EPS 141 MANUNGGALING KAWULA GUSTI
Kehilangan bagaikan suplai udara di ruang hampa, yang mendadak menjadi nol. Membuat dadamu sesak hampir meledak. Menghamburkan segala rasa : kesedihan, kegelisahan, kemarahan serta putus asa. Padahal keinginan untuk memiliki itu masih terlalu besar untuk diabaikan. Maka kembalikanlah kepada hakikat, bahwa segala sesuatu yang kita miliki selalu datang dan pergi seiring waktu. Seperti tunas yang mati lalu tumbuh yang baru. Automatically!
Dan Ren benar-benar menghilang. Dia tak pernah lagi keluar dari ruang isolasi dan menampakkan dirinya di depan Pranaja, Min Ho dan Ryong Bae kakaknya sendiri. Menjejakkan luka di hati Pranaja dan menumbuhkan tanya di hati dua pemuda tampan lainnya. Tapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa, selain memelihara kesetian dan cinta yang tetap bersemayam. Walaupun pujaan mereka telah menghilang.
Lalu tiba-tiba seorang biksu muda menemui mereka.
“Masuklah kalian ke ruang perjamuan. Biksu Kepala ingin berbicara dengan kalian,” katanya.
Ketiga pemuda itu menganggukkan kepalanya hampir bersamaan. Lalu berjalan dengan penuh semangat menuju tempat yang disebutkan biksu muda tadi. Di sebuah ruang serba putih itu mereka duduk berjajar. Di depan mereka ada sebuah meja berbentuk persegi empat. Ada empat buah kotak hitam yang diletakkan diatasnya. Nampaknya kotak-kotak itu diperuntukkan untuk mereka, masing-masing satu.
Kriyet!
Pintu besar yang terbuat dari kayu ebony itu terbukti. Biksu O masuk menemui mereka.
“Buddhānubhāvena Sotthi Hotu, semoga kalian semua sejahtera,” ucap Biksu O memberi salam.
Biksu tua itu menundukkan kepala sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya. Suaranya terdengar lembut dan merasuk. Ketiga pemuda itu langsung berdiri dari duduknya. Membalas salam sambil melakukan gerakan yang sama dengan yang dilakukan Biksu di hadapannya itu.
“Duduklah kalian kembali,” ucapnya.
Pranaja dan kedua pemuda itu segera kembali ke tempat duduknya masing-masing. Lalu terdiam menunggu kata-kata dari Biksu O.
“Aku mengundang kalian semua kemari, karena aku mendapatkan titipan yang harus aku serahkan kepada kalian. Lihatlah kotak kayu yang berada di depan kalian.”
Ketiga pemuda itu memperhatikan dengan seksama kotak kayu yang dicat hitam itu.
“Ambillah kotak kayu itu untuk kalian masing-masing,” sambung Biksu O lagi.
"Tapi siapa yang menitipkan kotak ini kepadamu?” tanya Ryong.
“Ryung Nae.” sahut Biksu O singkat.
Wajah Ryong dan Min Ho terkesiap. Hanya Pranaja yang terdiam, dia sudah bisa menebaknya, kalau kotak itu dari Ren.
“Ren?!” sahut Ryong.
“Dimana dia?” tanya Min Ho sambil menatap wajah biksu O.
__ADS_1
“Ren baik-baik saja. Dia sekarang berada di sebuah tempat yang sangat baik. Kalian tidak perlu mencemaskannya.”
Lalu Biksu O menceriterakan tentang keinginan Ren untuk menjauhkan diri dari kehidupan dunia dan mengabdikan sisa hidupnya menjadi Biksu di kuil Bongjeon. Dia sekarang berada di sebuah tempat tersembunyi untuk mengisolasi dan bermeditasi. Tentu saja kata-kata Biksu O mengagetkan kedua pemuda itu.
“Apa yang terjadi dengan dia sebenarnya orang suci,” tanya Min Ho.
“Bolehkah aku menemuinya untuk yang terakhir kali?” desak Ryong.
Biksu O menggelengkan kepalanya, wajahnya terlihat sedih.
“Dia hanya berpesan agar kalian jangan menunggunya. Dan teruskan hidup kalian.”
Ryong langsung menengok ke arah Pranaja.
“Kau jangan diam saja Pranaja. Kau mencintainya kan? Dan adikku juga mencintaimu. Hanya kau yang bisa membatalkan niatnya untuk menjadi biksu.”
