EPS 144 MEMBUKA TABIR
Senja hitam, ditengah ladang. Di ujung pematang kau berdiri. Putih di antara ribuan kembang. Langit di atas rambutmu, merah tembaga. Engkau memandangku. Bergetar bibirmu memanggilku, basah di pipimu air mata…kerinduan…kedamaian…
Seperti tak menapak di tanah. Tubuh Miryam melayang perlahan mendekati tubuh Ken Darsih yang tergeletak tak berdaya di tanah. Matanya masih bergerak, dan nafasnya terdengar begitu lemah. Dan gadis siluman itu sadar, saat-saat terakhir dalam hidupnya akan segera tiba. Tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali merutuki nasibnya harus mati di tangan orang paling dia benci di dalam hidupnya.
“Nyai!” teriak Nagaraja dan para siluman lainnya.
Namun sebelum mereka berbuat sesuatu, tiba-tiba terasa angin berkesiur lembut. Mendadak suhu di di dalam hutan menjadi sangat dingin. Begitu dingin dan membekukan. Bahkan para siluman anak buah Ken Darsih pun tidak mampu menggerakkan anggota tubuh mereka sedikitpun. Hanya mata mereka yang masih bisa bergerak berputar-putar kebingungan.
Dan terasa bau wangi kasturi menyebar memenuhi ruang dan setiap sudut hutan. Lalu Miryam berhenti dan berjongkok di samping tubuh Ken Darsih. Dipandangnya wajah gadis itu dengan senyumnya yang menyakitkan. Ujung telapak tangannya diletakkan di ujung kepala gadis siluman itu, menyalurkan kekuatan Tirtanala yang membekukan sekaligus menghancurkan.
Terasa ada rasa sejuk yang luar biasa. Mata Ken Darsih terpejam, saat rasa sejuk itu berubah menjadi rasa dingin hingga aliran darahnya seperti membeku. Miryam bermaksud mencabut kepala gadis siluman itu dari tubuhnya. Dalam keadaan beku, akan sangat mudah bagi Miryam menabut kepala Ken Darsih. Seperti mengambil kapas basah dari dalam air.Tidak ada jerit kesakitan, tidak ada darah yang tertumpah.
Entah ini adalah kematian yang indah atau kematian yang mengerikan, mereka tidak tahu. Karena mereka tidak merasakan apa-apa selain daripada kematian itu sendiri. Namun, saat matanya menatap wajah Ken Darsih yang sudah pasrah, tiba-tiba hatinya menjadi ragu. Ada getaran-getaran aneh dalam hatinya, seperti sebuah rasa welas asih antara ibu kepada anaknya. Dan pada detik-detik akhir itu, mendadak ada suara yang mencegahnya.
“Miryam! Jangan kau bunuh dia! Gadis itu adalah anakmu sendiri!”
Miryam menghentikan gerakannya. Tanpa menoleh, dia sudah tahu kalau itu adalah suara Kyai Badrussalam.
“Hentikan Miryam! Jangan sampai kau menyesali perbuatanmu. Ken Darsih adalah darah dagingmu sendiri!” ujar Kyai Badrussalam lagi.
Tubuh Miryam diam membeku mendengar kata-kata kyai Badrussalam itu. Ken Darsih adalah puteri kandungnya? Tidak mungkin! Dia tidak mengandung bayi lainnya kecuali Arya Janu.
“Kebohongan apa yang hendak kau tunjukkan kepadaku, Badrussalam. Apa kau pikir aku adalah perempuan pezina?” tanya Miryam dingin.
“Ini memang di luar nalarmu Miryam. Tapi kau akan bisa memahaminya, karena kau juga memiliki kekuatan Tirtanala.”
Miryam menoleh ke arah Kyai Badrussalam. Matanya semakin tajam menatap wajah sang Kyai.
__ADS_1
“Ini ada hubungannya dengan Tirtanala? Apa ini semua ulah kakang Somawangi?”
“Semua ucapanmu bisa benar Miryam. Tapi untuk lebih jelasnya, kau bisa membaca serat daun lontar yang ditulis langsung oleh Eyang Senthir. Bukalah tabirmu sendiri.”
Miryam mengernyitkan keningnya. Dia tak habis pikir, benarkah eyang Senthir menyembunyikan sebuah rahasia tentang dirinya? Apa ini hanya karangan Kyai Badrussalam? Tapi dia juga tahu Kyai Badrussalam tidak pernah berbohong.
“Berikan kepadaku serat itu.”
