EPS 77 PESONA SUBRATA
Seperti ketika kita mencoba menebak arah angin, kita tidak pernah tahu kemana dia akan bertiup. Kecuali kita melihat dedaunan yang merunduk, disitulah kita bisa menebak arahnya. Jadi jangan pernah merasa menang sebelum memastikan bahwa kemenangan betul-betul telah datang kepadamu.
Subrata tiba-tiba berada di atas angin. Dia yang pada awalnya dipandang sebagai pesakitan namun pada akhirnya dia mampu memukul mundur musuh-musuhnya dengan telak, dan memenangkan pertempuran. Marcon yang pada awalnya datang dengan penuh optimism, pada akhirnya harus tertunduk lesu mengakui kehebatan Subrata. Keangkuhannya sebagai CEO muda paling cemerlang, seperti tidak ada artinya di hadapan Subrata.
Bagaimana tidak, diawali dengan hancurnya dua buah satelit besar miliknya, Entah kenapa, tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba ada gugusan asteroid yang sedang lewat menabraknya hingga hancur lebur. Akhirnya operasional Mexocan Viscom Media terhenti. Tanpa satelit, Mexican Viscom Media atau VMV, yang bergerak di bidang telekomunikasi dan digital itu lumpuh. Paling tidak dibutuhkan waktu dua tahun untuk membangun satelit yang baru.
“Mungkin kita bisa menyewa satelit untuk menjalankan perusahaan kita bos, tapi tetap butuh waktu, paling cepat satu minggu,” kata anak buahnya dari balik telepon.
“Oke. Terus lakukan pemantauan dan lakukan yan terbaik untuk MVM!” perintah Marcon.
Tragedi berikutnya adalah terjadinya eksodus beberapa perusahaan besar untuk memasang iklan di perusahaan miliknya ke perusahaan kompetitornya. Seperti bergerak dalam satu garis komando, mereka langsung serentak mengundurkan diri sebagai rekanan bisnisnya dengan alasan tekhnis yang sebenarnya bisa di atasi. Disini Marcon sudah mulai pusing.
Bencana yang ketiga adalah hancurnya harga saham MVM di pasar bursa efek dunia. Perusahaan bernilai sepuluh milyar dolar itu tinggal bernilai separuhnya. Hal yang di luar logika dari Marcon sendiri. Bahkan Susan See, salah satu pengacara terbaik di negeri paman Sam pun mengakui kelihaian dan strategi bisnis Subrata yang di luar teori ekonomi manapun.
Prak!
Marcon langsung membanting ponselnya. Untung ponsel mahal, jadi tidak hancur berantakan. Hanya mental saja ke sana kemari.
“Subrata…!” teriaknya dengan suara keras.
Taipan yang kekayannya menempati posisi empat dunia itu hanya tersenyum.
“Cepat katakan Subrata! Katakan saja apa yang kau mau!” sambung Marcon lagi.
“Aku menginginkan Allpanigard Castle sebagai tambahannya,” sahut Subrata dengan wajah dingin. “Silahkan kalian pikirkan kembali tawaran kalian.”
Tubuh Marcon bergetar hebat, Keringat dingin mengalir begitu deras dari wajah dan ujung rambutnya. Situasi kini berbalik. Marcon yang datang penuh kesombongan, kini di wajahnya terbayang kekalahan dan ketakutan. Meminta MVM dan Alpanigard Castle sebagai kompensasi Megapolitan Intercorp? Subrata benar-benar telah menghimpitnya dengan dua pilihan yang sangat sulit.
“Tunggu!” mendadak Susan berteriak.
__ADS_1
Dia berdiri di depan Marcon, seolah melindunginya dari tatapan Subrata yang mengintimidasi.
“Aku rasa kau terlalu berlebihan Subrata.”
“Apa maksudmu?”
“Mexican Viscom Media ditambah Allpanigard Castle nilainya jauh lebih tinggi dari Megapolianmu, Subrata.”
Subrata mengangkat bahu dan kedua tangannya.
“Kalian sendiri yang datang untuk menawar Megapolitan, setelah aku sebutkan nilainya, kalian malah terkejut dan menuduh aku berlebihan. Sebenarnya kalian punya uang atau tidak?”
Marcon memandang Subrata dengan tatapan marah. Tapi dia sadar, itu adalah hal yang paling mungkin dilakukan saat ini. Mempertahankan MVM yang sudah hancur sama saja tindakan bunuh diri. Lebih baik mengelola Megapolitan yang nilainya sedang naik kembali. Atau paling tidak ada gunung emas yang bisa menyelamatkannya dari kebangkrutan.
