DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 46 SIAPA YANG UNTUNG


__ADS_3

EPS 46 SIAPA YANG UNTUNG?


Di bagian bumi yang lain, Marcon Alpanigard duduk jumawa di atas sunggasananya. Di ruang eksklusif lantai sembilan puluh sembilan gedung pencakar langit Mexican Vision Medcom. Sambil tersenyum wajahnya terus memperhatikan layar laptopnya yang sedang menayangkan perkembangan pasar modal di beberapa bursa efek terkemuka di dunia. Di Wall Street saham Megapolitan Intercorp terus bergerak turun.


“Hahaha, aku tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang Subrata. Kau pasti sedang meringkuk di bawah ketiak isterimu yang cantik, sambil menangis,” katanya bergumam sendiri.


Wajahnya terlihat sangat puas. Dia merasa permainan ini hampir selesai. Sekarang tinggal melempar kartu tarot untuk mendapatkan jackpot. Lalu tangannya bergerak lincah, diatas papan keyboardnya. Dengan langkah berani, dia membeli semua saham Megapolitan yang dipegang oleh pemegang saham minoritas. Sekarang dia menguasai empat puluh sembilan persen saham, sedangkan yang limapuluh satu persen masih dikuasai Subrata.


“Aku sungguh ingin melihat perubahan wajahmu saat melihat namaku mengambil alih saham Megapolitan Subrata. Sekarang tinggal aku dan kau yang akan saling berhadapan. Kita akan melihat siapa yang akan menjadi cicak dan siapa yang akan menjadi buaya. Hahaha”


Zrrd…


Terdengar pintu besi yang digeser, Susan Ferguson, pemilik firma hukum terkemuka Amerika, Susan See Law and Justice, masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya terlihat sangat gusar. Entah apa yang telah membuatnya marah, yang jelas Marcon jadi telihat sedikit gugup.


“Eh, Susan? Apa kau punya janji untuk bertemu denganku?”


“Apa yang telah kau lakukan Marcon?”


Marcon mengangkat kedua bahu dan kedua alis matanya.


“Apa yang aku lakukan? Aku hanya melakukan kesenanganku sebagai seorang bisnisman Susan. Anything wrong?”


Susan mengangguk cepat.


“Yeah. Everything is wrong! Kali kau telah melakukan hal paling bodoh yang kau lakukan sepanjang hidupmu!”


“Apa maksudmu?”


“Seharusnya kau bertanya kepada dirimu sendiri sebelum bertindak. Kenapa Subrata belum melakukan tindakan penyelamatan apapun saat nilai saham Megapolitan melorot turun, “ ujar Susan. “Kamu sedang menggali lubang untukmu sendiri Marcon!”


Marcon tersenyum mennyeringai.


“Hey. Relax Susan! It’s just a game. Hahaha…”


“Jangan berlagak bodoh Marcon. Ini bukan lagi permainan anak kecil. Dengan tindakanmu membeli seluruh saham pemegang minoritas, kau telah menampakkan dirimu di depan Subrata.”


Marcon menganggukkan kepalanya.


“Ya. Kau benar. Dan bukankah itu hal yang biasa saja, sama seperti yang aku lakukan kepada persahaan-perusahaan yang telah aku hancurkan.”

__ADS_1


Betapa sombong CEO tampan ini. Memilki perhitungan cerdas tapi tidak memilki insting. Hanya punya keberanian tapi tidak punya intuisi, mengambil langkah yang tepat pada saat yang tepat. Dan Susan yakin, Subrata tengah tersenyum lebar di dalam istananya yang tersembunyi.


“Subrata sudah tahu siapa yang sedang mencoba mengganggu kerajaannya. Dia pasti sudah berhitung dengan siapa dia berhadapan., “ sambung Susan. “Dan dia siap melahapmu saat ini!”


Marcon terdiam sambil memandang wajah Susan See. Daripada membantah kata-katanya, Marcon lebih suka menikmati setiap sudut tubuh dan wajah Susan yang melekuk sempurna. Hm, betapa menggairahkannya wajah itu saat sedang gusar. Glek! Marcon menelan ludah kedalam tenggorokannya sendiri.


***


Rumah seluas satu hektar berlantai tiga itu terlihat sepi. Berdiri kokoh membentengi perbukitan yang berbaris mengular di pedalaman pulau Jawa. Beberapa pengawal terlihat berjaga di berbagai sudut rumah itu. Memakai seragam keamanan berwarna abu-abu tua dengan senjata tersembunyi di balik bajunya. Mereka adalah tentara professional, tentara bayaran terbaik, yang dating dari berbagai penjuru dunia.


