DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 71 SANDYAKALA


__ADS_3

EPS 71 SANDYAKALA


Sandyakala pada sore itu menutup perjumpaan yang penuh makna. Meski pada awalnya terjadi sedikit ketegangan, namun akhirnya suasana menjadi cair. Kelembutan Miryam dan sikap rendah hati Pranaja membuat kecurigaan diantara mereka sirna. Bahkan Miryam sudah mengakui jika Pranaja benar-benar keturunan Panembahan Somawangi. Ini terjadi setelah dia menguji sendiri tiga kekuatan Begawan Wanayasa yang dikuasai Pranaja.


“Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, kakang Somawangi bisa memiliki keturunan. Tapi aku juga tidak tertarik untuk mendengarkannya, karena itu bukan urusanku lagi,” ujar Miryam.


Pranaja menatap eyang secantik bidadari itu dalam-dalam. Betapa tangguhnya perempuan ini. Lalu penderitaan apa sesungguhnya yang sedang dirasakan di dalam hatinya?


“Bagaimanapun eyang harus tahu cerita ini, biar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita. Aku mohon, biarkan aku menceriterakan semuanya.”


Miryam tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Sejenak Pranaja terpesona. Itu adalah senyum terindah yang pernah dilihat pemuda itu selama hidupnya.


“Baiklah. Aku akan mendengarkanmu,” kata Miryam pada akhirnya.


Pranaja menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dalam nafas yang panjang. Setelah itu dia mulai menceritakan sejarah lahirnya keluarga besar Trah Somawangi dari sejak direndamnya tubuh Panembahan Somawangi di dasar Sendang Edi Peni yang telah memulihkan keperkasaannya sebagai lelaki. Setelah itu Panembahan Somawangi menikahi puteri Demang Wanasepi yang bernama Raden Ayu Ameswari Setyariyaning Dyah Pitaloka.


“Semua itu memang di rancang oleh Eyang Roro Lawe. Seperti yang kau tahu, eyang Roro Lawe dan Eyang Karangkobar sudah lama meninggalkan keramaian dunia. Hanya Panembahan Somawangi yang bisa diharapkan untuk menikah dan meneruskan garis keturunan Begawan Wanayasa.”


Miryam mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan pembicaraan mereka harus di akhiri, karena dari arah masjid Assalam, yang berada di lingkunga Pesantren terdengar kumandang suara azan, pertanda waktu maghrib telah tiba. Pranaja dan Andika segera bagkit berdiri dan berpamitan dengan Miryam. Saat itulah Pranaja baru menyadari, ada sosok laki-laki yang tertidur lelap di dalam kotak kaca. Namun dia tidak sempat bertanya.


“Ayo Pranaja, kita langsung ke masjid,” ajak Andika sambil menyeret tangan Pranaja.


Pranaja langsung berjalan mengikuti langkah Andika. Sebenarnya hatinya sedikit kesal, namun bagaimana lagi waktu maghrib telah tiba. Matanya masih sempat melirik sekilas ke arah lelaki yang terbaring tenang di dalam kotak kaca itu. ‘Siapa laki-laki itu? Mengapa dia berada di dalam kamar Miryam? Atau itukah laki-laki yang bernama Santika? Suami Miryam yang ikut terkubur di bawah pohon keramat limaratus tahun yang lalu?


***


Ba’da Maghrib, tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka ingin mengikuti pengajian dari Kyai Badrussalam, sekalian sholat berjamaah di masjid pesantren. Ada perasaan yang lebih mantap saat bisa berjamaah di dalam masjid milik Pesantren. Berbaur dengan ribuan santri yang melakukan sholat bersama-sama.


Beberapa ekor kambing besar disembelih, kemudian dipanggang dengan api sedang di atas tungku dari batu. Pranaja yang juga pemasak handal memberikan resep cara memasak daging sapi yang enak kepada para juru masak di dapur. Seketika aroma wangi daging panggang terasa menyeruak ke dalam penciuman setiap orang-orang yang terus berdatangan memasuki halaman masjid, memancing rasa lapar.


‘Hm, enak sekali bahu daging panggangnya,” batin mereka.


Tapi sesungguhnya ada hal lain yang lebih menarik perhatian mereka. Memastikan berita yang simpang siur mengenai perempuan hamil di dalam pesantren. Serta bayi Miryam yang sanggup meremukkan tulang bahu dukun bayinya sendiri.


Dan itu sungguh menggemparkan.


