DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 64 BADUT PANTAI EURWANGNI


__ADS_3

EPS 64 BADUT PANTAI EURWANGNI


Lee Min Ho bergerak cepat. Dia mengerahkan segala upaya untuk menemukan kakak kandung Ryung Nae atau Ren, yaitu Ryong Bae. Dari pihak Departemen Dalam Negeri diperoleh keterangan kalau Ryong Bae sudah tidak lagi berada di gedung assimilasi. Dia menolak semua tawaran pekerjaan dan fasilitas lainnya, dan pergi begitu saja dari sana. Alasannya adalah sesuatu yang sangat pribadi.


“Apa kau memiliki foto kakakmu Ren?” tanya Min Ho.


Ren mencopot kalung yang melingkar dilehernya. Lalu dia membuka liontin kecil di ujungnya. Dia memperlihatkan foto Ren dan kakaknya waktu masih anak-anak.


“Hanya ini yang aku punya,” ujar Ren malu-malu.


Rupanya dia khawatir Min Ho akan menertawakannya melihat wajahnya yang masih culun dan menggemaskan itu. Ternyata waktu kecil Ren terlihat sedikit gemuk. Terlihat kedua pipinya yang tambun, lucu sekali. Tapi Min Ho malah melihatnya tanpa berkedip, seperti hendak mengulitinya.


“Hm. Waktu kecil kau juga sudah terlihat cantik Ren,” puji Min Ho, membuat wajah Ren semakin tertunduk malu.


Berbekal foto itu Min Ho membawanya kepada ahli forensic untuk menggambarkan kira-kira wajah anak-anak itu seperti apa di hari tuanya. Ahli forensik itu kemudian membuat sketsa wajah Ren dewasa dari foto saat masih anak-anak. Begitu selesai, ditunjukkannya gambar itu kepada Min Ho. Pemuda tampan itu langsung terkesiap, lukisan wajah Ren betul-betul persis dengan Ren yang sekarang.


“Ren? Luar biasa! It’s amazing! Sketsa


wajahmu benar-benar mirip Ren,” ujar Min Ho tersenyum puas.


Ahli Forensik itu terlihat senang sekali.


“Sekarang gambarkan wajah anak kecil yang satunya.”


“Siap!”


Si ahli forensik kembali menggambarkan sketsa wajah bocah yang satunya. Setelah selesai diberikannya sketsa itu kepada Min Ho. Ketika pemuda itu menunjukkannya kepada Ren, gadis itu malah membelalakkan matanya.


“Kakak? Ini lukisan wajah kakakku. Bagaiman kau bisa mendapatkannya Min Ho?”


Lee Min Ho cuma tersenyum, lalu pergi begitu saja. Menyisakan tanda tanya di hati Ren.


“Nanti kau juga akan tahu,” ujarnya.


Sementara Rich Pranaja, tidak ada yang tahu keberadaannya. Bahkan para pegawai disana belum pernah melihat sosok pemuda misterius itu. Mereka mengatakan Ryong Bae hanya sendirian saat ditemukan pingsan di bibir pantai semenanjung Korea. Namun dari dinas intelijen dia mendapatkan selentingan kabar yang sangat rahasia, kalau sosok Rich Pranaja itu benar-benar ada. Tapi disembunyikan oleh Dinas Rahasia Inggris, M16.


“Informasi Status keberadaannya adalah sebagai Rahasia Negara. Dan bagi siapapun pihak yang membocorkannya akan dikenai sanksi hokum Subversi atau pemberontakan terhadap Negara. Dengan ancaman hukuman mati,” terang Josephine, detektif swasta yang disewanya.


“Kalau Rich Pranaja benar-benar ada, siapa sebenarnya pemuda ini?” ucapnya penuh tanda Tanya.


Dia percaya dengan kata-kata Ren. Bahkan gadis itu mengaku sebagai kekasih Rich Pranaja. Apakah Ren betul-betul mengenal pemuda misterius ini?


“Tenang Bos. Aku berjanji akan terus menyelidikinya,” ucap Josephine.

__ADS_1


Tapi Min Ho menggelengkan kepalanya.


“Untuk sementara hentikan dulu pencarian Rich Pranaja. Fokuslah untuk menemukan Ryong Bae.”


Josephine menganggukkan kepalanya.


“Baiklah Bos. Kalau begitu apakah ada perintah baru?”


“Kerahkan anak buahmu sebanyak-banyaknya. Sebarlah di seluruh kota ini. Akses informasi CCTV dari balai kota. Aku yakin keberadaanya sudah tertangkap kamera.”


“Siap bos. Aku akan segera melaksanakannya.”


