DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 20 AWAL DENDAM


__ADS_3

EPS 20 AWAL DENDAM


Suara itu begitu akrab terdengar di telinga Ken Darsih. Suara yang sangat dirindukannya, lebih dari limaratus tahun yang lalu. Suara lembut yang selalu menemaninya dengan dongeng-dongeng sebelum tidur. Lalu menyelimuti tubuhnya dengan doa-doa saat matanya mulai terpejam. Suara yang selalu berhasil mendinginkan rasa amarah yang memanaskan hatinya, dan melarangnya melakukan perbuatan yang tidak baik.


“Jangan kau lakukan itu Ken Darsih!”


“Ibu?”


Ken Darsih langsung membalikkan tubuhnya. Dia langsung mengurungkan niatnya. Tidak mungkin dia membunuh seseorang di depan ibunya sendiri.


“Ibu?” ucap gadis setengah siluman itu sekali lagi.


Sekejap pandangannya seperti terkesima. Dia melihat ibunya sudah duduk di atas kursi kencana. Walau terlihat lemah, dan tak bertenaga, tetapi Daningrum berusaha keras agar dia terlihat baik-baik saja. Dia memang sudah tidak mengenali lagi wujud puterinya yang berubah secantik bidadari. Namun ikatan batin dan nalurinya sebagai ibu membuatnya merasa perlu meluruskan kesalahpahaman Ken Darsih.


“Heya!”


Tubuh Ken Darsih melesat kembali ke arah ibunya. Dengan berjongkok dia menopang tubuh ibunya agar tidak jatuh ke lantai.


“Apa yang kau lakukan ibu? Kau bisa membuat lukamu bertambah parah,” ujarnya.


Daningrum menggelengkan kepalanya.


“Tidak Darsih. Kau tidak boleh membunuh tanpa alasan dan bukti yang jelas.”


“A..apa maksudmu ibu?”


“Dewi Suryakanti tidak bertanggung jawab atas semua siksaan yang aku alami. Karena apa yang terjadi padaku saat ini adalah buah dari kesalahanku sendiri.”


Ken Darsih diam terpaku. Matanya memandang wajah ibunya dalam-dalam.


“Aku mempunyai dendam dengan seseorang yang sangat sakti. Demi mengalahkannya aku dan suamiku berguru pada seseorang yang tak kalah saktinya. Setelah dirasa cukup, kami kembali menemuinya. Terjadi pertarungan hebat, tapi kami berhasil di kalahkannya.”


“Siapa nama lelaki itu ibu? Biar aku yang akan ********** hingga hilang tak berbekas,” sahut Ken Darsih.


“Namanya Panembahan Somantara, penguasa tanah perdikan Somawangi. Orang–orang lebih suka memanggilnya panembahan Somawangi.”


Ken Darsih mengernyitkan keningnya. Panembahan Somawangi? pikirnya.


“Apa yang telah dia lakukan sehingga ibu begitu dendam kepadanya?”

__ADS_1


Daningrum memejamkan matanya, mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan awal dia begitu benci dan menaruh dendam kepada Somawangi.


***


FLASHBACK ON …...


Kehidupan memang penuh dengan misteri. Seperti malam yang hitam, kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di dalam kegelapannya. Jogoboyo diam membeku. Dia masih tak percaya dengan penjelasan Acarya.


Puterinya telah diperkosa makhluk gaib? Makhluk gaib macam apa yang telah memperkosa puterinya? Jogoboyo tertelungkup di meja altar menutupi wajahnya.


“Apakah keadaannya mengkhawatirkan Eyang?” tanya ki Lurah.


Eyang Senthir tidak langsung menjawab pertanyaan lurah Rekso. Dia malah menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya nampak begitu gelap.


“Ada apa Acarya?” tanya ki Lurah. “Ada hal yang terlalu berat untuk disampaikan?”


“Ya “ jawab Eyang pendek. Kali ini dia mengangguk-anggukan kepalanya “Air kehidupan yang masuk ke dalam rahim puterimu sangat kuat. Aku bahkan sudah mendengar detak jantungnya.”


“Apa!!?” teriak ki Jogo dan ki Rekso hampir berbarengan.


“Apa maksudmu Acarya?” desak ki Jogo.


“Di dalam rahim puterimu, ada janin yang hidup dan berkembang.”


Tentu saja ki Lurah dan ki Jogo terkejut bukan kepalang. Bagaiman mungkin hubungan yang baru terjadi dua hari langsung menjadi janin? Mereka bahkan tak mampu berkata-kata. Tenggorokan mereka seperti tercekat.


“Rahasiakan kehamilan ini. Hanya kita bertiga yang tahu, bahkan Miryam juga belum mengetahuinya. Dia masih belum sadar dari pingsannya,” ujar Eyang.


“Tidaak!!” ki Jogoboyo berteriak keras sekali, penuh kemarahan.


Kepalanya serasa ditimpa besi baja yang berat. Darahnya naik ke ubun-ubunnya.