“Aku sudah melakukannya, tapi gagal.”
Wajah Ryong berubah marah.
“Apa? Jadi kau sudah mengetahui semuanya. Kenapa kau membiarkannya? Cinta apa yang kamu miliki hah!”
“Dia melakukan semua ini juga demi cinta.”
Lalu Pranaja menceriterakan semua pesan terakhir Ren yang diucapkan kepadanya. Ryong dan Min Ho hanya diam membeku di tempatnya berdiri.
“Ren,” desis Min Ho.
Di luar angin mendesis lirih, membawa pesan kegelisahan dari hati yang merindu tanpa batas waktu. Ah, hidup hanyalah perjalanan mencari jalan kembali kepada sang Pencipta. Jiwa adalah sepotong kapas yang terbang mengarungi perjalanan hidup dari alam atmara rajya atau alam sebelum kelahiran menuju alam kehidupan Jībanera prakr̥ti, lalu alam kematian Mr̥tyura kṣetra dan berakhir di alam keabadian, Anantakalera rajya.
Di alam inilah jiwa akan kembali kepada Sang Maha Pencipta, atau istilahnya manunggaling kawula Gusti.
***
Markas Besar Kepolisian, Jakarta 25 Juli 2021
Ruangan besar di salah satu gedung Bareskrim terlihat begitu senyap. Dandung bahkan bisa mendengar pantulan suaranya sendiri yang menggema saat dia sedang berbicara dengan atasannya AKBP Simson. Rupanya mereka tengah membicarakan hal yang sangat penting. Wajah Dandung terlihat begitu tegang. Sesekali dia menggelengkan kepalanya, lain waktu dia akan menganggukkan kepalanya saat mendengarkan penjelasan bosnya itu.
__ADS_1
“Pergerakan Ron Muller terus kita pantau. Intel-intel kita telah mendeteksi keberadaannya di sekitar wilayah Megapolitan,” ujar Simson.
“Ya, aku juga sudah menduganya. Dia datang untuk membalas kematian kakaknya”
“Motifnya adalah balas dendam kematian Blade Muller. Dan dia tidak datang sendirian. Ada sekitar dua ratus orang prajurit terlatih yang datang bersamanya. Mereka adalah gabungan pengawal pribadi dan tentara bayaran hasil didikan Blade Muller.”
Dandung mengernyitkan keningnya.
“Dengan pasukan sebesar itu pasti akan terjadi benturan besar saat bertemu pengawal Pramono dan petugas keamanan Megapolitan.”
“Bahkan menurut data intelijen, ada satu unit tentara professional yang tersembunyi disana. Pasukan ini akan menjadi pasukan cadangan bila konfrontasi terus memanas.”
Tok! Tok! Tok!
Terdengar pintu di ketok ladi luar.
“Silahkan masuk,” kata Simson.
Zrrdd..
Pintu besar itu digeser. Seorang perwira muda, seumuran Dandung, masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Memakai seragam tempur dari Detasemen Anti Teror. Lalu orang itu berdiri di samping Dandung. Dia adalah AKP Zen Rumiwa, komandan peleton pasukan Detasemen Khusus anti teror.
“Zen?” batinnya.
“Kalian berdua akan aku tugaskan untuk terjun langsung untuk melakukan tindakan yang diperlukan bila konfrontasi terjadi. Dandung menjadi komandang lapangan, dan pasukan Zen menjadi pasukan pendukung di belakang.”
“Siap!” seru Dandung dan Zen bersamaan.
“Dan ada lagi satu pasukan khusus dari polisi interpol yang datang untuk menangkap buronan internasional Alexander Busco, atas kepemilikan senjata illegal dan keterlibatannya dalam aksi hipnotherapi yang menyebabkan pembunuhan masal di beberapa dunia berkembang.”
Dandung dan Zen mendengarkan dengan cermat kata demi kata yang keluar dari atasannya itu.
“Ada satu lagi. Agen khusus Dinas Rahasia Inggris yang sudah lama terlibat dalam kasus Blade Muller dan sekarang adiknya Ron Muller, di rekomendasikan langsung Direktur Secret Intelligent Service (Dinas Rahasia Inggris).”
Pintu kembali terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruangan. Dari suara ketukan sepatunya di lantai, Dandung sudah bisa menebaknya.
“Welcome miss Lucra Venzi!” ujar Simson.
__ADS_1
Dandung hanya terseyum tipis. Tuh kan?