EPS 139 RASA YANG BERUBAH
Senja nampak memerah di atas lembah perbukitan yang termasuk lereng gunung Cheondeung, Korea Selatan. Sinar matahari yang temaram menyentuh lembut permukaan lembah yang disebut sebagai lembah surga itu. Rerumputan dan bunga-bunga kecil berwarna kuning dan ungu yang bermekaran, adalah hiasan yang memanjakan mata. Beberapa ekor kupu-kupu terbang dengan lincah kesana kemari, hinggap dan mengisap madunya.
Lembah Cheondeung menawarkan pemandangan lanskap yang menakjubkan. Serta menjadi tempat observasi yang luar biasa untuk mengamati satwa liar asli. Di lokasi ini dengan mudah terlihat antelop berlari-lari melintasi pegunungan, hingga angsa menikmati air danau yang indah. Saat malam tiba, langit penuh bintang terpantul di danau. Jadi ini benar-benar real estat terbaik.
Kuil Bongjeong berdiri tegak menghadap ke arah barat, seolah menjadi saksi abadi tenggelamnya matahari. Begitu tiba, Pranaja langsung masuk ke dalam bilik. Dilihatnya tubuh Ren terbaring lemah diatas pembaringan, dikelilingi beberapa biksu yang sedang mendoakannya. Melihat kedatangan Pranaja, para biksu itu segera memberi jalan. Dengan tangan gemetar Pranaja menyentuh tangan Ren. Terasa dingin dan kaku, nafasnya juga sudah berhenti, tapi nadinya masih berdenyut, meski sangat lemah.
“Ren!” bisik Pranaja sedikit panik. “Aku datang Ren!”
Segera dia menempelkan telapak tangannya di ujung kepala gadis itu, menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Hawa sejuk perlahan meresap dan merasuk ke dalam tubuh Ren. mengalir dalam pembuluh darah dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Tonjolan daging yang tumbuh di hati Ren dan mendesak jantungnya perlahan hilang.
Tubuhnya kembali hangat dan jantungnya berdetak kembali. Aliran darah di dalam tubuhnya mengalir kembali dengan lancar. Memberi warna merah jambu di wajahnya yang terbaring memucat. Memberi warna kehidupan dalam tubuh gadis yang dicintainya itu. Perlahan mata indah itu mulai terbuka. Seperti tak percaya dia memandang wajah tampan Pranaja yang juga sedang memandangnya.
“Pranaja,” bisiknya lemah.
Pranaja tersenyum lembut. Disentuhnya kedua pipi sehalus batu pualam itu. Tanpa terasa ada air yang mengalir membasahi pipinya.
“Akhirnya aku bisa melihatmu,” sambung Ren.
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Iya Ren. Maafkan aku.”
Ren membisu, menatap wajah Pranaja dalam-dalam.
“Ternyata hanya kematian yang bisa mempertemukan kita.”
Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Apa maksudmu Ren?”
“Aku sudah mati kan? Kita sedang berada di alam lain kan?”
Pemuda tampan itu tak kuasa lagi menahan air matanya. Lalu kepalanya menggeleng perlahan.
“Tidak Ren, kau belum mati. Dan aku datang untuk menjemputmu.”
__ADS_1
Ren memandang Pranaja tak percaya. Hah? Kenapa tubuhku terasa segar dan bertenaga lagi? Apa benar dia belum mati. Perlahan dia bangun dari tidurnya. Menatap Pranaja dengan wajah tak mengerti. Lalu dia mencubit lengan dan pipinya. Aw, sakit! batinnya.
“Benarkah aku belum mati?”
Pranaja menggelengkan kepalanya. Lalu meraih tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Didekapnya tubuh gadis itu dengan penuh kerinduan.
“Tidak ada yang mati Ren. Kau belum mati. Walaupun jantungmu sudah berhenti, tapi denyut nadimu masih berdenyut lemah. Itu pertanda kau masih hidup.”
Biksu O dan biksu-biksu lainnya memandang peristiwa itu dengan tatapan takjub. Bagaimana mungkin jantung yang sudah berhenti itu bisa berdetak kembali. Apakah pemuda di depan mereka itu bisa menghidupkan orang yang sudah mati? Lalu apa hubungannya dengan Ren, kenapa perilaku mereka seperti sepasang kekasih?
