DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 07 DUKUH MISTERIUS


__ADS_3

EPS 07 DUKUH MISTERIUS


Pagi menjelang siang. Orang-orang yang berjualan di pasar pagi sudah mulai menggulung lapak dagangannya. Pasar yang dibuka mulai jam tiga pagi itu sudah mulai ditinggalkan para pembelinya. Tinggal para pedagang eceran yang masih bertahan. Biasanya mereka akan menunggu para pengepul mengobral sisa dagangannya. Biasanya mereka akan menjual murah sisa dagangannya daripada membawanya kembali ke rumah.



“Perhatikan orang-orang yang masih memaki celana hitam dan baju lancingan berwarnna merah hati. Mereka itu biasanya adalah warga Somawangi yang misterius,” ujar seorang tukang parkir kepada Pranaja dan Kyai Badrussalam.



Sejak pagi itu mereka sudah sampai di pasar Mandiraja, sebuah pasar di kota kecamatan yang cukup ramai. Mereka sengaja datang untuk melacak letak padukuhan Somawangi. Tujuan mereka hanya satu, menemui Panembahan Mbah Iro, pemimpin Trah Somawangi. Menurut informasi yang didapatkan Andika, banyak orang Somawangi yang menjual hasil pertaniannya di pasar itu.



“Mengapa kau mengatakan mereka orang yang misterius pak?” tanya Andika.


Tukang parkir itu menggelengkan kepalanya.


“Kalau itu aku tidak begitu paham riwayatnya,” ujarnya.



Andika menyelipkan uang seratus ribuan ke kantong tukang parker itu. Sudah dua kali dia melakukannya. Dan kali ini tukang parkir itu menganggukkan kepalanya.



“Apa kau benar-benar tidak tahu atau lupa?” tanya Andika.


“Oh, ehm.. maksudku sekarang aku baru ingat. Mereka disebut misterius, karena tidak ada yang pernah melihat dimana dukuh Somawangi berada. Maksudku, orang-orangnya ada tetapi desa tempat asal mereka tidak pernah diketahui orang lain kecuali mereka sendiri.”



“Apa tidak ada orang yang pernah membuntuti mereka?”


“Banyak orang yang penasaran mengikuti mereka, tapi mereka selalu menghilang.”


“Maksudmu, mereka itu makhluk yang dating dari alam ghaib?”



Laki-laki tua dihadapannya itu menggelengkan kepalanya.


“Bukan, mereka adalah manusia biasa, hanya dusunnya seperti tertutup kekuatan ghaib yang membuat tak terlihat dari pandangan manusia lainnya.”



Pranaja memandang kyai Badrussalam sekilas.


“Ada juga yang mengatakan bahwa dukuh Somawangi hanya dapat dilihat oleh garis keturunan Panembahan Somawangi.”


__ADS_1


Dia juga menceriterakan bahwa sebagian besar penuduk asli dukuh Somawangi adalah petani. Mereka biasa membawa hasil kebun untuk dijual ke pasar. Hasil pertanian mereka sangatlah bagus. Sayur dan buah dari Somawangi kualitasnya lebih bagus daripada daerah lainnya. Dan selalu segar, pertanda baru di petik. Ciri khas lainnya adalah pakaian mereka masih suka memakai baju lancingan, ciri khas pakaian jaman dahulu.



“Bagaimana Abah?” tanya Pranaja.


“Kita ikuti saja orang-orang Somawangi itu secara diam-diam,” sahut sang Kyai.


“Baik Abah,” jawab Andika sambil mengucapkan terimakasih kepada tukang parkir.



Lalu mereka masuk kembali ke dalam mobil, diikuti tatapan aneh si tukang parkir.


“Kenapa orang-orang kota itu kepangin tahu banget tentang dukuh Somawangi?” katanya tak habis pikir. “Bodo amat lah. Yang penting sudah dapat bonus 200 ribu hehe..”



Mobil Andika melaju pelan menelusuri jalan berbatu mengikuti langkah orag-orang Somawangi itu. Dia sedang bingung sendiri. Hampir setiap orang yang ditanya tentang keberadaan dukuh Somawangi mengatakan tidak tahu atau belum pernah melihatnya padahal, orang-orangnya jelas ada. Dan mendadak dia tersadar dari lamunannya, saat mendapati orang-orang Somawangi yang diikutinya mendadak hilang dari pandangan.



