EPS 146 EKSKALASI
Dalam ekskalasi pertempuran yang berubah begitu cepat Dandung dan anak buahnya bertindak yang tepat. Mereka menghabisi anak buah Fritz tanpa ampun. Bahkan Dandung kemudia melemparkan pisau belatinya ke arah Fritz, yang hendak menyerang mereka dengan senjata pemusnah. Komandan pasukan penyerangnya itu langsung berteriak saat pisau belati Dandung menancap tepat di tengah kedua matanya.
‘CLAP!’
‘AAARGH!’
Fritz terjungkal dengan senjata laser di tangannya. Tanpa sadar tombol ‘fire’nya terpencet. Sebaran sinar seperti pita warna-warni menghiasi angkasa raya. Tidak ada yang menyangka, sinar-sinar indah itu mengandung maut yang bisa membunuh dalam waktu sekejap.
“Slap! Slap! Slap!”
Sebaran sinar maut dari senjata pemusnah itu melesat tanpa bisa dibendung. Menerabas pepohonan hutan, menghajar anak buahnya sendiri dan beberapa pasukan keamanan yang dipimpin Dandung, lalu terbakar dan tewas dengan kondisi tubuh gosong. Dandung menggeram, dia melompat dan merebut senjata canggih itu dari tangan Fritz yang tergeletak di tanah, lalu mematikannya.
“Bagaimana Ndung?” tanya Zein yang bergegas menghampirinya.
“Sudah bisa diamankan Zein. Kumpulkan seluruh anak buah kita,” perintah Dandung.
“Siap!”
Zein mengumpulkan seluruh anak buahnya dan sisa anak buah Dandung. Mereka berkoordinasi untuk melakukan penyergapan selanjutnya.
“Kita harus lebih berhati-hati. Mereka memiliki persenjataan canggih yang tidak kita duga sebelumnya,” ujar Dandung sambil menunjukkan senjata aneh yang ada di tangannya.
Seluruh anak buahnya memusatkan perhatiannya pada senjata itu.
“Ini adalah senjata pelumpuh yang sudah dimodifikasi menjadi senjata maut. Dengan sistem PHASR singkatan dari Personnel Halting and Simulation Response. Senjata ini pada dasarnya menggunakan sistem sinar laser yang tak mematikan (non-lethal) yang dipakai untuk membutakan sasaran sementara waktu agar tak menerobos pembatas militer.”
“Maksudmu senjata ini tidak menyebabkan kerusakan permanen?” tanya Zein.
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Kau benar. Berbeda dengan LaWS, senjata Laser penghancur yang tidak bisa dibawa kemana-mana, Senjata PHASR ini lebih fleksibel, lebih ringan dan efektif. Sebenarnya senjata ini tidak menyebabkan kerusakan tetap, tapi sasaran hanya melunglai selama beberapa detik, untuk melumpuhkan.”
“Terus modifikasinya dimana ndan?” tanya salah satu anak buahnya.
“Dengan kecepatan cahaya, laser ini juga menembakkan partikel foton bermuatan besar yang mampu menghancurkan sasaran hingga terbakar habis.”
Foton merupakan partikel elementer dalam fenomena elektromagnetik yang membawa residu radiasi, seperti pada gelombang radio atau sinar-X. Foton berbeda dengan partikel elementer lain, seperti elektron dan quark, karena ia tidak bermassa. Dan, dalam ruang vakum, foton selalu bergerak dengan kecepatan cahaya.
Semua mata memandang takjun senjata aneh itu. Bentuknya seperti senjata mainan anak-anak. Berwarna hitam, sisi setengah lingkaran di bagian magizinenya. Tidak ada yang menyangka kalau itu adalah senjata maut karena bentuknya yang imut.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan Ndan?”
“Sementara kita akan menunggu pertempuran. Kita belum tahu senjata yang dipersiapkan Pramono untuk menyambut kedatangan Ron Muller,” kata Dandung. “Setelah itu baru kita akan analisis untuk menentukan gerakan selanjutnya.”
__ADS_1
Dandung menebarkan pandangannya, melihat tubuh-tubuh korban pertempuran yang bergelimpangan disekelilingnya.
“Urus mereka semua, kuburkan dengan baik. Aku tidak ingin kehilangan anak buahku lagi. Jadi kalian harus lebih waspada dan jangan bergerak tanpa ada perintah dariku,” sambungnya.
Zein dan yang lainnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Angin panas berhembus semilir, lalu berubah menjadi sejuk dan membekukan. Entah apa yang terjadi, mereka sudah tidak perduli dengan tanda-tanda alam. Setelah merawat jenazah rekan-rekannya, mereka segera meringkuk di balik jaket tebal dan kembali ke pos persembunyiannya masing-masing.
