DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 121 SHOCK!


__ADS_3

EPS 121 SHOCK!


Keteguhan hati pada mantra abadi mengandung kerancuan. Tapi sang Hyang Wasesa lebih memilih kecantikan Dewi Mekarsari karena keindahan hatinya. Bagaikan sekuntum bunga narsis yang memamerkan kemolekannya di bawah taburan cahaya matahari. Norma terabaikan dalam upaya untuk meredam kegalauan. Nah kalau Dewa saja bisa jatuh cinta, apalagi aku. Jadi izinkan aku merajut cinta ini menuju ruang hatimu.



Ken Darsih berdiri tegak diatas singgasana abadinya, sebuah batu besar yang menjorok ke tengah sendang Kumitir. Bagaikan kaca benggala, permukaan sendang dibawahnya adalah layar monitor raksasa yang menampilkan pergerakan Ron Muller dan anak buahnya yang mendaki bukit Kethileng dan mengisi setiap sudut alas Kecipir. Sebagai penguasa bukit Kethileng tentu saja dia tidak terima wilayah kekuasaannya dimasuki manusia.



“Aku harus menghukum mereka,” ujarnya.


Tapi Nagaraja mencegahnya.


“Jangan kau lakukan itu sekarang Nyai!”


Ken Darsih menatap sang raja siluman naga itu tak mengerti.


“Kenapa Nagaraja?”


“Waktunya belum tepat. Bagaimanapun saat ini kita sedang fokus menghadapi Miryam. Aku khawatir perhatian kita akan terbelah.”



Ken Darsih terdiam. Tapi hatinya membenarkan kata-kata siluman naga penguasa Rawa Pening itu. Bagaimanapun dia harus berhati-hati dalam bertindak. Apalagi Miryam saat ini dikelilingi orang-orang yang digdaya. Lagipula, tidak ada gunanya dia memberi hukuman kepada manusia-manusia itu saat ini.



“Kau benar Nagaraja. Sebaiknya aku tunggu, apa maksud mereka memasuki rumahku secara diam-diam. Apalagi wajah salah satu dari mereka seperti tidak asing bagiku.”


“Maksudmu, manusia itu? Kau mengenalinya?”


Ken Darsih mengamati wajah Ron dengan seksama. Mirip dengan Blade, manusia yang dulu pernah menipu dan hampir mencelakai dirinya.


“Bukan manusia yang aku kenal. Tapi wajahnya sangat mirip.”



Dan langit menjelang pagi itu mendadak memerah. Segumpal nyala api sebesar gubuk melesat cepat di atas hutan Kecipir menuju sendang Kumitir. Terang warna api yang panas terasa membakar kulit dari jarak puluhan meter. Pepohonan di hutan kecipir seperti meranggas tiba-tiba. Berubah menjadi hitam dan berasap. Padahal gumpalan cahaya api itu hanya melewatinya.


__ADS_1


Byur!



Gumpalan api merah membara itu jatuh tepat di tengah permukaan sendang. Seketika apinya langsung padam. Terlihat sosok tubuh berwarna merah menyala di dalam airnya yang dingin. Melayang-layang di dalamnya sebelum menyentuh tanah dan bebatuan di dasar sendang. Ken Darsih dan Nagaraja langsung mengetahui sosok berbentuk manusia itu.



“Banaspati!” teriak Ken Darsih.



Segera dia melompat ke dalam air dan meraik tubuh Jin Banaspati. Ken Darsih tersentak kaget. Suhu tubuh Jin api itu terasa sangat panas, meskipun sudah terendam di dalam air. Segera dia mengikat tubuh itu dengan tali selendangnya, lalu ditariknya ke permukaan sendang. Dari atas Nagaraja menggigit tubuh Banaspati, lalu diangkatnya ke atas batu besar di tengah sendang.



Byur! Wush! Wush!



Nagaraja segera menenggelamkan mulunya ke dalam sendang, setelah itu meniup-niup mulutnya sendiri. Sama seperti yang dirasakan Ken Darsih, mulutnya terasa panas yang begitu tinggi. Dan itu bukan panas api yang bersumber dari kekuatan Banaspati, sang siluman api. Jadi kekuatan panas apa itu?



Wajahnya terlihat geram. Teringat pertarungan terakhirnya dengan Miryam. Kekuatan panas Gei Sawiji bukan hanya membakar tubuhnya, tapi juga membakar seluruh racun yang dimilikinya. Dan itulah alasan terbesarnya, kenapa dia begitu menyimpan dendam kepada Miryam, si perempuan jadul tapi mempesona itu.



Flashback on..



Ken Darsih menerjang dengan cakar terayun ke arah leher Miryam. Kembang Jalatunda itu menyambut serangan itu dengan tangannya. Gerakan kedua perempuan itu sangat cepat. Hanya orang-orang berilmu tinggi yang mampu melihatnya.