Josephine segera menyebarkan orang-orangnya di setiap sudut kota. Terutama di tempat-tempat umum yang biasa ramai dikunjungi orang. Lee Min Ho yakin, Ryong Bae pasti sedang mencari keberadaan adiknya, Ryung Nae. Dan dia akan mengunjungi tempat-tempat yang ramai, karena dia butuh pekerjaan untuk makan.


***


Angin pantai berhembus perlahan di pantai Eurwangni. Membawa titik-titik embun dari permukaan laut ke daratan. Memberi sensasi sejuk pada saat matahari siang memancarkan sinarnya yang terik. Andini baru saja tiba di pantai bersama anak bosnya, Akira. Memakai Pakain pantai bermotif bunga-bunga, gadis itu terlihat cantik dan segar. Bagaikan mawar merah yang tumbuh berkembang di taman hatimu.


“Eh, kakak lihat ada badut!” teriak Akira sambil menunjuk seorang badut yang sedang menari bersama beberapa anak lainnya.


.


Badut berbaju oranye itu bergerak kesana kemari menghibur anak-anak dan para pengasuhnya. Mereka asyik sekali berjoget diiringi suara gendang yang digendong di perutnya dan suara merdu lagu anak-anak yang dinyanyikan si badut. Dia tidak sadar. perutnya yang gembul dan pakaiannya yang sudah kekecilan. Bahkan yang paling lucu tarian si gembul terlihat kaku seolah dia badut yang jarang berjoget.



Akira langsung berlari menghampiri dan berbaur dengan anak-anak lainnya. Sementara Andini malah menengok kesana-kemari, seolah sedang mencari seseorang.



‘Dimana Ryong? Apa hari ini dia tidak kemari?’ batinnya. ‘Ah pasti dia sedang mencari Ren’



Pertanyaan di dalam hatinya dia jawab sediri. Kebiasaan Ryong setiap bangun pagi adalah berjalan menyusuri setiap sudut kota untuk mencari tahu keberadaan adiknya. Setelah lelah dan agak siangan, baru dia pergi ke pantai ini untuk menenangkan pikirannya. Dan selama ini Andini yang selalu menghibur dan menyemangatinya.



‘Semoga hari ini adalah hari keberuntunganmu, Ryong. Sehingga kau bisa bertemu adikmu dan sahabatmu juga,” batinnya lagi.



Lalu gadis itu duduk di bangku panjang sambil mengawasi Akira yang sedang bermain dengan si Gembul, badutnya. Wajahnya terlihat begitu gembira. Kontras dengan wajah Andini yang gelisah. Semakin lama bahkan hatinya semakin gundah. Rupanya ada rindu yang mulai menggumpal memenuhi rongga dadanya. Beberapa kali pandangannya di arahkan ke arah timur, ke arah pintu masuk pantai dimana Ryong biasanya datang.

__ADS_1



‘Apa dia baik-baik saja? Apa sebaiknya aku telpon dia saja ya?”



Andini sudah memegang ponselnya, tapi jari-jemarinya terihat tidak bergerak-gerak. Rasa malu sebagai gadis Indonesia lebih menguasai hatinya. Tidak lazim bagi seorang gadis menelpon seorang laki-laki terlebih dahulu. Akhirnya ponselnya dia masukkan kembali ke dalam tasnya. Lalu dia menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam. Menikmati rasa rindunya yang bergelora selama beberapa saat.



“Kakak!” suara Akira meyadarkannya.


“Ada apa Akira? Apa badut itu sudah pergi?” Tanya Andini.


Bocah sembilan tahun itu menggelengkan kepalanya.


“Belum. Tuh masih disana,” sahutnya sambil menunjuk sang badut yang sedang berjoget.



Andini mengarahkan pandangannya, melihat badut itu masih bernyanyi riang sambil berjoged bersama teman-teman Akira.


“Kenapa kamu berhenti? Kamu lapar?”


Akira meggelengkan kepalanya kembali.


“Tidak kakak. Aku hanya kangen sama kak Ryong.”



Andini tertegun. Ternyata Akira merasakan kerinduan yang sama kepada Ryong.


“Apa kakak membawa ponsel?”


“Tentu saja bawa sayang. Ini hal paling penting dalam hidupku,” ucap Ren. “Memangnya ada apa?”


“Hubungi kak Ryong, minta dia datang kemari”


“Apa?”


Andini terkesiap kaget, tapi wajah Akira terlihat memelas. Lalu dia mengambil kembali handphonenya dan menghubungi Panaja.


__ADS_1


“Hello. Andini’s speaking,” sahutnya.


__ADS_2