EPS 117 JALAN MASUK
Dan pagi itu menjadi pagi yang paling menyenangkan dalam hidup Serena. Kekagumannya kepada Dandung semakin besar. Ternyata perwira tampan itu begitu gentle. Dia tidak mau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Padahal jika Dandung mau melakukannya, dia juga tidak pernah keberatan. Bahkan hatinya sedikit menyesal, mengapa pemuda yang dikaguminya itu tidak melakukannya.
“Jangan berpikir negatif Serena. Aku tidak berbuat hal yang buruk terhadapmu,” ujar Dandung.
Serena tertunduk malu. Ada semburat merah jambu di wajahnya.
“Jadi semalaman kita berdua ngapain pak?”
“Aku?”
Serena mengangguk.
“Menidurimu,” sahut Dandung dengan entengnya.
“Hah? Apa?”
“Ehm, iya aku menidurimu. Sebagian tubuhku menindih tubuhmu semalaman, tapi kau tak bangun,” ucap Dandung sambil tertawa.
Serena ikut tersenyum. Entah mengapa hatinya mendadak bahagia. Serasa ada yang melambung di angkasa. Ah ternyata pak Dandung orang yang sangat menyenangkan. Hampir saja dia melupakan kejadian yang menakutkannya tadi malam. Bayangan orang-orang yang sudah meninggal karena kecerobohannya.
“Pak Dandung,” ucapnya setelah terdiam beberapa saat.
“Ya?”
Dandung bangkit dari tidurnya dan duduk. Matanya menatap wajah Serena. Perempuan itu sedikit ragu.
“Ada apa? Katakan saja Serena. Oh ya, panggil saja namaku atau mas, juga boleh.”
Serena kembali tersenyum.
“Pak..eh..mas. Ehm, mas Dandung bisa dipercaya kan?” katanya.
“Tentu saja. Apa kau punya rahasia yang kau sembunyikan?”
Serena menatap wajah Dandung dengan penuh keraguan. Tapi dia merasa hanya Dandung yang saat ini bisa membuatnya melupakan masalah yang sedang dihadapinya. Hanya pemudi inilah satu-satunya orang yang bisa membuatnya yakin, dia akan terlindungi. Dandung begitu percaya diri dan bertanggung-jawab.
“Apakah kau percaya tentang kehidupan setelah manusia mati?”
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Ya.”
“Apakah kau percaya, kalau orang mati bisa bangkit kembali untuk membalaskan dendamnya?”
Kali ini Dandung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kalau iblis dan siluman itu memang ada. Tapi kalau orang mati, hidup lagi itu khayalanmu saja.”
“Maksudmu?”
“Misalnya kau punya sahabat yang meninggal, padahal kau lagi marahan sama dia. Lalu kau berhalusinasi, seolah-olah temanmu itu hidup lagi untuk menuntut permintaan maaf darimu.”
“Kenapa hal seperti itu bisa terjadi?”
“Itu karena kau dihantui rasa bersalah yang terus mengejarmu dimanapun kau berada.”
Serena tercenung mendengar kata-kata Dandung. Rasa bersalah terus mendengung di kepalanya. Kalau begitu apa yang aku lihat semalam bukan hantu, tapi halusinasi yang terbentuk karena rasa bersalahku kepada mereka? batinnya.
“Ehm, kalau itu terjadi apa yang harus kita lakukan?”
“Ya kita harus meminta maaf di atas makam mereka, dan mempertanggungjawabkan perbuatan kita pada keluarga yang masih hidup serta bertanggungjawab secara hukum.”
Serena menatap wajah Dandung dalam-dalam. Terlihat ada titik embun di kedua sudut matanya. Dandung bergerak menghampirinya. Dia sudah berpengalaman menghadapi perasaan perempuan yang sedang galau. Dipeluknya tubuh Serena dengan lembut. Kemudian direngkuhnya wajah itu ke dalam dadanya yang bidang.
“Memang penting untuk memiliki rasa penyesalan, tapi yang lebih penting adalah memiliki rasa tanggung jawab terhadap semua hal buruk atas apa yang telah kita perbuat. Karena itu menghapus rasa bersalahmu,” bisik Dandung.
Wajah Serena semakin tenggelam dalam pelukan pemuda itu. Perlahan suara isak tangisnya mulai terdengar. Bahkan seluruh tubuhnya terasa bergetar. Dandung bisa merasakannya. Merasakan kegelisahan, kesedihan, kemarahan, dan penyesalan. Ah, seandainya waktu bisa diputar balik, tentu semua orang ingin mengulangnya dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya.
