DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 107 BIANG KEGADUHAN


__ADS_3

EPS 107 BIANG KEGADUHAN


Malam kehadiran cinta. Membakar jiwaku. Sekian lama menunggumu mengisi ruang hati. Namun hanya ruang semu yang bisa kunikmati. Bermain dengan bayangmu, dalam lautan imaji yang tak bertepi. Semua itu tetap saja aku nikmati, meski pada akhirnya aku harus sakit hati.


Andika menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat kalau Abah kyai Badrussalam sedang tidak ada di pesantren. Dia pergi bersama Panembahan Mbah Iro untuk mencari Pranaja. Biasanya kalau Abah sedang bepergian, urusan pesantren dia yang mengambil alih sesuai amanat sang Kyai.


Andika masih terpaku melihat nyala api yang membakar hutan di sekeling pesantren. Masih saja dia merasa heran, kenapa panas api itu tidak berpengaruh pada dirinya?


Jleg! Jleg!


Terdengar suara kaki menapak tepat di belakangnya. Andika menoleh, ternyata Raden Mas Parto dan Eyang Penatus. Memakai jubbah kebesarannya masing-masing, mereka terlihat sudah siap tempur menghadapi bahaya yang sudah di depan mata.


“Eh, kakek! Maafkan aku tealh melupakan kalian. Tak seharusnya aku melalaikan para tamu yang datang ke pesantren ini,” kata Andika tak enak hati.


“Tidak usah sungkan Andika. Ini masalah kita bersama, tidak mungkin kami berpangku tangan saja,” kata Raden Mas Parto.


“Jangan lagi memandang kami sebagai orang lain Andika. Kita adalah keluarga,” sambung Eyang Penatus.


Andika tersenyum lebar.


“Terimakasih kakek. Kita hanya perlu mempersiapkan diri sebelum api itu merembet ke pesantren,” katanya.


“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan Andika,”


Satu suara mengagetkan mereka.


“Miryam?”


Seru mereka hampir berbarengan. Di belakang mereka, perempuan jadul tapi mempesona itu berdiri tegak. Wajahnya yang secantik bidadari terlihat dingin dan menggetarkan. Separuh wajah Arya Janu, tersembunyi di balik punggungnya. Meringkuk dalam kehangatan tubuh sang ibu. Namun anehnya, kedua mata bayi itu menyala terang dengan warna merah…semerah darah.


“Miryam? Ka..kapan kau datang? Aku tidak mendengar langkah kakimu?” tanya Andika.


Raden Mas Parto dan Eyang Penatus memandang takjub. Alangkah sempurnamya ilmu meringankan tubuh perempuan di depan mereka itu. Bahkan bisik angin saja masih bisa mereka tangkap dengan indera pendengaran mereka yang tajam, tapi kehadiran Miryam, sama sekali tidak mereka ketahui.


“Jangan kau khawatirkan api itu Andika. Itu adalah api ciptaan iblis. Dia takkan mampu membakar pesantren ini. Bahkan dia yang akan terbakar sendiri bila berani memasuki pesantren ini.”


Andika memandang wajah Miryam penuh tanda tanya. Sementara Raden Mas Parto dan Eyang Penatus saling berpandangan. Api ciptaan iblis? Apa yang dimaksud Miryam adalah siluman Banaspati? Iblis yang menguasai kekuatan inti api? Batin mereka.

__ADS_1


“Apakah yang kau maksud iblis Banaspati?” tanya Raden Mas Parto.


Miryam menganggukkan kepalanya.


“Benar. Saat ini dia berada di tengah api yang membakar pepohonan di depan pintu gerbang pesantren. Tapi dia tak mampu masuk kesini. Ada aura terselebung yang melindungi tempat suci ini, sehingga iblis dan siluman macam mereka tidak mampu menembusnya.”


Kedua tokoh trah Somawangi itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kalian tunggulah disini. Biar aku hadapi dia,” kata Miryam tiba-tiba.


Lalu tubuhnya melesat secepat angin malam yang menghilang di kegelapan malam.


“Miryam! Kau mau kemana?” teriak Andika.


Dadanya terasa berdegup kencang. Dia tak mungkin membiarkan Miryam dan Arya Janu menghadapi bahaya yang belum diketahui kekuatannya di luar sana. Dan tanpa disadari, tubuh Andika tiba-tiba ikut melesat menyusul kepergian perempuan itu. Raden Mas Parto dan Eyang Penatus kembali saling berpandangan. Setelah menganggukkan kepalanya, tubuh mereka ikut terbang menyusul Andika dan Miryam masuk ke dalam hutan yang terbakar.