‘TRANG!!’



Cakar baja yang penuh racun mematikan milik Ken Darsih berbenturan dengan tangan lembut Miryam. Terlihat percikan api menyambar kesana kemari. Kulit Miryam yang lembut sama sekali tak terluka. Tubuh Miryam pernah mendapatkan anugerah Mata Dewa dari Eyang Karangkobar, sehingga tubuhnya kebal dari segala senjata dan anti racun juga.

__ADS_1



Sesaat kemudian keduanya terlibat pertempuran hebat. Kedua tubuh perempuan bidadari itu sudah tak terlihat, terselubung oleh asap hitam penuh racun yang keluar dari mulut Ken Darsih. Dibalas dengan kekuatan Geni Sawiji berupa kilatan api yang sangat panas yang merontokkan kekuatan racun itu.


“Hiyyaaa!!”


“Ssshhh!!


“Trang!”


Kilatan api setinggi limabelas meter terlihat terpancar ke udara begitu kedua kekuatan itu bersentuhan. Inilah sesungguhnya pertarungan antara hitam dan putih, antara kekuatan siluman dan kekuatan para dewa yang diyakini manusia-manusia jadul itu. Pertarungan dua kekuatan yang berbeda kutub itu perlahan merubah cuaca sekitarnya.


Cuaca yang tadinya cerah tanpa awan perlahan-lahan menjadi mendung. Gumpalan awan hitam seperti tertarik diatas Subrata’s Tower dan berkumpul menjadi satu. Diikuti angin badai yang berputar-putar. Di selingi sebaran sinar bagaikan pita berwarna-warni, merah, hitam, kuning, abu-abu dan putih.


Dengan ketinggian tigaratus lima puluh meter, memang tak ada yang bisa melihat kalau diatas menara itu sedang terjadi pertarungan dahsyat. Keduanya sama tangguhnya, kekuatan mereka hampir sama. Tapi Miryam lebih bisa menjaga emosinya. Ken Darsih terlalu bersemangat menyerangnya, tapi Miryam begitu tenang menghadapinya.


Ken Darsih yang terbawa keinginan untuk membalas dendam masa lalunya kepada keturunan Jalatunda terjebak oleh kemarahannya sendiri. Dengan penuh semangat cakarnya menyerang lurus kearah jantung Miryam. Perempuan jadul tapi mempesona itu membiarkannya. Saat ujung cakarnya menyentuh kulit tubuhnya, Miryam menyalurkan kekuatan inti api lewat dadanya.


“Aakh!”


Ken Darsih terkesiap kaget. Ujung kukunya seperti tersengat hawa yang sangat panas. Seketika dia menarik cakarnya. Tapi kelengahan yang setengah detik itu berakibat fatal. Dengan gerakan sangat cepat, tangan Miryam menangkap cakar Ken Darsih yang cukup panjang itu. Menyalurkan kekuatan inti api lewat ajian Geni Sawiji. Daya bakarnya terasa merambat ke dalam tubuhnya, merasuk ke dalam darah dan sum-sum tulangnya. Membakar segala racun yang ada di dalam tubuhnya.


Flasback off…


Banaspati menarik nafasnya yang hampir habis. Ken Darsih memegang ujung kepalanya, menyalurkan tenaga tambahan ke dalam tubuhnya. Terasa dingin dan menyegarkan. Segala rasa sakit dan pegal yang tadinya melumuri tubuhnya seketika hilang. Otot-otot tubuhnya yang terbakar pulih kembali, dan jaringan darahnya yang tersumbat seperti mengalir lancar kembali.


“Apa yang terjadi denganmu Banaspati?” tanya Nagaraja.


“Aku dijebak oleh perempuan itu, sehingga aku lengah,” sahut siluman api itu.


Ken Darsih mengernyitkan keningnya.


“Apa maksudmu?”


“Perempuan itu menyamar menjadi dirimu, sehingga aku mendekatinya. Lalu dia menyentuh tanganku dan membakarnya dengan kekuatan api miliknya. Tentu saja aku terkejut dan tidak sempat membela diri.”


Banaspati mengarang sedikit cerita agar dia tidak terlalu malu di hadapan Ken Darsih.


“Miryam adalah ibu kandungku, makanya wajahnya sangat mirip denganku,” sahut Ken Darsih.


Suaranya begitu dingin tanpa beban. Seolah-olah hubungan ibu dan anak yang mengalir dalam dirinya tidak berpengaruh sama sekali terhadap rasa dendamnya kepada Miryam. Hanya Banaspati yang langsung berubah air mukanya.

__ADS_1


“Apa! Nyai adalah anak Miryam?”


Mulut siluman api itu sampai melongo saking kagetnya. SYOK!


__ADS_2