“Apa kau menyesali semuanya?” tanya Dandung.
Dengan suara sesenggukan Serena menganggukkan kepalanya.
Serena menganggukkan kepalanya kembali.
“Kalau begitu, kau juga sudah siap menceritakan semuanya kepadaku?”
Perempuan itu mengangkat kepalanya.
Menatap kedalaman mata Dandung yang begitu teduh dan menyegarkan.
“Iya, aku siap menceriterakan semuanya kepadamu.”
Dandung tersenyum lembut. Di tempat lain, Haidar dan anggota pengawal khusus lainnya ikut tersenyum. Mereka larut dalam kesedihan Serena tapi juga memandang kagum kelihaian AKP Dandung untuk menginterogasi Serena. yang sejak tertangkap tadi malam selalu bungkam dan tidak mau membuka sindikat kejahatan hipnotis itu. Hanya Frida yang terdiam dan menatap pemandangan itu dengan penuh rasa cemburu.
***
“Ternyata Serena hanyalah alat yang dijadikan jalan masuk oleh para pelaku hipnotis itu, Ndan,” ujar Dandung kepada Simson.
AKBP Simson Hutapea, atasan Dandung mencermati cerita itu.
“Bagaimana kronologisnya?”
“Ada seseorang bernama Alex menginboks nomor Serena. Kemudian mereka berkenalan, bahkan Alex mejadikan Serena sebagai kekasihnya. Sejak saat itulah, Serena mulai membocorkan rahasia teman-teman kita kepada mereka.”
__ADS_1
Simson mengernyitkan keningnya.
“Apakah maksudmu, Serena juga dalam keadaan tidak sadar atau terhipnotis oleh suara Alex lewat percakapan telponnya?”
“Dugaanku begitu Ndan. Haidar sedang mendalaminya lebih jauh.”
“Kenapa kau menduga begitu?”
“Dari hasil pengakuan tersangka, dia belum pernah bertemu langsung dengan Alex. Mereka hanya terhubung lewat sosial media dan sambungan telepon.”
“Analisamu?”
“Bagaimana mungkin Serena, pegawai yang cukup baik, dia cerdas dan terpercaya bisa memberikan begitu saja informasi rahasia terhadap begundal yang tidak pernah ditemuinya? Dia pasti bergerak di luar kendalinya sendiri.”
Simson menatap wajah Dandung penuh selidik.
“Kau tidak sedang dibawah pengaruh atau terhipnotis eksotisme seorang Serena kan Ndung?”
Dandung menggeleng cepat. Dan Simson tahu, pemuda didepannya itu menunjukkan sikap positif dalam pekerjaannya. Kinerjanya selalu bagus.
“Siap Ndan! Saya seorang polisi terlatih dan professional.”
Simson mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat tenang dan puas. Dia tahu reputasi pemuda itu yang memang sejak awal menjadi polisi sudah menunjukkan prestasi luar biasa. Dandung seperti menganggap profesinya itu sebagai hobi bukan sebagai pekerjaan. Makanya dia selalu senang menjalankan tugas dan tidak menganggapnya sebagai beban.
“Baik. Lalu bagaimana dengan Alex? Apakah kau juga sudah mendapatkan informasinya?” tanya Simson lagi.
Dandung mengeluarkan handphone terbaru miliknya. Lalu memencet beberapa tombol di papan panel. Tiba-tiba muncullah layar hologram dari layar ponselnya. Di layar imajiner itu muncullah wajah seorang dari Eropa Timur.”
“Namanya Aleksander Busco, mantan komandan peleton tentara Serbia. Dia menjadi buronan Interpol karena dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan 546 muslim Kosovo saat terjadi konflik antar negara-negara pecahan Yugoslavia.”
“Oke. Menarik. Teruskan. eh.. kapan dia masuk ke Indonesia?” tanya Simson.
“Menurut pihak Imigrasi, dia masuk lewat jalur udara empat bulan yang lalu.”
“Empat bulan yang lalu? Saat pertama kejadian terbunuhnya Edhik juga sekitar empat bulan yang lalu kan?”
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Betul pak. Aleksander Busco adalah manusia yang sangat kuat. terlatih secara fisik menguasai medan dan pakar tekhnologi.”
“Siapa yang melatihnya?”
“Setelah melarikan diri dari kejaran interpol, Alek direkrut oleh seorang perwira terbaik dari negaranya. Dia adalah monster sesunggguhnya yang kuat, gesit dan licik.”
Simson memandang takjub.
“Dan Monster itu bernama Blade Muler.”
__ADS_1