EPS 109 MONSTER
“Mohon maaf bapak dan ibu sekalian, terimakasih ya sudah menyambutku. Kalian semua baik deh.””.
Kata Pranaja sebelum mohon pamit kepada para penduduk desa. Setelah menyalami warga desa satu persatu, tubuhnya melesat pergi meninggalkan tempat itu. Tujuannya jelas, kembali ke sawah dimana tadi pagi dia bertemu gadis-gadis yang sedang menanam padi itu. Tapi tempat itu kosong tak ada apa-apanya.
Pranaja berjalan berputar mengelilingi pesawahan itu. Telihat banyak jejak kaki di atas pematang. Melihat bentuk kakinya yang kecil, Pranaja memastikan kalau mereka adalah gadis-gadis yang sedang dia cari. Tanpa sadar kakinya melangkah mengkuti jejak kaki itu. Semakin lama semakin jauh dan terpisah dari pesantren Ksatryan Ksantri.
“Kemana mereka pergi?” pikirnya.
Tubuhnya yang tinggi berotot melompat ringan keatas sebuah batang pohon. Berdiri tegak di pucuk pohon tertinggi. Lalu dia melihat sekitarnya. Membuang jauh pandangannya ke arah cakrawala, mencari keberadaan gadis-gadis aneh itu. Namun dia tak melihat ada tanda-tanda keberadaan mereka. Tatapan matanya hanya menatap sebuah gua aneh di kaki bukit.
“Gua apa itu?” batin Pranaja. “Terlihat seperti gua yang lama ditinggalkan manusia. Tapi kenapa hatiku merasa aneh ya?”
Lobang gua itu itu tidak begitu besar. Namun anehnya ada pintunya di tertutup rapat dan terkunci. Pranaja merusak kunci yang sudah karatan itu. Sekali pukul kunci itu langsung hancur berantakan. Begitu dibuka lorong dalam gua itu terlihat begitu gelap.
“Mungkin pernah menjadi tempat persembunyian para perampok,” ujar Pranaja pada diri sendiri.
Pemuda itu langsung masuk ke dalamnya. Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam lorong dibelakang Pranaja itu mendadak hilang.. Ternyata lubang gua itu hanyalah tipuan. Dia adalah sebuah pintu portal menuju dunia gaib.
Tubuh Pranaja seperti melayang di dalam ruang penuh warna. Tubuhnya seperti tersedot ke depan. Dan Pranaja tidak menggunakan kekuatan apapun. Dia hanya turut saja kemana lorong itu akan membawanya.
Akh!
Bug!
Tubuhnya jatuh di atas sebuah kasur yang sangat empuk di sebuah kamar besar yang berhiaskan nuansa emas. Hampir seluruh ornamen dan perabotan di dalamnya terukir dengan warna emas. Dia tidak sempat berpikir dirinya sedang berada dimana. Rasa kantuk yang berat seperti menyerang tubuhnya. Begitu jatuh, dia langsung tidur mendengkur di atas kasur itu.
Hrrr…hrrrr…
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, beberapa gadis muda berpakaian serba putih masuk ke dalam kamar. Dengan gerakan-gerakan erotis mereka menari sambil melayang ringan beputar mengitari tempat tidur dimana Pranaja berada. Sambil menari mereka menaburkan kembang Melati dan kembang Kantil di atas tubuhnya. Seketika bau wangi kedua bunga itu merebak memenuhi ruangan,
“Ebumnobim bu iji ahihia ocha, ghara ikwe ka uwa gbawa, ghara ikwe ka ugwu daa. Ntutu m bụ ọkụ, akpụkpọ ahụ m bụ ọkụ, ọbara m bụ ọkụ, ọkpụkpụ m bụ ọkụ, ụmị m bụ ọkụ.”
Sambil menaburkan bunga mereka menyenandungkan mantera-mantera pengasihan dengan bahasa yang tidak bisa dipahami manusia biasa. Mereka berusaha mempengaruhi hati dan pikiran Pranaja agar jatuh cinta dengan dunianya yang baru. Dengan doa-doa dan pujian-pujian pada sesembahan mereka.
Gerakan mereka semakin lama semakin cepat. Perputaran itu juga semakin cepat. Menari bagaikan sekelompok gadis mabuk dalam gerakan-gerakan yang tak beraturan. Semakin keras dan semakin menghentak. Dari bibir mereka terus keluar suara-suara yang hanya dipahami oleh bangsa mereka sendiri.
