EPS 15 KEBANGKITAN
Di puncak Gunung Mati, angin berkesiur lembut menerbangkan anak-anak rambut Pranaja dan Panembahan Mbah Iro yang gondrong. Bedanya yang satu berwarna hitam legam yang satunya putih keperakan. Sang Panembahan masih penasaran dengan pedang perasuk Sukma warisa kakek Kim, pendekar tangguh dari daratan Korea. Baru saja dia menyentuh gagangnya terasa ada kekuatan besar yang mendorong sukma di dalam tubuhnya dan mendesaknya hingga terhimpit.
“Boleh aku mencobanya Pranaja?” tanya Panembahan Mbah Iro.
“Tentu saja boleh kakek,” tegas Pranaja.
Pranaja sangat percaya dengan kemampuan kakeknya itu. Perlahan, Panembahan menarik pedang itu dari sarungnya.
“Sreeng!”
Sinar merah menyilaukan langsung terpancar dari pedang itu. Auranya begitu kuat terasa sampai tubuh Eyang Penatus dan Raden Mas Parto merasa merinding. Tanpa sadar mereka melangkah ke belakang dengan posisi siaga. Pranaja bersikap waspada, meski wajahnya terlihat tenang dan bibirnya tersenyum tipis.
Tubuh Panembahan Mbah Iro bergetar hebat, seperti ada aliran listrik yang mengaliri pembuluh-pembuluh kapiler di bawah lapisan kulitnya. Nampak ada kilatan-kilatan cahaya keluar dari tubuhnya. Kekuatan dahsyat dari pedang itu perlahan merasuki tubuhnya. Menguasai raga dan menempatkan jiwanya hanya di dalam jantungnya.
Mata Panembahan Mbah Iro terpejam sesaat. Namun tak lama kemudian, seiring hembusan angin yang semakin besar, matanya mendadak terbuka kembali. Kali ini berubah. Matanya mengeluarkan cahaya merah terang yang begitu menggidikkan. Dan Pranaja membiarkannya.
“Heyaaa!” teriak Panembahan dengan lantang.
Wajahnya di tengadahkan ke atas. Nampak dua larik cahaya berwarna merah keluar dari matanya. Sinar itu melesat menembus lagit yang cukup cerah di pagi menjelang siang itu. Saat dia menghadap ke depan lagi, matanya sudah berubah, seperi lampu kecil bercahaya merah. Begitu menggidikkan. Dari tubuhnya muncul kilatan-kilatan cahaya putih.
“Hrrrgh!”
bibir Panembahan mengeluarkan suara menggeram bagaikan singa.
Cahaya Merah Pedang Perasuk Sukma di tangannya semakin kuat. Lalu dia mengangkatnya ke atas. Cahaya merah itu berpendar, hingga seluruh alam di puncak gunung mati itu juga bercahaya merah. Beberapa saat tidak ada suara. Yang tercipta hanyalah kesunyian. Lalu tubuh renta tapi masih tegak itu melenting tinggi ke atas.
“Hiya!”
Pedang Mustika di tangan Panembahan Mbah Iro disapukan ke kanan dan ke kiri, keatas dan ke bawah. Menyapu, menangkis dan menusuk. Sinar yang ditimbulkan karena pantulan sinar matahari yang mengenai pedang itu begitu menyilaukan, seperti sebaran pita merah, membentuk lingkaran-lingkaran bayangan.
Pijaran cahaya merah berpendar ke setiap sudut ruangan terbuka itu. Terasa ada gelombang elektromagnetik yang menggulung dan bergerak ke segala arah. Dan Saat mengenai dinding batu terdengar benturan hebat, Dinding batu alam yang sangat keras itu mendadak retak, dan pecahannya menggelinding kemana-mana..
Prak! Brak!
Lalu Panembahan Mbah Iro berdiri di udara dan turun perlahan ke tanah.
__ADS_1
“Hap!”
Kakinya tegak berdiri di atas tanah. Perlahan kekuatan di dalam tubuh Panembahan melakukan perlawanan, mendesak kekuatan pedang Perasuk Sukma kembali ke tempatnya. Cahaya merah di mata Panembahan langsung hilang, kembali seperti semula. Baginya kekuatan pedang Yeonghon-Ui Sijag masih bisa dikuasainya.
***
Setelah itu, dipimpin oleh sang Panembahan Mbah Iro, mereka memutuskan kembali ke padukuhan Somawangi. Dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, Panembahan Mbah Iro, Pranaja, Raden Mas Parto dan Eyang Penatus berkelebat diantara bayang pepohonan. Bagaikan burung-burung serwiti yang terbang meliuk-liuk di antara ranting dan dahan pepohonan.