***


Diantara amukan api yang membakar, diantara asap tebal yang mengepul, Banaspati berdiri tegak di atas pohon jati raksasa yang sedang terbakar dengan hebatnya. Tubuhnya yang mengeluarkan warna merah membara, menyeruak tak kentara di atas batang kayu jati yang juga berwarna merah membara.


Banaspati berdiri mematung di keriuhan api dan asap, memandang Pesantren Ksatriyan Santri. Tempat apa ini? batinnya. Kenapa bangunannya diselimuti kabut dan bersinar keemasan? Panas apinya seakan tak mampu merambah bangunan yang ada di balik tembok tebalnya.


Rupanya Banaspati belum tahu kalau Pesantren ini adalah tempat suci yang tidak dapat disinggahi oleh siluman seperti dirinya. Makanya dia nampak kebingungan untuk masuk ke dalam. Seperti ada kekuatan gaib yang menolak kehadirannya. Semakin kuat dia memaksa masuk, semakin kokoh pula kekuatan yang menolaknya.



“Bagaimana aku bisa menculik dan membunuh Arya Janu jika aku tidak bisa masuk ke dalamnya?” batin Banaspati.



Wajahnya terlihat berpikir keras. Bagaimanapun tugas harus diselesaikan. Jika tidak dia akan dihukum oleh junjungannya Nyai Ken Darsih. Dari atas pohon jati raksasa itu dia mengamati kegiatan di dalam pesantren. Semua terlihat tenang dan biasa-biasa saja. Tidak ada kepanikan, tidak ada kecemasan. Tidak ada hal yang aneh, sampai dia melihat kehadiran seorang perempuan yang menggendong bayi di punggungnya.



“Apa? Kenapa aku merasa bayi itu sedang melotot dengan mata menyala merah kepadaku? Apa dia bisa melihat keberadaanku? Jangan-jangan dia Arya Janu dan perempuan itu adalah Miryam?” berbagai pertanyaan timbul di benak Banaspati. “Rupanya mereka bukan manusia biasa. Aku harus berhati-hati.”


__ADS_1


Slap! Slap! Slap! Slap!



Banaspati terkesiap kaget. Mendadak Miryam melesat terbang menuju pohon jati dimana dia sedang berdiri. Disusul tiga orang lainnya. Dia tidak lagi bisa menyembunyikan keberadaannya. Penglihatan Miryam dan bayinya sangat tajam. Sangat jarang ada manusia yang mampu mendeteksi keberadaannya di tengah lautan api.



Tubuh Miryam mengapung di udara. Matanya tajam meatap ke arah sosok Banaspati. Disusul Andika di belakangnya. Sedangkan Raden Mas Parto dan Eyang Penatus menjejakkan kakinya di bumi. Walapun begitu, indera penglihatan mereka yang tajam, juga mampu melihat keberadaan tubuh siluman api itu diantara dahan-dahan pohon yang terbakar hitam merah membara.



“Cukup Banaspati! Beraninya kau bermain api denganku!” ucap Miryam dengan tatapan dingin.



Hah? Banaspati terkejut bukan kepalang saat melihat sosok perempuan yang sedang berbicara dengannya. Itu kan Nyai Ken Darsih? Batinnya. Tak salah lagi, sosok perempuan di depannya itu adalah junjungannya sendiri. Tetapi kenapa dia seperti sedang memarahinya? Apa dia kecewa dengan cara kerjaku? Batin Banaspati.



“Maaf Nyai. Ampuni hamba yang telah mengecewakanmu,” ujar Banaspati.


Miryam tersenyum sinis.


“Jangan berpura-pura Banaspati. Aku bisa saja membakar tubuhmu dengan apimu sendiri.”


Mendengar kata-kata Miryam, tubuh Banaspati bergetar hebat. Dia langsung berlutut.


“Siapa yang menyuruhmu!” bentak Miryam.


“Apa?”


“Cepat katakan, siapa yang meyuruhmu!” ulang Miryam.


“Hamba hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Nyai sendiri,” sahut Banaspati sambil menunjuk ke arah Miryam.


__ADS_1


Seperti mendengar petir di siang bolong, Andika, Raden Mas Parto dan Eyang Penatus terkejut bukan kepalang. Jadi biang dari segala kegaduhan ini adalah Miryam?


__ADS_2