EPS 24 PEMILIK TIRTANALA LAINNYA
Malam itu bulan tidak muncul di atas Megapolitan. Bintang bertaburan dilangit yang begitu jernih tanpa awan sedikitpun. Ketidakmunculan bulan membuat cahaya bintang begitu kentara. Berkelap-kelip bagaikan jutaan butir berlian yang ditebar diatas kain hitam. Indah sekali, Mengisi ruang kekaguman di hati Pranaja dan Panembahan Mbah Iro.
“Eh, ngomong-ngomong, ada apa kakek mengunjungiku malam ini?” tanya Pranaja memecah suasana.
“Ap..apa?” sahut Panembahan Mbah Iro seperti tergagap.
Tapi kemudian Pemimpin Besar Trah Somawangi itu tersenyum. Gara-gara pohon itu hampir saja dia terlupa tujuannya datang menemui Pranaja.
“Oh ya, aku mendapat wangsit dari Begawan Wanayasa untuk membawamu ke puncak gunung mati. Tubuhmu akan di rendam dalam telaga berisi air panas yang disebut Sendang Edi Peni. Kau akan di rendam selama tujuh hari tujuh malam.”
Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Apakah harus selama itu kakek?”
Panembahan menganggukkan kepalanya.
“Apakah kau keberatan?”
Pranaja menggeleng cepat.
“Tentu saja tidak.”
“Kalau begitu kita berangkat sekarang.”
Pemuda berwajah imut itu menganggukkan kepalanya. Siap mengikuti kakek buyutnya itu kemanapun dia pergi. Apalagi tugas-tugasnya di Megapolitan sudah selesai. Panembahan Mbah Iro menggandeng tangan Pranaja. Namun baru saja mereka melangkah, tiba-tiba terdengar teriakan menggema.
“Tunggu! Jangan pergi dulu pemilik kekuatan Tirtanala!”
Satu bayangan putih berkelebat, lalu berdiri tegak menghadang langkah mereka. Di hadapannya muncul sosok kyai Badrussalam yang tegak berdiri menghadang langkah mereka. Berpakaian serba putih dengan sorban yang melingkar di lehernya Kyai Badrussalam menatap lembut Panembahan dan Pranaja. Namun mereka jelas dapat merasakan ada kekuatan tak terlihat yang sangat kuat menahan langkah mereka.
“Salam. Maafkan karena aku telah mengganggu perjalanan kalian, kisanak,” ujar sang Kyai sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
“Salam. Apakah ada yang ingin disampaikan kepada kami, saudaraku?” sahut Panembahan Mbah Iro.
Pranaja menatap heran laki-laki tua berwajah teduh itu.
“Dan darimana kau mengetahui kekuatan Tirtanala, orang tua.”
Panembahan Mbah Iro menggamit lengan Pranaja, agar pemuda itu menjaga ucapannya. Dia tahu, sosok yang menghadang mereka bukan orang sembarangan.
“Maafkan kata-kata cucuku. Bukan maksudnya menyinggung perasaanmu.”
Kyai Badrussalam masih tersenyum.
__ADS_1
“Tidak apa-apa kisanak. Aku bisa memahaminya.”
“Sekarang sampaikan saja apa maksudmu menghalangi jalan kami orang tua,” sahut Pranaja lagi. “Dan kau juga belum menjawab pertanyaanku tadi.”
Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya. Benar dugaannya, kekuatan Tirtanala tadi di hembuskan oleh seorang pendekar muda. Makanya terasa lebih menghentak dan bersemangat.
“Aku hanya ingin memastikan siapa pemilik kekuatan Tirtanala yang kurasakan malam ini, tidak seperti yang pernah kurasakan sebelumnya,” ujar Kyai Badrussalam.
Panembahan Mbah Iro dan Pranaja saling berpandangan.
‘Orang asing itu pernah merasakan kekuatan Tirtanala sebelumnya?’
Rasa penasaran langsung terbayang di wajah mereka. Kata-kata orang tua yang tidak mereka kenal itu membuat mereka mengurungkan niatnya untuk pergi secepatnya dari tempat itu. Jangan-jangan ada keturunan Panembahan Somawangi yang terecer tanpa mereka ketahui. Dan dia menguasai kekuatan Tirtanala.
“Apa maksudmu saudaraku. Apakah ada orang lain yang memiliki kekuatan Tirtanala dan kau mengenalnya?”
“Cepat katakan orang tua, siapa yang memiliki kekuatan Tirtanala selain aku?” sambung Pranaja.
“Dia adalah pemilik pohon abadi yang ada di belakang kalian,” sahut Kyai Badrussalam.
