EPS 145 DUA TAKDIR
Pagi, engkau pergi hati mulai membatu. Senja, menyanyikan lagu rindu di ruang sunyi. Malam, kupetik gitar dan terdengar senandung ombak di lautan. Menambah rindu dan gelisah. Adakah seseorang mendengar suaraku, menjamahku, mengangkatku, membebaskan ku dari belenggu sepi yang merantai hati.
Betapa hancurnya perasaan Miryam, setelah mengetahui dirinya pernah dirudapaksa oleh makhluk siluman naga penguasa hutan Kecipir, Ki Nagabadra atau lebih dikenal Ki Badranaya. Bahkan akibat perbuatan laknat itu, ada janin yang tumbuh dan berkembang di dalam rahimnya, meski hanya berusia tiga hari. Dan anehnya dia tidak pernah merasakan kehamilannya karena saat dirudapaksa dia dalam keadaan tidak sadar.
Setelah itu Panembahan Somawangi, yang jatuh hati kepadanya pada pandangan pertama, memindahkan janin itu ke rahim perempuan lain yaitu Daningrum, murid Eyang Senthir. Kemudian dengan kekuatan Tirtanala, sang Panembahan mengembalikan kembali keperawanannya kembali seperi semula. Utuh kembali menjadi gadis yang belum pernah tersentuh. Untung ada Andika yang menenangkan hatinya, menghilangkan kegelisahannya.
“Jangan terlalu menyalahkan takdirmu. Hakikatnya hidup selalu memberikan kebaikan-kebaikan dari arah yang tak terduga Miryam. Lihatlah! Kau sekarang memiliki dua orang putera, Arya Janu dan Ken Darsih. Mereka semua adalah anak-anak yang masih membutuhkan belaian tangan lembutmu sebagai seorang ibu.”
Miryam membalikkan tubuhnya. Membalas pelukan Andika, lalu merebahkan kepalanya di dada pemuda itu agar bisa mendengar degup jantung suaminya.
Dukduk! Dukduk! Dukduk!
“Maafkan aku kakang Santika. Ternyata tubuhku tidak sesuci yang kau pikirkan,” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Tangan kanannya mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. Ah, seandainya waktu bisa diputar balik, ingin dia kembali ke masa lalu dan menghindari hal-hal buruk yang seharusnya tidak terjadi. Menjalani takdir cinta yang lebih membahagiakan, dikelilingi orang-orang yang dia cintai.
“Andika.”
Kyai Badrussalam menggamit punggung Andika, memberi tanda agar Miryam segera memberikan pertolongan kepada Ken Darsih yang kondisinya semakin lemah. Andika menganggukkan kepalanya, lalu berbisik di telinga Miryam.
“Ada yang harus segera kau tolong Miryam. Atau kau akan kehilangan nyawa puterimu.”
Miryam menganggukkan kepalanya. Lalu dia mendekati tubuh Ken Darsih. Dipandanginya wajah gadis itu dengan penuh kasih sayang. Sesungguhnya Miryam memiliki hati yang lembut. Dia tidak pernah menaruh dendam kepada siapapun.
“Maafkan ibu, Darsih. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau adalah juga darah dagingku. Maafkan aku,” ucap Miryam berurai air mata.
__ADS_1
Dan di ujung kematiannya Ken Darsih masih sempat melihat ketulusan di wajah Miryam. Ada getar-getar cinta yang bertaut, cinta kasih antara ibu dan anak. Hubungan batin yang tidak mungkin hilang, walaupun sekian lama terpisah jarak dan waktu. Dan tanpa terasa air mata gadis setengah siluman itu juga menetes membasahi pipinya.
“Aku juga minta maaf ibu,” batinnya tanpa kata-kata.
Dan di ujung waktu, antara kehidupan dan kematian, antara nafas terakhir dan denyut nadi, Miryam kembali menyentuh ujung kepala puterinya. Menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan dan menyembuhkan. Perlahan jaringan tubuh dan urat-urat syaraf yang rusak di dalam tubuh Ken Darsih memperbaiki diri. Luka yang menganga dan darah yang mengalir hilang tanpa bekas. Dan gadis itu sembuh kembali seperti sebelumnya.
“Bakar semua racun yang ada di dalam tubuhnya Miryam. Gunakan kekuatan Geni Sawiji,” ujar Kyai Badrussalam.