‘Puteriku mengandung anak siluman?’ batinnya. ‘Tidak bisa dibiarkan.’


Lalu dia duduk bersimpuh di hadapan Acarya.


“Aku mohon kepadamu Acarya, gugurkan janin itu, sebelum puteriku menyadarinya,” suara Jogoboyo begitu menghiba.


Tapi Acarya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Tidak Jogoboyo. Janin yang dikandung puterimu adalah manusia setengah siluman. Dia tidak mengenal takdir kematian.”


“Maksudmu janin itu tidak bisa mati?” tanya lurah Rekso.


“Bagi manusia setengah siluman, kematian adalah pilihan. Bila dia memilih menjadi manusia, maka dia kan mengalami penuaan dan kemudian mati. Tapi bila dia tetap memilih menjadi siluman, maka hidupnya akan abadi,” jelas Eyang Senthir panjang lebar.


Di depan Eyang Senthir dan lurah Rekso, ki Jogoboyo menangis sesenggukan. Lelaki perkasa itu tidak mampu menahan luka hatinya. Kedua tangannya yang kekar memukul-mukul batu besar di hadapannya.


Dug! Dug! Dug!


Rupanya keributan itu didengar oleh Glagah Jenar, putera Panembahan Somantara penguasa tanh perdikan Somawang dari dalam biliknya. Dia memang sedang di rawat oleh Eyang Senthir di sanggar Pamujan karena luka-lukanya. Merasa terganggu tidurnya, putera satu-satunya penguasa Somawangi itu mengumpat dan mencaci maki kembali.


“Hai anjing-anjing Jalatunda! Berisik! Kalian mengganggu tidurku!” teriak Glagah Jenar lagi.


Mendengar caci maki yang keluar dari mulut Glagah Jenar, ki Jogoboyo tersulut kemarahannya. Tubuhnya langsung melenting ke bilik Glagah Jenar dengan keris terhunus.


“Dasar mulut comberan! Kau pikir aku tidak bisa membunuhmu!” teriaknya.


Rupanya dia tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Penyesalan yang begitu dalam membuatnya dia marah kepada dirinya sendiri. Dia yang telah meninggalkan puterinya sendirian di rumah, sehingga mengalami peristiwa memilukan ini.


Dan kata-kata kasar Glagah Jenar telah membuatnya gelap mata. Tanpa bisa dicegah, dia menghujamkan keris itu ke tubuh Glagah Jenar berkali-kali. Darahpun menyembur dari muluthnya. Suara teriakan kesakitan terdengar setiap kali keris itu menusuk tubuhnya. Sampai suara itu hilang, Jogoboyo masih menghujamkan kerisnya berkali-kali. Ya, Glagah Jenar mati seketika. Disaksikan langsung Lurah Reksoyudho dan Eyang Senthir di Sanggar Pamujan. Dengan tubuh berlubang disana sini!


***


Berita tewasnya Glagah Jenar putera Panembahan Somawangi menggegerkan Jalatunda. Menyebar dengan cepat seperti debu yang terbawa angin kemana-mana hingga sampai ke telinga sang Panembahan. Betapa murkanya penguasa tanah perdikan Somawangi ini.


Dia bersumpah akan menuntut balas kematian puteranya. Dengan membawa pasukan khusus pengawal tanah perdikan Somawangi, dia berangkat menuju Jalatunda.


Setelah membunuh Lurah Jalatunda Ki Reksoyudho dan Kepala Keamanan Jalatunda, Panembahan Somawangi langsung pergi ke Sanggar Pamujan tenpat puteranya disemayamkan. Kedatangannya ke Sanggar Pamujan berselisih jalan dengan Eyang Senthir yang sedang menuju Dalem Kelurahan.


Ketiga cantrik yang menjaga Sanggar Pamujan: Tusin, Gutun dan Daningrum terkejut dengan kedatangan tamu tak diundang. Panembahan Somawangi menotok jalan darahnya. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Tubuh mereka seperti lumpuh dan membeku tidak bisa merasakan apapun. Bahkan Daningrum langsung pingsan.


“Dimana puteraku?” tanya Panembahan kepada Gutun penjaga gerbang.


Gutun yang masih sadar hanya mengerlingkan matanya, karena lehernya tidak bisa digerakkan. Panembahan masuk ke bilik dimana mayat Glagah Jenar berada. Dipandanginya tubuh puteranya dengan rasa iba. Tubuhnya penuh dengan luka tusukan. Lalu diangkatnya jazad itu ke pundak kanannya.


Saat melewati bilik Miryam, dia terkejut.


Panembahan menangkap cahaya kecantikan yang terpancar, yang tiba-tiba membuat jantungnya berdegup kencang. Sesaat dia berdiri terpana di depan pintu bilik. Kecantikan gadis itu begitu mempesona. Kemarahan di hatinya mendadak sirna.

__ADS_1


Rupanya Panembahan sedang merasa jatuh cinta pada pandangan pertama.


__ADS_2