DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 18; KEHILANGAN SAHABAT


__ADS_3

EPS 18 KEHILANGAN SAHABAT


Drrrtt!..Drrrtt!


Benda pipih itu bergetar memecah kesunyian. Dandung yang baru saja tertidur, langsung terbangun. Instingnya sebagai penegak hokum membuatnya selalu siaga setiap saat, kapanpun dan dimanapun. Tangannya bergerak meraih ponselnya, tapi sudut matanya mengerling ke arah jam dinding yang terpajang cantik di atas meja kerjanya. Hm, pukul 03.00 dinihari.


Lalu pandangannya beralih ke layar ponselnya yang masih bergetar. Ternyata atasannya AKBP Simson Hutapea. Dandung mengernyitkan keningnya. Hm, pasti ada sesuatu yang sangat penting, sehingga atasannya itu menelpon saat dinihari begini. Dia memperbaiki sikap duduknya.


“Selamat pagi, Ndan. AKP Dandung disini,” sapanya.


“Pagi, Ndung. Ada berita buruk yang harus kau dengar. Anak buahmu, Bripka Edik mala mini di temukan tewas di jalan Daan Mogot. Ada bekas luka tembak dari arah dagu dan tembus ke tulang tengkoraknya. Kemungkinan dia di tembak dari jarak dekat.”


Bagaikan mendengar petir di siang bolong, Dandung langsung terhenyak tak mampu berbicara. Tidak ada hal yang lebih mengagetkan baginya, kecuali berita kematian Edhik. Teman sekolah sejak SMP dan sekarang bersama-sama mengabdi di kepolisian, walaupun levelnya berbeda. Dia adalah perwira, sedangkan sahabatnya adalah bintara. Kebetulan mereka berada dalam satu unit penanggulangan narkoba.


“Halo! Ndung! Ndung!” panggil pak Simson, “Apa kau masih bersamaku?”


“Si..siap Ndan. Saya masih disini.”


“Baik. Aku tunggu kamu di TKP ya.”


Pak Simson menutup ponselnya.Tanpa sadar, Dandung meneteskan air mata


“Siap Ndan!” katanya dengan bibir bergetar.


“Aaargh! Tidak!”


Dandung menggeram.Bergegas dia mencmpakkan selimutnya dan lari ke kamar mandi. Seorang perempuan muda yang juga berada dalam selimut nampak terjaga dari tidurnya. Tubuhnya yang telanjang turun dari ranjang, lalu memunguti baju dan pakaian dalamnya yang berserakan di lantai. Rupanya dia sempat mendengar saat Dandung menggeram tadi.


Begitu Dandung keluar kamar mandi, perempuan itu bergegas masuk. Tapi tangannya di cegah sang polisi berpangkat Ajun Komisais Polisi ini.



“Eh, mau kemana kamu?”


“Mau mandi mas.”


Dandung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


“Tidak! Tidak! Tdak!,” katanya.



Lalu dia mengambil dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lalu diberikannya kepada perempuan itu.



‘Pakai bajumu, kamu boleh pulang sekarang. Ini ongkos taksi untukmu.”



Perempuan cantik itu nampak tersenyum senang. Benar-benar malam ini dia dapat jackpot. Udah ganteng, banyak duit. royal dan uh, sangat jantan. Bahkan dia pun rela apabila Dandung tidak membayar jasanya. Dia merasakan kepuasan yang belum oernah dirasakannya dengan laki-laki lain.


Segera dipakai bajunya, uangnya dimasukkan kedalam BHnya. Lalu bergegas keluar dari dalam apartemen Dandung.


“Terimakasih ya mas. Kalau butuh servis lagi,..”


Belum selesai perempuan itu bicara, Dandung kembali menggelengkan kepalanya.


“Tidak! Tidak! Tidak!” katanya, didorongnya tubuh perempuan penjaja \*\*\*\* komersial yang dipesan online itu supaya pergi secepatnya.




Setengah berlari dia menuruni tangga. Tubuhnya yang tinggi kekar nampak ringan menyusuri tangga apartemen berlantai lima itu. Sampai di tempat parkir, dia memilih mobil Ferrari F430 berwarna merah menyala. Mobil mewah keluaran pabrikan dari Italia itu, langsung melaju kencang begitu keluar dari halaman apartemen. Tujuannya hanya satu, Tempat Kejadian Perkara dimana sahabatnya Edik diduga dibunuh orang tak dikenal.