“Baik, aku akan membayarnya tapi dengan satu syarat. Kau bisa memiliki Mexican Viscom Media dan Allpanigard Castle, tapi dengan perjanjian, aku bisa membelinya kembali suatu saat nanti,” ujar Marcon Allpanigard.
Hehehe…Subrata tertawa,
***
Akhirnya kebersamaan mereka berakhir di sebuah kamar super mewah di Ritz Carlton Hotel, San Fransisco. Seorang pengawal membukakan pintu dan mempersilahkan Susan untuk masuk ke dalam kamar besar yang dibangun khusus untuk Subrata. Dengan penuh percaya diri, Susan melenggang dan menemui Subrata yang sedang berdiri di atas balkon kamarnya sambil menikmati malam penuh bintang memenuhi langit kota.
“Ada apa kau memanggilku kemari Subrata?” Tanya Susan.
“Berdirilah di sampingku Susan,” sahut Subrata.
Susan melangkah perlahan dan berdiri di samping laki-laki kharismatik itu. Betapa wibawanya sosok Subrata, rasanya tidak ada orang yang mampu menolak perintahnya.
“Lihatlah bintang-bintang yang bertebaran di langit itu. Apa kesanmu?”
Susan memandang dengan takjub. Bahkan dia yang lahir di Amerika jarang sekali menikmati bintang-bintang. Waktunya habis untuk memikirkan pekerjaan.
__ADS_1
“Wow! Indah sekali.”
“Menurut para ahli astronomi, ada sembilan ribu bintang yang dapat dilihat dengan mata telanjang, tanpa bantuan teleskop.”
Susan tersenyum. Di pandangnya wajah Subrata dari samping. Mungkin Subrata adalah laki-laki separuh baya paling tampan yang pernah dia lihat seumur hidupnya.
“Orang-orang mengira, pemandangan bintang-bintang di langit selalu sama setiap malam. Padahal sebenarnya bintang-bintang itu berubah,” ujar Subrata lagi.
Pandangan Susan kembali terpusat pada bintang-bintang. Malam semakin larut dan begitu hening. Mungkin inilah waktu paling indah di kota yang tak pernah tidur.
“Setiap saat lahir bintang-bintang baru, dan bintang-bintang yang telah habis masa edarnya lenyap atau dihapuskan. Dan bintang – bintang yang mati itu akan tersedot ke dalam lubang hitam,” sambung Subrata lagi.
Dan Susan semakin takjub, bukan hanya kepada bintang - bintang, tapi juga pada pesona Subrata.
“Tekanan yang kuat dari putaran ini akan mendorong gas dan partikel gas untuk bersatu dan mengakibatkan ledakan bintang masif yang dikenal sebagai ledakan supernova. Saat terjadi ledakan supernova, materi akan mendapat tekanan yang kuat sehingga terkumpul kembali dan membentuk bintang baru.”
Susan tersenyum tanpa sadar. Lalu kembali memandang wajah Subrata dari samping.
“Apakah maksudmu itu semacam siklus Subrata? Siklus bintang? Atau bahkan siklus kehidupan. Dimana ketika ada yang mati, kemudian juga ada yang dilahirkan?”
Subrata membalikkan tubuhnya, lalu mengulurkan lengannya pada gadis cantik itu.
“Pegang lenganku Susan.”
Susan memegang lengan Subrata dengan sedikit ragu. Lalu mereka berjalan menuju ruang makan yang sangat luas. Subrata mempersilahkan Susan untuk duduk di salah satu kursi, kemudian menuangkan segelas air putih ke dalam dua gelas. Satu diberikannya kepada gadis itu, dan satunya di pegang sendiri. Lalu Subrata duduk di kursi di depan Susan.
“Mari kita bersulang,” kata Subrata.
Setelah bersulang mereka pun minum bersama. Air putih itu terasa sedikit manis dan begitu menyegarkan.
“Ini adalah sarimadu bunga narsis yang dicampur dengan air embun kelopak bunga mawar. Lezat dan sehat.”
__ADS_1
Susan terdiam bahkan tidak bisa berkata-kata. Betapa mahalnya kehidupan Subrata, hanya untuk minumnya saja orang harus mengumpulkan sarimadu bunga narsis dan air embun kelopak bunga mawar? Wow!