“Aku tahu, pasti kau yang menyelamatkan aku,” ujar Ren.
Lalu mereka diam membeku. Tangan mereka masih bertaut, tubuh mereka masih saling berpeluk, diiringi desah nafas yang lembut dan menghangatkan hati. Melepas rindu dalam satu titik waktu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Melepaskan rasa pada jiwa yang telah lama ingin bersatu. Tapi…
“Ren! Kau sudah sembuh?” ujar Ryong hampir berteriak.
Ren membuka matanya. Melihat kakaknya yang tiba-tiba masuk ke dalam bilik.
“Kakak!” sahutnya sambil tersenyum lebar.
Keduanya saling melepaskan pelukannya. Wajah Ren langsung berubah merah jambu karena malu. Selama hidup baru sekali ini dia dipeluk oleh seorang laki-laki selain kakaknya sendiri.
“Terimakasih Tuhan. Kau telah menyelamatkan adikku,” ucapnya.
Plok!
Aduh!
Terasa ada yang memukul kepalanya dari belakang. Ryong langsung menoleh.
“Kau tidak kangen kepadaku?” tanya Pranaja dengan wajah kesal.
Ryong melepaskan pelukan Ren, lalu memeluk tubuh Pranaja. Tapi Pranaja sekarang sudah berubah. Tubuhnya yang dulu cungkring sekarang begitu gempal dan berotot.
“Sudah, gak perlu menangis. Drakor banget,” ledek Pranaja.
__ADS_1
Gantian Ryong yang memandang Pranaja dengan wajah kesal.
“Eh, siapa yang drakor. Aku menangis buat adikku ya, bukan karena kamu.”
Lalu keduanya jadi ribut sendiri. Ren hanya tersenyum melihat dua orang yang dicintinya itu saling berdebat. Pranaja dan Ryong memang seperti Tom and Jerry, selalu meributkan hal yang tak penting. Walaupun Ren tahu, mereka adalah dua sahabat yang saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.
***
Kehidupan di kuil begitu sakral dan damai. Sepi, jauh dari peradaban. Hanya ada satu jalan keluar dan masuk menuju itu. Simbol gaya hidup para biksu yang sudah menjauhkan dirinya dari glamournya kehidupan dunia, dan memilih hidup di jalan cahaya. Mereka menghabiskan waktunya dengan berdoa, merenung, menjalani kehidupan ritual dan isolasi murni.
Pranaja begitu khidmat mengamati gerak-gerik Ren selama di kuil. Gadis itu terlihat begitu menikmati kehidupannya yang baru. Di bawah bimbingan biksu O, Ren semakin matang baik secara mental maunpun visual. Dan Pranaja merasakan perbedan itu. Meski cinta masih begitu dalam bersemayam, tapi keterikatannya terasa semakin longgar. Seringkali Ren kedapatan sedang memandanginya dari jauh dengan derai air mata.
“Ada apa dengan adikmu, Ryong?” ujar Pranaja mengungkapkan kegelisahannya.
Kakak Ren itu hanya menggelengkan kepalanya, karena sebenarnya dia juga merasakan kegelisahan yang sama.
“Aku juga tidak tahu,” sahut Ryong sambil memandang jauh ke arah Ren.
“Apa karena kehadiran pemuda itu?” ujar Pranaja sambil melirik ke arah Min Ho.
Ryong menatap Pranaja sambil mengernyitkan keningnya.
“Apa kau meragukan cinta Ren?” ujarnya.
Pranaja terdiam. Pertanyaan Ryong seperti menohok jantungnya. Lalu berkata lagi.
“Jangan salah paham. Sedikitpun aku tidak meragukan kesetiaannya, aku hanya merasa takut kehilangan dia,” bisik Pranaja lirih, tanpa daya.
Angin berdesir membelai dedaunan yang bergerak gelisah. Menari bersama dalam gerak yang tak beraturan. Suara gesekannya adalah nyanyian rindu dalam ruang yang begitu sempit. Terasa ingin dilampiaskan tetapi tak tahu harus bagaimana melakukannya. Mungkin cinta harus selalu melewati jalan yang penuh dengan duri dan batu – batu tajam. Dan kita tak pernah tahu apa yang akan kita dapat di ujungnya. Hanya harapan yang menghidupkan kehidupan cinta manusia.
__ADS_1