Tidak butuh waktu lama, saat matahari berada di sepenggalah, mereka sudah sampai kembali di jalan setapak menuju padukuhan Somawangi. Lalu mereka melanjutkan dengan berjalan kaki. Sambil berbincang mengenai berbagai hal yang berkaitam dengan kemajuan tanah Perdikan Somawangi.
Sampai di ujung jalan setapak, tiba-tiba Panembahan Mbah Iro menghentikan langkahnya, sehingga tubuh mereka hampir bertumbukkan. Indera keenamnya yang tajam menangkan desiran langkah yang sangat halus. Dia langsung menoleh ke arah kanan, ke arah batu besar yang menjadi benteng di gunung ini.
Lalu muncullah dari dalam kabut sosok tua yang belum lama dikenalnya..
“Panembahan Mbah Iro,” sapu tamu tak diundang ini.”Assalamu’alaikum!”
Panembahan Mbah Iro tersenyum.
“Kyai Badrussalam, saudaraku.”
“Maaf mengganggu kenyamanan kalian,” kata Kyai Badrussalam lagi.
Panembahan Mbah Iro menggelengkan kepalanya.
“Justru akulah yang minta maaf, telah membiarkan tamu-tamuku kedinginan di udara yang terbuka.
Setelah berbasa-basi sejenak mereka kemudian saling memberi informasi.
“Kalau untuk membicarakan hal yang penting, sebaiknya kita duduk di dalam rumahku,” ujar Panembahan Mbah Iro.
Lalu mereka berdiri. Pranaja dan dua orang lainnya juga ikut berdiri menyalami Kyai Badrusslam dengan penuh khidmat.
“Kakek Badrussalam! Senang bertemu kamu lagi,” sapa Pranaja dengan polosnya.
“Eh, kamu yang namanya Pranaja kan?” tanya kyai Badrussalam.
Pranaja menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Iya , kek.”
Disusul kemudian dengan Eyang Penatus dan Raden Mas Parto bergantian menyalami tangane kyai Badrussalam. Lalu Panembahan Mbah Iro menggamit tangan sang Kyai untuk masuk ke dalam padukuhan Somawangi. Lalu sang kyai minta izin untuk membangunkan Andika yang masih terdengar dengkurannya.
“Andika! Bangun. Tuh para tamumu sudah datang,” kata Abah
Seperti orang kaget, Andika langsung bangkit dari tidurnya dan memandang orang-orang yang mengelilinginya.
“Si..siapa kalian?” tanya Andika tergagap.
Kyai Badrussalam tersenyum lembut. Lalu dia menunjukkan orang-orang yang ditanyakan mas Andika ini.
“Ini adalah Panembahan Mbah Iro, penerus dan pemimpin trah Somawangi saat ini. Yang dua ini adalah para asistennya, Radan Mas Parto dan Eyang Penatus.”
Dua orang yang disebut terakhir menganggukkan kepalanya.
“Salam Kakek.”
“Salam Andika.”
Lalu Andika menatap Pranaja yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Wajah polos yang kelihatan masih bocah banget. Tapi tubuhnya sudah terbentuk sempurna. Pranaja mengulurkan tangannya.
"Kakak, namaku Pranaja."
Andika menyambut uluran tangan Pranaja, dengan tak kalah ramah.
"Aku Andika. Senang bertemu denganmu."
"Terimakasih kak Andika."
Lalu Panembahajn Mbah Iro segera mengajak mereka masuk ke padukuhan. Kakinya masuk ke dalam selubung yang menutupi padukuhan Somawangi dari pandangan orang-orang. Diikuti yang lainnya termasuk Andika.yang terlihat ragu melihat pemandangan di depannya. Dengan sedikit rasa takut dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Perlahan kaki dan tubuhnya ikut masuk, lalu berjalan menyusul yang lainnya. Dalam hatinya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Dia merasakan akan ada hal aneh yang akan terjadi. Dugaannya benar, setelah beberapa kali melangkah, dia kembali terkesiap kaget.
"Apa!" teriaknya tanpa sadar.
Bentang alam yang dilihatnya disekalilingnya mendadak berubah. Pemandangan di sekitarnya seperti berputar cepat. Dia sampai menghentikan langkahnya. Sesaat kemudian perputaran itu berhenti. Apa yang dilihatnya membuatnya terkesima.
__ADS_1