EPS 73 CLBK
Sayang, jangan kau cabut kuntum yang sedang tumbuh. Karena dia adalah harapan untuk kehidupan selanjutnya. Jangan kau petik bunga yang sedang mekar. Karena dia sedang menebar kebaikan. Jangan kau matikan api yang sedang menyala, karena dia sedang menerangi kegelapan. Jangan kau abaikan seluruh perhatianku, itu sama saja kau membunuh cinta di dalam hatiku.
Dan siang itu Dandung menghabiskan waktu bersama Ken Darsih. Rasa sayangnya kepada gadis setengah siluman itu yang sempat redup, dengan kehadiran Frida, kini seperti menyala kembali. Gadis polos itu benar-benar menyedot perhatian Dandung. Tawanya yang renyah, ditambah parasnya yang sempurna, membuat Dandung seperti jatuh cinta lagi.
‘Ternyata rasa sayagku masih begitu lekat menjejak di dasar hatiku. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja.’ batinnya.
“Aku minta maaf Ken,” katanya.
“Kenapa?”
“Aku tidak tepat waktu menjemputmu.”
Ken Darsih tertawa kembali.
“Itu bukan salahmu Dandung. Aku sendiri yang memutuskan pergi meninggalkan tempat ini sebelum pertapaanku selesai.”
Dandung terkesiap kaget.
“Apa?”
“Ya. Aku yang memutuskan pergi sebelum pertapaanku selesai. Tentu saja kau tidak menemukan aku saat kau tiba disini.”
“Ja..jadi kau tidak marah padaku?”
Ken Darsih menggeleng cepat. Dandung menghela nafas lega. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya, kalau gadis setengah siluman ini benar-benar marah.
“Ah, sudahlah. Ayo kita bermain lagi,” ujar Ken Darsih. “Kali ini aku akan menghiburmu.”
Dandung belum sempat mengiyakan, namun Ken Darsih sudah berlalu. Tubuhnya melayang ringan ke atas batu besar itu. Dandung diam saja. Dia malah duduk bersandar pada batang pohon besar, melihat saja apa yang akan dilakukan Ken Darsih. Diamatinya gadis bidadari itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hm, kecantikan yang sempurna.
Ken Darsih berdiri tegak ditengah batu besar itu. Seperti sosok makhluk yang tak bernyawa, tubuhnya diam membeku tanpa kata-kata. Matanya terpejam, kedua tangannya disilangkan di depan dada dan mulutnya terkatup rapat. Buah dadanya yang bulat penuh, perlahan bergerak naik turun secara teratur, memperlihatkan kalau masih ada kehidupan di dalam raganya
Wuss…Lalu datanglah angin kering berkesiur lembut menerbangkan sebagian anak rambutnya. Menyiramkan debu ke sekujur tubuhnya, yang halus dan putih bening. Menerbangkan anak-anak rambutnya yang bergoyang ke segala arah. Membuat Dandung semakin terpesona dibuatnya. Rambutnya hitam bergelombang, wajahnya halus sebening batu pualam dan hidungnya lancip seperti sudut bintang.
__ADS_1
Pelan-pelan, Ken Darsih mencabut seruling yang terselip di pinggangnya, lalu diletakkan di depan mulutnya. Semua mata terpana. Semua hati larut dalam diam menunggu.
“Tutuiiiit tutuiiit tuuut. Tutuuuuuuuut tuiit tuuuut tuiiiiiiit”.
Suara seruling terdengar lembut mengalun memecah keheningan. Menghadirkan pesona yang menggetarkan hati. Dandung pun langsung larut dalam iramanya.
“Tut..tut..tut! Tut tut tut ttuit tut!”
Sejenak kemudian, gadis itu merubah iramanya dengan nada yang lebih cepat. Kaki kirinya pun bergerak menghentak tanah. Membunyikan lonceng-lonceng kecil yang melingkar di kakinya. Menggerakkan tubuhnya dalam sebuah tarian yang terdengar rancak sekaligus menggoda. Mata Dandungpun membulat sempurna dalam sorot penuh kekaguman.
Cling! Cling cling cling! Tuttuttut! Tuttuttut! Tututituiit!
Ken Darsih mulai melenggak-lenggokkan tubuhnya layaknya seorang penari. Gerakannya rancak dan bertenaga, seirama suara seruling. Menggoyangkan dedaunan menaklukkan selaksa angin untuk ikut bergoyang bersama. Tanpa sadar Dandung pun menggoyangkan kepalanya dan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.
