DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 92 PUASA UNTUK CINTA


__ADS_3

EPS 92 PUASA UNTUK CINTA


Daun kering terlontar ke udara. Dihujat angin musim kemarau merana dalam tatap mataku. Hanyalah cinta sejatimu yang mampu menyembuhkan luka. Padahal di dunia yang terus berputar, kita tak berharap dapatkan keabadian. Walaupun kau yakin waktu akan datang membawa keajaiban.



“Andika!”


Andika menoleh ke arah Pranaja.


“Hm? Ada apa?”


“Bawa aku menemui eyang Miryam kembali.”


Andika mengernyitkan keningnya.


“Kau kangen sama eyangmu? Atau masih terbayang pesonanya?”


Pranaja menggelengkan kepalanya.


“Tidak Andika, ada hal lebih penting yang ingin aku ketahui.”



Andika mengangguk-anggukkan kepalanya. Pasti ada sesuatu yang menyangkut masalah trah Somawangi, sehingga Pranaja ingin bertemu Miryam kembali, tebak Andika.


“Baiklah. Tapi tidak hari ini.”


“Kenapa?”


“Ini tanggal duapuluh tujuh, biasanya Miryam sedang berpuasa dan tidak mau menemui siapapun.”


“Puasa di akhir bulan? Apa tujuannya?”


“Tanggal duapuluh tujuh adalah tanggal kelahiran Miryam sekaligus tanggal kematian suaminya, Santika. Makanya setiap tanggal ini dia pasti melakukan ibadah puasa.”



Pranaja membelalakkan matanya.


“Apa? Hari ini adalah hari kelahiran Miryam sekaligus tanggal kematian suaminya?”


“Ya. Setiap akhir bulan, Miryam selalu berpuasa untuk berdoa bagi keselamatan keluarga kecilnya.”


__ADS_1


Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Berarti dia harus menunggu selama tiga hari agar dapat menemui Miryam. Ah, diam-diam Pranaja belajar banyak pada eyang cantiknya itu tentang arti cinta sejati dan bagaimana cara memperjuangkannya. Karena setiap cinta butuh pejuangan, bukan hanya untuk saling menerima, tapi juga berjuang untuk mempertahankan cinta pada waktu yang lama.



“Terimakasih eyang,” batin Pranaja sambil tersenyum.


Andika menepuk bahu Pranaja dan meggoyangkannya perlahan.


“Pranaja! Kenapa kau malah tersenyum-senyum sendiri?”


Pranaja terkesiap, lalu sedikit salah tingkah.


“Ehm, kamu jangan berpikiran jorok pada eyangmu sendiri ya,” kata Andika lagi.


“Apa? Tentu saja tidak Andika. Aku sedang memikirkan kisah cinta eyang Miryam yang sungguh indah untuk dinikmati. Aku ingin menirunya,” kata Pranaja.



Andika terkekeh sampai tubuhnya bergoyang-goyang.


“Bagaimana kau akan menemukan cinta sejati, kalau kau sendiri masih senang mengejar gadis-gadis belia.”


Pranaja tersenyum kecut. Kata-kata Andika ada benarnya, walaupun cuma tigapuluh persen. Tidak semua gadis-gadis yang dekat dengan Pranaja itu adalah kekasihnya. Kalaupun mereka banyak yang jatuh cinta, itu bukan kesalahannya. Hanya ada dua gadis yang benar-benar penah mengisi hatinya, yaitu Anastasya Pramono dan Ryung Nae alias Ren.



Andika menganggukkan kepalanya.


“Bagaimana ceritanya, jantung Santika ada di dalam tubuhmu?”


“Owh itu. Baiklah aku akan menceriterakan padamu,” sahut Andika,


***


Hari itu Andika mengantarkan Fitri yang akan kembali ke Beijing. Rencana pernikan mereka sudah di tetaapkan oleh kedua orang tua mereka. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Andika memuji kecantikan calon isterinya.


“Jangan lupa kau harus menjaga kesehatan. Jangan belajar sampai larut malam. Aku tak ingin calon isteriku sakit di saat hari pernikahanku,” kata Andika.


“Ih, Andika norak ah. Aku biasa menjaga diri, dimanapun. Makanya Papa percaya saat aku minta izin untuk kuliah disana,” sahut Fitri.


“Iya aku juga percaya kok. Eh, kamu jangan lagi tinggal di rumah paman. Papa sudah membelikan rumah yang bagus buat kamu. Kamu pindah kesana ya, please!”