“Eh, Abah! Kemana perginya mereka?” tanya Andika kepada Kyai Badrussalam yang duduk di sampingnya. “Apa Abah melihatnya?”


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.


“Ya, mereka menghilang di pertigaan jalan tadi.”




“Aku menemukannya Abah!” teriaknya.


Kyai Badrussalam turun dari mobil. Lalu berjalan menghampiri Andika. Dilihatnya jalan setapak itu. Mata batinnya yang tajam dapat melihat bekar telapak kaki yang baru ditinggalkan oleh para pemiliknya. Dan itu jelas mengarah jalan setapak yang menuju ke balik bukit kecil jauh di depan mereka.



“Benar Andika. Jalan setapak ini memang yang dilalui orang-orang Somawangi itu,” ujar Abah.


“Darimana Abah tahu?”


“Aku mengenali jejak mereka. Telapak kaki orang Somawangi lebih lebar dari orang-orang biasa.”



Andika mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia berjongkok, samar terlihat jejak kaki mereka di jalan tanah yang agak basah itu. Abah bisa saja, bagaimana dia bisa mengetahui telapak kaki orang Somawagi lebih lebar dari orang biasa? batinnya sambil tersenyum. Lalu dia mencoba menginjak tanah basah itu dan membandingkannya dengan telapak kaki yang sudah ada. Memang telapak kakinya lebih kecil.



“Kalau begitu, kita akan mengikuti jejak ini Abah?”

__ADS_1


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.


“Berjalanlah kau di belakangku.”


“Siap Abah.”



Langkah kaki mereka berjalan pelan menelusuri jalan setapak menuju belakang bukit itu. Semakin lama jalannya semakin licin dan sempit. Bahkan sebagian sudah tertutup semak belukar pertanda jarang dilewati orang. Beberapa saat kemudia jalan setapak itu terlihat lagi, lebih lebar dan lebih bersih. Tapia da keanehan yang dirasakan Andika dan Kyai Badrussalam.



“Eh, Abah kok rasanya aku kenal tempat ini. Bukankah ini jalan awal menuju bukit tadi?” tanya Andika.


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya. Rupanya sedari tadi mereka hanya berjalan mengitari bukit dan kembali ke tempat semula.


“Benar Andika, kita hanya berjalan berputar saja.”



Andika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kita ulangi sekali lagi. Kau cermati setiap sudut jalan yang kita lewati. Kalau ada sesuatu yang aneh, kau katakana kepadaku,” kata Kyai Badrussalam.



Andika hanya menganggukkan kepalanya. Sungguh luar biasa, dukuh Somawangi ini, begitu tersembunyi. Seperti padukuhan di negeri siluman yang kasat mata. Mereka pun kembali berjalan menyusuri jalan setapak tadi. Kali ini lebih pelan dan lebih cermat. Sudut mata Andika berusaha mencermati setiap sudut jalan yang mereka lewati. Hm, tidak ada yang aneh. Sama seperti tadi, saat mereka pertama lewat.



“Loh, Abah! Kita kembali ke tempat ini lagi,” pekik Andika.


Suaranya seperti tercekat, mereka kembali berjalan memutari bukit itu.


“Hm, nampaknya ada yang disembunyikan dari kita,” ujar kyai Badrussalam.



Kyai Badrussalam merasa ada selubung gaib yang menutupi indera penglihatannya. Dia bertekad akan membukanya. Namun baru saja dia menangkupkan tangannya di depan dada, mendadak terdengar sayup suara orang bercakap-cakap. Kyai Badrussalam segera menggamit tangan Andika dan menariknya ke balik batu besar.



“Sembunyikan dirimu Andika. Ada orang datang,” bisiknya.



Mereka menyembunyikan tubuhnya di balik batu besar. Tak berapa lama mereka melihat dua orang datang, berjalan menyusuri jalan setapak itu. Memakai celana selutut berwarna hitam dan baju lancingan lurik dan polos warna merah hati. Orang-orang Somawangi! Dan lebih terkejut lagi ketika Kyai Badrussalam dan Andika melihat kedua orang itu berbelok ke kanan di ujung jalan setapak yang bersih itu. Dan tubuh mereka hilang di tempat itu.



Ting!

__ADS_1


__ADS_2