DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 11 JANJI YANG BELUM TERPENUHI


__ADS_3

EPS 11 JANJI YANG BELUM TERPENUHI


Jangan takut untuk berubah. Kita mungkin akan kehilangan sesuatu yang baik, tapi tentu akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi. Namanya juga hidup, kalau terus sama berarti tidak ada perubahan. Artinya tidak ada pembelajaran yang dapat kita ambil dari hidup yang terus berproses.


Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto berdiri terpaku di tempatnya masing-masing. Wajah mereka mendadak terkesima. Matanya melotot dan mulutnya terbuka. Mereka terlihat fokus memperhatikan sosok pemuda gagah yang tadinya bertubuh cungkring tapi kini telah berubah.


“K..Kau Pranaja?” ucap Raden Mas Parto gagap.


Tubuhnya tegap berisi, tinggi menjulang, berkulit putih bersih, dengan mata kecil dan hidung seperti sudut bintang, Urat-urat lengan Pranaja terlihat lebih besar, otot-otot perutnya pun terlihat sixpack. Pranaja betul-betul berubah. Wajah imutnya terlihat dewasa, dengan rahang yang terlihat keras namun dengan tatapan mata yang lembut, Pandangannya lurus ke depan, menunjukkan jika dia adalah pemuda yang cerdas dan berwawasan luas.


“Kakek! Kalian semua kenapa?” tanya Pranaja heran. “Kenapa kalian memandangku begitu rupa? Ada yang aneh denganku?”


“Keluarlah dari air terjun Pranaja! Lihatlah dirimu lewat air sendang!” seru Eyang Penatus.


Pranaja melangkah keluar dari air terjun Banyuanget menuju tepian sendang Edi Peni kembali. Permukaan airnya yang jernih bagaikan cermin yang memantulkan kembali bayangan tubuh Pranaja secara jelas dan tegas. Wajah pemuda imut itu langsung terkesiap kaget melihat perubahan drastis yang terjadi dengan dirinya.


“I..itu aku kakek?” serunya sambil menoleh Panembahan Mbah Iro sekejap, kemudian memandang air sendang kembali.


“Iya! Itulah dirimu yang sekarang,” sahut Panembahan. “Setelah direndam di dalam sendang ini selama tujuh hari tujuh malam, kekuatan tubuhmu menjadi sempurna. Kekuatan fiskmu berubah, daya linuwih kanuraganmu meningkat pesat, kekuatan mental dan jiwamu juga semakin matang. Ada keseimbangan akal budi dan daya nalar, jiwa dan raga, lahir dan batin, ***** dan pengendalian, serta kekuatan keyakinan melawan angan dan keinginan.”


Pranaja mengamati perubahan fisiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hm, betul-betul dia telah berubah menjadi lelaki dewasa, walau tanpa jambang, jenggot dan kumis. Jiwanya juga terasa lebih enteng, Pranaja merasakan kenyamanan yang luar biasa. Lalu dia mengangkat kedua tangannya ke udara.


“Kekuatan Tirtanala,” desisnya.


Seketika hawa yang sangat dingin terasa menyeruak keluar dari pori-pori bumi dan dinding udara. Lalu semuanya menjadi beku dan berhenti bergerak. Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus, Raden Mas Parto semua diam terpaku seperti patung. Bahkan burung-burung yang sedang terbangpun, terlihat membeku dan berhenti di udara.


“Ada apa dengan kekuatan Tirtanala? Mengapa semua terdiam serentak pada satu titik waktu?” batinnya.


Tanpa sengaja sudut matanya menangkap layar ponsel yang menyembul dari kantung tasnya. Nampak tayangan waktunya juga berhenti, tidak berdetak. Pranaja mengernyitkan keningnya.


“A..apa? Bahkan detak jam pun ikut berhenti? Apa kekuatan Tirtanala bisa membekukan waktu?” batinnya.


Lalu dia berjalan mengelilingi tubuh ketiga petinggi Trah Somawangi itu. Tidak ada reaksi apapun, seolah mereka tidak mengetahui gerakan Pranaja di sekitar mereka. Lalu dia mengangkat kedua tangannya kembali, lalu ditepukkan perlahan.


“Plok!”


Kekuatan Tirtanalanya buyar. Hawa dingin berubah menjadi hangat kembali. Hawa kehidupan juga kembali merasuki ketiga kakeknya. Burung-burung yang tadinya diam membeku di langit pun kembali terbang melanjutkan penjelajahannya. Semua kembali normal, seolah tidak terjadi apa-apa. Sudut matanya kembali menangkap layar ponselnya dan tayangan waktunya pun sudah kembali berjalan seperti biasa.


“Kenapa kau masih berdiri disitu Pranaja?” tegur Panembahan Mbah Iro.

