EPS 104 GADIS-GADIS ANEH
Pagi pun menjelang. Dan tidak ada yang aneh atau sesuatu yang luar biasa di pagi itu. Ayam jantan berkokok menandai terbit fajar di ufuk timur. Lalu terdengar adzan Shubuh berkumandang dari masjid pesantren dan mushola-mushola kecil di kampung-kampung sekitar pesantren. Suara-suara gaduh dari dalam rumah-rumah, menandai kehidupan baru saja dimulai di hari itu.
Pranaja berjalan sendiri. Langkahnya ringan menuju mushola terdekat. Andika dan yang lainnya sudah kembali ke pesantren. Dia sendiri yang masih penasaran dengan apa yang terjadi malam tadi ditinggal sendiri. Namun, setelah menunggu semalaman, dia tidak menemukan tanda-tanda kemana makhluk-makhluk astral itu pergi. Hanya keyakinan yang masih membuat hatinya tinggal lebih lama disitu.
Pyur!
“Hai, kenapa kau melempar lumpur kepadaku, hihihi…”
Terdengar kecipak air dan suara tawa beberapa gadis yang sedang menanam benih di sawah. Gadis-gadis berkebaya dengan caping menutupi kepalanya yang berkerudung. Memang masyarakat sekitar pesantrean sebagian besar merupakan muslim yang taat. Memakai hijab sudah menjadi pakaian sehari-hari di wilayah ini. Mereka selalu memakai pakaian yang menutup aurat kemanapun mereka pergi. Bahkan saat bekerja di sawah.
Pranaja bersikap biasa dan tidak mempedulikan mereka. Dia terus saja berjalan di atas pematang melewati gadis-gadis itu. Namun indera keenamnya yang tajam, menangkap desiran angin mengarah kepadanya. Dengan gerakan yang sangat cepat pemuda itu melompat ke udara. Dan desiran angin itu lewat di bawah tubuhnya.
Prot!
Pranaja terkesiap. Cahaya fajar yang masih temaram membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi dia yakin salah satu gadis itu ada yang melemparkan lumpur kepadanya.
“Ups! Eh, maaf kang, tidak sengaja!” seru seseorang.
Pranaja melirik sekilas.
Prol!
Jantungnya terasa hampir copot, dan matanya membulat sempurna.
“Ehm, maaf kang, tidak sengaja. Akang marah ya?” tanya gadis itu lagi dengan nada merajuk.
__ADS_1
Sejenak Pranaja menghentikan langkahnya dan berdiri mematung. Menatap wajah gadis itu seperti tak percaya. Untuk beberapa saat dia hanya terbengong tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba perasaannya seperti terpesona dengan kecantikan gadis itu. Seperti saat kau menemukan sebutir mutiara di dalam lumpur hitam yang tak pernah kau pikirkan itu akan terjadi. It’s impossible. Ada gadis secantik itu di kampung sini?
Seperti ada kekuatan yang meguasai dirinya dan mengajaknya untuk turun dari pematang menghampiri gadis-gadis itu. Saat kaki kirinya hampir saja melangkah, tiba-tiba terdengar suara iqomah pertanda sholat akan segera di mulai. Dan lantunan kalimat-kalimat suci itu seperti menyadarkannya kembali. Dia membatalkan langkahnya, lalu bergegas menuju mushola terdekat. Anehnya, gadis-gadis itu langsung menutup kedua telinga dan menundukkan wajahnya saat mendengar suara iqomah tadi.
Dengan memakai ilmu ringan tubuhnya yang sempurna, tubuh Pranaja seperti terbang di udara. Sekali-sekali kakinya menapak di pucuk daun padi yang tehampar luas. Begitu Iqomah selesai, pemuda itu sudah berada di depan Mushola. Lalu ikut antri untuk berwudhlu dahulu sebelum melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
Kehadiran Pranaja tentu saja menarik perhatian para jamaah. Tubuhnya yang tinggi menjulang dan otot-otot bisep dan trisepnya yang bertonjolan dimana-mana. Kulitnya yang putih bersih dan wajahnya yang begitu tampan, seperti magnet yang menciptakan medan magnet di sekelilingnya. Dan mereka adalah butiran debu logam yang tertarik kepadanya. Selesai sholat para penduduk kampung langsung mengerumuninya.
“Mohon maaf, apakah kisanak bukan orang sini?” tanya seseorang yang dituakan.
