DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 151 END OF LOVE STORIES


__ADS_3

EPS 151 END OF LOVE STORIES


( T A M A T )


Bumi temaram di bawah langit malam. Bulan yang tidak muncul semakin mengokohkan keberadaan bintang-bintang. Sinar mereka yang berkelap-kelip bagaiman batu-batu permata yang di gelar di atas kain berwarna hitam. Begitu indah dan menakjubkan. Menggetarkan setiap hati untuk memberi pujian kepada Sang Pemilik Kehidupan yang Hakiki.



Tubuh Santika nampak damai bersemayam di dalam kotak kaca. Layaknya orang tidur berselimut mimpi indah, dinyanyikan lagu-lagu merdu oleh para bidadari syurga yang selama ini masih menunggu kehadirannya. Mungkinkah ada batas ketika sesuatu yang pasti ternyata bisa terbantahkan? Seperti sebuah anomali, ketika orang yang sudah mati tak mungkin bisa hidup kembali, lalu Tuhan menghendaki cerita yang berbeda?



Miryam memejamkan matanya. Dia tidak ingin merasa sakit hati untuk kesekian kalinya. Tentu saja dia tidak merasa yakin, Pranaja bisa menghidupkan kembali suaminya yang sudah mati selama limaratus tahun lebih. Namun di dalam sudut hatinya, dia masih meminta, takdir merubah jalan hidupnya. Di dunia yang terus berputar, kita tidak mengharapkan keabadian, tapi setidaknya kita bisa mendapatan keajaiban.



Pranaja melepaskan kalung yang diujungnya ada liontin Batu Naga Permata Biru. Menurut pesan Shamtek Yang Agung, permata mustika itu bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Dan Pranaja ingin memberika kesempatan itu kepada eyang Santika, agar dia bisa membahagiakan hati eyang Miryam. Lalu kalung permata itu diletakkan diatas jantung Santika yang berdegup kencang.



Dan keajaiban itu terjadi begitu cepat. Terlihat dengan jelas, batu permata biru yang berasal dari sisik Naga penjaga bumi itu merasuk ke dalam tubuh Santika. Menembus kulit dadanya, lalu bersemayam di dalam jantungnya, tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Dan sesaat kemudian, mendadak mata Santika terbuka. Seperti orang yang kaget saat tidur, dia langsung duduk terjaga dan memanggil nama isterinya.



“Miryam!”teriaknya.



Semua orang terkesiap kaget. Namun mereka hanya terdiam dan memandang dengan takjub, seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Subhanalloh,” gumam Kyai Badrussalam.


“Oh, Hyang Jagad Batara, keajaiban apalagi yang hendak kau tunjukkan kepadaku?” bisik Panembahan Mbah Iro.



“Ka..kakang Santika?” batin Miryam.


Bibirnya bergetar namun tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Tatapannya begitu sayu, menahan kerinduan yang begitu menggumpal. Perlahan air matanya menetes tanpa dia sadari.


“Miryam!” Santika kembali memanggil namanya.


Dan kali ini, Miryam tak kuasa lagi menahan hatinya. Dia segera berlari menghambur ke arah tubuh Santika.



“Brug!”\


Dihempaskannya tubuh indahnya di atas suaminya, lalu dipeluknya dengan erat.


“Miryam?”


“Iya kakang. Ini aku sudah datang.”


Wajah Santika terlihat bingung.


“Isteriku, darimana saja kau? Eyang Senthur sudah meninggal. Kita harus segera mengadakan upacara suci untuknya.”



Miryam terdiam sambil memeluk Santika. Hatinya bergetar karena rasa bahagia melihat suaminya benar-benar hidup kembali.


“Miryam, darimana saja kau. Tadi…”


Ucapan Santika terhenti. Tatapan matanya terpaku pada sosok Ken Darsih, gadis yang wajahnya persis sama dengan isterinya.


__ADS_1


“Kau? Siapa kau?”


Santika ingat kalau Ken Darsih telah melukai dadanya dengan cakarnya yang beracun. Perlahan dia meraba kulit dadanya. Tapi tidak ada rasa sakit atau luka. Semua biasa saja. Miryam melepas pelukannya, lalu menatap wajah Santika dalam-dalam.



“Semuanya baik-baik saja kakang. Percayalah padaku,” katanya. “Aku akan menceriterakan semuanya kepadamu.”


Santika membalas tatapan mata Miryam. Dia merasakan kebahagian tengah menyelimuti hati isterinya. Dan dia tidak mau merusaknya.


“Ya, sayang. Aku percaya kepadamu.”



Miryam memeluk kembali tubuh suaminya. Menumpahkan segala rasa dan kerinduan. Akh, ternyata perjuanganku ada ujungnya. Garis takdir sesungguhnya tidak kejam, dia hanya memberi pembelajaran, agar kita tahu apa artinya bahagia.


***


Miryam pun menceriterakan semuanya. Tentang jenazah Eyang Senthir yang sudah dikremasi dengan upacara suci, tentang Ken Darsih, Arya Janu dan kenapa mereka bisa berada di tempat dan waktu yang berbeda. Dan Santika bisa menerima semuanya. Wajahnya juga terlihat bahagia. Semua karena mereka menghayati cinta sebagai anugerah. Cinta membuat segala sesuatunya menjadi lebih mudah.



“Ken Darsih, kemarilah. Beri salam pada romomu,” ujar Miryam.


Ken Darsih melangkah ragu. Dia sadar dialah yang telah membunuh Santika. Tapi Santika malah tersenyum ramah. Dia menyambut uluran tangan gadis itu.



“Salam paman,” ujarnya.


Santika tersenyum.


