DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 140 PILIHAN HIDUP


__ADS_3

EPS 140 PILIHAN HIDUP


Remang api cinta, meredup karena dilema. Dihadapkan pada pilihan yang sama menyakitkan. Jalan yang kau pilih begitu bermakna, tapi tetap saja meninggalkan luka. Karena cinta yang kau tuju adalah hakikat bukan lagi makrifat. Dan kau terlihat begitu khusyuk, hingga tanganku tak lagi kau sambut. Mencoba memalingkan muka, dengan derai air mata, yang kau sembunyikan untuk menipu …hatimu.



“Ren!”


Suara seseorang yang begitu dirindukan membangunkan gadis itu dari meditasinya. Mata indahnya mengerjap sekejap. Lalu bola matanya berputar, mengitari setiap sudut ruang altar pamujan itu. Mencari sosok yang memanggilnya, tapi dia tak melihat seorangpun. Karena ruangan itu adalah tempat suci yang terlarang bagi laki-laki.



“Ren!”


Terdengar suara yang sama memanggilnya kembali. Ren jadi gugup, tubuhnya seperti bergetar menahan rindu. Tapi sesaat kemudian dia berhasil menguasai dirinya. Pandangannya diputar kembali, tapi dia tak menemukan siapapun disana kecuali dirinya.



“Pranaja pergilah! Kau tidak boleh berada di dalam ruangan altar pamujan. Kau bisa dihukum berat oleh biksu O,” ujarnya dengan nada sedikit keras.


“Ren? Apa kau mengusirku?” tanya Pranaja heran.


Wajah gadis itu seperti terkesiap.


“Jangan salah sangka Pranaja. Tapi ruangan ini memang terlarang bagi laki-laki.”


“Memang kamu tahu, aku ada dimana?”



Ren menggelengkan kepalanya.


“Aku tahu kau ada di dekatku. Tapi…kau jangan bercanda, Biksu kepala akan menghukummu, bila kau melanggar aturan-aturannya.”


Terdengar tawa Pranaja yang renyah.


“Sok tahu. Aku tidak berada di dekatmu dan aku tidak melanggar peraturan apapun, bagaimana Biksu O akan menghukumku?”



Air mata Ren kembali menetes. Akh, suara tawa Pranaja belum berubah, masih tetap seperti dulu, batinnya. Gadis itu langsung bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengitari bagian luar ruang altar pamujan itu, mencari sosok yang dirindukannya. Tapi kembali dia hanya menemukan ruang kosong. Dimana Pranaja?



“Aku disini Ren. Di puncak pagoda.”


Gadis cantik itu langsung mengangkat wajahnya. Pandangannya tertuju ke puncak bangunan bertingkat yang menjulang bagaikan menara itu. Banguan pagoda itu terletak di atas bukit, terpisah agak jauh dari bagunan kuil yang terletak di lerengnya. Disana dia melihat satu titik hitam melambaikan tangannya. Bola mata Ren langsung membulat sempurna. Pranaja..?



“A..apa yang kau lakukan Pranaja,” jerit Ren.


Mendadak dia merasa khawatir, pemuda itu akan jatuh ke bumi. Dan dari ketinggian itu mustahil seorang manusia akan tetap hidup.


“Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin berbincang denganmu Ren,” sahut Pranaja santai.



Ren menarik nafas panjang. Meski kesal, tapi hatinya tetap gembira. Hampir saja dia lupa kalau Pranaja memiliki kekuatan di luar nalar manusia. Mudah saja baginya untuk berdiri di puncak pagoda itu, walau seharian berdiri disana. Tanpa terasa ada senyum yang mengembang di bibir Ren.


__ADS_1


“Keluarlah kau dari ruang altar, aku akan menemuimu sekarang,” kata Pranaja.


Ren menganggukkan kepala. Lalu dia berjalan menyelinap keluar dari ruang altar. Tanpa di ketahui oleh siapapun, di berjalan menaiki bukit untuk bertemu kekasihnya. Sesampainya di ruang paling bawah bangunan pagoda itu, Ren menghentikan langkahnya. Kembali dia menengok kesana kemari mencari Pranaja, tapi tak melihat siapapun. Huh, dasar Pranaja. Masih sempat dia bercanda, batinnya.



“Hup!”


Ren tersentak kaget. Mendadak ada dua tangan kekar menutup kedua matanya. Beberapa saat dia kehilangan penglihatannya. Tapi dia tahu, ini adalah tangan Pranaja.



“Pranaja! Lepaskan!”


Pranaja langsung melepaskan tangannya. Namun begitu Ren membalikkan tubuhnya, pemuda itu langsung memeluknya. Merengkuh kepalanya, dan meletakkannya di atas dadanya yang bidang. Ren hanya pasrah, menurut saja perlakuan Pranaja kepadanya. Kerinduan yang terpendam selama lebih dari dua setengah tahun, seperti terbayarkan. Lunas.



