DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 131 (TIDAK) YAKIN MENANG


__ADS_3

EPS 131 (TIDAK) YAKIN MENANG


Yang terpendam memang tak bisa dilihat. Apakah kau bisa merasakannya? Aku mencintaimu. Sekian lama mencoba meraih hatimu, tak pernah lelah tempatkan kau di hatiku. Namun waktu tak mengizinanku. Kini semuanya telah hilang, terbang bersama angin temaram. Menjadi harapan yang tak mungkin aku miliki.


Proses serah terima dokumen-dokumen terbaru Megapolitan Intercorp milik Subrata kepada pemilik baru, Marcon Allpanigard. baru saja selesai. Susan See sebagai penasihat hukum memeriksa semua dokumen-dokumen itu dengar cermat. Dibantu oleh beberapa staf termasuk Fitri Ray. Namun terasa ada yang janggal. Dokumen tentang wilayah perbukitan Kethileng sebagai bagian kepemilikan Megapolitan Intercorp tidak ditemukan.



“Apa maksudnya ini semua?” tanya Marcon geram.


Matanya tajam menatap ke arah Pramono. Lelaki setengah baya yang masih parlente itu hanya mengangkat kedua bahunya. Namun terlihat wajahnya juga terlihat cemas. Segalanya terlihat menjadi tidak mudah. Dan dia yakin ini semua merupakan bagian dari permainan Subrata. Sebuah permainan tingkat tinggi yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang memilki kapasitas otak di atas rata-rata.



“Tenang Marcon. Ini semua pasti sudah direncanakan,” ujar Pramono.


Marcon mengernyitkan keningnya.


“Apa? Maksudmu ini semua adalah jebakan?”


Pramono menganggukkan kepalanya.


“Dan Subrata berada di belakang semua ini?”


Marcon berusaha menegaskan. Dari nada suaranya yang meninggi nampak jelas emosinya sedang merambat naik ke ubun-ubunnya. Pramono menganggukkan kepalanya sekali lagi, menegaskan kalau ini adalah model permainan bisnis Subrata yang sangat dikenalnya. Dan kemarahan Marcon pun langsung mencapai puncaknya.


‘Brak!”


Tangannya yang kekar menggebrak meja di depannya. Suaranya menggema memenuhi ruangan kantor yang megah itu. Beberapa sataf yang sedang bekerja langsung terdiam ketakutan. Baru pertama kali mereka melihat bos baru mereka yang tampan mengeluarkan kemarahannya. Semua bergidik ngeri. Hanya Susan yang terlihat tenang berjalan menghampiri pemuda itu.



“Tenang Marcon. Jangan membuat orang-orang disini menjadi takut kepadamu,” ujarnya.


Ditatapnya wajah tampan yang penuh emosi itu dalam-dalam. Marcon mendengus keras, menghempaskan nafas kasarnya.


“Damn!” hanya ungkapan kasar itu yang keluar dari bibirnya.


“Dalam peta wilayah Megapolitan yang kita terima dua bulan yang lalu, jelas tertera perbukitan kethileng seluas dua ratus ribu kilometer persegi adalah milik kita. Dan itu dokemen resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia,” kata Susan


__ADS_1


Spontan Marcon dan Pramono memandang Susan.


“Dokumen itu bisa kita jadikan sebagai dasar klaim atas wilayah perbukitan Kethileng, walaupun dalam dokumen yang sekarang tidak ada,” sambung Susan lagi.


Mendengar kata-kata Susan, kemarahan Marcon langsung mereda. Ada rasa lega yang terbaca dari garis wajahnya. Sejenak dia terdiam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menoleh ke arah Pramono sambil tersenyum sinis.



“Hm, saatnya kau akan merasakan kekalahanmu Subrata, hehehe…”


Pramono juga tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Meski dia tidak yakin mereka dapat mengalahkan mantan bosnya yang terkenal licin itu.


“Bagaimana menurutmu Pramono?” tanya Marcon.


“Tetap tenang Marcon, jangan berlebihan. Itu bisa merugikan kita,” sahut Pramono.


“Aku setuju,” timpal Susan.


“Aku akan menghubungi orangku di Departemen Dalam Negeri untuk mengonfirmasi dokumen kepemilikan Megapolitan Intercorp atas wilayah perbukitan Kethileng. Setelah itu aku akan bertarung sendiri dengan Subrata,” sambung Pramono.


Susan memandang wajah Pramono. Baru pertama kali sejak mengenalnya dia melihat wajah Pramono sedikit gelisah seperti kehilangan kepercayaan diri. Tapi dia bisa memahaminya. Pramono adalah orang yang paling tahu tentang Subrata. Dan dia juga tahu, mengalahkan orang sekuat Subrata adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh begundal kecil macam Marcon Allpanigard. Jadi dia sendiri yang akan turun tangan, walau tak yakin akan menang.