“Paman? Aku adalah suami ibumu. Itu artinya aku adalah ayahmu juga.”


“Panggil romo kepada ayahmu,” sambung Miryam.


Santika malah memeluk Ken Darsih dengan lembut dan mencium keningnya.


“Kau secantik ibumu.”



Tangan kananya merengkuh tubuh Miryam yang sedang menggendong Arya Janu.


“Kita semua adalah keluarga. Aku ingin kembali membangun desa Jalatunda, sesuai pesan eyang Senthir,” katanya.


Miryam terdiam. Ah, kakang Santika belum menyadari kalau mereka sekarang ada di masa limaratus tahun dari jaman mereka.



“Maafkan aku eyang. Apakah ada keinginan lain yang hendak eyang wujudkan?” tanya Pranaja tiba-tiba.


Santika menatap tajam tubuh Pranaja. Miryam menganggukkan kepalanya.


“Iya Pranaja. Kakang Santika dan aku ingin pulang kembali ke Jalatunda.”


Pranaja tercengang.


“Maksudnya eyang ingin kembali ke tahun 1515?”


“Iya. Apakah kau bisa membantu Pranaja?”



Pranaja terdiam, berpikir sejenak. Itu berarti dia harus membuka pintu portal untuk menembus waktu kembali ke masa limaratus tahun yang lalu. Untuk itu dia membutuhkan Pedang Naga, yang bisa mengarahkan pintu portal. Sayang pedang keramat itu menghilang, begitu dia berpisah dengan Shamtek Yang Agung.


__ADS_1


“Maaf eyang, kali ini aku tidak bisa meno..”


Klotak..klotak..klotak…!



Belum selesai berbicara, tiba-tiba terdengar kotak senjatanya berbunyi gaduh. Pranaja segera memeriksanya, dan dia kaget dengan apa yang dilihatnya. Pedang Naga!


“Apa maksudmu Pranaja? Kau tidak bisa menolongku?” Miryam mengulangi permintannya.


Pranaja menggeleng cepat.


“Tidak eyang, tentu saja aku akan membantumu,” katanya dengan senyum gembira.


Mata Miryam membulat sempurna.


“Benarkah?”


Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Kita akan melakukannya nanti malam, di saat bulan Purnama, di tempat pohon Cinta tumbuh.”



Miryam mengangguk setuju. Demikian juga Kyai Badrussalam dan Panembahan Mbah Iro. Dan sekarang mereka harus mempersiapkan segalanya.


***


Malam itu purnama muncul kembali. Tubuhnya menggantung gagah dalam bentuknya yang bulat sempurna di langit yang hitam. Tudak ada lainya kecuali sang raja Surya.



“Aku akan memasukkan kalian ke dalam peti batu. Setelah itu, aku tinggal melemparnya melewati pintu portal,” jelas Pranaja.



Miryam menganggukkan kepalanya. Dia sudah memasrahkan semuanya kepad pemuda itu. Mereka semua berada di hadapan pohon Cinta, dikelilingi oleh Kyai Badrussalam. Panembahan Mbah Iro, Raden Mas Parto, serta beberapa pasang sejoli yang sedang hangat cintanya. Subrata dengan Vania, Marcon Allpanigard dengan Susan See, Andika dengan Fitri Ray, serta Anastasia Pramono yang datang bersama Pranaja.



Satu persatu Santika dan anggota keluarganya masuk dan membaringkan tubuh di dalamnya. Disamping Santika adalah Miryam, kemudian Ken Darsih dan terakhir adalah Arya Janu. Perlahan Pranaja menutup Peti batu itu dengan rapat. Diikatnya dengan tali yang cukup kuat. Setelah itu di mengambill pedang Naga.



“Hiyaa!”



Pranaja berteriak sambil mengangkat ujung pedang Naganya ke angkasa. Sinar putih yang sangat menyilaukan terpancar deras membelah langit. Menciptakan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Gumpalan awan hitam berarak menutupi bumi.



Jleger! Jleger!


Langit semakin gelap tertutup awan gelap. Matahari, bulan dan bintang-bintang tertutup uap air berwarna putih tipis sekali. Gumpalan uap es seperti kapas putih itu berkumpul dan mulai berputar, semakin lama semakin cepat. Angin bertiup diikuti suara bergemuruh yang amat dahsyat. Lalu pusat putaran itu perlahan terbuka, membentuk sebuah lorong yang amat panjanG. Menembus waktu kembali ke Jalatunda di tahun 1515.


“Hiyaa!” teriak Pranaja sekali lagi.


Tangan kirinya memegang peti batu itu. Lalu dengan kekuatan yang luar biasa, dilemparkannya peti batu itu melewati pintu portal. Peti batu itu melayang tinggi, melesat menembus waktu kembali ke tanah kelahiran tercinta.


Wush!


Pranaja melemparkan pedang Naga itu ke pintu portal juga. Pedagang pembuka lorong waktu itu melesat menuju pintu portal. Semakin mendekati lorong waktu, pedang Naga yang di pegangnya mulai terikis menjadi serpihan debu. Pranaja mundur ke belakang, menggenggam tangan Anastasia. Lalu wajah mereka menengadah ke atas, diikuti wajah-wajah lainnya, sampai pintu portal itu menutup kembali.


“Semoga kau medapatkan kebahagiaanmu Eyang Miryam!” teriaknya.


Dengan cepat pintu portal itu menutup kembali. Gumpalan awan yang berputar-putar juga menghilang. Berganti sinar bulan yang terang, memayungi tubuh-tubuh yang sedang dilanda bahagia. Begitulah kehidupan, setelah berbagai tragedy dan ujian maka kita akan berakhir dengan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2