DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 51 KELAHIRAN SI BUAH HATI


__ADS_3

EPS 51 KELAHIRAN SI BUAH HATI


Malam yang menggelisahkan. Tiba-tiba saja cuaca berubah. Bulan Purnama yang bersinar terang di malam hari itu mendadak berubah menjadi gelap. Awan hitam nampak menggelayuti langit di atas bukit Kethileng. Angin topan bertiup kencang merobohkan pepohonan. Burung-burung beterbangan kesana kemari seolah kehilangan arah. Binatang-binatang di hutan pun keluar dari sarangnya dan berlari tanpa tujuan.


Rasanya badai yang dahsyat akan menyapu bukit Kethileng dan wilayah sekitarnya, termasuk kawasan Megapolitan yang berada di bawahnya. Semua pekerja merasa ketakutan dan memilih untuk tidak keluar dari basenya masing-masing. Para penjaga keamanan, tentara bayaran yang disewa di kawasan bisnis itu, terlihat bersiaga. Gedung besar kantor Megapolitan City juga nampak limbung karena tanah yang bergetar hebat


Di dasar sendang Kumitir, Ken Darsih yang sedang khusyuk bersemedi pun membuka matanya. Seperti ada yang mengetuk-ngetuk hatinya, memanggil-manggil namanya. Lalu kedua matanya menatap liar alam sekelilingnya. Gelombang air yang kuat membuat makhluk-makhluk penghuni sendang ketakutan. Dinding sendang mulai rontok dan berjatuhan. Bahkan air sendang Kumitir bergolak hebat dan berputar-putar tak tentu arah.



“Miryam,” gumamnya. “Mengapa tiba-tiba aku terhubung dengannya?”



Gadis itu tiba-tiba merasa gelisah. Matanya liar menatap kesana-kemari. Seperti ada yang mengabarkan kepada Ken Darsih bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dengan musuh bebuyutannya itu. Tapi dia tidak tahu apa. Ada kekuatan gaib yang sangat kokoh menyelubungi tubuh Miryam, hingga mata batinnya tak mampu menembusnya.


Kemarahan mulai timbul di dalam hatinya.


Terjadi dilema di dalam hatinya. Niatnya semula ingin menyelesaikan pertapaanya sampai purnama usai dan menunggu Dandung menjemputnya. Tetapi keinginannya juga begitu kuat ingin segera menuntaskan dendamnya dengan perempuan yang memiliki wajah dan tubuh yang mirip dengannya itu. Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, Miryam.


“Walau orang-orang mengatakan kau adalah ibuku, tapi aku tidak akan mengakuinya. Aku hanya berada di dalam rahimmu beberapa hari saja. Ibuku adalah Daningrum,” bisiknya.


Perlahan-lahan tubuhnya keluar dari dalam sendang, dan menyaksikan sendiri permukaan sendang yang bergolak hebat. Pepohonan yang berjatuhan serta beberapa bagian tanah yang mengalami keretakan. Terakhir kali dia melihat alas Kecipir berantakan adalah saat melihat kemarahan ibu angkatnya Nyai Nagabadra saat mengetahui perselingkuhan suaminya.


Ken Darsih semakin penasaran. Akhirnya dia duduk di atas batu besar, lalu memejamkan matanya. Dia ingin bertanya kepada junjungannya, Ratu Pantai Selatan.

__ADS_1


“Apa yang sedang terjadi Nyai Ratu. Mengapa hatiku begitu gelisah?”


“Itulah yang namanya ikatan batin Darsih. Walau kau tidak mengakuinya, tapi kau akan tetap merasakannya.”


“Apa maksudmu?”


“Malam ini adikmu akan lahir ke dunia. Jabang bayi yang terselubung kekuatan Tirtanala, Geni Sawiji, Anugerah Mata Dewa di dalam Rahim ibumu selam limaratus tahun. Calon ksatria pinilih yang akan menjadi musuh kita, bangsa jin dan siluman.”


“Apa?”


Ken Darsih terkejut bukan kepalang. Dia akan memiliki adik baru? Maksudnya Miryam akan memiliki anak? Dan bayi itu sudah dikandungnya selama limaratus tahun? Maksudnya saat mereka masih hidup di Jalatunda?


“Hm, tidak bisa dibiarkan. Aku akan mencegahnya! Terimakasih Nyai Ratu!” ucapnya.


