EPS 119 MENGEJAR TIKUS YANG SAMA
Tak mudah memahami perasaan sendiri. Mengapa hati di rundung dendam yang tak pernah redam. Dibakar api keabadian bernama ego dan harga diri. Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang pati dibayar pati. Darah saudara yang telah tertumpah, harus dibalas dengan darah musuhmu sampai punah. Tapi mengapa harus mengorbankan orang-orang tak berdosa yang tidak tahu apa-apa?
Ron Muller berdiri tegak membelakangi tubuh tanpa kepala yang masih tegak berdiri itu. Pedang katananya terlihat diangkat menjulang dengan kedua tangannya. Darah yang terpancar dari leher perempuan itu muncrat kemana-mana. Melumuri wajah dan tubuh Ron Muller dengan warna merah. Tidak ada reaksi apapun kecuali seringah wajah yang menunjukkan kekejaman tanpa belas kasihan.
“Tidak ada seorangpun yang boleh bersenang-senang didepanku sebelum darah saudaraku terbayar lunas,” desisnya.
Beberapa pengawalnya langsung bergerak cepat. Sebagian membuat pagar hidup untuk menutupi mayat perempuan yang tergeletak di lantai diskotek. Sebagian lainnya bergerak cepat membereskan mayat itu. Ada yang memasukkannya ke dalam koper besar, ada yang membersihkan percikan darahnya, dan ada juga yang memberikan pewangi dan anti kuman sehingga lantai didepannya menjadi steril kembali.
Sungguh rapi, tenang, cepat dan tanpa jejak, menunjukkan kalau mereka adalah orang-orang yang sangat professional. Tak ada satupun pengunjung diskotek lainnya yang mengetahui kalau di tempat itu telah terjadi pembunuhan yang paling sadis di seluruh dunia. Dan kepala yang menggelinding itu masih dengan mata terpejam dan bibir tersenyum keenakan.
“Sudah cukup bersenang-senangnya Ron. Sebaiknya kita kembali ke hotel,” ujar Fritz, sahabat sekaligus pengawal pribadinya.
Koln mengelus-elus punggung Ron, lalu mengangkat tangan sahabatnya itu untuk berdiri dan mengajaknya pergi dari tempat. itu. Walaupun hatinya sedang diselimuti kemarahan, tapi Ron menurut saja saran kedua sahabatnya itu. Fritz dan Koln memang sahabat sekaligus pengawal dan penasehat untuknya. Hanya Frit dan Koln yang mampu meredam kemarahannya serta mengendalikan perilakunya yang seringkali ‘out of control.’
Hanya ada sepasang mata yang terus mengamati pergerakan mereka. Dia juga tahu pembunuhan yang baru saja terjadi. Sepasang mata milik gadis berambut hitam yang memang ditugaskan untuk memata-matai Ron Muller, bahkan jika perlu meringkusnya untuk dikembalikan ke negeri asalnya Inggris. Sepasang mata indah milik agen 004 Dinas Rahasia Inggris atau M 16, Lucra Penzy.
Duduk di sudut ruangan yang gelap, sejak Ron dan para pengawalnya datang sampai pergi dia tidak pernah melepaskan pandangan darinya. Lucra yang memakai rambut palsu berwarna hitam membuatnya tidak mudah dikenali. Apalagi di sampingnya seorang laki-laki mabuk terus merayunya dengan kata-kata mesum dan menyebalkan. Begitu Ron pergi tangan kirinya menyumpal mulut lelaki itu, sedang tangan kananya menebas tengkuknya.
Hugh!
__ADS_1
Laki-laki berkulit hitam dan berbadan besar itu langsung pingsan tanpa suara. Lucra meletakkan kepala lelaki bertumbuh gempal itu, lalu bergegas keluar. Dia melihat dua buah mobil Porsche warna hitam meluncur meninggalkan tempat parkir. Lucra bergerak cepat, tangan kananya mengeluarkan benda seperti pistol lalu diarahkan ke bagian belakang salah satu mobil itu.
Wing!
Pistol berperedam itu ditembakkan tanpa suara. Peluru berbentuk bulat dan kenyal melesat cepat mengenai sasaran dengan tepat, Seperti permen karet, peluru yang lunak itu langsung menempel di badan mobil tanpa suara. Barang yang terlihat sepele itu berisi alat penyadap cangggih buatan Q, professor pencipta senjata-senjata canggih di M16.
Pluk!
Peluru permen karet itu menempel dan ikut terbawa kemanapun mobil itu pergi. Anehnya begitu menempel, warnanya langsung berubuh sesuai warna mobilnya. Sehingga itu tidak terlihat dengan mata biasa. Dengan alat penyadap itu, Lucra dapat mengetahui dimana mobil itu berada tanpa harus membuntutinya.
