DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 128 PENCARIAN REN


__ADS_3

EPS 128 PENCARIAN REN


Bukannya aku takut kehilangan dirimu. Tapi aku tak mau melewati hari tanpamu. Melewati jeda tanpa desah nafasmu. Berharap pada waktu untuk berhenti berdetak. Hingga kebersamaan ini tak terpisahkan. Karena bunga yang ku tanam tak lagi tumbuh, dan titian itu tak lagi berujung. Segalanya tak lagi usai… abadi selamanya.



Betapa terkejutnya Ryong saat melihat foto Ryung Nae terpampang di layar monitor raksasa di atas panggung yang baru saja digunakan Lee Min Ho untuk tampil. Dengan semangat dia langsung melompat dan mengejar rombongan Min Ho yang berniat kembali ke hotel. Aktor paling tampan di Korea Selatan ini berencana langsung pulang ke Seoul begitu mendengar Ren menderita penyakit kanker tumor hati.



“Min Ho! Ren! Tunggu! Aku kakakmu Ryong!”



Suasana menjadi tegang. Beberapa pengawal Min Ho berdiri siaga di samping pemuda itu. Bagaimanapun mereka harus siaga menghadapi situasi di luar kendali mereka. Pengalaman mengajarkan banyak sasaeng atau fans ultra Lee Min Ho yang menggunakan segala cara untuk mendekati pujaan mereka. Dua orang pengawal bertubuh gempal segera merangsek ke depan begitu Ryong menghentikan larinya.



“Ren! Ren! Dimana kamu?”



Pemuda bermata sipit, tubuhnya tegap menjulang, rahangnya begitu keras dengan kulitnya yang putih berdiri tegap. Nafasnya sedikit tersengal. Dia dihalangi dua orang pengawal yang bertubuh gempal juga. Bola matanya berputar menatap orang-orang yang ada di depannya. Kecuali Lee Min Ho, tidak ada satupun wajah yang dia kenal.



“Ren? Dimana Ren? Maksudku Ryung Nae. Dia adikku…”


Min Ho berjalan di antara kedua tubuh pengawalnya menghampiri Ryong, dan berdiri tepat di depan Ryong.


“Aku tahu kau kakaknya Ren,” ujarnya. “Kalau kau ingin mengetahui keberadaan Ren, ikutlah denganku. Aku akan menceriterakan semuanya."


***


Lamborghini Veneno Roadster silver itu melaju mulus membelah jalan tol ibukota. Begitu tenang hampir tanpa suara, hanya desiran halus mesin mobil berkapasitas 6500 cc yang begitu lembut menyapa dua hati yang sedang gelisah. Mengantar para penumpangnya kembali ke Bandara Internasional Soekarno Hatta.


Dua orang pemuda tampan duduk berdampingan dalam diam, sibuk bermain dengan pikirannya masing-masing. Tak ada kegembiraan yang terpancar, tak ada senyuman yang mengembang. Hanya bias kesedihan yang terus menari diujung mata. Karena gadis yang sama-sama mereka sayangi entah berada dimana. Padahal dia sedang berjuang menyabung nyawa.


“Min Ho,” bisik Ryong membuka percakapan.


“Ya,” Min Ho menjawab singkat.


Ryong terdiam sejenak, mengatur nafas yang sedikit tersengal.


“Apa anak buahmu belum juga menemukan keberadaan Ren?”


Min Ho tidak langsung menjawab pertanyaan Ryong, tapi malah mengambil ponselnya untuk menghubungi detektif pribadinya Joshepine Conan yang saat ini berada di Korea. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar Ryong juga dapat mendengarkan percakapan mereka.


“Halo, Bos?”


“Apa ada perkembangan baru?”


“Ya. Ada saksi yang melihat Ren berjalan ke arah utara.”

__ADS_1


Ryong yang mendegar percakapan itu, ikut menimpali.


“Tanyakan padanya sekarang dia ada dimana.”


Min Ho langsung menanyakan pertanyaan Ryong pada Joshepine.


“Sekarang kau sedang berada di mana?”


“Posisi di kota Andong, Provinsi Gyeongsang Utara, Bos.”


Min Ho melirik Ryong sekilas.


“Tanyakan apakah di sekitar situ terdapat sebuah kuil?” ujar Ryong.


Min Ho mengangguk lagi.


“Apa kau mendengar pertanyaan Ryong, Josh?”


“Ya. Di sekitar Andong ada beberapa kuil, tapi yang paling besar dan paling tua adalah kuil Bongjeong.”