Perlahan dari ujung kepala dan sekujur tubuhnya keluar asap berwarna merah. Asap itu terus mengepul semakin lama semakin tebal. Menyelubungi permukaan bukit Kethileng, sebelum terbang bebas ke angkasa. Bagaikan gugusan awan yang berarak, warna merahnya perlahan menutupi wajah bulan. Meredupkan cahayanya, sehingga landskap bumi berubah menjadi gelap, sementara wajah bulan purnama malam itu menjadi semerah darah.


***


Miryam sedang menantikan kelahiran buah cintanya dengan Santika. Seperti yang diperkirakan oleh Andika, kelahiran jabang bayi di perut Miryam tinggal menunggu harinya. Sudah lebih dari sembilan bulan usia kehamilan Miryam, Dan sekarang sudah menginjak hari yang kelimabelas atau pertengahan bulan. Bertepatan dengan munculnya bulan purnama yang seringkali menampakkan hal-hal mistis.


“Aduh kenapa perutku sakit sekali,” ucap Miryam sambil tersenyum bahagia. “Apa aku akan melahirkan?”



Dia berjalan terhuyung mendekati kotak kaca, dimana jasad Santika suaminya bersemayam dengan tenang. Ah, seandainya kakang Santika mengetahui, buah hati mereka akan lahir, pasti dia sangat bahagia. Ditatapnya wajah suaminya dalam-dalam. Tak terasa kedua matanya kembali berembun.

__ADS_1



“Auwh!” teriaknya sambil reflek memegang perutnya.


Perutnya serasa semakin melilit. Ah, rasanya tidak bisa di tahan lagi. Padahal di gedung tempat dia tinggal tidak ada siapapun. Sejak memeriksanya dua hari yang lau, Andika belum lagi menjenguknya. Sementara santriwati yang merawatnya sedang pulang menengok ibunya yang sakit. Dia menolak saat ditawari pembantu lainnya.


Aku harus kuat, tekadnya. Snyum itu tetap mengembang menghiasi wajahnya yang secantik bidadari. Aku tidak membutuhkan siapapun untuk melahirkan anakku sendiri, batinnya lagi. Ah, dia tahu dia harus berjuang sendiri. Berjuang melahirkan jabang bayi yang dikandungnya disamping jasad suaminya yang terbujur kaku.


“Kakang, hanya kau yang akan menjadi saksi kelahiran anak kita,” ujarnya.


Setelah mencium kening Santika, akhirnya Miryam membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar yang disediakan untuknya. Kedua tangannya berpegang pada kedua sisi ranjang. Lalu di tariknya nafasnya dalam-dalam, setelah itu ditekannya janin yang ada dalam rahimnya. Perlahan jabang bayi di dalam rahimnya bergerak keluar.


“Bismillahirrokhmanirrokhim. Hyang Jagad Dewa Batara, tolonglah aku,” doa Miryam yang keyakinannya masih bercampur-aduk itu.


Detik-detik kelahiran sang buah hati kian mendekat. Miryam mulai merasakan gerakan-gerakan lembut di dalam perutnya. Rupanya si jabang bayi sudah tidak sabar lagi ingin melihat dunia. Gerakannya semakin lama semakin cepat. Kalau ada dukun bayi atau dokter kandungan yang menolongnya pasti akan tahu bayi Miryam adalah manusia yang sangat kuat.


Miryam tidak memperdulikan suasana di dalam kamarnya yang perlahan meredup. Dia juga tidak merasakan ketika hawa dingin yang membekukan tiba-tiba menyergap bumi Ksatryan Santri. Bahkan cahaya bulan purnama yang tadinya terang, tiba-tiba berubah menjadi merah pun dia tidak memperhatikannya. Baginya lebih penting memikirkan kelahiran jabang bayinya daripada hal apapun saat ini.


Di atas pembaringan, Miryam menahan rasa sakitnya. Kedua matanya dipejamkan, lalu dia menggigit bibir bawahnya. Dia harus berjuang sendirian melahirkan sang jabang bayi, hanya dengan suaminya disampingnya. Dia baringkan tubuhnya senyaman mungkin. Sekali lagi ditariknya nafasnya dalam-dalam. Lalu tangannya mencengkeram sisi ranjang sambil menghempaskan nafasnya kuat-kuat.


Hugft!


Oaa..oaa..oaa..!


Jerit tangis bayi itu melengking tinggi memecahkan keheningan malam. Mengusir kembali gugusan awan berwarna merah yang menutupi wajah bulan. Mengembalikan cahayanya yang terang untuk kembali menerangi dunia.

__ADS_1


__ADS_2