EPS 105 TARGET SILUMAN
Siang yang cukup terik. Kipas angin besar yang menempel di langit-langit berputar perlahan. Menghembuskan angin semilir yang cukup untuk mendinginkan kulit di siang hari yang panas. Ruangan Kyai Badrussalam begitu bersih dan rapi. Setiap saat ada santri yang bergiliran membersihkan ruangan itu. Andhika duduk di depan Kyai Badrusalam sambil menundukkan kepalanya. Mukhsin Bae dan Alimin duduk bersandar dinding di belakangnya.
“Aku juga merasakan kehadiran mereka Andika. Dan makhluk-makhluk yang berdatangan mendekati pesantren kita bukan siluman biasa. Mereka adalah siluman-siluman legenda yang dikenal masyarakat luas. Kemampuan mereka memang diatas siluman biasa,” ujar kyai Badrussalam.
Andika terdiam menyimak kata-kata gurunya. Sementara Mukhsin Bae berbisik di telinga Alimin.
“Siluman legendaris? Memang ada?”
Alimin menganggukkan kepalanya.
“Mungkin yang dimaksud Abah adalah siluman yang banyak kita kenal dalam cerita-cerita rakyat. Macam Baruklinthing, siluman naga penghuni Rawa Pening, Mak Lampir penguasa gunung Lawu, atau Nyi Loro Kidul dari Kerajaan Laut Selatan Jawa.”
Mukhsin Bae mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku tidak pernah berpikir kalau mereka benar-benar ada,” bisiknya lagi.
Alimin hanya terdiam, Sebenarnya dia juga merasa ragu sebelum dia mengenal Miryam. Tapi setelah melihat sendiri kemampuan perempuan secantik bidadari itu, dia menjadi yakin dengan keberadaan mereka. Hanya saja dia kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskanya kepada sahabatnya itu.
“Apa tujuan mereka datang kemari Abah? Apa ada sesuatu yang menarik di pesantren kita?” tanya Andika tak mengerti.
Kyai Badrussalam menggelengkan kepalanya.
“Aku juga belum tahu. Perasaanku mengatakan ada seseorang yang mereka incar dan ada di pesantren kita. Kebetulan kita sedang kedatangan banyak tamu yang berilmu tinggi. Ada Panembahan Mbah Iro, Pranaja dan yang lainnya.”
__ADS_1
Andika mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku jadi paham sekarang, Itulah mengapa mereka mengirimkan juga siluman-siluman berkemampuan tinggi yang sudah legendaris.”
“Bukan hanya tokoh-tokoh penting di dunia persilatan, bisa juga mereka mengincar Miryam atau puteranya Arya Janu. Kau tahu bayi yang baru berumur dua minggu itu memiliki kekuatan yang besar. Bahkan lebih hebat dari kekuatan ibunya.”
‘Hm, benar juga kata Abah,’ batin Andika. ‘Aku harus mengingatkan Miryam untuk berhati-hati.’
“Bisa juga mereka mengincar kitab Dewa Ruci atau Jamus Kalimasada peninggalan Eyang Senthir yang saat ini sedang kau pelajari. Itu adalah kitab tertinggi yang menjadi rujukan kitab-kitab lainnya di bumi nusantara.”
Andika memandang wajah Abahnya dalam-dalam. Serat Dewa Ruci adalah sebuah kitab yang berisi tuntunan hidup dalam rangka mencari Guru Sejati yang langsung dihembuskan oleh Sanghyang Acintya melalui mimpi Mpu Siwamurti, sang penulis Kitab. Bahkan kata Panembahan Mbah Iro, kitab ini merupakan sumber dari segala sumber segala kitab yang di tulis para mpu yang hidup di bumi nusantara ribuan tahun yang lalu.
Tidak ada yang pernah melihatnya. Hanya Roro Lawe yang hafal luar dalam isi daripada kitab ini. Dan ilmunya dia wariskan seluruhnya kepada Endang Darsulasikin, keponakannya sendiri, puteri Panembahan Somawangi. Beliau kemudian menulis sebuah kitab yang menjadi pedoman hidup Trah Somawangi yang disebut kitab Irodarsulasikin.