Pranaja menggeleng perlahan sambil menebarkan senyum imutnya.
“Benar. Saya berasal dari pedalaman pulau Jawa, jauh dari sini. Kebetulan selama beberapa hari ini, saya sedang bertamu ke pesantrennya Abah Kyai Badrussalam.”
Mendengar Pranaja menyebut nama kyai Badrussalam, sontak orang-orang itu langsung bergerak mundur. Mereka sangat menghormati pimpinan pesantren ‘Ksatriyan Santri’ itu, juga kepada para tamunya.
Mereka pun duduk beberapa saat, tenggelam dalam perbincangan panjang, hingga keadaan di luar terang benderang.
“Eh, sudah siang sekali. Saya pamit dulu ya? Mohon maaf mengganggu waktu kalian semuanya. Kalian mau pergi ke sawah kan?”
Mereka menganggukkan kepalanya serempak. Pranaja jadi tertawa.
“Aku tahu, hari ini kalian akan menanam bibit padi kan?”
Mereka menggelengkan kepalanya serempak. Pranaja jadi melongo.
“Eh maaf. Salah ya?”
__ADS_1
Sang tetua maju ke depan dan menjelaskan tentang tradisi tanam padi di desanya. Mereka terbiasa melakukan kegiatan panen bersama dan menanam benih padi bersama.
“Dikarenakan kami masih menyelesaikan musim panen kami, maka kegiatan menanam benih padi dilakukan setelah semua padi selesai dipanen.”
Pranaja menaikkan kedua alisnya. Tapi dia menahan kata-katanya. Lho, kalau ini bukan musim menanam padi, siapa gadis-gadis yang berada di kolam tadi pagi?
“Mohon maaf bapak dan ibu sekalian, kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan terhadap penerimaan kalian kepadaku”.
Kata Pranaja sebelum mohon pamit kepada para penduduk desa. Setelah menyalami warga desa satu persatu, tubuhnya melesat pergi meninggalkan tempat itu. Tujuannya jelas, kembali ke sawah dimana tadi pagi dia bertemu gadis-gadis yang sedang menanam padi itu. Tapi tempat itu kosong tak ada apa-apanya.
Pranaja berjalan berputar mengelilingi pesawahan itu. Telihat banyak jejak kaki di atas pematang. Melihat bentuk kakinya yang kecil, Pranaja memastikan di kalau mereka adalah gadis-gadis yang sedang dia cari. Tanpa sadar kakinya melangkah mengkuti jejak kaki itu. Semakin lama semakin jauh dan terpisah dari pesantren Ksatryan Ksantri.
***
Sementara itu di atas bukit Kethileng, Ken Darsih menyaksikan semuanya. Bibirnya tersenyum puas melihat hasil kerja anak buahnya.
“Lihat Nagaraja. Nawangwulan berhasil memisahkan Pranaja dari teman-temannya,” seru Ken Darsih dengah wajah gembira.
“Benar Nyai. Nawangwulan sudah berhasil menjalankan tugasnya,” ujar Nagaraja. “Sekarang tinggal melaksanakan rencana kedua : Menculik Arya Janu, putera Miryam.”
Ken Darsih menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu panggil Banaspati untuk menculik Arya Janu.”
Nagaraja mendongakkan kepalanya. Lalu berseru cukup keras.
“Banaspati! Keluarlah! Nyai Ken Darsih membutuhkanmu!”
Beberapa saat kemudian angin panas berhembus perlahan. Terlihat dedaunan meranggas, suhu di tempat itu pun mengalir panas. Hewan-hewan yang ada disitu, langusng kabur berlarian kesana kemari. Lalu segumpal api sebesar gubuk melayang di angkasa. Meluncur cepat dan jatuh mendarat di depan Ken Darsih dan Nagaraja. Perlahan gumpalan api itu mulai mengerucut dan berubah membentuk sosok seperti manusia raksasa. Inilah yang disebut sebagai Siluman Banaspati.
“Mohon ampun Nyai, aku datang dengan keadaan begini,” kata Banaspati.
__ADS_1
“Duduklah Banaspati. Carilah tempat yang bisa digunakan untuk duduk dan tidak mudah terbakar !”
Banaspati mematikan seluruh api di dalam tubuhnya, lalu duduk diatas bebatuan hitam di sudut ruangan. Siap menerima petunjuk dari sang Senapati Kerajaan Laut Kidul.