Wajah Andika nampak memelas. Fitri tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


“Iya, aku akan pindah kesana. Aku juga tidak mau bikin papamu kecewa.”

__ADS_1



Akhirnya mobil mereka sampai di bandara. Pesawat Jet mewah milik keluarga Subrata sudah menunggu untuk memberangkatkan sang puteri. Ya, Fitri sudah menjadi seorang princess di keluarga Subrata. Andika memandang wajah Fitri untuk terakhir kalinya, sebelum pesawat itu mengudara dan melesat menembus angkasa.



Andika pulang kembali ke rumah. Dia mengemudikan sendiri mobilnya, Mercedes Maybach yang harganya diatas sepuluh milyar. Mobilnya meluncur cepat di jalan tol dalam kota. Mendekati kilometer tigapuluh, banyak mobil yang membunyikan klaksonnya.


Nampak seoarang perempuan, tinggi dan sangat mempesona dalam balutan busana jadul, berjalan sendirian melawan arus. Begitu cantiknya, sehingga setiap mobil yang lewat pasti membunyikan klaksonnya. Dan wajah Andika terkesiap kaget dibuatnya.


“Miryam?”


Dia menurunkan kaca jendelanya, bermaksud memanggil Miryam. Tapi tindakannya itu memicu masalah di jalan tol. Saat memperlambat mobilnya, dari arah belakang mobil-mobil yang melaju diatas seratus limapuluh kilometer per jam, tak mampu mengeremnya.


“Brak!!..Brak!! Brak!!


Puluhan mobil menghajar mobil pemuda itu. Kepalanya yang sedikit keluar malah di hajar truk tronton. Seketika Andika lunglai dan tak mampu mengendalikan mobilnya. Oleng,berjalan zig zag sebelum menabrak tembok pembatas yang sagat keras. Mobil mewah itu terguling-guling beberapa kali. Setelah berhenti terlihat kepulan asap tebal dan api mulai menyala membakar mobil bersama pemiliknya di dalam.


Asap membumbung tinggi dari api yang membakar mobil membuat orang-orang tidak berani mendekati mobil Andika. Di saat yang sangat kritis itu tiba-iba terasa hawa dingin menerpa, memadamkan api yang membakar. Orang-orang dalam jarak seratus meter persegi merasakan hawa dingin itu. Begitu dingin dan menyakitkan karena merasuk sampai dalam sumsum tulang, membekukan aliran darah. Mereka pun langsung mundur menjauh.



Lalu mereka melihat sosok perempuan cantik yang berjalan melawan arus tadi mendekati mobil Andika. Membuka pintunya dan mengeluarkan tubuhnya dari dalam mobil. Kepala Andika hancur tak berbentuk lagi. Tapi Miryam masih mengenalinya, dialah orang yang menghidupkannya dari tidur panjang. Diperiksanya urat nadi Andika.



“Ah, belum mati. Dia pasti tahu dimana kakang Santika berada,” batinnya.



Segera jari jemarinya yang lentik menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Dipegangnya ujung kepala Andika, perlahan hawa sejuk itu mengalir melalui pori-pori kulit lalu meresap ke dalam aliran darah dan merasuki urat-urat nadi dan syaraf.


Memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Mengembalikan sistem aliran darahnya kembali ke jantung. Luka-lukanya perlahan menutup kembali, jaringan urat yang rusak pun kembali normal. Ajaib. Tulang kepalanya yang hancur membentuk kembali wajah Andika seperti semula.


Namun belum juga sempurna proses penyembuhannya, tiba-tiba terdenngar teriakan seseorang yang dia kenal dari kejauhan. Suara seseorang yang paling ditakutinya.


“Miryam!” teriak kyai Badrussalam.


Miryam terkesiap kaget. Dia langsung meletakkan tubuh Andika di tengah jalan begitu saja, lalu dengan sekali hentakan, tubuhnya langsung melayang tinggi dan menghilang entah kemana. Kyai Badrussalam mengurungkan niatnya untuk mengejar, begitu melihat tubuh Andika.


“Andika!”teriaknya sekali lagi.


Dia langsung mendekati tubuh Andika. Diangkatnya tubuh Andika menjauhi mobil yang nampak berasap kembali begitu hawa dingin Tirtanala menghilang.


Orang-orang sudah mulai mendekat. Tapi polisi patroli jalan tol sudah datang. Mereka memasang garis polisi untuk membatasi orang-orang yang ingin mendekat. Tak lama kemudian mobil ambulan juga datang. Mengangkat tubuh Andika dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2