***


Begitu sampai di lokasi, tempat itu sudah dipasangi police line.Beberapa mobil polisi dan dua buah mobil ambulance terlihat bersiaga di sana. Sudah banyak polisi yang datang di tempat itu.Tim forensic juga telah tiba. Nampak mereka tengah bekerja keras memeriksa jazad Bripka Edhik. Iptu Frida segera menyambut kedatangannya. Dia langsung menghambur dan memeluk tubuh Dandung.


Frida tak kuasa menahan air matanya. Sekuat tenaga dia berusaha menahan emosinya, tetapi gagal. Apalagi saat melihat Dandung mendatangi tempat ini. Dia tahu betul apa arti Edhik bagi atasannya itu. Bripka Edhik bukan hanya anak buahnya yang setia, tetapi dia juga sahabat yang selalu mendukungnya dalam setiap peristiwa.


Dandung hanya berdiri mematung saat Frida memeluknya. Banyak polisi lain yang agak terkejut nelihat pemandangan yang tak lazim itu. Dua orang perwira polisi dan polwan saling berpelukan terbalut kesedihan. Tapi mereka hanya diam menunduk dan terus melanjutkan tugasnya. Karena mereka merasakan kesedihan yang sama. Kehilangan satu orang rekan, seperti kehilangan salah satu keluarganya.


“Dimana dia?” kata Dandung beberapa saat kemudian..

__ADS_1


Frida melepaskan pelukannya. Menatap wajah Dandung yang dingin, dan tatapan matanya yang kosong. Seorang polisi muda mengarahkan Dandung ke tempat tubuh Edhik ditemukan. Frida mengikutinya dari belakang.



“Disebelah sana Ndan,” kata polisi muda itu sambil menunjuk suatu tempat.



Tiga orang polisi yang sedang berjaga segera memberi jalan. Dandung langsung memeriksa tubuh Edhik yang masih tergeletak di atas tandu itu. Diamatinya lukanya dengan cermat. Ada luka tembak dari bawah dagu ke atas menembus otaknya. Nampak jelas mayat sahabatnya itu di tembak dari jarak dekat. Nampaknya sahabatnya itu tidak sempat melakukan perlawanan.



Ditatapnya wajah sahabatnya itu dalam-dalam. Tidak terlihat seringai kesakitan di wajahnya. Bibirnya malah terlihat tersenyum. Hm, apa dia memang sudah siap menerima kematiannya. Lalu pandangannya beredar ke sekelilingnya. Banyak orang yang berdatangan ke tempat itu. Apalagi situasi jalan yang ramai membuat terjadi kemacetan di tempat itu. Beberapa polisi lalu lintas berusaha keras mengurai deretan mobil yang terjebak itu.



“Apakah ada saksi mata?” tanya Dandung.


“Ada Ndan. Seorang penjual ketoprak yang mangkal di pertigaan itu. Dia melihat sebuah mobil memepet motot Bripka Edhik. Mereka terlihat bercakap-cakap sebentar, sebelum orang itu menembak Bripka Edhik dari dalam mobilnya.”



“Apa? Mereka bercakap-cakap. Maksudnya Edhik dan penembaknya saling mengenal?” tanya Dandung lagi.


“Kelihatannya tidak. Bripka Edhik sempat marah waktu motornya di pepet, tapi setelah berbicara beberapa saat mereka terlihat akrab dan saling tertawa.”



Dandung mengernyitkan keningnya. Lalu memandang wajah Frida yang berdiri disampingnya. Sama dengan dirinya, Frida juga seperti tak percaya dengan cerita itu. Baru pernah ada ceritanya, korban dan pelaku saling tertawa bersama, tapi lalu pelaku menembak korbannya. Apa yang terjadi dengan Edhik? Mereka tahu benar watak Edhik yang,walaupun ramah, tetapi jarang tertawa dengan orang yang baru dikenalnya.



“Kalau begitu, bawa pedagang ketoprak itu ke kantor. Tunggu saya disana. Katakan kepadanya aku akan membayar semua barang dagangannya.”


“Siap Ndan!”


__ADS_1


Polisi muda itu berdiri tegak. Lalu memberi hormat. Setelah itu berjalan menghampiri tukang ketoprak itu. Meninggalkan dua hati yang masih terpaku berselimut rasa ragu. Seolah mereka baru saja melihat keanehan yang sama sekali di luar nalarnya.


__ADS_2