__ADS_1


“Kenapa kek? Apakah itu menjadi suatu masalah?” sahut Pranaja.


Panembahan Mbah Iro menggelengkan kepalanya.


“Bukan itu maksudku. Apa kau lupa kalau kau belum memakai pakaianmu kembali?”


Pranaja langsung terperanjat. Reflek kedua tangannya langsung menutup penampakan burung ****** di bawah perutnya.


“Ups! Eh, oh ..maaf kek. Aku lupa!” ujarnya sambil melompat ke balik batu besar.


Ketiga kakeknya tidak bisa menahan tawanya. Suara tawa mereka begitu lepas. Pranaja bahkan belum pernah mendengar mereka tertawa bersama.


“Hahaha! Kau lucu sekali Pranaja!”


“Dia lupa kalau sekarang burung Kuntulnya sudah semakin dewasa. Hahaha!”


“Bukannya kau tunjukkan pada isterimu nanti, malah kau pamerkan kepada kami, hahaha!”


Wajah Pranaja langsung berwarna-warni saking malunya. Segera dia memakai pakaiannya kembali yang tiba-tiba berubah menjadi sempit. Kecuali baju pelindung T-Shield 313216 nya yang memang dirancang all size, menyesuaikan bentuk tubuh pemakainya. Eyang Penatus segera memberinya pakaian yang sudah dia persiapkan dari rumah. Tentu saja atas perintah Panembahan Mbah Iro, yang sudah memperkirakan kejadian ini.


“Pakailah baju ini Pranaja.”


“Baik Eyang.”


***


Setelah menyelesaikan semua tahapan ritual penyempurnaan di sendang Edi Peni, Panembahan Mbah Iro memutuskan agar mereka segera kembali ke Padukuhan Somawangi.



“Sebelum kita melanjutkan perjalanan pulang, aku ingin berbicara sesuatu denganmu Pranaja,” ujar Panembahan Mbah Iro.



Pranaja menganggukkan kepalanya. Dia sudah siap mendengarkan setiap wejangan dan nasehat dari kakek buyutnya itu.



“Saat kau memasuki hari terakhir pertapaanmu di sendang Edi Peni, mendadak ada sebuah pedang yang keluar dari dalam tasmu, terbang dan melesat langsung masuk ke dalam sendang dan bersamayam di samping tubuhmu.”

__ADS_1



“Pedang?” Pranaja menggaruk kepalanya seperti mengingat sesuatu.


“Pedang itu mengeluarkan cahaya berwarna merah.”


Pranaja nampak terkejut, sekarang dia ingat sesuatu.


“Oh, itu pedang titipan dari sahabatku waktu aku berpetualang ke negeri Korea, kakek Kim. Dia menitipkan pedang itu padaku untuk diberikan kepada ….”



Pranaja menghentikan ucapannya. Mendadak dia teringat dengan Ryung Nae, atau Ren. Wajahnya terlihat berubah menjadi begitu sedih. Sementara ketiga kakeknya masih diam menunggu ceritanya yang belum selesai.



“Kenapa wajahmu berubah mendadak menjadi begitu sedih Pranaja?”


“Aku punya janji dengan kakek Kim yang belum bisa aku penuhi kakek. Karena aku terpisah dengan cucunya dan tidak mungkin menemuinya dalam waktu dekat ini.”



Ketiga kakeknya hanya saling terdiam sambil memandang wajah Pranaja. Ada rasa sedih yang terasa menggelayuti hati mereka.



“Pedang itu namanya YEONGHON-UI SIJAG atau Pedang Perasuk Sukma. Siapapun yang memegang pedang ini tanpa dilandasi tenaga dalam yang cukup, jiwanya akan dirasuki oleh isi pedang ini. Dia akan menjelma menjadi pendekar pedang nomer satu, tak terkalahkan. Namun sejatinya pedang inilah yang menguasai jiwanya,” ujar Pranaja.



“Lalu kakek Kim menitipkan pedang ini kepadamu dan berharap kau melatih cucunya sampai siap mewarisi kekuatan pedang ini?” tanya Panembahan Mbah Iro.



Pranaja menganggukkan kepalanya. Tangannya masuk ke dalam tas seperti mengambil sesuatu. Ketika dia mengeluarkan benda yang diambilnya, semua terkesiap kaget. Sebuah sarung pedang pusaka yang sangat keramat. Warnanya biru metalik, dengan ukiran emas bermotif naga yang melingkarinya.



Disaat yang sama, permukaan air sendang terlihat bergejolak dan mengeluarkan cahaya merah. Lalu dari dasar sendang, sebuah pedang pusaka yang mengeluarkan cahaya merah tiba-tiba keluar dan terbang ke udara. Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1



“Itulah YEONGHON-UI SIJAG!”


__ADS_2