Lucra tersenyum. Tubuhnya yang molek, berjalan melenggang menuju tempat parkir. Aston Martin DBS V12 berwarna merah hati dinyalakan. Mobil yang banyak digunakan agen-agen utama M16 dari 001 sampai 009, sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan keamanan dan senjata canggih untuk tugas-tugas penyelidikan dan spionase. Namun kendaraan super mewah itu meluncur dengan arah yang berbeda dengan mobil Ron tadi.
Bibir Lucra tersenyum nakal. Ada sesuatu yang sedang direncanakan dalam pikirannya. Tetapi ini sesuatu yang menyenangkan. Hiks..hiks..Saatnya memberi kejutan kepada seseorang yang tidak pernah dilupakannya. Lelaki tampan perwira polisi yang sudah beberapa kali tidur dengannya : AKP Dandung Wicaksono.
***
Setelah berenang dalam samudera kenikmatan dunia, tubuh Lucra seperti dihempaskan dalan keadaan yang lelah luar biasa. Permainan Dandung memang tidak pernah mengecewakan. Selalu saja membuatnya menyerah di tengah permainan, hal yang sangat jarang dilakukannya. Tusukan keras yang menghujani bagian bawah tubuhnya benar-benar telah mengeluarkan semua semua protein yang dimilikinya hingga tuntas terkuras.
“Aaakh!” teriak Lucra sambil mengangkat sapu tangan putihnya.
__ADS_1
Lucra sudah mengangkat kode tanda menyerah, tapi Dandung seperti tak mempedulikannya. Dia seperti tak ingin membiarkan Lucra beristirahat sedetikpun malam itu. Serangan-serangannya terus berlanjut dari depan dan dari belakang. Nafas Lucra memburu, mulutnya mengeluarkan suara-suara aneh penuh kebimbangan antara ya atau tidak. Hal yang membuat Dandung tidak mengerti apa keinginan Lucra sebenarnya.
“Oh yes! Oh no! Oh yesss! Oh noooo! Auw yes but nooo!”
Dan semua akhirnya harus berhenti ketika sudah sampai batas pendakian. Pada puncak kenikmatan itu mata Dandung terpejam dan wajahnya menyeringai seperti orang yang tersiksa. Himpitan daerah khusus milik Lucra yang berdenyut keras, membuat lajang berpengalaman itu tak lagi memiliki kekuatan untuk menahan konaknya. Seperkasa apapun pada akhirnya mereka harus menyerah pada saat yang bersamaan.
“Lucraargh…!” ucap Dandung sambil menggeram.
Ujung kakinya menegang mencari pijakan yang kuat, tangannya merengkuh leher Lucra sekuat tenaganya, kemudian senjata mustikanya dibenamkan ke dalam kubangan penuh cairan kenikmatan milik Lucra. Dan untuk kelima kalinya dia berhasil mengalirkan protein miliknya ke dalam tubuh Lucra. Ow…What a ****!
Kepala Lucra melunglai dalam rengkuhan tangan kekar milik Dandung. Napasnya memburu cepat, dan jantungnya bergemuruh hebat. Bulir-bulir keringat membasahi tubuh keduanya.
Tuttut! Tutut!
Terdengar bunyi alarm dari ponselnya. Lucra mengambil benda tipis itu dari atas meja kecil di samping tempat tidur, lalu di periksanya. Terlihat ada tanda merah yang bergerak melaju ke atas. Menunjukkan kalau mobil kelompok Ron yang tadi disadapnya sedang bergerak keluar hotel tempat mereka menginap.
“Ada apa sayang?” tanya Dandung sambil menggigit ujung telinga Lucra.
Tubuh gadis itu menggelinjang kembali.
“Hentikan Dandung! Tikus buruanku sedang bergerak menuju suatu tempat. Dan aku harus mengejarnya,” ucapnya.
Lucra segera bangkit dari tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan.
“Tikus buruan? Maksudmu saat ini kau sedang bertugas memata-matai seseorang?” tanya Dandung lagi.
Lucra menganggukkan kepalanya.
“Siapa?”
Lucra menggelengkan kepalanya.
“Sifatnya rahasia. Maaf aku belum bisa mengungkapkannya kepadamu.”
Dandung memandang Lucra tajam.
“Apa kau sedang mengejar Ron Muller?”
__ADS_1
Wajah Lucra langsung berubah saat Dandung mengucapkan nama orang yang sedang diincarnya.