
dalam sebuah pertarungan.
__ADS_1
Heyaa!
Heyaa!
***
Langit di atas bumi Kethileng mendadak gelap. Di atas bukit sedang terjadi pertempuran yang aneh yang melibatkan dua sosok pendekar sakti yang memiliki wajah yang sama. Di bawah bukit juga tak kalah sengitnya. Pasukan Ron Muller yang baru saja kehilangan drone-drone yang hancur terkena rudal pintar, harus bertahan mendapat serangan
selanjutnya. Rudal-rudal berkamera itu berhasil menemukan keberadaan mereka.
“Slap!”
“Blar!”
Ledakan kuat juga terjadi di kaki bukit Ketileng. Bom-bom pintar itu mendarat dan meledak di tempat persembunyian beberapa anak buah Ron. Seketika tempat itu hancur lebur dan terbakar. Menewaskan beberapa manusia pendukung di bawah permukaan tanah. Ron menggeram penuh amarah.
“Balas serangan mereka!” teriaknya.
Anak buah Fritz segera mengeluarkan senjata terbarunya. Senjata teranyar itu adalah sistem laser penghancur bernama LaWS (Laser Weapon System). Senjata super canggih produk militer negeri paman Sam itu dapat beroperasi dan di tembakkan ke seluruh target dengan ketepatan yang lebih baik dibanding proyektil biasa. Senjata ini mampu mencapai target 50.000 kali lebih cepat dibandingkan kecepatan peluru kendali anta benua.
Dengan kecepatan cahaya LaWS senjata laser menembakkan partikel foton bermuatan besar ke sasaran yang di tuju. Foton merupakan partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik yang membawa residu radiasi, seperti pada gelombang radio atau sinar-X. Foton berbeda dengan partikel elementer lain, seperti elektron dan quark, karena ia tidak bermassa. Dan, dalam ruang vakum, foton selalu bergerak dengan kecepatan cahaya.
Benda apapun yang terkena Foton akan mengalami radiasi sinar beta. Benda itu akan lenyap seketika tanpa meninggalkan jejak apapun.
“Siap! Tembak!” teriak Fritz.
Slap! Slap! Slap!
Sebaran sinar laser bagaikan kain pita berwarna-warni menghiasi angkasa yang biru. Laser-laser itu mengarah kepada bom-bom pintar yang terus menghujani mereka. Begitu terkena cahaya laser itu, bom-bom pintar berdaya ledak tinggi itu langsung menghilang di udara tanpa sempat meledak. Hilang tanpa bekas. Namun beberapa bom pintar masih sempat lolos dan menghantam pertahanan pasukan Ron Muller.
Blar!
Aakh!
Korban mulai berjatuhan di pihak Ron Muller. Mayat-mayat bergelimpangan dengan kondisi tubuh sudah tidak utuh lagi. Sebagian dari mereka malah sudah tidak bisa dikenali lagi karena luka bakar parah.
Seperti padang Kurusetra, bumi Kethileng telah berubah menjadi medan pertempuran yang dahsyat.
__ADS_1