***


Marcon meraih ponsel yang ada di atas mejanya. Subrata? batinnya. Matanya langsung membulat sempurna, wajahnya begitu antusias membalas telepon dari musuh bisnisnya itu. Sementara Susan dan Pramono hanya memperhatikannya dengan seksama.


“Halo Subrata. Bagaimana hidupmu hari ini?”


“Halo Marcon. Alhamdulillah, aku baik-baik saja.”


“Ada apa kau menghubungiku? Kau sedang tidak kangen padaku kan?”


Terdengar suara tawa Subrata yang dingin.


“Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu. Semoga kau bisa mengembangkan Megapolitan menjadi pusat hunian internasional yang lebih hebat lagi.”


Marcon tersenyum sinis.


“Aku tidak membutuhkan basa-basi busukmu itu Subrata. Permainanmu sudah bisa aku baca, dan aku akan mengalahkanmu dengan mudah.”


“Permainan apa Marcon? Aku seorang pengusaha yang selalu menjunjung tinggi kejujuran dan selalu mentaati peraturan. Kau mengenalku dengan baik kan?”

__ADS_1


Marcon diam sejenak. Subrata memang dikenal sebagai pengusaha yang berintegritas, jujur, berani, disiplin dan bisa dipercaya. Selain itu dia dikenal tangguh, licin dan tidak mudah dikalahkan. Tapi itu dulu, saat dia masih bersama Pramono. Kini orang kepercayaannya itu malah sudah bekerja untuknya.


“Lalu kelicikan apa yang ingin kau tunjukkan dengan tidak menyerahkan dokumen wilayah perbukitan Kethileng?” tanya Marcon.


“Oh, itu yang mengganggu pikiranmu. Sudah aku duga, hehehe…” sahut Subrata.


Mendengar suara tawa Subrata yang begitu tenang dan dingin, kemarahan Marcon timbul kembali.


“Jangan terlalu percaya diri Subrata. Ingat aku telah berjanji untuk mengalahkanmu. Dan aku selalu menepati janjiku.”


“Oke. Aku selalu percaya padamu Marcon. Tapi bolehkah aku menjelaskan sedikit status perbukitan Kethileng?”


“Tentu saja Subrata, ceritakan saja semuanya. Aku memiliki banyak waktu.”


Lalu Subrata menceriterakan semuanya. Dari awal pendirian Megapolitan sampai status bukit Kethileng. Hingga sekitar satu tahun yang lalu dia menemukan kandungan biji emas yang melimpah sepanjang perbukitan. Tapi dia baru melaporkannya kepada pemerintah Indonesia dua bulan yang lalu. Hingga akhirnya dokumen kepemilikannya dicabut.


“Apa?”


Wajah Marcon terperanjat.


“Apa alasannya kau melaporkan itu kepada Pemerintah Indonesia? Kau bisa menambangnya sendiri tanpa mereka ketahui kan?”


“Tidak Marcon. Itu melanggar konstitusi.”


Lagi-lagi wajah Marcon terkejut.


“Konstitusi?”


“Ya, dalam Undang-Undang Dasar Indonesia disebutkan kalau bumi, air dan seisinya adalah milik negara. Swasta tidak boleh memilikinya.”


“Jadi.. ?”


“Jadi aku menyerahkannya kepada pemerintah Indonesia.”


Deg! Jantung Marcon serasa ambrol, hancur berkeping-keping. Harapannya untuk menambang biji emas terasa sirna. Hampir saja dia melemparkan ponselnya, namun dia teringat kata-kata Pramono agar dia tetap tenang. Ingat Marcon, ini jebakan, kata hatinya. Dia tidak boleh percaya begitu saja dengan kata-kata Subrata.


“Oke!” kata Marcon dengan senyum dipaksakan. “Terimakasih informasinya, Subrata. Ternyata kau tak sejahat yang aku kira.”


Hehe, mulutnya menyanjung tapi hatinya merundung. Dia harus membiasakan diri dengan permainan tingkat tinggi para businessman dunia. Menjaga stabilitas emosi, tetap tenang dan tidak berlebihan.


“Sama-sama Marcon. Sekali lagi selamat bekerja. Aku yakin Megapolitan akan menjadi perusahaan property terbesar di dunia selama ada di tanganmu,” ujar Subrata sambil berpamitan.

__ADS_1


Subrata menutup ponselnya. Marcon mengepalkan tangannya. Untung tidak ada orang di depannya. Jika tidak dia bisa menjadi sasaran kemarahannya. Dunia bisnis memang kejam. Penuh intrik dan muslihat. Dan dia harus selalu mematangkan dirinya. Dia tahu sekarang, mengahadapi pengusaha sekelas Subrata, dia harus memiliki bekal yang cukup.


Agar dia yakin dapat memenangkan pertempuran.


__ADS_2