Di dalam ruangan besar yang digunakan sebagai kantor sementara, Pramono begitu focus mengamati pergerakan di bursa saham. Sejak di pecat dari Megapolitan, dia belum lagi memiliki pekerjaan. Bisnisnya sebagai kontraktor pembukaan lahan untuk property sudah diserahkan kepada orang-orang kepercayaannya. Tapi dia tidak bisa meninggalkan dunianya yang berkaitan dengan saham dan valuta asing.


“Yeaa! Huahaha..!!”


Dan begitu mengetahui Marcon Alpanigard, pemilik Mexican Media Viscom, memborong sahan pemilik minoritas Megapolitan Intercorp, tawanya langsung meledak. Wajahnya terlihat begitu gembira. Ini sudah sesuai dengan apa yang dia rencanakan. Sesuai perjanjiannya dengan Marcon, dia akan mendapat bonus satu dolar dari setiap lembar saham Megapolitan yang dikuasai Maron.


Bayangkan saja, saham yang dikuasai Marcon adalah empat puluh sembilan persen dari total saham yang ada. Berarti saat ini Marcon menjadi pemilik sah empat ratus sembilan puluh ribu lembar saham. Artinya Pramono akan mendapatkan bonus sekitar empat ratus sembilan puluh ribu dolar. Bila di kurs ke dalam mata uang Indonesia menjadi tujuh milyar tigaratus lima puluh juta rupiah!


“Betapa baiknya kau Marcon, hahaha. Teruslah berbuat baik, sebelum kau menyadari semuanya.”


Dan tawa Pramono semakin membahana. Sebagai salah satu bos dunia hitam yang paling berpengaruh, dia sangat paham bagaimana mendapatkan kucuran uang tanpa bersusah payah. Dia mudah memanfaatkan peluang dari kecerobohan para CEO muda yang lebih mengedepankan ego dan ambisinya ketimbang nalar dan keadaannya. Tanpa kehilangan satu peserpun uang dari sakunya, hanya bermodalkan otak mafianya.


Pintu terbuka. Seorang gadis dengan rambut tergerai masuk sambil membawa nampan berisi secangkir kopi kesukaan ayahnya. Kecantikannya begitu sempurna, mirip Maudy Ayunda.


“Hm, hari ini papa terlihat begitu senang. Menang tender lagi?” tanya anak gadisnya. Anastassya Pramono.


Pramono menoleh, lalu membentangkan tangannya. Memeluk tubuh anak gadisnya sambil mencium keningnya.


“Selamat pagi, cantik! Tumben bangun pagi,” sapa Pramono.


“Selamat pagi, Papa! Ana kan sudah bangun dari pagi, memberi sarapan Yoga dan Yogi.”


“Yoga dan Yogi? Siapa itu? Kesayangan barumu?”


Ana mengangguk sambil tersenyum.


“Iya. Kan papa yang membawanya dari Amerika Selatan.”


“Kolumbia.”

__ADS_1


Yoga dan Yogi adalah sepasang ikan Airapama, ikan air tawar raksasa yang berasal dari pedalaman Kolumbia, Amerika Selatan. Pramono mendapatkannya dari Pablo Escomendi, gembong narkoba yang paling dicari polisi internasional atas segala kejahatannya. Dia memberi hadiah sebagai ucapan terimakasihnya kepada Pramono yang telah memberinya satu set peralatan tempur yang di pasang di sekitar istananya.


“Eh, papa belum mejawab pertanyaanku,” ujar Ana.


“Pertanyaan apa?”


Pramono mengernyitkan keningnya.


“Papa habis menang tender lagi, kok hari ini terlihat bahagia sekali.”


“Oh, iya sayang. Papa habis menang tender lagi. Membangun istananya Sultan Brunei yang baru,” ujar Pramono asal saja.


Ana langsung cemberut.


“Kalau begitu, papa mau pergi lagi?”


Pramono menggeleng sambil tertawa lebar.


“Tidak sayang. Papa janji, kali ini papa akan di rumah lebih lama untuk menemani anak papa yang cantiknya nggak ketulungan ini. Okey?”


Ana tersenyum sambil mencibirkan bibirnya.


“Dasar papa pandai merayu.”


Pramono tertawa tergelak. Lalu ditatapnya wajah cantik itu.


“Eh, anak papa kok ngomong begitu. Memangnya kamu pernah di rayu? Hm, jangan-jangan anak papa sudah punya pacar nih,” goda Pramono.


Wajah Ana langsung tertunduk malu, bahkan wajahnya terlihat memerah semuanya.


“Ih, papa kok ngomngnya gitu?” sahut Ana pura-pura kesal.


Pramono meraih tubuh ramping itu, lalu didudukkan di pangkuannya.


“Jadi bener nih, anak papa sudah punya pacar? Siapa namanya?”


Anastassya memandang wajah papanya sejenak. Lalu sambil tersenyum, selintas muncul wajah imut Rich Pranaja. dia bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkannya.


“Rahasia!”

__ADS_1


__ADS_2