Cukup lama gadis itu menari. Kardigan putihnya bahkan sudah basah bermandi keringat. Menjelang puncak matahri, gadis itu tiba-tiba menghentikan gerakan tubuhnya. Lalu melayang turun kembali menghampiri tubuh Dandung.
“Kenapa berhenti Ken?” tanya Dandung.
“Aku ingin mengajakmu menari,” sahut gadis itu singkat.
Dandung menggelengkan kepalanya.
“Tdak. Aku tidak bisa menari.”
Tapi Ken Darsih mengabaikan penolakan pemuda itu. Dia memegang erat wajah Dandung, lalu menatap jauh ke manik matanya dalam-dalam. Lalu memerintahkan jin penari untuk masuk ke dalam tubuhnya.
Ken Darsih menggamit lengan atas Dandung, lalu melemparkannya ke udara. Berbarengan dengan itu tubuhnya melesat tinggi, lalu turun kembali dan mendarat dengan sempurna di atas batu besar. Lalu menyusul tubuh Dadung meluncur deras ke arah batu itu. Namun dengan sigap, Ken Darsih menangkapnya dan mendirikannya kembali.
“Ikuti gerakanku Dandung,” ujarnya sambil mencabut serulingnya kembali.
“Tututut tuiiit tuituiiit tututtuit tutuiiiiit……”
Lalu kedua kakinya mulai digerakkan, membunyikan suara lonceng-lonceng kecil di kakinya. Goyangan tubuhnya begitu gemulai, menebarkan pesona siapapun yang melihatnya.
Cling! Cling cling cling! Tuttuttut! Tuttuttut! Tututituiit!
Suara lonceng-lonceng kecil di sekitar kakinya, berpadu dengan suara seruling membuat suasanya menjadi lebih hangat. Di atas batu besar itu, Dandung mulai ikut menari, seperti terbius suara seruling itu kembali. Tanpa sadar dia mengikuti setiap gerakan si gadis penari. Ken Darsih tersenyum lebar. Melihat tubuh Dandung melenggok seperti gerakannya, membuat hatinya begitu gembira.
***
“Maaf Ken, apa kau tidak ingin pulang?” tanya Dandung.
Tubuhnya menggelosoh kelelahan di atas batu besar. Dia membuka bajunya, mempertontonkan lekuk tubuhnya yang padat berotot. Perutnya yang sixpack dengan tonjolan-tonjolan seperti roti sobek adalah pemandangan yang memanjakan mata bagi para wanita pemburu cinta. Tapi Ken Darsih sama sekali tak tertarik melihatnya.
“Pulang kemana?” Ken Darsih balik bertanya dengan wajah heran.
Dandung terdiam sesaat, lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Tapi aku bertemu denganmu pertama kalinya di Jakarta.”
“Dandung, inilah rumahku. Tempat tinggalku yang sebenarnya. Di tempat yang sejuk dan damai inilah aku tumbuh dari kecil hingga sebesar sekarang.”
Dandung mengaggukkan kepalanya. Ah, terlalu rumit memahami gadis setengah siluman ini. Lebih baik dia mengiyakan saja semua ceritanya, walaupun semua berada di luar daya nalarnya.
“Maukah kau ikut denganku dan hidup bersamaku?” tanya Dandung pelan-pelan.
Tak disangka, gadis itu malah mengangguk cepat.
“Tentu saja aku mau.”
Dandung langsung terkesima. Jiwanya bersorak, seperti mendapatkan durian runtuh.
“Tapi tidak sekarang,” sambung gadis itu lagi.
Dandung terdiam tanpa reaksi. Namun wajahnya terlihat sedikit tegang.
“Kenapa Ken?”
“Ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Pulanglah kau ke rumahmu, nanti aku akan meyusulmu.”
Dandung terdiam lagi. Lalu keningnya mengernyit seperti teringat sesuatu.
“Apakah itu ada hubungannya dengan keputusanmu untuk pergi sebelum menyelesaikan pertapaanmu?”
Ken Darsih menganggukkan kepalanya.
“Pada malam purnama terakhir, saat aku harusnya menyempurnakan pertapaanku, Miryam melahirkan anaknya.”
“Miryam? Miryam musuh bebuyutanmu?”
“Ya. Dan jabang bayinya itu juga punya kekuatan yang sangat hebat. Makanya aku harus membunuh keduanya sebelum membuat masalah di kemudian hari.”
Dandung menatap mata gadis pujaannya dalam-dalam. Mengapa dendam senantiasa menggelayuti hati manusia yang seharusnya penuh dengan cinta?
“Siapa yang memberitahumu kalau Miryam telah melahirkan seorang anak?”
“Kanjeng Ratu Laut Kidul, Ratu Pantai Selatan.”
__ADS_1