***
Sementara di Megapolitan, Pramono memerintahkan anak buahnya untuk keluar dan menyerang posisi pasukan Ron Muller. Setelah serangan bom-bom pintar, pasukan Ron agak sedikit kacau. Apalagi Fritz yang ditugaskan melakukan pengejaran terhadap pasukan tak dikenal, malah menghilang. Tidak lagi melaporkan keberadaannya. Situasi ini menguntungkan Pramono yang sedang menunggu kesempatan terbaik.
“Bagaimana situasinya Man?” tanya Pramono kepada kepala pengawalnya.
“Sedikit menguntungkan kita bos. Beberapa posisi pasukan musuh terlihat kosong, ditinggalkan penghuninya.,” sahut Firman.
“Oke. Tetap waspada. Jangan lengah!”
“Siap!”
Tiba-tiba salah satu anak buahnya yang mengawasi kamera monitor memberitahu kalau ada pergerakan yang mulai area terbuka Megapolitan.
“Turunkan pasukan cadangan!” teriak Pramono.
“Apa sudah tepat waktunya menurunkan pasukan cadangan bos?”
“Ya. Aku ingin melihat kehebatan pasukan elit kita dengan senjata-senjata canggihnya. Aku juga ingin agar pertempuran ini cepat selesai.”
Firman segera menuruti perintah bosnya. Dia segera memerintahkan pasukan cadangan untuk terjun langsung ke medan pertempuran.
“Siiaap! Majuuu!” teriaknya.
Pasukan cadangan adalah prajurit-prajurot terlatih dari berbagai beahan dunia yang direkrut oleh Firman menjadi pasukan elit pengawal Megapolitan. Mereka membekali dirinya dengan pengetahuan tentang senjata, bela diri, telekomunikasi dan pengetahuan persanjataan yang paling canggih.
Kendaraan tempur mereka adalah Avenger Weapon System buatan Amerika yang didatangkan dua bulan yang lalu. Avenger menjadi senjata pilihan yang bisa mobile dari satu titik ke titik lainnya. Kendaran militer ini mampu membawa delapan rudal Stinger yang bisa menembak jatuh helikopter atau pesawat tempur yang terbang rendah.
Selain itu, mereka juga melengkapi dirinya dengan Tank T-14 Armata, kendaran lapis baja generasi terbaru buatan Rusia, yang bahkan belum muncul di pasaran resmi. Mereka mendapatkannya dari pasar gelap dalam bentuk spare part dan bagian yang terpisah. Lalu mereka merakitnya kembali. T-14 Armata dilengkapi meriam smoothbore 2A82-1M 125 mm yang dapat menembakkan proyektil armour-piercing (APFSDS), peluru berdaya ledak tinggi dan sistem proteksi aktif Afghanit yang mampu menahan gempuran senjata anti tank.
__ADS_1
Begitu mendapatkan perintah mereka segera bergerak. Dua buah kendaraan tempur Avenger bergerak memasuki area terbuka Megapolitan. Mereka membawa enam belas rudal stinger yang siap diledakkan di wilayah musuh. Dibelakangnya dua unit pasukan infanteri berjalan dengan senjata siap ditembakkan. Dengan baju dan rompi anti peluru yang cukup tebal. Mereka siap melakukan perang terbuka dengan pasukan Ron Muller.
“Tembak langsung apapun yang bergerak di depan kalian!” teriak Firman.
Dan pertempuran pun pecah kembali. Bunyi dentuman amunisi yang meledak serta jerit kematian mulai terdengar.
“Dor! Dor!”
“Tatatatatatata…!”
“Argh!”
“Auh!”
Pasukan Ron Muller yang semula sudah memasuki area tebuka itu, langsung terdesak. Mereka mundur cepat, kembali berlindung di balik pepohonan pepohonan besar hutan Kethileng. Hal ini memancing pasukan pengawal Megapolitan untuk merangsek maju menguasai pos-pos yang ditinggalkan anak buah Ron.
Lalu hal aneh itu terjadi. Ketika Pramono sudah merasa memenangkan pertemppuran, mendadak dua kendaraan tempur itu berhenti, lalu memutar ke samping. Sekarang kedua kendaraan tempur itu saling berhadapan. Pasukan cadangan yang berjalan di belakang dua kendaraan itu juga salang mengambil posisi siap menyerang. Suasana menjadi tegang. Mata Pramono sampai membulat sempurna pemandangan itu lewat layar monitornya.
Slap! Slap!
Mendadak dua buah rudal stinger ditembakkan dari salah satu kendaraan tempur itu. Asap tebal seputih kapas diiringi kilat cahaya keluar dari roket pendorongnya.
Slap! Slap!
Kendaraan tempur satunya juga membalas meluncurkan dua rudal stinger. Dan keempat peluru kendali itu saling bertabrakan di udara.
__ADS_1
Blar! Blar!