“Aku merindukanmu,” bisik Pranaja.


Ren hanya menganggukkan kepalanya. Air matanya yang mengalir sudah cukup menggambarkan isi hatinya.


“Tapi kau berubah Ren,” bisikknya lagi.


Kali ini kepala gadis itu menggeleng cepat.


“Katakan kau masih mencintaiku sayang.”


“Naneun yeojeonhi dangsin-eul salanghabnida.”



Ren mengungkapkan perasaan hatinya dalam bahasa Korea. Pranaja melepaskan pelukannya. Lalu ditatapnya wajah gadis itu dalam-dalam.



Ren terlihat tersenyum bahagia, tapi kemudian menggelengkan kepalanya. Pranaja terkesiap kaget, tak menyangka dengan penolakan Ren.


“Kau menolak Ren?”


“Ya.”


“Kenapa. Apa kau meragukan aku?”


“Sama sekali tidak. Aku tidak pernah meragukanmu Pranaja.”


“Lalu?”


“Ada alasan lainya.”


“Katakan kepadaku.”



Ren terdiam, membeku dalam keraguan. Pranaja juga terdiam menunggu kata-kata dari bibir Ren. Namun bibir ranum itu tak juga bersuara.


“Katakanlah Ren. Apa kau tidak ingin membangun kebahagiaan bersamaku?”


“Aku mau Pranaja, tapi tidak di kehidupan sekarang.”


“Apa?”

__ADS_1


Ren menatap wajah tampan itu dengan penuh rasa cinta.


“Ada banyak sekali perbedaan diantara kita Pranaja?”



“Perbedaan?”


Ren menganggukkan kepalanya. Dia sadar, mungkin Pranaja tidak akan menerima alasannya, tapi dia harus melakukannya demi kebaikan semuanya.


“Di kehidupan sekarang, cinta kita hanyalah sebatas cinta Pranaja. Kita tak akan pernah berhasil melewatinya. Terlalu banyak perbedaan diantara kita. Keyakinan, sukubangsa, tujuan dan kebiasaan. Karena itulah saat aku dalam puncak rasa sakitku aku telah berjanji, kalau aku sembuh aku akan menjalankan cintaku di kuil ini. Mengabdikan seluruh hidup di jalan cahaya.”



Pranaja masih terdiam, mencoba mencerna kata-kata Ren.


“Di tempat ini aku akan meminta agar diberikan keajaiban, supaya aku bisa menyatukan cintaku dengan cintamu. Tidak sekarang, tapi dikehidupan yang akan datang.”


“Maksudmu reinkarnasi?”


“Ya.”



Pranaja terhenyak. Sebagai seorang muslim, dia tidak pernah mempercayai reinkarnasi, yaitu kehidupan kembali di dunia setelah kematian.


“Kita akan bertemu dan menjalin kembali ikatan cinta kita di kehidupan yang akan datang.”



Ren memegang erat tangan Pranaja, seolah sedang menguatkan hatinya agar rela melepaskannya. Lalu mereka terdiam kembal. dengan mata saling menatap dan tangan saling bertaut. Merasakan getaran-getaran cinta yang merambat bagaikan aliran listrik 2500 watt. Dan Pranaja semakin yakin akan kebenarab kata-kata Ren.


“Bagaimana Pranaja?”


Belum lagi pemuda itu membuka suara, mendadak keriuhan terdengar dari arah kuil.



“Ren! Ren! Dimana kamu?”


Terdengar suara Ryong dan Min Ho saling bersautan. Rupanya berita tentang hilangnya Ren dari altar pamujan telah menggenparkan. Para santri bergerak serentak mencarinya.


“Aku harus kembali Pranaja,” ujarnya.


“Ya. Aku tahu,” sahut Pranaja lirih, hampir tak terdengar. “Naiklah ke punggungku. Aku akan mengantarmu dengan cepat.”



Pranaja membungkukkan tubuhnya. Lalu Ren naik ke atas punggungnya. Dengan sekali hentakan. tubuh mereka melesat dan masuk ke dalam kuil tanpa ketahanan.


“Terimakasih Pranaja,” ujar Ren.


“Terimakasih untuk apa?”


“Untuk semuanya. Terutama untukmu yang sudah bersedia mencintaiku.”


Pranaja tahu keputusa Ren tidak mungkin bisa berubah.


“I Love you Pranaja…so much.”


__ADS_1


Ren berlalu. Meninggalkan sejuta kenangan yang tertinggal. Memasuki ruang altar yang disebut sebagai ruang penyucian lalu menghilang di dalamnya.


__ADS_2