Lalu Joshepine menceriterakan sedikit tentang kuil Bongjeong yang terletak di sebuah lembah perbukitan yang termasuk lereng gunung Cheondeung. Kuil ini pertama kali dibangun tahun 672 oleh biksu besar paling terkemuka bernama UIsang. Sangat cocok untuk meditasi dan menyembuhkan penyakit-penyakit kejiwaan. Atau orang yang ingin mencari hakikat hidup yang sebenarnya, yaitu kehidupan setelah kematian.


“Kau mendengar semuanya kan, Ryong?” tanya Min Ho.


Ryong menganggukkan kepalanya.


“Suruh anak buahmu ke kuil itu. Ren ada di sana.”


“Pergilah ke kuil itu, Josh. Temukan Ren di sana!” ujar Min Ho dengan semangat.


Min Ho tersenyum, lalu menepuk jidatnya.


“Ah, mengapa aku tidak kepikiran kalau Ren ada di sebuah kuil?” desis pemuda itu seperti menyalahkan diri sendiri.


“Hem!”


Ryong pura-pura batuk. Min Ho melirik sekilas.


“Apa kau menyukainya? Maksudku, apa kau mencintai Ren?” tanya Ryong.


Min Ho tidak menjawab, tapi rona merah yang memenuhi wajah tampannya sudah cukup memberikan jawaban yang dibutuhkan Ryong.


“Maaf. Tapi Ren sudah punya kekasih,” ujar Ryong lagi.


Kali ini Min Ho menganggukkan kepalanya.


“Aku sudah tahu. Tapi menurut Ren, kekasihnya telah lama hilang bersama dirimu.”


Ryong jadi teringat Rich Pranaja, sahabatnya. Ah, seandainya pemuda itu ada disini, tentu dia tidak terlalu mengkhawatirkan penyakit adiknya.


“Ryong, boleh aku menanyakan sesuatu?” tanya Min Ho ragu.


Ryong menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Katakan saja.”


“Seperti apakah orang yang bernama Rich Pranaja itu?”


Ryong mengernyitkan keningnya. Pertanyaan macam apa itu?


“Rich Pranaja adalah manusia setengah dewa. Dia sangat kuat, cerdas, dan selalu memiliki jalan keluar dari setiap permasalahan.”


“Sebegitu hebatkah?” tanya Min Ho tak percaya.


“Ya. Bersamanya kau akan merasa aman, karena tidak ada ancaman dan bahaya yang sanggup menghadangmu. Dia seperti angin malam, datang tanpa kabar, dan pergi tanpa jejak.”


Mulut Min Ho langsung melongo saking takjubnya.


“Aku selalu mengagumi kemampuan ilmu bela diri adikmu. Apakah Pranaja secepat Ren?”


Bibir Ryong membentuk senyum tipis.


“Ilmu adikku itu masih mentah, belum apa-apa dibandingkan Pranaja.”


“Apa!”


Min Ho seperti tak percaya mendengar kata-kata Ryong. Dia langsung terdiam seperti syok. Pantas Ren sangat mencintainya, ternyata Pranaja merupakan pendekar tangguh juga? batinnya. Lalu dia terdiam bebarapa saat. Pura-pura sibuk dengan ponselnya. Namun hati tak bisa di bohongi. Rasa penasaran yang terus menggerayangi perasaannya membuat dia bertanya kembali.


“Ryong?”


“Ya?”


“Seandainya aku adalah Pranaja, kira-kira apa yang akan aku lakukan saat ini?”


Ryong menatap wajah Min Ho dalam-dalam, berusaha membayangkan pemuda yang ada dihadapannya itu sebagai Rich Pranaja.


“Kau akan menyembuhkan penyakit Ren.”


“Oh ya? Bagaimana caranya?”


“Dengan kekuatan Tirtanala yang dahsyat.”


Min Ho mengernyitkan keningnya.


“Apa Rich Pranaja memiliki kekuatan supranatural?”


“Ya. Dia memiliki kekuatan yang mampu menyembuhkan berbagai macam kerusakan yang terjadi pada tubuh kita.”


“Wow! Termasuk penyakit kanker tumor hati?”


“Kau benar. Pranaja mampu menghilangkan segala macam penyakit. Hanya satu kelemahannya.”


“Apa itu?”


“Dia tidak akan dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal.”


Min Ho langsung gercep tak bisa bersuara lagi. Diluar angin berkesiur lembut. Seolah menegaskan kerinduan hanyalah permainan hidup. Bodohnya, banyak manusia menyukainya. Padahal rindu itu berat.

__ADS_1


__ADS_2