Wajah Pranaja terkesiap kaget, dia justru semakin penasaran begitu mendengar kata-kata kyai Badrussalam. Ini menjawab pertanyaan kenapa pohon ajaib itu diselimuti kekuatan Tirtanala. Tapi siapa orangnya? Batinnya.
Sementara Panembahan hanya menatap sang kyai dengan wajah datar. Walau dia tahu, orang tua di depannya itu tidak sedang berdusta.
Kyai Badrussalam menganggukkan kepala sambil menangkupkan kedua tangannya. Kemudian berjalan perlahan ke arah batu besar dan duduk menyilangkan kaki di atasnya. Di susul Pranaja dan Panembahan Mbah Iro.
“Perkenalkan namaku adalah Badrussalam. Orang-orang memanggilku Kyai Badrussalam. Aku adalah pemilik pesantren yang letaknya jauh dari Megapolitan.”
“Namaku Iro, lurah padukuhan Somawangi. Letaknya tidak begitu jauh dari sini. Dan ini adalah cucuku. Namanya Pranaja, dialah pemilik kekuatan Tirtanala yang kau maksud.”
Pranaja menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Assalamu’alaikum. Salam hormat saya, kyai Badrussalam. Memang akulah yang tadi telah menggunakan kekuatan Tirtanala.”
Kyai Badrussalam tersenyum sambil menatap tubuh Pranaja dari atas sampai ke bawah. Mata batinnya yang tajam dapat melihat kalau Pranaja bukanlah manusia biasa. Struktur tulang dan urat-urat tubuhnya terbentuk sempurna. Dan aliran darah di tubuhnya berbeda karena dapat menyimpan udara yang lebih banyak daripada manusia normal pada umumnya.
“Kau pasti memiliki kekuatan yang mengagumkan anak muda. Aku dapat merasakannya,” sahut Kyai Badrussalam. “Kau bahkan memiliki kekuatan sang Raja Surya.”
Tanpa sadar mulut Pranaja berdecak kagum. Luar biasa penglihatan kyai Badrussalam, puji Pranaja dalam hatinya. Bahkan dia tahu kalau aku memiliki kekuatan yang bersumber dari ernergi matahari. Dan dia yakin kyai berwajah teduh itu pasti mengetahui kalau dia memiliki kekuatan-kekuatan dahsyat lainnya.
__ADS_1
FLASHBACK OFF…
***
Tidak ada api yang tidak membakar. Bahkan kekuatan panasnya mampu meluruhkan logam yang sangat keras sebelum tersentuh oleh lidahnya. Maka berhati-hatilah dengan api. Karena dia tidak hanya membakar segala apa yang kau miliki. Dia juga akan membakar cinta di dalam hatimu menjadi rasa benci yang tak berkesudahan.
“Kurang Ajar!”
Heya!
Brak! Prang! Pyar!
Heya!
Bug! Prak! Brug!
Pramono mengamuk seperti banteng ketaton, seperti banteng terluka. Karena rasa yang terhina, harga diri yang terasa mati, jiwa yang terhempas, atau hati yang terluka. Seperti merasakan pengkhianatan setelah mengabdi dengan setia, atau karena cinta yang terabaikan setelah sekian lama berjuang?
“Aku akan membalas perbuatan kalian semua!” desis Pramono.
Nafasnya terlihat memburu. Matanya semerah darah tajam menatap satu persatu wajah musuh-musuhnya yang tiba-tiba tersaji di layar imajinya.
“Subrata, Lucra, Pranaja, aku akan membuat kalian menyesali perbuatan kalian yang telah membuatku terhina!”
Aargh! Teriaknya keras.
Lalu dia melompat tinggi. Dengan tubuh terlentang dan tangan yang dibentangkan, dia membiarkan tubuhnya jatuh diatas kasur air yang lembut dan empuk. Lalu memantulkan tubuhnya kembali melenting ke atas, dan jatuh menghempas di atas kasur lagi. Beberapa saat tubuhnya terus terloncat-loncat di atas kasur air itu sampai kemudian berhenti sendiri. Dengan kedua tangannya, dia meremas rambut hitamnya.
“Firman!” suaranya terdengar dingin saat memanggil kepala pengawalnya.
Sreek!
Terdengar suara pintu yang digeser. Seorang laki-laki paruh baya, bertubuh tinggi, tegap dan berotot besar masuk ke dalam kamarnya. Dengan penuh rasa hormat, dia berdiri di depan bosnys.
“Siap Bos!” ucapnya. “Ada perintah yang harus saya laksanakan?”
“Booking seluruh vila yang ada di kawasan puncak pada jarak satu kilometer persegi. Aku ingin pertemuanku dengan Marcon Allpanigard, berlangsung sangat rahasia. Di tempat dan waktu yang tidak seorang pun dapat mengetahuinya.”
__ADS_1