***


Sehabis sholat maghrib, Andika kembali menemui Miryam, tapi kali ini dia datang sendiri. Pemuda itu mendapat tugas dari kyai Badrussalam untuk membujuk Miryam agar mau memberikan nama anaknya. Dia yakin Andika dapat membujuk perempuan itu, karena hubungan kedekatan mereka. Begitu datang dia langsung menggendong putera Miryam. Selain ibunya, hanya dengan Andika bayi itu tidak mengamuk saat di gendong.

__ADS_1


“Laala..Liilili..” ujar Andika sambil memasang wajah lucu.


“Oekekek,” bayi itu tersenyum sambil berceloteh sendiri.


“Ada apa lagi Andika?” tanya Miryam dengan wajah heran.



Andika mencium kening bayi kecil itu, lalu mendekapnya erat dalam pelukannya. Membiarkan bayi itu mendengarkan degup jantung ayahnya. Sampai bayi itu terlelap dan kemudian dibaringkan diatas tempat tidurnya. Dia menatap sejenak bayi imut tetapi ‘berbahaya’ itu, lalu menoleh ke arah ibunya.



“Sebentar lagi acara selamatan tujuh hari puteramu akan dilaksanakan. Kau betul-betul tidak ingin memberinya nama?” ujar Andika beberapa saat kemudian.


Miryam menggelengkan kepalanya.


“Aku sudah memberitahu Badrussalam kalau itu adalah tugas ayahnya.”


“Kau tahu sendiri kan kakang Santikamu masih terlelap dalam tidur panjang? Bagaimana dia akan memberi nama pada puteranya?”


“Aku akan bersabar menunggunya”


“Kau bisa Miryam, tapi bagaimana dengan puteramu?” ujar Andika. “Bagaimanapun dia membutuhkan nama.”



Miryam terdiam. Hatinya dipenuhi kebimbangan. Dipandanginya tubuh Santika yang bersemayam dengan tenang di dalam kotak kacanya. Matanya sendiri terlihat berkaca-kaca.


“Mengapa kau tidak mencoba bertanya kepada kakang Santikamu?” ujar Andika.



Miryam mengusap kedua matanya yang mulai mengembun. Ditatapnya wajah Andika dalam-dalam. Kenapa tidak terpikir olehku ya? batinnya. Andika membuka kedua tangannya. Miryam berdiri perlahan menghampirinya. Merengkuh tubuh Andika, lalu merebahkan kepalanya di dada pemuda itu. Terdengar detak jantung suaminya yang berada di dalam tubuh Andika berdegup semakin keras.



Dugdug..dugdug…dugdug…


__ADS_1


Air matanya semakin deras mengalir, tapi dia tetap berusaha mengembangkan senyumnya.


“Apa yang sedang kau lakukan dalam mimpimu kakang?” Miryam bermonolog. “Tidurlah sepuasmu, dan bagunlah saat kau sudah lelah dengan mimpimu.”



Dugdugdug...Dugdugdug...Dugdugdug…



Detak jantungnya berbunyi semakin cepat. Rupanya jantung Santika merasakan kehadiran perempuan yang dicintainya.


“Aku datang hanya untuk meminta restumu. Puteramu membutuhkan nama, dan aku harus memberikannya karena kau masih terlelap dalam mimpimu. Apakah kau mengizinkan aku?” bisik Miryam di bibir bergetar.



Dugdugdug!...Dugdugdug!...Dugdugdug!...



Suara detak jantung Santika bahkan terdengar di telinga Andika. Sepertinya Santika mengizinkan Miryam untuk memberi nama buah hati mereka.


“Kau benar Andika, kakang Santika telah merestui aku untuk memberi nama puteraku,” ujar Miryam sambil tersenyum.



Dia melepaskan kedua tangannya yang memeluk tubuh Andika. Lalu dia kembali duduk di peraduannya. Berkali-kali kedua tangannya berusaha menghentikan air matanya yang terus mengalir. Tapi tak berhasil. Rasanya perasaannya sedang melambung dalam keharuan karena bahagia.



“Kalau begitu sekarang pikirkan siapa nama yang akan kau berikan kepada puteramu,” kata Andika. “Jangan lama-lama, acara selamatan akan segera di mulai.”


“Sebenarnya kakang Santika dan aku telah mempersiapkan nama untuk buah hati kami, baik itu putera maupun puteri. Dan nama itu selalu kusimpan dalam pikiranku.”



Miryam terdiam, keningnya berkerut seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Andika duduk terdiam didepannya, menunggu jawabannya. Hingga akhirnya Miryam menyebut sebuah nama.


__ADS_1


“Namanya Arya Janu.”


__ADS_2