“Anọ m ọdụ n'etiti ụwa, ịnyịnya na-ama jijiji na-amụmụ ọnụ ọchị. Mou dhar!” teriak gadis-gadis itu serempak dalam jeritan yang menusuk hati.
“Eeeerrkkk!”
Lalu mereka menampakkan wajah mereka yang sebenarnya. gadis-gadis berwajah cantik itu berubah menjadi makhluk-makhluk yang menyeramkan. Dengan wajah berlubang-lubang, bola mata berwarna putih semua, lidah terjulur dengan gigi taring yang cukup panjang, dan butiran darah yang terus menetes dari ujungnya. Mereka benar-benar berubah menjadi monster!
Pranaja tersentak kaget. Pemuda gempal tapi berwajah imut itu seperti dibangunkan paksa dari tidurnya yang sangat lelap. Sejenak dia duduk kebingungan. Dia tidak ingat apa-apa. Dan tidak tahu sekarang berada dimana. Kepalanya berputar melihat setiap sudut ruangan dimana dia berada. Kamar besar yang sangat indah, tapi suasananya begitu sunyi dan dingin. Dia tidak melihat siapapun disekitarnya
.
__ADS_1
“Dimana aku?” batinnya.
Pranaja turun dari tempat tidurnya. Lalu berjalan menuju jendela. Dibukanya jendela kayu itu perlahan, sambil mengintip keluar. Sikapnya sangat waspada. Dia tidak tahu ada dimana dan bahaya apa yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan dirinya. Ups! Kedua matanya langsung membulat sempurna. Dilihatnya gadis-gadis aneh yang dicarinya berada di sana. Hanya memakai kain sutera yang menutupi dada hingga pangkal pahanya.
“Busyet! Eh, Astaghfirullohal’adziem! Itu kan gadis-gadis yang kemarin di sawah? Kenapa mereka juga ada disini?” batinnya.
“Lalu rumah siapa ini? Apa mungkin ini rumah orang tua mereka?” batinnya sambil melirik sekali lagi keluar jendela.
Hah? Kemana mereka? batinnya. Gadis-gadis itu sudah tidak ada di sana lagi. Pranaja membuka jendela itu lebih lebar lagi, namun tetap saja dia tidak melihat siapapun ada di sana. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Dengan langkah perlahan, dia membuka pintu bermaksud untuk keluar menuju ruangan lainnya. Namun lagi-lagi dia terkesiap kaget dengan apa yang dilihatnya.
Ternyata dia berada di sebuah bangunan yang sangat besar. Sebagian dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang diukir dengan sangat indah. Ada tulisan besar menggunakan huruf-huruf jawa yang terpampang di sana. Dia tidak bisa membaca dan tidak tahu artinya. Yang jelas terlihat ada kesibukan yang luar biasa. Seperti sebuah pesta atau hajatan keluarga.
Di luar ruangan yang sangat luas itu dia melihat ada banyak laki-laki berwajah menyeramkan, berseragam prajurit berdiri mematung sambil memegang senjata tombak. Beberapa pelayan perempuan juga sibuk berjalan ke sana kemari membawa nampan berisi makanan dan minuman. Terdengar suara gamelan, alat musik tradisional Jawa, yang mengalun lembut. Terdengar juga keriuhan orang-orang yang sedang berbicara dan tertawa.
“Hah? Apa aku berada di sebuah istana?” batinnya.
Belum hilang rasa penasarannya, tiba-tiba pintu kamarnya di buka oleh dua orang prajurit bertubuh kekar. Dibelakangnya terlihat beberapa dayang dan pelayan berbaris dengan rapi.
“Selamat pagi pangeran. Air hangat untuk mandi sudah siap. Hari ini pangeran akan dimandikan dan dirias oleh juru rias istana,” kata kepala dayang.
“Hah? Dirias? Untuk apa?” tanya Pranaja heran.
“Hari ini Pangeran akan duduk di pelaminan bersanding dengan puteri tercantik, Dewi Nawangwulan,” sahut kepala dayang.
Tubuh Pranaja sampai terloncat ke belakang mendengar kata-kata si kepala dayang.
‘Hah? Duduk di pelaminan…?’
__ADS_1