Miryam memegang ujung kuku Ken Darsih yang runcing dan menonjol keluar. Lewat kuku jemari yang berwarna hitam mengkilat itu, dia menyalurkan kekuatan inti api Geni Sawiji. Perlahan hawa yang sangat panas membakar kuku-kuku yang penuh racun itu. lalu merambat ke dalam tubuh Ken Darsih dan membakar seluruh kekuatan racun siluman naga yang bersemayam di dalam tubuhnya. Juga semua kekuatan hitam yang berada didalamnya.
“ARGH!”
Ken Darsih menjerit setinggi langit, merasakan rasa sakit yang luar biasa. Seluruh urat syarafnya seperti ditarik-tarik dengan sangat kuat. Aliran darahnya juga berjalan sungsang dan berbalik arah. Seluruh tulang-tulangnya serasa dipukul dengan gada Rujakpolo hingga remuk redam. Beberapa saat tubuhnya mengejang dan berguling-guling di atas tanah. Lalu diam tak bergerak sama sekali, seperti jazad yang kehilangan nyawanya. Tapi...
‘Hehhhh…’
Desah nafas Ken Darsih kembali mengalun pelan, dan denyut nadinya kembali normal. Hawa dingin yang membekukan perlahan sirna. Nagaraja, Singabarong, Bahurekso, dan Jin Sepanjang yang tadinya diam membeku kina bebas kembali. Dan kemarahan para siluman itu tak tertahankan. Mereka beramai-ramai bergerak maju menyerang Miryam. Dan perempuan yang masih merasakan kegalauan itu pun butuh pelampiasan akan kemarahanya.
“Perempuan sundal, aku akan menghajarmu!” geram Singa Barong.
“Terima kematianmu!” Bahu Rekso tidak mau kalah.
Hanya jin Sepanjang yang tidak mengeluarkan kata-kata umpatan, tapi langsung menyerang Miryam dengan asapnya yang sangat beracun. Perempuan yang perasaannya sedang sensitif itu langsung menghamburkan kemarahannya. Dari kedua matanya keluar sinar berwarna biru terang, memancar ke arah keempat makhluk siluman itu.
“Slap! Slap! Slap! Slap!”
Larikan sinar bagaikan sebaran pita berwarna biru muda itu tepat menghantam tubuh para siluman itu. Detik itu juga, jazad para siluman itu langsung hilang, hangus menjadi debu. Hanya jiwa siluman mereka yang masih melayang-layang di udara. Miryam mengambil Tali Jiwo, seutas benang pengikat sukma makhluk-makhluk supranatural yang terselip di saku baju Ken Darsih.
Heyaa!
__ADS_1
Miryam mengibaskan tangannya. Tali Jiwo itu seketika memanjang dan mengikat keempat sukma itu hingga tidak bisa bergerak sama sekali. Kemudian dengan rasa penuh amarah, keempat sukma penasaran itu dia lemparkan ke alam tanpa ruang, tanpa waktu. Di alam itu sukma akan abadi dalam ketidakpastian, melayang-layang di ruang hampa, Mereka tidak akan bisa kembali, karena memang tidak ada jalan untuk kembali.
***
Dalam waktu singkat, berkat kekuatan Tirtanala, kesehatan Ken Darsih bisa dipulihkan. Dia sudah bisa bercengkrama dengan Arya Janu dan bermanja-manja dengan ibunya. Miryam juga tidak membedakan kedua puteranya. Dia sangat menyayangi keduanya.
“Iro, apa yang harus dilakukan untuk membebaskan Ken Darsih dari sifat silumannya?” tanya Miryam kepada Panembahan Mbah Iro.
“Manusia setengah siluman memiliki dua takdir dalam hidupnya. Dia harus memilih, apakah dia akan menjalani takdirnya sebagai manusia atau takdir sebagai siluman.”
“Apa maksudmu?”
“Kalau dia memilih takdirnya sebagai siluman, dia akan selalu muda, tidak pernah tua dan hidupnya abadi. Tapi kalau dia memilih takdirnya sebagai manusia, dia akan tua dan mati.”
Miryam terdiam. Sebuah pilihan yang sulit, batinnya. Lalu Ken Darsih berdiri, memeluk tubuh ibunya dari belakang.
“Aku akan memilih takdirku sebagai manusia, Iro. Aku ingin menua dan mati, lalu dikuburkan berdampingan dengan ibu, ayah dan adikku kelak,” ucapnya tegas.
“Apa kau tidak ingin hidup abadi, Darsih?” bisik Miryam.
Ken Darsih menggeleng.
__ADS_1
“Aku lebih memilih hidup bersama ibu daripada mati tanpa keluargaku.”