Sedang kitab yang kedua adalah Jamus Kalimasada, sebuah kitab mustika yang dapat memberikan kekuatan Robyong Mustakawarih. Kekuatan paling tinggi di alam semesta. Makanya kekuatan ini tidak boleh jatuh kepada sembarang orang. Orang yang boleh menguasai kekuatan Robyong Mustakawarih haruslah orang yang tidak mepunyai musuh, derajat keluhurannya setara dengan Dewa, pandai memerangi nafsu pribadi, santun dalam memilih kata, memiliki rasa hormat kepada orang lain seperti diri sendiri.
Andika tidak merasa heran kalau keberadaan kedua kitab mustika itu menarik perhatian para siluman kelas tinggi. Mereka menjadi target buruan para siluman itu supaya tidak dikuasai oleh manusia. Kalau itu terjadi berarti bahaya besar sedang mengancam keberadaan para legenda siluman itu sendiri.
“Apa Pranaja belum kembali ke pesantren?” tanya kyai Badrussala tiba-tiba.
Sebelum menjawab, Andika menoleh ke belakang, menatap Mukhsin Bae dan Alimin,
“Kami meninggalkannya di kampung sebelah, karena belum mau pulang,” katanya.
Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya. Setelah itu bediri dan bejalan keluar ruangannya. Tentu saja ketiga orang muridnya menjadi penasaran.
“Eh, Abah hendak kemana?” tanya Andika
“Aku akan mencari Pranaja,”
__ADS_1
***
Tanah liat melekat, tetapi darah berkelana. Sedang nafas adalah sesuatu yang tidak ada habisnya, menghidupi setiap tubuh dalam mengarungi perjalanan. Hanya jika perjalanan telah usai, akan ada cukup waktu untuk tidur dan duduk mencangkung menikmati senja.
Panembahan Mbah Iro masih duduk bersamadi dengan khusyuk. Asap berbau wangi mengepul dari dupa yang dibakarnya di sudut ruangan. Bibirnya terus bergerak tak ada hentinya melantunkan syair-syair pujian kepada para dewata yang agung. Di depannya, kitab Irodarsulasikin terbuka sebagian halamannya.
Dia yang sedang khusyuk membaca tiba-tiba seperti mendengar bisikan halus di telinganya. Mengabarkan tentang ancaman terselubung dan mengingatkan tugasnya untuk melindungi pemimpin besar Trah Somawangi, Panembahan Rich Pranaja. Dan bisikan gaib itu adalah pertanda atau wangsit agar dia segera mengambil sikap waspada, karena bahaya tidak akan pernah berhenti mengancam jiwa junjungannya itu.
Sesaat kemudian dia membuka matanya. Lalu memanggil dua orang kepercayaannya, Raden Mas Parto dan Eyang Penatus. Bergegas kedua orang itu masuk ke dalam ruangan khusus yang disediakan untuk Panembahan Mbah Iro melakukan kegiatan ritualnya
“Apa Pranaja belum kembali?”
Kedua orang kepercayaanya itu saling memandang, lalu menggelengkan kepalanya hampir bersamaan. Sejak tadi malam mereka memang belum melihat Pranaja.
“Maaf Panembahan, pagi ini kami belum bertemu Pranaja,” kata Raden Mas Parto.
“Mungkin dia masih berada di kamar Andika,” sambung Eyang Penatus.
Panembahan Mbah Iro menggelengkan kepalanya. Dia tdak merasakan keberadaan Pranaja di sekitar Pesantren. Tubuh pemuda tangguh itu seperti diselubungi kekuatan gaib, sehingga mata batinnya tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi dimana dia berada saat ini? Kenapa dia hanya bisa melihat tumpahan darah dan darah? Apa yang sedang terjadi dengan cucunya itu?
Panembahan Mbah Iro segera bangkit dari duduknya. Memakai jubah putih dan ikat kepalanya yang berwarna putih juga dia bersiap untuk pergi.
“Maaf Panembahan. Apakah kau hendak pergi?” tanya Raden Mas Parto.
Panembahan Mbah Iro menganggukkan kepalanya.
“Ya. Tunggulah kalian disini untuk berjaga. Dan tetaplah waspada.”
__ADS_1
“Memang Panembahan hendak pergi kemana?” tanya Eyang Penatus penasaran.
“Aku akan mencari Pranaja.”