Kyai Badrussalam menggelengkan kepalanya.
“Akan lebih baik kau selamatkan dulu jiwa Ken Darsih sebelum terlambat.”
Miryam terhenyak. Menyelamatkan nyawa anak perempuan itu? Kenapa?
“Kau juga tidak tega membunuhnya kan?” ujar Kyai Badrussalam seolah bisa membaca keraguan di dalam hatinya.
“Hubungan batin itu tidak akan bisa kau hindari Miryam. Selamatkan Ken Darsih dahulu, baru kau akan memahami kenapa kau harus menyelamatkannya.”
“Tidak!” Miryam menggeleng tegas. “Aku tidak akan menyelamatkannya sebelum aku menemukan keyakinanku. Anak ini terlalu berbahaya bagi puteraku Arya Janu.”
Akhirnya Kyai Badrussalam menyerah. Dia sudah hafal sifat Miryam, yang tidak mudah dipengaruhi oleh siapapun. Diambilnya serat daun lontar yang ditulis oleh Eyang Senthir dari tangan Panembahan Mbah Iro, lalu diserahkan kepada Miryam.
“Bacalah dengan seksama Miryam, jangan ada yang terlewat. Supaya kau memahami siapa Ken Darsih dan apa hubungannya denganmu.”
Setelah menerima gulungan daun lontar itu, Miryam berjalan dan duduk di atas batu besar. Dia masih hapal betul, kalau gulungan lontar itu adalah peninggalan Eyang Senthir yang dia masukkan ke dalam peti batu. Dan dia juga hafal bentuk tulisan sang Acarya. Miryam memiliki hubungan batin yang erat dengan Eyang Senthir. Karena sang Acarya desa Jalatunda itu lah yang telah menikahkan dan menjadi saksi pernikahannya dengan Santika.
__ADS_1
Suasana menjadi hening dan sedikit tegang. Wajah cantik itu terlihat berubah-ubah air mukanya saat membaca isi serat daun lontar peninggalan Eyang Senthir itu. Wajahnya seperti tak percaya dengan apa yang dia baca. Dalam serat itu, Eyang Senthir menceriterakan dengan jelas siapa Ken Darsih, dan siapa ayahnya serta mengapa dia tidak pernah menyadari tentang tumbuhnya janin Ken Darsih di dalam rahimnya.
“HEAAKHHH!”
Miryam menjerit keras. Tanpa sadar di menepuk batu yang didudukinya hingga hancur berkeping-keping. Hatinya tiba-tiba terasa sakit sekali. Dia bahkan tidak mengenal dan belum pernah melihat siapa itu Badranaya, siluman naga yang telah memperkosanya hingga dia mengandung Ken Darsih. Dia juga merasa bersalah dengan Santika, yang merasa bangga dengan keperawanannya yang dia robek di malam pertamanya. Ternyata itu palsu.
“HAARGH….! Huk..Huk..Huk..”
Perempuan jadul tapi mempesona itu berteriak sekali lagi. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tampak tubuhnya berguncang hebat. Pertanda batinnya sedang terluka berat. Perasaannya bercampur aduk. Ada kemarahan, penyesalan dan rasa bersalah dalam hatinya. Ah, ternyata tubuhnya begitu ternoda.
“Miryam,” terdengar suara lembut memanggilnya.
Dukduk! Dukduk! Dukduk!
Terdengar suara jantung yang berdegup kencang. Dua tangan yang putih lembut memeluk tubuhnya dari belakang. Miryam tahu itu adalah suara degup jantung Santika yang ada di dalam tubuh Andika. Dan pemuda itu sekarang sedang memeluknya. Mencoba menenangkan dirinya dan memberi kekuatan saat dia sedang terpuruk tak berdaya.
“Bangunlah Miryam. Semua yang terjadi diluar kendalimu. Itu adalah garis takdir yang harus kau jalani. Bersabarlah. Yakinlah kau akan menemukan kebahagiaan dalam hidupmu.”
Tubuh Miryam masih sedikit berguncang. Perlahan-lahan dia mulai menguasai dirinya kembali.
“Apa yang harus aku lakukan kakang Santika..ehmm..maksudku Andika?'
__ADS_1
“Hidup selalu memberikan kebaikan-kebaikan dari arah yang tak terduga Miryam. Lihatlah! Kau sekarang memiliki dua orang putera, Arya Janu dan Ken Darsih. Mereka semua membutuhkan belaian tangan lembutmu sebagai seorang ibu.”